Saturday, July 23, 2016

Our Times (2015) - a Must Watch Taiwanese Romance Movie!




Ada yang tau salah satu film romance Taiwan terlaris yang judulnya You Are The Apple Of My Eye? Ada yang suka sama film itu? Kalau kalian suka sama film You Are The Apple Of My Eye dan lagi nyari film yang sejenis, maka film romance Tiawan keluaran tahun 2015 yang berjudul "Our Times" akan menjadi refrensi yang cukup tepat. Percayalah. 

Setelah me-rewatching dan akhirnya tau kalau film You Are The Apple Of My Eye diadaptasi dari novel yang based on true story karya Giddens Ko, akhir-akhir ini gue jadi hobi dengerin ost nya You Are The Apple Of My Eye yang judulnya na xia nian a.k.a 那些年 a.k.a those bygone years. Gue kaget, waktu nyadar kalau film ini based on true story. Nggak semua bagian kisah nyata sih, pasti ada bagian yang didramatisir kayak ending "like a boss" yang dateng ke nikahan mantan terus nyium mempelai prianya biar dapet akses buat nyium mempelai wanitanya. Gue kemudian mulai iseng-iseng nyari film yang sejenis kayak film You Are The Apple Of My Eye, dan muncul lah film romance Taiwan yang berjudul "Our Times".  Ternyata, film Our Times ini bukan cuma sejenis dengan film You Are The Apple Of My Eye, tapi juga sejenis dengan film kayak Koizora (Sky Of Love) ataupun film pupus. Gokil.


****



Sama kayak film You Are The Apple Of My Eye, film Our Times ini dibuka dengan adegan di masa depan lalu adegan tersebut di flashback kembali ke masa lalu tepatnya saat masa SMA. Selanjutnya kisah romansa dibuat menjadi penuh dengan konflik dan paradoks. Untuk masalah konflik sendiri, film Our Times ini bisa dibilang jauh lebih berkonflik daripada film You Are The Apple Of My Eye.

QuYang - Truly
Sudut pandang yang bermain di film ini adalah sudut pandang dari seorang Truly Lin, seorang gadis SMA polos yang sangat mengidolakan sosok Andy Lau. Selain mengidolakan seorang Andy Lau, Truly Lin juga mengidolakan seorang Qu Yang Fei Fan, seorang pria tampan berprestasi yang menjadi idola sekolah. Sayangnya, Qu Yang saat itu sudah memiliki seorang Tao Min Min, gadis yang juga menjadi idola para pria di sekolah. Suatu hari, Truly Lin terlibat masalah serius dengan seorang brandalan sekolah yang bernama Hsu Taiyu yang menyebabkan mereka berdua menjadi dekat. Mengetahui kalau Hsu Taiyu juga menyimpan rasa pada Tao Min Min, mereka berdua bekerjasama agar Qu Yang dan Tao MinMin bisa putus. Akan tetapi, situasi menjadi lebih kompleks daripada yang dibayangkan. Rencana mereka untuk membuat 2 idola sekolah tersebut untuk putus pun berhasil mereka lakukan. Di satu sisi, karena terlalu sering bersama Truly dan Taiyu malah menjadi saling suka. Tapi di sisi lain, mereka telah berhasil membuat  Qu Yang dan Tao MinMin putus dan pada akhirnya mulai menyukai mereka berdua. Pusing dah lo...

Truly - Taiyu
Nggak cuma berkonflik tentang cewek dan cowok yang berusaha memisahkan 2 sijoli tapi malahan jadi saling suka, konflik yang ada di film Our Times nyatanya lebih dari itu. Bukan hanya konflik romansa, masalah antara guru murid dan masalah pertemanan pun menjadi bumbu pelengkap untuk hidangan konflik yang ada. Ingat dengan scene di film You Are The Apple Of My Eye dimana para murid sekelas mulai bersatu melawan guru dengan cara melemparkan tas mereka masing-masing ke tubuh si guru gara-gara guru mereka menuduh salah satu muridnya mencuri? Yap, di film Our Times juga ada adegan semacam itu. Tentunya, adegan dikemas secara berbeda, bukan lempar-lemparan tas lagi. Seperti apa kah adegan murid-murid yang bersatu untuk melawan ke-antagonisan guru mereka sendiri? Cari tau sendiri.. 

