Thursday, August 17, 2017

Merdeka Rasa Retorika, Polemik "PATUNG" setelah 72 Tahun Merdeka

Dengar. 
Meski meriam asing mendentum,
Namun rasa cinta tanah air yang menyetrum membuat mereka tak gentar pada ultimatum.
Namun percayalah, 
tak perlu larut berlama-lama dalam kesedihan, karena segala jerih payah mereka berhasil membawa teks proklamasi ke panggung kemerdekaan. 
Sampai 72 tahun kemudian, 
kemerdekaan yang mereka perjuangkan kembali dipertanyakan. 


                      


Dirgahayu Indonesia. Tepat di hari ini, tujuh puluh dua sudah usianya. Setelah 72 tahun merdeka, nyatanya wajah Indonesia masih merepresentasikan kebimbangan. Bimbang, selama 72 tahun merdeka, masalah justru kian masif mendera. Di tahun ke 72 ini, arti dari merdeka kembali ingin sekali "gue" pertanyakan. Indonesia di tahun 2017 ini nampaknya masih dijajah secara masif. Bukan penjajah asing lagi yang menjajah, tapi sikap intoleran yang merajalela penjajahnya.

Merasa paling benar, radikal pada primodial, dan dimotori hasrat membabi buta terhadap kekuasaan. Tiga elemen itu mungkin merupakan 3 elemen yang membalut sang penjajah yang bernama "intoleran" tersebut. Sudah terlalu banyak kasus yang cukup terasa intoleran di negri ini. Yang terbaru dan terkini mungkin bukan lagi kerusuhan 98, atau Pilkada DKI, namun "patung". Ya, patung, benda mati tak bergerak itu kini dapat menjadi ancaman tersendiri bagi beberapa kelompok tertentu. 

Patung Kongco Kwan Sing Tee Koen , Tuban 

Beberapa waktu yang lalu, gue sempat melihat postingan di Facebook tentang patung di Tuban yang diancam akan dirobohkan oleh sekelompok massa. Seminggu kemudian, berita tersebut menjadi viral dan sangat menjadi polemik. Alasan 'sekelompok massa' itu beranekaragam. Ada yang bilang karena menyembah berhala, ada yang menganggap karena patung  dewa Kongco Kwan Sing Tee Koen yang tingginya 30 meter itu jauh lebih tinggi ketimbang patung-patung pahlawan nasional lainnya. Setelah viral dan menjadi polemik, dalam semalam patung dewa setinggi 30 meter tersebut kemudian menjadi pocong setinggi 30 meter setelah ditutup kain putih. 

Lucu sih, kalau memperhatikan debatnya netizen di social media. Ada yang ngebahas berhala-berhalaannya, ada yang ngebahas izin "IMB" nya, ada juga yang ngebahas tingginya. Bukannya berniat sok ngerti, namun menurut interpretasi gue yang harusnya menjadi permasalahan dari patung tersebut memang adalah perizinannya. NGGAK USAH BAHAS TINGGI, DAN LAIN SEBAGAINYA. Kalau ada izin, patung tersebut legal dan seharusnya sah-sah saja. Lagian, patung tersebut berada di wilayah komplek kelenteng, bukan di pertigaan jalan atau di perempatan loh, di komplek kelenteng cuy. 

Substansi dari sah atau tidaknya patung dewa tersebut seharusnya adalah perizinannya. Diluar dari itu semua, percaya atau tidak, sikap "intoleran" lah yang menjadi penyebab polemik yang tejadi. Mungkin untuk beberapa orang, mereka percaya jika menyembah patung adalah berhala. Tapi untuk orang yang memiliki kepercayaan lain dan memperbolehkan menyembah patung, gimana dong? Apa sampai harus dirusak juga patungnya? Begitulah, Merdeka Rasa Retorika.

Kisah patung dewa di Tuban tersebut nyatanya bukan cerita baru di Indonesia. Beberapa kisah serupa terjadi juga di kota-kota lain. Begini, kita asumsikan saja terlebih dahulu kalau patung dewa di Tuban tersebut memang "ilegal" karena nggak punya izin.  Lantas, Apakah patung-patung berikut ini juga nggak punya izin? Terus, kenapa ikutan di rusak?

