Saturday, May 20, 2017

Ketua Himpunan Jurnalis Mahasiswa Jelambar, Prett...


Ada 2 tipe paling umum dari mahasiswa di semester 2. Pertama, mereka yang ipk nya diatas 3 dan berniat menjaga nilai-nilainya. Kedua, mereka yang ipk nya dibawah 3 dan selalu memotivasi diri dengan kata-kata "Ah, Sudahlah, nilai itu nggak menentukan apa-apa". 

Menurut gue, kalimat "Ah, Sudahlah, nilai itu nggak menentukan apa-apa" adalah kalimat yang sangat pesimistis. Nilai mungkin memang nggak menentukan masa depan, tapi bukan berarti nggak menentukan apa-apa. Karena ya bisa dibilang, ipk itu merepresentasikan intelektualitas kita sebagai mahasiswa. Nggak usah tinggi-tinggi amat sampe mentok 4, tapi ya paling enggak jangan rendah-rendah amat juga, bertanggung jawab sedikit gitu loh. Kan baru semester satu boy..

Dengan ipk yang cukup gurih di semester satu, gue dapat menyimpulkan kalau gue berada di jurusan yang tepat. Ternyata, selain ilmu politik, hobi menulis itu kepake banget di jurusan Hubungan Internasional ini. Karena yang namanya essay itu bisa dibilang adalah makanan sehari-hari. Asik deh, pokoknya. Untuk 'mengamankan' nilai, sebulan belakangan ini gue lagi berusaha untuk memecahkan tantangan dari salah seorang dosen. Tantangannya adalah.. kolom opini Harian Kompas.




Salah seorang dosen gue di semester 2 memberi tantangan kepada mahasiswa-mahasiswinya. Buat yang tulisan opininya bisa dimuat beberapa harian tertentu kayak Kompas dan Jakarta Post, maka nilai ujian dan tugasnya bakalan dikasih "A" secara cumi-cumi. Dengan motivasi memburu nilai A secara cumi-cumi, sebulan belakangan ini gue lagi gencar-gencarnya mengirim tulisan ke email opini kompas. Sebenarnya pilihannya nggak cuma opini Kompas, tapi apa daya, intuisi ini menginginkan opini Kompas.

Ternyata, nulis opini buat koran itu rumit. Lebih konfliktual daripada yang dibayangkan sebelumnya. Padahal, telah ku rangkai kata-kata interpretasi ku dengan ditemani sinar rembulan dan secangkir kopi berampas agar tetap terjaga di malam hari. Tapi Bapak/Ibu redaksi masih berkeras hati dan mengembalikan tulisan ini. Beberapa waktu belakangan ini mungkin sudah sekitar 8 tulisan opini politik yang gue kirim. 

Kolom Opini Kompas itu ternyata jauh lebih horror dari yang dibayangkan. Kabarnya, tiap hari ada sekitar 70-80 tulisan yang dikirm dan biasanya yang ngirim itu adalah.. dosen, sejarahwan, politikus, dan intelektual-intelektual politik lainnya. Pantas lah, dosen gue ini berani ngasih tantangan begitu, ya. 

Walaupun dikembalikan, seenggaknya dibalas sama kompasnya itu sendiri sudah cukup melegakan hati. Karena nggak semua email bakalan dibalas, cuma yang memenuhi syarat yang bakal dibaca dan dibalas, katanya sih begitu. Dari 9 email kiriman gue, ada 6 yang dibalas. Tiga dibilang kurang redaksional, satu dibilang sudah ada titipan, dan satu dibilang kesulitan mendapat tempat, dan ada juga yang dibilang kurang urgen. Seenggaknya, itu berarti ada beberapa tulisan gue yang sudah memenuhi syarat dan ketentuan dari keinginan Harian Kompas itu sendiri. 






















Karena gue tetap ingin mengamankan nilai dan memburu nilai "A" selama masih ada waktu, permainan dengan intelektualitas harus dilakukan. Dari beberapa tulisan yang dikembalikan itu, gue tinjau kenapa tulisan tersebut bisa dikatakan memenuhi syarat dan kenapa  tulisan lainnya nggak memenuhi syarat. Semua elemen gue tinjau baik dari struktur, sampai penyampaiannya. Ternyata, mayoritas dari kelima tulisan yang dikembalikan itu memiliki beberapa kesamaan: Total kata pas 700 kata, judulnya singkat tapi jelas, dan pastinya semua opini harus disangkutpautkan dengan Indonesia.

Karena kolom opini yang diincar adalah opini yang 700 kata, maka mungkin jumlah katanya harus pas 700 kata termasuk dengan judulnya. Judulnya sendiri setelah diamat-amati cuma terdiri dari 2-5 kalimat, dan pastinya harus membahas soal Indonesia. Seenggaknya, gue sudah menemukan syarat-syarat utamanya. Permasalahan selanjutnya adalah mengidentifikasi kenapa tulisan ini masih belum bisa dimuat juga. Alasan pertama mungkin memang karena kualitas tulisan masih belum layak. Tapi, Siapa yang tau kalau ada hal lain dibalik itu semua..