Satu kutipan utama dari film ini adalah kutipan tentang paradoks asmara yang terjadi pada dialog Truly dan Taiyu, 

"我們說沒事,就是有事. 沒關係,就是有關係 "
"Wǒmen shuō méishì, jiùshì yǒushì, méiguānxì, jiùshì yǒu guānxì"

Pusing dengan huruf dewa diatas? pokoknya, artinya adalah...

"When girl says nothing's wrong, it means something's wrong. When girl says it doesn't matter, it means it's  matter. "


Truly nya udah perawatan kecantikan..  




.

Bukan cuma memiliki kesamaan dengan film You Are The Apple Of My Eye, film Our Times ini juga memiliki beberapa kesamaan dengan film semacam Pupus ataupun Koizora (Sky Of Love). Adegan dimana Taiyu yang berusaha menjauh dari Truly di hari ulang tahunnya membuat film ini terasa seperti film Pupus. Sementara adegan selanjutnya dimana Taiyu pura-pura pergi menjauh demi kebaikan Truly dengan alasan palsu membuat film ini terasa seperti Koizora. Adegan dimana Truly yang berkarakter agak nerd dan tiba-tiba berubah menjadi cantik pun membuat film ini terasa seperti film Crazy Little Thing Called Love. Meskipun terkesan seakan-akan memiliki rasa dari beberapa film romance yang cukup legend, Our Times tetap memiliki gayanya sendiri. Pada akhirnya, setelah di flashback cukup lama, kisah akan dikembalikan ke masa depan.

Film berdurasi 134 menit ini pun akhirnya diwarnai dengan berbagai macam konflik dan penyelesaiannya yang bisa dibilang cukup 'twist'. Ini gue bukannya mau spoiler, gue cuma mau bikin para kaum hawa yang belum nonton semakin penasaran. Ada beberapa hal tak terduga yang muncul di ending dari film ini.  Seperti, aktor sekaligus penyanyi legendaris kayak Andy Lau yang muncul di ending dari film ini. Bukan cuma Andy Lau, aktor legendaris kayak Jerry Yan alias Tao Ming Tse pun juga muncul di film ini. Question is, dengan siapakah Truly Lin bakal jadian?  Twist-twist seperti apa kah yang mewarnai film ini? Dan, Apa yang dilakukan Tao Ming Tse  di ending dari film ini?! 

Jeng-jeng..

scene of Jerry Yan a.k.a Tao Ming Tse


My Star: 8/10

                   

Friday, July 22, 2016

Melepas Lelah di Hotel Ciputra Jakarta Setelah Berkeliling Kota dan Belanja



Jakarta memang selalu menjadi magnet bagi setiap masyarakat Indonesia. Sebagai pusat dan ibu kota negara, Jakarta selalu berhasil menjadi sorotan utama berbagai pasang mata. Kota dengan masyarakatnya yang heterogen ini menawarkan ruang dan peluang dalam bidang apapun. Maka, tidak jarang banyak inovasi dan aktivitas yang terjadi di sini, terutama dalam bidang bisnis, perindustrian, hiburan dan segala hal. 

Sebagian besar masyarakat mungkin tertarik untuk mengunjungi beberapa pusat perbelanjaan ternama di Jakarta. Namun beberapa tempat di sini memang ditujukan untuk semua kalangan pembeli, baik individu maupun pedagang besar yang memborong barang dalam jumlah super banyak. Tetapi intinya, jika tidak jeli dan hati-hati, hampir semua lokasi di Jakarta ini menyebabkan konsumsi barang yang berlebih. Namun pilihan ada pada Anda, yang jelas belanjalah sesuai kebutuhan dan keperluan kita saja. Hal itu berlaku juga untuk saya pribadi.

Sebenarnya ada banyak pusat perbelanjaan yang mempunyai hal unik yang bisa dikunjungi. Seperti yang kita ketahui, ada 173 mall yang berdiri tegak di ibukota kita tercinta ini. Sebut saja, Central Park, Taman Anggek, Pondok Indah Mall, Grand Indonesia, etcatera.