Patung Naga di Pontianak, padahal keren loh patungnya..
Patung Arjuna di Purwakarta

Patung Maros di Sulawesi Selatan (dirobohkan pihak mall setelah di protes)


..dan masih ada banyak patung lainnya yang mengalami hal yang serupa.


Ketika bukan perizinan ataupun legalitas permasalahannya, lalu kenapa dipermasalahkan? Percaya atau tidak, sikap primodial lah yang memobilisasi massa. Beberapa waktu lalu, gue sempat membaca sebuah komentar dari salah satu netizen, "Don't underestimate the power of stupid people in large group". You know what? That is so damn true.  Lucu memang, ketika sekumpulan massa mampu mengintervensi sebuah keputusan secara sepihak. 

Melihat berita akhir-akhir ini tentang massa merusak dan merobohkan patung, gue jadi inget berita yang pernah gue baca dulu:


Hmmm, agak mirip ya
cikal bakal?

Pantas, di Indonesia yang tercinta ini nggak ada madame tussaud. Mungkin kalau ada, sekelompok massa yang terjangkit penyakit intoleran akan menutupi patung-patung lilin dengan kain putih atau bahkan dirobohkan.

Merasa paling benar nyatanya masih menjadi virus mematikan yang kemudian menciptakan penyakit intoleran tersebut. Biasanya, ketika orang sudah merasa paling benar niscaya dia akan berusaha mengkoreksi apa yang dia anggap salah, padahal apa yang dia anggap salah belum tentu benar-benar salah atau bahkan tidak sama sekali. Kalau koreksinya disampaikan melalui sebatas opini saja itu mungkin masih bisa ditolerir, tapi kalau sudah menjadi aksi yang merugikan suatu pihak, itu tentu masuk ke dalam golongan yang cukup meresahkan.

Merdeka rasa retorika bukan hanya sebuah ungkapan kekecewaan. Sudah tujuh dua puluh tahun merdeka, tapi dewasa ini masih terlalu banyak aksi intoleran yang terjadi. "Indonesia ada karena keberagaman", setidaknya begitu kata Gus Dur. Sadar atau tidak, sikap intoleran merupakan penjajah sesungguhnya yang kemudian dapat memecah belah bangsa. Indonesia itu sudah 72 tahun teman-teman, mau sampai kapan memelihara sikap intoleran yang mampu merusak sendi hidup berkebangsaan? Jangan pernah pesimis dengan negara kebinekaan, karena Indonesia itu layak diperjuangkan. 

Indonesia layak untuk diperjuangkan. Hidup berbangsa dengan sejuta budaya itu lah yang menjadikan Indonesia indah. Sudah 72 tahun hari ini, sudah terlalu tua usianya untuk masalah seperti "intoleran". Berjuang bersama mungkin adalah langkah terbijak untuk menjadikan Indonesia semakin hebat, bukan merasa paling benar untuk menentukan apa yang paling baik secara sepihak. 

Merdeka! 

hehehe.

Tuesday, August 8, 2017

Budak-budak Gengsi


Selamat malam, pelacur eksistensi. 

Dari semua Social Media yang lagi digandrungi anak muda, Path dan Snapchat adalah 2 buah Social Media yang pualinggg gue hindari. Karena percaya atau tidak, setuju atau enggak, Social Media sejenis itu mampu menjadikan kita sebagai budak-budak gengsi dan budak-budak eksistensi tanpa memberi edukasi yang 'penting'. 

Bukannya bermaksud bicara tanpa membuktikan, gue sendiri pernah mencoba 2 buah Social Media tersebut saat SMA. Snapchat awalnya gue coba waktu kelas 10 dulu, terus gue gaptek nggak ngerti cara mainnya terus gue delete. Path gue coba dari kelas 10 dulu sampe masuk kuliah awal-awal, dan akhirnya gue delete. Bukannya anti, tapi ngerasa nggak sih, Social Media semacam Path atau Snapchat itu makin kesini makin disalahfungsikan menjadi media untuk berkompetisi siapa yang lebih 'ber-gengsi'? 