Setelah melakukan penyelidikan dengan jurus mata-mata Russia, akhirnya gue menemukan sebuah celah yang mungkin bisa menjadi salah satu pertimbangan admin redaksi Opini Kompas itu sendiri untuk mengembalikan opini gue. Hal yang membuat tulisan gue dikembalikan mungkin bukan karena tulisan ataupun topiknya, tapi mungkin karena.... profesi. Setelah diselidiki lebih lanjut, orang-orang yang tulisannya diterbitkan itu rata-rata orang-orang yang memang profesinya berkredibiltas. Dosen UGM, wakil DPD, Sejarahwan Lippi, dan yang ngeri-ngeri lainnya. Mungkin, semakin tinggi jabatan maka intelektualitas dari opini akan terlihat semakin matang. Dan profesi mereka sendiri akan dipublikasikan di akhir dari tulisan mereka. Setelah gue amati lagi lebih lanjut, gue belum menemukan satu pun penulis opini yang jabatannya mahasiswa. Sementara gue, gue selalu mendefinisikan profesi gue sebagai mahasiswa semester 2.

Sejenak, intuisi ini berkata mungkin kalau gue bisa mencari jabatan lain yang cukup berkredibilitas, maka hal tersebut dapat menyita perhatian Bapak/Ibu redaksi. Gue pun mulai berpikir, jabatan apa yang cukup berkredibilitas yang gue punya. Sekitar 3 menit 42 detik kemudian, gue tersadar. Gue sadar kalau gue nggak memiliki jabatan yang cukup berkredibilitas. Sejarahwan? Mungkin dulu gue adalah seorang sejarahwan, yang meneliti dampak kenangan masa lalu terhadap kesehatan orang yang baru ditinggal pasangan. Blogger? terlalu universal. Aktivis keagamaan di UKM kampus? Ciluk ba kekok. 

Mungkin akan lebih mudah buat gue kalau gue adalah seorang ketua himpunan di jurusan Hubungan Internasional. Tapi sayangnya gue bukan ketua himpunan, ikut himpunan aja enggak. Namun, entah dari mana datangnya, tiba-tiba muncul ide jenius yang sedikit nyeleneh namun cemerlang di kepala gue. Mungkin gue bukan ketua himpunan, tapi bukan berarti gue nggak bisa jadi ketua himpunan. Himpunan komunitas itu kan definisinya kumpulan atas dasar kesamaan, gimana kalau gue membentuk himpunan sendiri? Terus gue jadi ketuanya, deh. Karena untuk membuat himpunan di universitas harus ngurus legalitasnya sendiri, gimana kalau gue bikin himpunan skala regional? Skala komplek rumah, maksudnya. Anggotanya temen-temen gue, ketuanya gue.

Agar lebih berkredibilitas, himpunannya gue buat himpunan mahasiswa jurnalis biar keliatannya concern di dunia penulisan. Dan karena gue tinggal di Jelambar, maka himpunan mahasiswa jurnalis ini akan diberi nama Himpunan Jurnalis Mahasiswa Jelambar.  Ini semua demi nilai.. 

Capcus...


Tuesday, May 16, 2017

Penista Asmara




Bagai pungguk merindukan bulan,
pingin meluk tapi doi udah punya gebetan. Setan.

Aliong adalah seorang mahasiswa baru. Kehidupan univeritasnya dijalaninya dengan penuh suka duka. Awalnya lebih banyak duka, namun rasa suka kemudian mendominasi setelah Aliong bertemu dengan seorang mahasiswi dari jurusan lain yang bernama Amei. Mata mereka beberapa kali bertemu di satu titik,   Degupan demi degupan di hati Aliong setiap memandang Amei selalu menjadi bumbu penyedap tatapannya. Sejak saat itu, Aliong sadar kalau dia sudah jatuh hati.
Aliong kemudian dengan menggunakan metode kualitatif dan jurus mata-mata Korea Utaranya berusaha untuk mengumpulkan data dan memastikan bahwa Amei belum ada yang punya. Aliong pun berada di satu titik dimana ia yakin kalau dia akan melakukan pendekatan kepada seorang wanita single idamannya. Namun sayang, keyakinan Aliong ternyata salah. Amei sudah punya gebetan, namanya Boboho. Mengetahui hal tersebut, Aliong pun menjadi sedih dan depresi.
Sejak saat itu, Aliong tidak lagi sama. Ia menjadi pemurung, hilang nafsu makan, muntah-muntah, demam 39° atau lebih, dan tidak baik bagi ibu hamil.

Kasihan ya, si Aliong. Pingin deketin cewek, ternyata ceweknya udah ada yang punya. Padahal awalnya udah yakin banget kalau ceweknya masih single. Aliong oh Aliong, memang cocoknya buka rumah makan seafood saja lah dirimu. 

Ditolak itu memang sakit. Tapi kalau diterka-terka, lebih sakit mana, ditolak begitu aja atau nggak tau bakal ditolak atau diterima karena memang nggak bisa ngedeketin dari awal? Aliong oh Aliong, memang cocoknya buka rumah makan seafood saja lah dirimu. 

cihuy
Aliong jelas bukan satu-satunya. Masih terlalu banyak di dunia ini populasi orang yang naksir gebetan orang lain. Tipe dari orang-orang yang naksir gebetan orang lain kemudian menjadi pembedanya. Ada yang diam aja, lalu berusaha membunuh perasaannya sendiri. Ada yang nggak tinggal diam, melakukan segala cara untuk menikung. Ada juga yang nunggu orang yang ditaksir putus dari gebetannya, tapi ternyata nggak putus-putus terus nikah.