Saat Anda berkunjung ke Jakarta, tentu tidak puas jika hanya singgah selama satu hari saja. Perjalanan ke kota ini bisa dilengkapi dengan bermalam di salah satu hotel ternama di Jakarta. Salah satu hotel yang pernah saya singgahi adalah Hotel Ciputra yang berada di Jalan Letnan Jenderal S. Parman, Grogol. Selain lokasinya yang berada di pusat kota, hotel ini bisa menjadi pilihan tepat saat menemani perjalanan Anda karena kenyamanannya. Hotel ini juga dapat dipesan melalui aplikasi Traveloka.

Sumber: Traveloka

Sumber: Traveloka
Hotel yang juga mempunyai kemudahan akses ini berada cukup dekat dengan salah satu pusat perbelanjaan , Mal Taman Anggrek, seperti yang telah saya bahas sebelumnya. Kali ini sekalian saya bahas sedikit mengenai hotelnya. Hotel Ciputra ini mempunyai bangunan modern seperti halnya hotel berbintang lainnya dengan jumlah lantai yang cukup banyak.
Anda bisa memilih ruangan kamar yang berada di lantai atas untuk mendapat view menarik berupa pemandangan Kota Jakarta dari ketinggian kamar Anda. Sebagian besar area hotel di bagian depan juga dapat terlihat lebih jelas dari ruang kamar ini.
Sumber: Traveloka
Sumber: Traveloka

Mengenai ruang kamarnya sendiri, Anda akan mendapat pelayanan dan fasilitas kamar yang cukup baik. Kamar ini mempunyai pencahayaan yang baik dengan ruangan yang cukup luas dan bersih. Semua furniture cukup elegan dan mewah dengan kombinasi penataan ruangan yang tetap sederhana, sehingga memberi kesan, sebuah ruangan yang nyaman dan homey. Jika Anda menginginkan treatment yang lebih menyegarkan tubuh, bisa melakukan pijat refleksi atau menikmati suasana sore yang tenang di tepi kolam renang outdoor di hotel ini. Kolam renang ini cukup luas dan sejuk karena ada pepohonan dan tumbuhan di sekitarnya.
Di beberapa sisi ruangan lain, suasana nyaman dan tenang juga bisa dirasakan saat berada di hotel ini. Penggunaan warna-warna tanah yang mendominasi ruangan menambah kenyamanan kita saat  menu hidangan lezat dari pengelola hotel.

Sunday, July 17, 2016

TUNTUTAN PROFESI..


Banyak yang bilang kalau social media itu mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Kalau terlalu lama dimainin nggak bagus lah, katanya. Ya mungkin emang ada benernya juga, sih. Tapi masalahnya adalah, apa jadinya ketika 'social media' itu sendiri merupakan tuntutan dari profesi kita? 

Jeng-jeng... Crot.. Crot.. #DilemaAdminSocmed





Demi mengisi waktu kosong berbulan-bulan menanti aktivitas universitas sebagai calon maba, sebulan belakangan ini gue lagi asik kerja kantoran. Jadi admin socmed, lebih tepatnya.  Kantornya bukan di gedung puluhan lantai gitu sih, lebih tepatnya di ruko 3 lantai. Atau lebih tepatnya lagi, ruko 3 lantai yang ada lift dan beberapa mobil MPV, SUV, dan Mercy didalamnya. Berhubung kurang keren kalau disebut 'kerja ruko-an', maka gue menyebutnya kerja kantoran. Lagian, rukonya itu sendiri juga bagian dari cabang perusahaan cybertainment.

Jangan pernah ngira kalau jadi admin socmed itu enak. Buat yang ngira jadi admin socmed itu enak, maka kalian... kalian... kalian..... ada benernya juga sih. Walaupun nggak sepenuhnya bener. Buat orang-orang yang nggak tertarik dengan dunia blog atau dunia website-website-an, maka pekerjaan ini akan sangat memusingkan dan membuat kalian stress, demam tinggi, muntah-muntah, nafsu makan berkurang, dan bahkan hamil diluar nikah. Socmed yang gue urusin bukan cuma socmed-socmed kayak facebook atau twitter, tapi socmed-socmed semacam website perusahaan cybertainment dan website e-commerce, plus blog yang bertemakan religi dan vihara. Total ada 6 website 2 blog pokoknya. Admin socmed gokil, sis..