Makin kesini, orang-orang terkesan seakan menjadikan Social Media seperti Path ataupun Snapchat sebagai media untuk beradu daily activity siapa yang paling keren. Pergi ke tempat ellite yang berkelas terus upload ke Path, hanya untuk menebar gengsi. Kalau uploadnya jarang-jarang mungkin masih bisa ditolerir, tapi kalau setiap ada dimana di upload, gunanya Apa? Maksudnya, ya udah situ pergi ke tempat itu, terus gunanya buat orang lain apa? Edukasi apa yang bisa diberikan? Nothing, dude. Mungkin buat anak-anak Path dan Snapchat sejati, statement gue ini tidak lebih dari statement seorang yang nggak tau asiknya mainan Path ataupun Snapchat, tapi yasudah lah, pandangan setiap orang memang berbeda.

Semacam generasi millennial yang mengabadikan momen di kamar kecil

Kalau lagi nongkrong bareng temen, topik pembicaraan yang paling membuat gue muak adalah ketika topik sudah mulai membahas daily life seseorang lewat social medianya. "Eh tau nggak, si itu di pathnya lagi di blablabla" atau "Eh tau nggak, si itu kemarin abis blablabla".  Masalahnya adalah, ya udah kalau si itu lagi disitu dan si ini lagi dimana dan seterusnya, untungnya buat kita tau dia lagi dimana itu apa? APAAAAAA?? Selain untuk dijadikan bahan gosip, nggak ada untungnya tau orang lain lagi dimana dan di tempat se-ellite apa gitu loh. Lebih menarik buat gue untuk tau Siapa nama presiden di sebuah negara atau Apa isu politik terkini di sebuah negara ketimbang tau orang yang kita kenal lagi makan di restoran apa. Bobot intelektualitasnya nggak ada, cuy!

Mungkin, memang bukan salah Social Medianya ketika society menjadi seperti itu. Tapi sadar atau enggak, Social Media memiliki andil dalam memberdayakan generasi-generasi yang punya banyak 'pengetahuan dalam hal yang tidak penting'. Tau orang lagi makan di restoran apa, atau nonton di bioskop apa, atau lagi ngapain, pentingnya buat kita apa gitu loh? Hal yang cukup menyedihkan dewasa ini adalah ketika banyak orang di sekitar kita yang punya banyak pengetahuan, tapi pengetahuannya itu pengetahuan yang nggak penting, pengetahuan tentang 'kehidupan' orang lain yang sebenarnya nggak ada untung-untungnya untuk diketahui. Beda cerita kalau kita penasaran sama kehidupan seorang Bill Gates atau Mark Zuckeberg, yang mungkin bisa menginspirasi.

Mengemis likes demi sesuap eksistensi, melacur demi legetimasi digital. Begitulah, kasarnya.  Mungkin bukan cuma di Path ataupun Snapchat, mungkin semua social media pun bisa dijadikan sarana kompetisi untuk meraih gengsi. Tapi kalau bisa jujur, Path dan Snapchat mungkin masih menjadi sarang-sarangnya orang-orang yang diperbudak oleh gengsi. 

Pada akhirnya, cara pandang seseorang memang berbeda-beda. Apa yang kita anggap keren, belum tentu dianggap keren sama orang lain, dan begitu sebaliknya. Apa yang kita anggap freak, belum tentu dianggap freak oleh orang lain, dan begitu juga sebaliknya. Dan sekarang, menurut gue,  Social Media seperti Path ataupun Snapchat, bukanlah Social Media yang keren karena terlalu memberdayakan banyak budak-budak gengsi di dalamnya. Orang lain mungkin berpikir berlawanan, dan itu sesuatu yang sangat wajar. Mengaplikasikan daily activity ke dalam sebuah tulisan blog menurut gue adalah sesuatu yang keren karena dapat merepresentasikan intelektualitas seseorang dalam mengatur kosa kata. Tapi , di belahan bumi sana mungkin ada orang yang menganggap menulis daily life di blog sebagai hal yang freak, dan itu pun sangat wajar karena cara pandang orang memang berbeda-beda.