Asmara bagaimanapun memiliki etikanya sendiri. Merebut seseorang yang sudah memiliki pasangan tentu bukanlah perbuatan yang etis. Rasa cemburu mungkin akan terus menggerutu. Wajar, karena cemburu itu indikator rasa cinta. Tapi percayalah, mencintai dengan tulus bukan masalah seberapa besar rasa cemburu kita. Tapi mencintai dengan tulus adalah masalah seberapa besar keikhlasan kita melihatnya bahagia, meski bukan dengan kita. Dengerin tuh, liong.

Ada banyak kegaduhan yang akan tercipta kalau seseorang tetap bersih kukuh untuk mendekati apa yang seharusnya tidak didekati. Deketin gebetan orang lain itu konfliktual.  Konflik utmanya bukan tentang baku hantam yang mungkin akan terjadi antara tersangka penikung dan korban yang ditikung, tapi konflik utamanya ada di objek yang ditikung. Katakanlah Aliong merebut Amei dan menikung Boboho, mungkin akan ada aksi baku hantam antara Aliong dan Boboho. Tapi bukan itu masalah utamanya, masalah utamanya adalah status Amei sebagai wanita yang gampang ditaklukkan dan punya mental selingkuh.

Teruntuk para pria, begini. Ketika seorang wanita dapat kita taklukkan untuk bisa menjadi milik kita disaat dia telah dimiliki orang lain, akan ada kemungkinan dan potensi yang sama besar jika wanita tersebut dapat ditaklukkan pria lain saat dia menjadi milik kita. Kenapa? Karena wanita tersebut memang memiliki mental selingkuh. Jadi bagi kalian yang ingin menikung orang lain, ada baiknya direnungkan lagi. Asmara punya etika boy, jangan menjadi penista asmara. Nanti di demo ormas, loh. Aksi damai, maksudnya.

Kasus naksir gebetan orang itu memang pedih. Jurang pemisahnya bukan karena perbedaan kepercayaan atau karena 'kamu terlalu baik buat aku', tapi jurang pemisahnya adalah karena nilai, norma, dan juga etika dalam berasmara. Penista asmara mungkin sudah seharusnya ditindak, biar apa? Biar mengurangi populasi wanita atau pria gampangan yang punya mental selingkuh. Mungkin, harus ada hukum yang mengatur tentang penista asmara..
Mungkin kalau isu penista asmara ini disekuritisasi oleh negara, maka undang-undang diatas dapat menjadi fondasinya. Ya begitulah, akhir-akhir ini kan lagi marak-maraknya isu-isu penista. Dikit-dikit dibilang menista, dikit-dikit dibilang menista. Daripada bikin gaduh negara karena aksi saling lapor menista-menistaan, ada baiknya kita memberdayakan generasi muda yang menjunjung tinggi etika berasmara.

Merdeka.

Thursday, May 11, 2017

Basuki dan Mitos Toleransi



Sebagian dari Indonesia tengah berkabung. Tepat pada tanggal 9 Mei 2017 lalu, seorang putra terbaiknya dikurung karena dituding menista. Hukum dan toleransi di negri ini mungkin telah merepresentasikan raga tanpa jiwa, atau mungkin mayat yang diawetkan. Intervensi dapat dilakukan secara mudah dengan dalih demokrasi. Meski berulang kali permintaan maaf telah disampaikan, segala desakkan membawanya kepada ketukan palu yang mengurungnya selama 2 tahun. 

Sebuah senyum yang mengembang dan kepala yang bergeleng-geleng pun menjadi potret dari mereka yang tengah berkabung. Lucu, bagaimana orang-orang bisa lebih memilih untuk menerima pemimpin yang koruptif namun seiman ketimbang pemimpin yang bersih, jujur, dan transparan namun tidak seiman. Pantas negara ini sukar untuk maju, dikasih emas malah minta perunggu. Emasnya dibuang pula. Kasus penistaan Basuki Tjahaja Purnama mungkin dapat menjadi representasi bahwa hukum dapat diintervensi dan toleransi mungkin kini sedang bertransformasi menjadi mitos. 


Ahok, aset terbaik

Teruntuk mereka yang waras, Ahok tentu merupakan aset terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Setiap pagi bertatap muka dengan warga, menyapa dan memberi solusi di balai kota. Memerangi kasus korupsi, hingga dirinya dibenci oleh para elit politik kotor. Membangun untuk Jakarta, mengatasi permasalahan-permasalahan yang sukar untuk diatasi Gubernur terdahulu. Namun sayang, perbedaan lagi-lagi menjadi senjata bagi mereka yang radikal dan intoleran.