Yang namanya kerja sama orang, pasti gue punya atasan a.k.a Boss. Kalau dilihat dari struktur fisiknya sendiri, si om boss ini adalah pria berkepala 4. Bukan, bukan makhluk yang kepalanya ada 4 kayak blue eyes ultimate dragon atau semacamnya, tapi kepala 4 dalam artian umurnya sekitar 40 tahunan. Kabarnya, beliau adalah lulusan S2 yang pernah tinggal di LA. Bukan Lenteng Agung, tapi Los Angeles. Jadi, kalau ada hal kampret yang terjadi antara gue sebagai karyawan dengan si om boss, gue nggak bakalan mungkin bisa menulis tulisan berjudul My Stupid Boss. Because, actually he's smart. And pretty arrogant. Mungkin gue akan menulis tulisan berjudul "Boss Ku Harimau Ku", atau "My Boss My Tiger". Itu pun kalau ada hal kampret yang terjadi, tapi semoga nggak ada..

Sejauh ini, suasana antara boss dan karyawan yang gue alami masih cukup harmonis. Masih nggak perlu bantuan dokter boyke untuk diperharmonis. Hal-hal kurang mengenakkan yang terjadi palingan cuma.. gue pernah disuruh pasangin domain di blog vihara-religi yang udah gue buat, dan karena deadline, si om boss ini maunya domainnya langsung kepasang. Padahl kan, yang namanya domain itu harus nunggu 6-8 jam buat bisa kepasang. Paling cepet juga 4 jam-an, itu semua tergantung google nya sendiri. Tapi si om boss waktu itu tak mau tau. Huh..Terakhir sih, gue disodorin 2 buah buku budaya China buat dijadiin tulisan di blog. Nggak apa-apa lah belajar lebih banyak tentang nenek moyang dari buku-buku itu, namanya juga tuntutan profesi..


buku panduan..
Satu hal yang gue lupa adalah, yang namanya admin socmed berarti pekerjaannya tergantung internet. Kalau internet mati, maka admin socmed akan menjadi pengangguran yang tak tau harus berbuat apa. Pernah sekali internet di kantor itu mati karena emang layanannya lagi error dan harus berjam-jam buat bisa kembali normal. Dan waktu itu, gue nganggur hampir 5 jam nggak tau harus ngapain. Akhirnya waktu itu gue pulang, sekalian ngambil sepatu futsal karena ada janji buat main futsal bareng temen sepulang kerja. Dan satu setengah jam kemudian gue kembali ke kantor tersebut. Nggak lama setelah gue sampe lagi di kantor itu, gue diomelin dan diceritakan pengalaman hidup si om boss. Saat itu gue tau, kalau emang gue yang salah. Ini gue curiga malah si om boss yang bakalan nulis tulisan, judulnya "My Stupd Employee." Ceritanya tentang admin socmed yang pulang ke rumah buat ngambil sepatu futsal karena internet di kantornya mati. 

Selain pernah diomelin karena pulang seenak bilik kiri (karena seenak jidat sudah terlalu mainstream), gue juga pernah diomelin karena main game waktu lagi kerja. Jadi waktu itu tugas gue udah selesai, tinggal nunggu tugas baru dari si om boss. Karena bosen, keesokan harinya gue memutuskan buat membawa tab dari rumah. Dan saat itu, gue main NBA mobile sama FIFA 15 sembari menunggu tugas dari om boss. Waktu itu ruangan masih sepi, karena beberapa karyawan lain masih belum pulang mudik lebaran dan si om boss belum turun dari lantai atas. Dan tanpa gue sangka, dia tau kalau gue main game. Gue pun diomelin. Gue semakin curiga, fantasi tentang tulisan yang berjudul "My Stupd Employee" akan menjadi nyata.   