Monday, July 31, 2017

Detective Chinatown (2015), Aksi Kocak Detektif Distrik China Mengungkap Misteri Pembunuhan

Distrik China atau yang biasa disebut Chinatown merupakan distrik terkenal yang terdapat di beberapa negara besar. Dijadikan destinasi wsiata mungkin merupakan hal yang biasa bagi Chinatown, tapi apa jadinya jika Chinatown dijadikan identitas tertentu di dalam film komedi misteri? Menarik, mungkin. Hal ini yang kemudian terjadi di film Tiongkok yang mengambil lokasi syuting di Bangkok, Detective Chinatown (2015). Komedinya pecah misetrinya menarik, jarang sih, gue nemu film dengan elemen komedi dan misteri yang oke kayak film ini.

Cast: 
Liu Haoran
Tong Liya


Sinopsis Detective Chinatown (2015) 


Qing adalah seorang pria berbakat yang selalu gagal lulus akademi kepolisian China karena penyakit gagapnya yang terbilang cukup parah. Untuk mengobati rasa sedih Qing yang lagi-lagi gagal diterima di akademi kepolisian China, Qing pergi ke Bangkok untuk berlibur. Disana, ia bertemu dengan kerabatnya yang bernama Tang yang katanya merupakan seorang detektif ternama. Baru beberapa saat Qing berada di Bangkok, Qing dan Tang sudah dipusingkan dengan sebuah kasus pembunuhan di Chinatown Bangkok yang menjadikan Tang sebagai tersangkanya. Mereka pun menjadi buronan polisi Thailand semenjak itu. Berdua sebagai partner, Qing dan Tang kemudian menjadi detektif Chinatown yang berusaha mengungkap misteri pembunuhan dan membersihkan nama Tang. Siapa sangka, sebuah misteri yang telah dirancang secara sempurna telah menanti untuk dipecahkan.


Review Detective Chinatown (2015) 

Detective Chinatown adalah sebuah film yang cukup unik dan menarik. Cukup jarang sebenarnya ada film dengan komedi yang pecah dan misteri yang menarik. Ketika berbicara tentang film yang kental dengan elemen komedi dan pembunuhan, mungkin film-film dengan genre Action-Comedy atau Thriller-Comedy masih menjadi refrensi terbaik. Tapi, bukan action atau thriller yang menjadi sajian utama Detective Chinatown ini, namun sebuah misteri dengan taburan komedi.





Pengenalan dari film mandarin yang satu ini cukup menarik karena unsur komedinya pun ikut menyelimuti pengenalan dari masing-masing karakter. Komedi yang disajikan bisa dibilang cukup pecah, baik dari beberapa scene yang mengundang tawa ataupun pemanfaatan cinematography yang mengundang keabsurdan.  Salah satu scene paling menarik di film ini adalah scene 'perayaan ulang tahun' tiba-tiba. Seperti di film My Stupid Boss, scene 'perayaan ulang tahun' tiba-tiba ini ternyata merupakan ability to survive yang cukup ampuh mengundang gelak tawa.

Misteri yang dihadirkan sebenarnya tidak jauh berbeda dengan film murder-mystery pada umumnya, tentang pencarian pembunuh dari beberapa clue. Pencarian clue dengan bumbu komedi yang pecah itulah yang kemudian membuat film ini terasa lebih spesial dari film murder-mystery pada umumnya. Kerumitan misteri dari film ini bisa dibilang cukup kompleks, karena tidak berakhir hanya di satu titik kesimpulan saja.

Ketika penonton telah dibuat percaya dengan satu titik kesimpulan pemecahan misteri, ternyata misteri yang sebenarnya jauh lebih kompleks dan membuat ending dari film ini terasa cukup twist. Sebuah rencana sempurna ternyata menjadi fondasi dari kasus dan konflik yang terjadi. Overall, dari segi genrenya atau dari segi film mandarinnya, film dengan durasi 2 jam 15 menit ini merupakan film yang worth to watch beybeh.


                       

Thursday, July 20, 2017

Dewan Perwakilan Rakyat, atau Dewan Perwakilan Partai Oposisi?