Ahok adalah sosok sempurna untuk dijadikan panutan. Beliau adalah pria sejati, bukan banci seperti si suci yang tidak datang saat dipanggil polisi. Atau seperti si koruptor yang selalu mengaku tidak enak badan ketika dipanggil polisi. Beliau bahkan tidak melulu mengeluh dikriminalisasi ataupun dipolitisasi seperti para koruptor najis yang secara objektif terbukti bersalah. Bagaimanapun, dipenjaranya Ahok adalah kekalahan dari toleransi.

Media internasional bahkan mengkritisi kasus Ahok sebagai hilangnya kebebasan berpendapat. Bukan hanya Indonesia, dunia pun sadar jika vonis yang dijatuhkan kepada Ahok adalah sesuatu yang rancu. Padahal, toleransi merupakan substansi dari kehidupan berbangsa. Terlalu menyedihkan bagi Indonesia jika pejabat bersih yang mampu membawa perubahan yang jauh lebih baik justru dikriminalisasi hanya karena kepentingan tertentu. Indonesia dan toleransi kini bagaikan pungguk yang merindukan bulan. 

Intervensi dibalik aspirasi

Indonesia adalah negara demokrasi, legalitas demonstrasi memang telah diakui. Namun sayangnya, demo dan aksi damai dengan substansi tuntutan yang sama yang terus menerus dilakukan seakan-akan menunjukkan kepada dunia jika demokrasi di Indonesia bukanlah demokrasi yang berintelektualitas namun demokrasi yang demo melulu. Sebelum Ahok disidang, sebuah demonstrasi dilakukan untuk menjadikan Ahok tersangka. Setelah pemerintah melakukan pemeriksaan kepada Ahok agar tidak terjadi kegaduhan sampai lebaran kuda, Aksi serupa kembali dilakukan saat Ahok telah dijadikan tersangkan dan bahkan sampai beberapa hari sebelum putusan sidang pun Aksi serupa tetap dilakukan. 

Substansi tuntutan yang selalu sama kemudian melahirkan sebuah sentimen jika intervensi merupakan sesuatu yang berusaha disembunyikan dalam bentuk aspirasi tersebut. Substansi tuntutan demo atau aksi damai sebelum, saat, dan beberapa hari sebelum vonis dijatuhkan selalu sama, yakni ingin Ahok dipenjara. Tentu hal ini menjadi polemik tersendiri. Jika substansi tuntutan selalu sama dan Ahok sudah diproses sesuai hukum, bukan kah keputusan dari tuntutan mereka hanya masalah waktu? Lalu mengapa kemudian aksi serupa harus sampai terulang berkali-kali? Apakah aksi tersebut adalah bentuk dari upaya intervensi?

Lucu memang, jika hukum yang memiliki supremasi dapat terpengaruh oleh ribuan massa yang turun ke jalan untuk melakukan tuntutan. Kumpulan rakyat kemudian seakan menunjukkan sikap ditaktor yang demokratis. Mengingat Indonesia sedang dikuasai oleh teknologi digital, mungkin di masa depan nanti, akan ada ruang bagi mereka yang inovatif dan hobi berdemo untuk menciptakan sebuah startup dengan tajuk "GO-DEMO" atau "Grab-DEMO". Namun karena kata demo terlampau kasar, maka aplikasi startup demo online tersebut mengalami revolusi nama menjadi "GO Aksi damai" dan "Grab Aksi damai".

Kebetulan, atau Kejanggalan?

Ahok dijatuhi ultra petita. Ketika jaksa menyatakan Ahok hanya menghina golongan dengan vonis 1 tahun penjara dan 2 tahun masa percobaan, hakim memvonis Ahok menodai agama dengan kurungan 2 tahun penjara. Sungguh luar biasa, bagaimana Ahok bisa dijatuhi ultra petita atau situasi dimana vonis yang dijatuhkan hakim lebih berat daripada jaksa. Ultra petita sendiri pada pelaksanaannya adalah sesuatu yang jarang atau tidak biasa, meskipun memungkinkan. Sejatinya, hakim lebih sering menjatuhkan hukuman yang lebih ringan daripada tuntutan jaksa. Lalu mengapa ultra petita dijatuhkan di dalam kasus yang diwarnai dengan banyak aksi demo ini? Mungkin hanya sebuah kebetulan, atau mungkin kejanggalan. 

Sebuah kabar yang kembali membuat geleng-geleng adalah isu Ahok dipenjara di sebuah sel di rutan Cipinang dimana beliau satu blok dengan puluhan orang mantan Pegawai Negri Sipil DKI yang pernah dipenjarakannya karena kasus korupsi. Meskipun pada malam harinya beliau dipindahkan dan bertolak menuju markas Brimob Kelapa Dua Depok, namun kondisi satu blok dengan orang-orang yang pernah dipenjaranya tentu bukanlah sesuatu yang baik. Tak hanya sampai disitu, sang hakim pemvonis Ahok dipromosikan menjadi hakim tinggi Denpasar 2 hari setelah ia memvonis Ahok selama 2 tahun penjara. Tentu, jika hal ini merupakan skenario yang telah disusun oleh beberapa oknum, maka tidak ada kesimpulan lain jika Hukum di Indonesia memang telah mati. 