Yang namanya kerja pasti ada enak nggak enaknya. Yang nggak enak dari pekerjaan ini adalah, hari sabtu gue tetep disuruh masuk! Gue yang biasanya selalu bangun telat di sabtu pagi harus terpaksa bangun pagi. Huh, namanya juga tuntutan profesi. Tapi yang enak adalah, gue dibolehin cuti 2 minggu buat urusan universitas. Dan gue diperbolehkan buat kerja part time waktu kuliah nanti. Baik juga kan, si om boss. Kontrak kerja gue yang awalnya 3 bulan pun diganti jadi 2 bulan. Tapi untuk masalah part time, gue rasa gue bakal menolaknya karena fokus kuliah itu sesuatu yang sangat penting, fellas. Entah lah, gue masih bimbang sebenarnya antara part time atau enggak. Sekarang ini gue lagi cuti 2 minggu buat urusan kuliah... sekalian cuti buat jalan-jalan juga sih.  Yasudah lah, gue harap nggak akan ada tulisan yang berjudul My Boss My Tiger atau pun My Stupid Employee kedepannya. Amin. Halleluya. Mujizat itu nyata. 


Wednesday, July 13, 2016

NOBAR FINAL EURO 2016!


Minggu malam kemarin gue dan ratusan bahkan ribuan orang lainnya terdampar di SMS a.k.a Summarecon Mall Serpong. Agenda nonton bareng final EURO 2016 menjadi alasan terdamparnya para penikmat bola itu di mall yang terletak di selatan tanggerang ini. Nggak semuanya penikmat bola sih, kayaknya. Ada yang nobar buat nemenin pacarnya, ada yang nobar buat nemenin suaminya, ada juga yang nobar buat nemenin pacar suaminya. Dan disamping itu semua, ternyata ada sosok pak SBY alias pak Beye alias mantan (mantan presiden maksudnya) yang ikutan nonton di SMS. Gokil.

menra eiffel  yang tertunda

Bukannya nggak ada tempat nobar yang lain, sebenernya ada beberapa tempat di Jakarta yang nggak kalah asik buat dijadiin tempat nobar. Tapi, SMS itu bisa dibilang basisnya tempat nobar EURO 2016. Karena selama EURO 2016 berlangsung, nobar di mall SMS itu adalah nobar yang diliput sama RCTI sebelum giliran komentatornya yang bicara. Jadi tau dong, atmospherenya kayak apa. Euforianya pasti gokil, apalagi waktu itu partainya partai final antara Belanda vs Prancis. Maap, Protugal vs Prancis maksudnya. Belum bisa move on, cuy. 



Sama kayak partai-partai setelah penyisihan sebelumnya, partai final Portugal vs Prancis itu kick off jam 2 pagi. Gue dan beberapa temen gue yang lain pun nyampe di SMS dengan waktu berbeda-beda. Kelompok yang baik dari jam 9 udah nyampe buat booking kursi, sementara gue dan beberapa orang lainnya sekitar jam setengah 1 pagi baru nyampe situ. Ternyata, meskipun udah di booking dari jam 9, kursi yang ada masih nggak cukup buat kita semua. Saking besarnya antusias penikmat bola buat nobar sih, ya. Summarecon Mall Serpong malam itu seakan disulap menjadi Stade De France yang tertunda. Summarecon De France mungkin.. 



tempat futsalnya cuy
rame cuy

Sebenernya gue nggak terlalu antusias sama match Portugal vs France ini. Karena sejatinya, gue adalah pendukung setia Belanda yang "timnya" nggak lolos ke EURO 2016. Karena Belanda nggak main, di EURO 2016 ini gue megang Belgia buat jadi juara. Karena selain ada beberapa pemain dan eks pemain Chelsea, secara sejarah internasional pun Belgia pernah dikuasai oleh Belanda. Tapi sayangnya, Blegia malah kalah 3-1 dari Wales di perempat final. Wales sendiri pun akhirnya kalah sama Portugal yang akhirnya melaju ke final. Gue masih nggak rela sebenernya, mungkin kalau waktu itu Belgia yang menang maka Belgia lah yang melaju ke final. Coba kalau waktu itu Kompany sama Vermaelen main.. 