Mungkin, jika Ahok memutuskan untuk tidak maju di pilkada DKI lalu, tidak akan ada tuntutan penistaan agama dan tidak akan ada aksi damai ataupun semacamnya. Semua orang yang ingin mengenyampingkan kemunafikannya sadar, jika segala tuntutan kepada Ahok kental dengan politisasi. Bahkan, vonisnya pun kental dengan intervensi. Sebuah politik busuk yang dibalut hegemoni kemudian mampu menyetir paham radikal untuk mengkriminalisasi salah seorang aset terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. 

God
tears

Pak Ahok tentu sadar jika beliau tidak sendirian. Masih cukup banyak orang waras yang berusaha kembali menghidupkan toleransi di negara kebinekaan ini. Seorang revolusioner seperti Nelson Mandela pun pernah melakukan hal serupa untuk memerangi politik apartheid.  Hal yang menarik untuk dinanti kemudian adalah apakah Ahok mampu menjadi seorang revolusioner seperti Mandela. Mengingat sikap toleransi sedang loyo-loyonya, tentu harapan Indonesia bisa jadi ada di pak Ahok untuk dapat menjadi aktor dibalik revolusi toleransi. 

Tetap kuat, Pak Basuki Tjahaja Purnama! Kami selalu bersama mu.

Sunday, May 7, 2017

Menjadi Sehat dan Bersahaja, Cara Terbaik Menjadi Remaja


Masa remaja merupakan masa yang paling krusial. Karena di masa ini, tujuan dan jati diri hidup seseorang mulai terkonstruksi. Sebagai sebuah fase dibelakang fase kedewasaan, hal-hal yang kita lakukan semasa remaja kemudian akan sangat mempengaruhi kehidupan dewasa kita nantinya. Segala keputusan kita di masa transisi menuju kedewasaan ini tentunya harus disikapi secara serius. Untuk itu, menjadi sehat dan bersahaja dalam kehidupan sehari-hari dapat saya katakan merupakan cara terbaik dan terbijak untuk menikmati masa remaja.


pasukan remaja sehat

Menjadi remaja adalah menjadi sehat dan bersahaja. Apa gunanya jika jiwa kita muda, namun sakit-sakitan karena pola hidup yang kurang baik? Tentu hal tersebut hanya akan menyia-nyiakan masa remaja kita saja. Untuk itu, kehidupan sehat sangat penting untuk kita aplikasikan dalam aktivitas sehari-hari. 

Permasalahannya kemudian adalah mengaplikasikan kehidupan sehat pada aktivitas sehari-hari bukan merupakan pekerjaan yang mudah. Padatnya akivitas kita terkadang membuat kita lupa untuk memperhatikan kesehatan kita sendiri. Sebagai remaja berusia 19 tahun, tentu permasalahan itu juga menjadi hal serius yang mengancam 'kesehatan' saya. Karena bagaimanapun, saya bukanlah seorang remaja yang masih bersekolah dan memiliki banyak waktu luang. Waktu-waktu saya terhabiskan dengan kegiatan-kegiatan padat yang pastinya menguras energi.

Untuk itulah, Herbadrink Sari Temulawak hadir sebagai solusi terbaik bagi remaja dengan aktivitas padat seperti saya. Herbadrink Sari Temulawak merupakan minuman herbal dengan tradisional yang sangat baik bagi kesehatan kita karena membantu menjaga kesehatan fungsi hati serta memperbaiki nafsu makan kita. Minum herbal ini merupakan hasil dari resep tradisional dengan ekstrak murni bahan pilihan yang diolah dengan teknologi modern. Adapun komposisi dari Herbadrink Sari Temulawak ini sendiri adalah Ekstrak temulawak 470 mg, gula dan bahan lainnya hingga 18 g.


Herbadrink Sari Temulawak

Perkenalkan, nama saya Jefferson, remaja yang berstatus sebagai mahasiswa baru yang hobi travelling. Sebagai remaja yang hampir berkepala dua, tentu mengonsumsi 
Herbadrink Sari Temulawak akan sangat menunjang aktivitas saya sehari-hari. Kasiatnya yang terbukti nyata telah membantu saya dalam menjaga kesehatan saya. Kehadirannya dalam bentuk sachet yang praktis dibawa kemana-mana, dan cara penyajiannya yang mudah semakin membuat Herbadrink Sari Temulawak dari Konimex ini menjadi sahabat sejati saya dan juga remaja lainnya. Aktivitas saya sebagai seorang mahasiswa dan juga kegiatan-kegiatan saya lainnya akan dapat teroptimalkan tanpa perlu khawatir tentang kesehatan. 

Mahasiswa tahun pertama seperti saya tentu memerlukan energi untuk menjaga kesehatan agar dapat prima di kelas dan memetik nilai yang bagus dalam ujian. Saya sadar betul, kegiatan belajar baik di dalam maupun luar kelas memerlukan konsentrasi yang matang. Mengorbankan kesehatan untuk memperoleh nilai yang baik ataupun sebaliknya bukan merupakan keputusan yang bijak. Maka dari itu, Herbadrink Sari Temulawak membantu menjaga kesehatan saya sehingga saya dapat tetap fit dan berkonsentrasi untuk belajar baik di dalam maupun luar kelas, sehingga nilai ujian dan tugas juga dapat teroptimalkan. Karena pada akhirnya,  tubuh yang bugar dan prestasi akademik adalah 2 elemen penting untuk dapat mewujudkan remaja yang sehat dan bersahaja. 

gifs website
Herbadrink Sari Temulawak dan rutinitas
                                       
Herbadrink Sari Temulawak sendiri tersedia dengan 2 pilihan, yakni Herbadrink Sari Temulawak dan Herbadrink Sari Temulawak Sugar Free. Perlu diketahui, sugar free bukan berarti tanpa pemanis. Pemanis untuk varian Herbadrink Sari Temulawak sugar free tetap ada, namun berupa pemanis buatan tanpa kalori, yakni suklarosa.Tentu pemanis ini sangat aman, karena tidak memiliki efek pada metabolisme karbohidrat. Saya sendiri karena sudah nyaman dengan varian Herbadrink Sari Temulawak yang biasa, maka saya selalu memilih Herbadrink Sari Temulawak yang 'with sugar' sebagai pilihan saya. Keunggulan Herbadrink Sari Temulawak dibandingkan minuman temulawak lainnya tentu terlihat jelas dari sisi Herbadrink Sari Temulawak yang merupakan minuman temulawak paling praktis namun tetap diolah dengan bahan herbal. 

Tidak hanya disibukkan dengan kuliah dan kuliah tentunya, seperti remaja pada umumnya saya juga menyukai petualangan. Travelling bagi saya adalah salah satu cara terampuh untuk menghilangkan stress. Saya tentu sadar betul, untuk berpetualang ria dan melakukan travelling diperlukan tubuh yang bugar. Untuk itu, mengonsumsi Herbadrink Sari Temulawak untuk menunjang aktivitas travelling saya merupakan salah satu cara terbaik agar dapat tetap sehat dan bersahaja. Karena Herbadrink Sari Temulawak ini praktis dan mudah dibawa kemana saja, maka tidak ada alasan bagi saya untuk tidak membawa minuman herbal ini dikala travelling.


main stuffs for travel

bersahaja kan..

bugar kan..
Coba kita bayangkan, bagaimana 'rusaknya' sebuah rencana perjalanan travelling yang sudah dirancang dari jauh-jauh hari, namun di hari H nya kita malah jatuh sakit. Atau, bagaimana 'merepotkannya' ketika kita sedang menikmati perjalanan travelling namun tiba-tiba ditengah aktivitas dan kegiatan kita, kita malah jatuh sakit. Tentu, kita semua tidak ingin menghancurkan petualangan kita begitu saja hanya karena faktor kebugaran tubuh. Terutama untuk remaja, yang seharusnya ditopang dengan fisik yang prima. Untuk menjaga kebugaran tubuh sebelum atau selama travelling, mengonsumsi Herbadrink Sari Temulawak merupakan langkah preventif terbaik yang aman dan ampuh.

Harga resmi Herbadrink Sari Temulawak ini sendiri di website resmi adalah Rp. 8.910/ dus. Setiap kemasan dus memiliki 5 sachet Sari Temulawak didalamnya dengan kemasan masing-masing 18 g. Tentu harga tersebut sangat bersahabat dan terjangkau untuk setiap kalangan.  Selain mudah dibawa dan juga murah, pembuatan Herbadrink Sari Temulawak ini sendiri pun terbilang sangat mudah. Tinngal Larutkan 1 saset Herbadrink Sari Temulawak kedalam +/- 150 ml air panas atau dingin, sajikan dan nikmati manfaat alaminya segera. 

Sebagai minuman herbal yang tanpa pengawet buatan, higienis, haganya murah, cara pembuatannya mudah, khasiatnya nyata, dan mudah dibawa kemana-mana, Herbadrink Sari Temulawak tidak bisa terpungkiri lagi merupakan solusi bagi saya dan tentu bagi kalian yang ingin tetap menjaga kesehatan meski memiliki banyak aktifitas. Temulawak sendiri memang telah lama populer sebagai minuman herbal yang sangat berkhasiat bagi kesehatan. PT Konimex dengan Herbadrink Sari Temulawaknya dalam hal ini telah memberi sebuah solusi berupa temulawak berkhasiat dimana pengonsumsi tidak perlu repot-repot untuk meramunya terlebih dahulu dan tentunya dapat dibawa kemana saja dan kapan saja.

Kesehatan meskipun sering dipandang remeh, namun sejatinya merupakan instrumen terpenting dalam hidup. Tanpa tubuh yang sehat dan bugar, segala aktivitas yang kita lakukan tidak dapat teroptimalkan. Dari data Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, penyakit liver termasuk kedalam daftar 10 penyakit yang paling mematikan di Indonesia dengan jumlah penderitanya setiap tahunnya lebih dari 20 juta orang di Indonesia. Fakta semakin memprihatinkan, ketika nyatanya tidak sedikit remaja yang juga menderita penyakit liver atau penyakit hati tersebut. 