Gue sendiri ikut ngacir ke SMS buat nobar karena tertarik sama euforia nonton barengnya. Ngumpul sesama penikmat bola, nonton final EURO bareng, teriak bareng. Minggu malam kemarin itu SMS emang lagi rame banget. Tempat parkir mobil atau motornya juga penuh. Padahal, mall nya sendiri udah tutup dari beberapa jam yang lalu. 

Sebagai bentuk dukungan buat Prancis, malam itu gue memakai baju biru navi lengan panjang. Biar kayak warna jerseynya Prancis gitu. Padahal, malam itu gue lebih condong buat dukung Portugal. Sebenernya gue nggak peduli siapa yang bakalan juara sih. Kalau Prancis yang juara, ya wajar karena mereka tuan rumah. Kalau Portugal juara, mungkin bakalan seru juga sih karena itu berarti mereka berhasil mengalahkan tuan rumah padahal.. mereka sendiri hampir nggak lolos grup. Tapi bodo amat, siapa pun yang juara gue nggak peduli..

nobar di lapangan

The Wine Place
Waktu match dimulai, gue dan beberapa buah teman yang lain nonton dari dalem The Wine Place sedangkan beberapa temen sisanya nonton dari dalem lapangan futsal. Tapi karena ngerasa kalau euforia dari Wine Place nya kurang, gue ngacir ke lapangan futsal buat bergabung dengan beberapa teman yang lain. Tapi ternyata, jarak dari layar buat nobar sama lapangannya jauh! Huh, gue jadi ngerasa kayak lagi LDR-an sama layarnya... waktu babak kedua dimulai pun akhirnya gue kembali ke Wine Place. Satu hal yang kurang gue suka dari nobar rame-rame gini adalah asap rokok. Banyak perokok yang ngerokok, yang nggak nyadar kalau asapnya itu mengganggu banget buat orang-orang disekitarnya. Gue rasa, lain kali panitia harus membuat ruang tanpa ventilasi khusus smoking sambil nobar buat para perokok... biar kalau mereka pada asik ngisep, mereka juga pada asik menghirup asapnya masing-masing. Terus kena TBC, terus paru-paru membusuk, terus... ya begitulah. 

Tapi, euforia nobar malam itu emang kerasa banget. Seru lah pokoknya, nonton bareng orang-orang yang senasib sepenanggungan dalam hal olahraga favorit. Waktu ada peluang, disorakin rame-rame. Waktu bolanya out karena kesalahan pemain, disorakin rame-rame. Waktu kameranya ngeliput suporter cewek yang sexy-sexy, juga disorakin rame-rame. Waktu Ronaldo cidera padahal baru main beberapa menit pun jadi bahan perhatian waktu itu. Telenovela final euro 2016 waktu itu memang dibuka dengan cideranya seorang Christiano Ronaldo gara-gara disuntik sama Payet.. Ah, dasar iga payet. Suasana nobar pun menjadi sangat bergemuruh waktu itu..  bergemuruh dan dipenuhi dengan kata-kata yang agak kasar. Ada yang teriak "Syit men.." ada yang teriak "Waduhhhh" ada yang teriak "woyyy!" Ada juga yang teriak "Yamentee senpai.. crot". Ternyata itu Mesut Ozil, yang lagi mau dipeperin upil sama Joachim Low.

Ronaldo yang awalnya masih bisa berdiri dan kembali bermain, ternyata harus kembali terkapar di lapangan dan nggak bisa melanjutkan permainan. Ronaldo pun kembali nangis, duduk di bangku cadangan, dan pada akhirnya menjadi pelatih dadakan. Taktik Prancis di awal ternyata licik juga, cuy. Mungkin taktik Prancis di final bukan 4-4-2 atau 3-5-2 atau semacamnya, tapi taktik sakiti Ronaldo aja dulu.. kedepannya kita liat nanti.

Awalnya emang keliatan gampang buat Prancis waktu Ronaldo udah cidera di awal-awal pertandingan. Keliatannya sih gitu, tapi ternyata...hal itu cuma sekedar keliatannya. Prancis yang awalnya udah tuan rumah, main pake squad yang bisa dikatakan full team, ngelawan Portugal tanpa Ronaldo, cuma bisa main 0-0 dan dilanjutkan ke babak Extra time. Ini tentunya tragis. Bukan cuma buat Prancis, tapi buat gue. Karena saat itu, gue masih harus tetep kerja ngantor di jam setengah 9 paginya. Extra time buat Prancis ketika seharusnya mereka bisa menang tentunya merenggut hak untuk tidur para manusia yang waktu itu kerja di senin paginya. 