Saya tentu sadar betul jika segala aktivitas saya sebagai remaja yang bersahaja tentu cukup menyita waktu dan berpotensi mengusik kesehatan saya sendiri. Namun semenjak mengonsumsi Herbadrink Sari Temulawak, entah sebagai mahasiswa ataupun sebagai traveller, kesehatan dan kesehatan saya dapat tetap terjaga. Karena bagaimanapun, Herbadrink Sari Temulawak benar-benar menunjang aktivitas saya sehari-hari sebagai remaja. Saya selalu percaya, menjadi sehat dan bersahaja merupakan cara terbaik untuk menikmati masa remaja. Dan Herbadrink Sari Temulawak merupakan penunjang yang mampu mempermudah saya dalam menikmati masa remaja saya.   
gifs website
terbang tinggi menuju masa remaja yang lebih sehat dan bersahaja
bersama Herbadrink Sari Temulawak

Wednesday, May 3, 2017

Prelo, ketika Barang Original Nggak Harus Mahal!


Perkembangan startup di Indonesia memang lagi 'pesat-pesatnya'. Beragam inovasi diciptakan untuk melahirkan sebuah solusi digital bagi permasalahan-permasalahan di masyarakat.  Aplikasi startup dengan basis jual beli online pun selalu menjadi favorit dan makin menjamur. Beragam barang juga diperjualbelikan mulai dari yang murah, sampai yang mahal. Mulai dari yang original, sampai yang abal-abal.  Mulai dari yang baru, sampai yang bekas. 

Kemarin secara nggak sengaja, gue ketemu sebuah startup berbasis aplikasi jual beli barang bekas yang keren abis. Kenapa keren abis? Karena barang-barang bekas yang ditawarkan semuanya original dan harganya cukup 'nakal' karena cukup menggoda. Barang bekas yang diperjualbelikan bukan cuma sekedar barang bekas, tapi barang bekas yang berkualitas dan memang masih sangat layak untuk dibeli. Beragam barang branded yang original dengan kategori yang berbeda-beda diperjualbelikan dengan harga yang cukup miring di aplikasi ini. Nama aplikasinya Prelo. 


Prelo merupakan aplikasi jual-beli barang bekas original dengan fitur-fitur inovatif yang user friendly. Mulai dari barang pria, barang wanita, sampai yang unisex, dikategorikan dengan rapih dan tersistematis di Prelo. Barang-barang yang diperjualbelikan walaupun second, namun kualitasnya sangat terjamin karena aplikasi ini hanya memperjualkan barang-barang original aja alias no kw. Preloved abis deh barang-barangnya!

Hari-hari gue selanjutnya menjadi cukup asik setelah mendownload aplikasi ini. Jadi lebih asik karena aplikasi ini selalu menggugah gairah belanja seseorang. Sepatu bekas, kamera bekas, sampai barang-barang bekas berkualitas lainnya yang diperjualbelikan di Prelo benar-benar menggoda. Gue sendiri bukan orang yang anti barang second karena udah pernah dipake orang lain. Menurut gue, kalau barang tersebut udah pernah dipake tapi kualitasnya memang masih bagus, maka itu bukanlah sebuah masalah. Karena pada akhirnya yang kita permasalahkan dari sebuah barang adalah fungsi dan kualitasnya, bukan siapa pemilik sebelumnya. 


Penampilan memang merupakan salah satu hal terpenting yang dapat menunjang eksistensi. Namun sayangnya, harga barang-barang original yang berkualitas selalu menjadi permasalahan banyak orang. Hal ini lah yang membuat orang-orang beralih ke produk kw, yang walaupun fisiknya terlihat seperti asli tapi tetap kualitasnya abal-abal. Kalau gue,  gue lebih memilih untuk membeli barang bekas original dengan kualitas yang masih oke ketimbang barang baru tapi kw. Prelo pun hadir sebagai solusi digital buat gue.

kamera bekas

sneaker second

Kamera Sony second menjadi barang pertama yang gue cari di aplikasi Prelo ini. Waktu gue scroll, gue langsung nemu salah satu kamera Sony Alpha A330 yang harganya asik banget. Dari harga beli Rp. 6.500.000 jadi Rp. 2.500.000 aja dengan kualitas yang masih sama. Tapi sayangnya, setelah gue teliti lebih lanjut ternyata barangnya udah sold out. Barang bagus mungkin memang nggak bisa bohong. Padahal, harga sama barangnya salah satu yang paling oke dari pencarian gue di Prelo.

Sebagai penyuka sepatu, sepatu pria merupakan barang lain yang gue cari di Prelo. Kebanyakan hasil yang gue dapet adalah sneaker bekas ataupun sepatu pria second dengan kualitas original yang rata-rata kualitasnya masih 90% terjaga. Pastinya sneakers original dengan harga terjangkau dan kualitas masih tetap oke adalah pilihan yang lebih baik daripada sneakers kw baru yang kualitasnya meragukan. Karena tetarik dengan salah satu sneaker Adidas Superstar, gue hampir melakukan transaksi. Iya, hampir. Waktu gue mau memanfaatkan fitur chat pembeli yang disediakan Prelo, gue tersadar kalau ukuran sneaker itu bukan ukuran gue. 