Kembalikan waktu tidur ku..
Waktu extra time, Prancis masih terus menekan Portugal. Tapi entah kenapa, hati kecil gue mengatakan kayaknya bakal seru kalau Portugal yang diserang terus malah ngegolin lewat counter attack. Dan benar saja pemirsa-pemirsa, waktu di second extra time ketika pertandingan hampir masuk ke babak adu pinalti, gue melihat sesosok pria yang berkulit gelap berbaju merah dan rambutnya dikepang-kepang sedang berlari-lari membawa bola. Sesaat kemudian, pria tersebut menendang bola dari luar kotak pinalti dan boom! Gol! Akhirnya pertandingan final ini pecah telur! 1-0 buat Portugal. Mayoritas orang-orang yang nobar waktu itu pun langsung heboh. Ternyata pria yang berkulit gelap berbaju merah dan rambutnya dikepang-kepang itu adalah Eder, penyerang Portugal yang waktu itu diduetin sama Nani di depan. Skor 1-0 bertahan sampe second extra time, dan Portugal juara. Akhir cerita, waktu itu gue tiba di rumah jam 6 pagi dan harus bekerja jam setengah 9 pagi. 

Meskipun final EURO 2016 ini kerasa lebih membosankan daripada final EURO 2012, tapi sejatinya banyak pesan moril yang bisa didapat. Satu hal yang dengan jelas bisa dipelajari dari kemenangan Portugal adalah: ketika kita kehilangan seseorang yang sangat berarti dan sangat kita harapkan kehadirannya, hal itu bukan berarti akhir dari segalanya. Karena ketika kita kehilangan orang tersebut, bukan berarti kita juga kehilangan perjuangan kita. Dan satu lagi, Portugal yang awalnya hampir nggak lolos grup, cuma lolos karena juara 3 terbaik dan keseringan main seri, tiba-tiba bisa jadi juara di final. Gokil.   Tapi tenang, hati gue masih buat Belanda. Seenggaknya, pelajaran yang bisa diambil oleh supporter Belanda adalah: Tim yang hampir nggak lolos grup aja bisa juara, apa lagi tim yang nggak lolos kualifikasi. Bakal juara piala dunia mungkin...


mamak... Ronaldo menang mamak..
Woi payet, liat ni nyettttt

Monday, July 11, 2016

The House At The End of Time, Ketika Rumah Berkonspirasi dengan Dimensi Waktu


Sinopsis The House At The End Of Time/ La Casa Del Fin Delos Tiempos:

Pada tahun 1981, seorang ibu 2 anak yang bernama Ducle terpaksa mendekam di penjara selama 30 tahun karena dituduh membunuh suaminya yang bernama Juan Jose. Anaknya yang bernama Leopoldo pun tiba-tiba menghilang di malam saat kejadian itu. Padahal, di malam pada saat Juan Jose terbunuh, Ducle sedang terbaring pingsan dan tak sadarkan diri. Namun sayangnya, polisi menemukan sidik jarinya di pisau yang membunuh suaminya itu. 30 tahun kemudian setelah masa tahanannya habis, Ducle kembali ke rumah tempat terbunuhnya Juan Jose dan sekaligus tempat menghilangnya Leopoldo. Sebuah rahasia tak terduga yang ada di dalam rumah itu pun perlahan terungkap. Sebenarnya, siapa yang membunuh Juan Jose? Kemana kah perginya Leopoldo? Dan, apa yang salah dengan rumah itu? 


Cast:
Rudy Rodriguez as Ducle
Rosmel Bustamante as Leopoldo
Gonzalo Cubero as Juan Jose


[[[[


Hola.. Untuk pertama kalinya kemaren gue nonton film thriller Venzeuela. Iya, Venezuela. Belakangan ini gue emang lagi hobi nonton film thriller spanish, dan kemarin waktu lagi nyari-nyari refrensi film thriller spanish, nongol lah film dengan judul  The House At The End of Time a.k.a La Casa Del Fin Delos Tiempos. Gue belum pernah nonton film Venezuela apapun sebelumnya, dan gue juga agak ragu buat nonton film thriller-horror yang satu ini. Tapi ternyata, La Casa Del Fin Delos Tiempos ini gokil dan keren abis! It's kind of masterpiece.


The House At The End of Time itu beda sama The House At The End of The Street loh, ya.

Ducle dan 2 buah anaknya
Ma, papa hamil...

Film ini dibuka dengan scene di sebuah rumah pada tahun 1981, dimana seorang ibu bernama Ducle mendapati suaminya tewas ditikam. Tak lama setelah itu, Ducle juga mendapati anak sulungya yang bernama Leopoldo lenyap entah kemana di depan matanya sendiri. Scene selanjutnya memperlihatkan bagaimana Ducle dipenjarakan karena dituduh membunuh suaminya sendiri dengan barang bukti sidik jari di pisau yang membunuh suaminya itu. 


Tiga puluh tahun setelah itu, di tahun 2011, Ducle dibebaskan dan kembali ke rumah yang menjadi saksi tewasnya sang suami dan menghilangnya sang anak. Ducle tak sendiri, kembalinya ia ke rumah ditemani oleh pastur bernama Priest yang merupakan teman bermain Leopoldo semasa kecil. Priest sendiri pernah berjanji akan selalu ada untuk Leopoldo setelah kejadian naas yang menimpah adik Leopoldo terjadi. Yap, adiknya Leopodlo. Ducle sejatinya adalah ibu dari 2 orang anak, setidaknya sampai pada suatu hari ada sebuah tragedi yang menimpah anak bungsunya yang bernama Rodrigo. Cerita selanjutnya dipenuhi dengan flashback ke tahun 1981 dan kembali lagi ke tahun 2011 untuk memperlihatkan apa yang sebenarnya terjadi.

Apa yang terjadi di tahun 1981 selanjutnya menyisahkan banyak tanda tanya. Apa yang terjadi di tahun 1981, ternyata memiliki koneksi dengan apa yang terjadi di tahun 2011. Yang salah bukan Ducle, bukan juga anak-anaknya, tapi yang salah adalah rumahnya. Ada sesuatu yang terjadi di rumah itu, yang berusaha untuk diungkap Ducle. 


Rodrigo - Leopoldo 

Ducle setelah 30 tahun di penjara..

Koneksi yang terjadi antara tahun 1981 dengan tahun 2011 lewat alur bolak-balik yang diciptakan oleh Alejandro Hidalgo selaku sutradara membuat unusr suspense dan thrilling dari film The House At The End of Time sangat terasa. Koneksi itu seakan-akan menjadi momen awal yang menciptakan sebuah puzzle penuh misteri yang menanti untuk dirangkai dan diselesaikan. Meskipun genre film yang satu ini adalah Thriller-Horror, tapi film ini bukan tipe film yang ada "hantu-hantunya". Karena sejatinya, hantu yang ada di film ini adalah rumah itu sendiri.

Kabarnya, film keluaran tahun 2013 ini merupakan film horror pertama Venezuela. Gue nggak ngerti, kenapa Venezuela baru punya film horror di tahun 2013. Tapi kalau film ini emang film horror pertama Venezuela, gue akan mengatakan kalau film horror pertama mereka ini keren. Lebih condong ke thriller-mystery yang suspense sih gue bilang, daripada film horror-thriller. Mungkin kalau disama-samain kayak film horror lain, film ini memiliki kesamaan dengan film the others (2001) yang menjadikan rumah sebagai perantara hantu dengan manusia. Tapi bedanya, nggak ada hantu di film yang satu ini. Rumah yang ada menjadi perantara antara manusia dengan manusia di masa yang berbeda. 

Buat pecinta film thriller-mystery, percayalah,  menghabiskan waktu 101 menit untuk menyelesaikan rangkaian puzzle penuh misteri yang ada pada film La Casa Del Fin Delos Tiempos ini akan menjadi hal yang cukup menarik.

My Star : 8.2

                      

b:if cond='data:blog.pageType != "item"'>