Gue sedikit lupa kalau selain harga yang pas, sepatu original juga membutuhkan ukuran yang pas. Di kemudian harinya, beberapa kali gue membuka Prelo dengan harapan akan menemukan Sony Alpha A330 dan Adidas Superstar dengan harga yang sama, dan tentunya dengan ukuran yang pas juga. Mencari barang original dengan harga yang masuk akal di aplikasi Prelo sepintas terasa lebih menarik ketimbang bermain game di waktu luang. Bukan hanya memiliki keunggulan dari segi barang original yang memiliki harga terjangkau, aplikasi keren ini pastinya juga ditopang dengan beberapa keunggulan lainnya. 




Beberapa keunggulan seperti barang-barang variatif yang ada di Prelo, fitur-fitur inovatif, aplikasi yang user friendly, dan keamanan transaksi di Prelo adalah beberapa keunggulan Prelo selanjutnya. Keunggulan-keunggulan itu kemudian semakin membuktikan kalau Prelo itu adalah aplikasi jaul-beli barang bekas terbaik. Karena bukan cuma faktor barang-barang yang diperjualbelikan, tapi faktor aplikasinya sendri yang membuat Prelo ini sempurna. Bisa dicoba sendiri kalau nggak percaya.

Barang bekas berkualitas yang diperjualbelikan di Prelo pastinya bukan cuma kamera dan sepatu aja. Walaupun gue fokusnya nyari kamera dan sepatu di Prelo, tapi barang-barang yang diperjualbelikan di aplikasi ini ada banyak banget. Kategori-kategori barang di halaman dari aplikasi ini ada 9, diantaranya ada men, book, gadget, hobby, antique, women, beauty, baby & kids, dan living. Kategori di masing-masing halaman masih memiliki sub-kategori lagi yang berdasarkan brand atau generalisasi barang. Banyak banget deh, pokoknya.

Fitur inovatif juga menjadi salah satu senjata dari Prelo ini. Prelo menawarkan fitur-fitur yang mempermudah transaksi kayak chat penjual, love produk, comment produk, dan tentunya fitur konfirmasi pembayaran untuk memastikan keamanan transaksi. Transaksi-transaksi di aplikasi ini bakal ketolong banget deh sama fitur-fiturnya. Terlebih, karena fitur-fitur yang ada dibuat secara user friendly atau dengan kata lain dibuat untuk mudah digunakan pengguna. 

Kebayang nggak, gimana jadinya kalau aplikasi jual-beli barang dilengkapi dengan fitur-fitur keren tapi sulit untuk dimengerti pengguna? Aplikasi yang seharusnya keren karena fiturnya pasti bakal dicap sebagai aplikasi yang 'ngeribetin' oleh pengguna-penggunanya. Fitur yang tadinya keren malah menjadi blunder yang membuat pengguna-penggunanya kabur ke aplikasi lain. Prelo dalam hal ini bukan cuma memiliki fitur yang inovatif, tapi juga menawarkan aplikasi yang mudah digunakan dan mudah dimengerti oleh para penggunanya. Jual tinggal jual, Beli tinggal beli, nyari tinggal nyari. Ya, segampang itu.

Keamanan kemudian menjadi faktor yang sangat dijaga di Prelo. Prelo menjembatani transaksi buyer dengan seller sehingga yang namanya penipuan itu nggak mungkin ada di aplikasi ini. Sebelumnya, buat yang mau membeli atau menjual barangnya di Prelo wajib punya akun Prelo terlebih dahulu. Cara bikin akunnya nggak ribet, tinggal register, isi data dan selesai. Alur transaksi cukup sederhana dan mudah, seperti marketplace pada umumnya:


  1. Buyer Membeli
  2. Buyer transfer ke rekening Prelo
  3. Prelo memberi notifikasi kepada seller
  4. Seller kirim barang
  5. Seller konfirmasi pengiriman
  6. Barang sampai
  7. Buyer memberi review di kolom komentar ketika barang telah sampai
  8. Transferan yang sudah dilakukan buyer dilanjutkan Prelo  ke seller
  9. Buyer dan Seller hidup bahagia selamanya

Sama seperti sistem transaksi marketplace pada umumnya, keamanan transaksi di Prelo ini benar-benar terjaga. Karena seperti sistem marketplace, prelo bukan merupakan aplikasi jual-beli dengan sistem e-commerce yang hanya beberapa penjual saja yang bisa menjual barangnya. Prelo memberikan kebebasan buat pengguna-penggunanya entah itu pembeli ataupun penjual. Pembeli bisa menjadi penjual, dan penjual bisa menjadi pembeli. Ketika kalian memiliki barang bekas original yang berkualitas dan tidak terpakai, maka Prelo adalah tempat terbaik untuk menjual tersebut.

Harga yang murah buat barang branded original, barang-barang yang variatif, fitur yang inovatif, pengaplikasian yang user friendly, dan keamanan transaksi adalah beberapa hal yang ditawarkan Prelo kepada para penggunanya. Entah itu dari sisi penjual, ataupun pembeli. Prelo adalah jembatan terbaik bagi pemilik barang bekas original ataupun pencari barang original dengan harga terjangkau. Ketika barang bekas tetap berkualitas, ketika barang original nggak harus mahal, kektika itulah Prelo hadi sebagai aplikasi jual-beli barang bekas terbaik. 

gifs website
Ekspresi ketika menemukan kamera bekas berkualitas yang lagi
banting harga di Prelo...               
b:if cond='data:blog.pageType != "item"'>