Indonesia adalah rumah bagi lebih dari 250 juta jiwa warga. Tapi sayangnya, untuk rumah dengan penghuni sebesar itu, konflik internal antara petinggi DPR dan pemerintahan yang berkuasa kian hari terasa kian masif. Kedua pihak seakan tak pernah lelah beradu statement publik untuk menunjukkan kebijakan siapa yang paling mewakili rakyat, dan kebijakan siapa yang tong kosong nyaring bunyinya. Substansi dari 'loyo'-nya  harmonisasi antara petinggi DPR dengan pemerintah era Jokowi ini sebenarnya bukan hal yang sulit untuk diinterpretasi. "Kepentingan politik", merupakan substansi yang membuat Pemerintah dan DPR selalu bersebrangan dan sukar untuk duduk mesra. 

Jengkel nggak sih, headline berita lagi-lagi isinya sindir-sindiran petinggi DPR dengan Pemerintah? Kekuasaan yang seharusnya dimanfaatkan untuk mengaloksikan nilai malah terkesan disetir menjadi permainan oleh partai oposisi untuk menjatuhkan image pemerintahan yang berkuasa. Hal semacam ini kemudian yang membuat Indonesia stagnan di beberapa bidang. Ketika negara lain sudah memikirkan bagaimana berwisata ke bulan, bagaimana menciptakan mobil terbang, bagaimana menciptakan mesin waktu, Indonesia masih stagnan dengan polemik antara Pemerintah dan DPR yang sering berbeda cara pandang.

Tidak bersikap tendensius dalam menyikapi fenomena disharmonis Pemerintah dengan orang-orang tertinggi di DPR ini tentu merupakan hal yang sangat sulit. Jika kita memihak partai pemerintahan maka kita tentu cenderung akan mendukung segala kebijakan pemerintah, tapi kalau kita mendukung partai oposisi saat ini mungkin mendukung kebijakan DPR adalah hal yang cukup rasional. Jadi, apakah kritikan DPR yang sering kali disampaikan oleh Pak Fahri Hamzah dan Pak Fadli Zon itu rasional? Kalau menurut saya sih, no. 


Nyinyir mulu bang

DPR itu Dewan Perwakilan Rakyat, bukan Dewan Perwakilan Partai Oposisi. Yang diwakili rakyat, bukan partai oposisi. Tapi kenapa kebijakan-kebijakan yang diambil Pak Jokowi dan para mentri untuk mewakili rakyat sering kali di-'nyinyir' oleh Bung Fahri dan Bung Fadli? Mungkin karena kebijakan yang diimplementasikan pak Jokowi terdengar cukup nyeleneh, atau mungkin.. karena Bung Fadli dan Bung Fahri sama-sama dari partai oposisi? Intersubjektivitas.


Nyanyian Bung Fahri dan Bung Fadli di akun Twitter masing-masing kalau diamati pakai hati memang terasa cukup sadis. Hampir setiap kebijakan besar atau aktivitas yang diambil dan dilakukan pak Jokowi yang sebenarnya memiliki dasar yang jelas selalu dikritisi. Menjadikan hari Pancasila sebagai hari Nasional dinyinyir, Perppu Ormas Radikal dinyinyir,  keluarga Presiden ke Jerman pakai dana pribadi dinyinyir, semuanya dinyinyir. Nyinyir mulu, bang. 

Nyinyir tanpa dasar yang kuat pada akhirnya tidak akan lebih dari argumen yang dipaksakan. Kalau dibedah sendiri satu per satu substansi dari nyinyiran Bung Fadli dan Bung Fahri ini, yang ada emosi sendiri. Yang membuat gregetan sebenarnya adalah nyinyiran yang disampaikan bukanlah nyinyiran yang 'berbobot'. Kenapa sebagai 2 wakil rakyat tertinggi di bangku dewan, yang mereka kritisi bukan tentang permasalahan seperti korupsi? Kenapa justru permasalahan yang bukan masalah dipermasalahkan? Kenapa salah satu isu korupsi malah dianggap mitos? Kenapa saat parta oposisi mereka cenderung diuntungkan dengan isu sara saat Pilkada DKI 2017 lalu mereka tidak memberi nyinyiran yang 'sadis' bagi para pemakai isu sara? Mungkin karena kebijakan yang diimplementasikan pak Jokowi terdengar cukup nyeleneh, atau mungkin.. karena Bung Fadli dan Bung Fahri sama-sama dari partai oposisi? Intersubjektivitas.

Pelemahan KPK Termasif?



Akhir-akhir ini headline berita sedang dipanaskan dengan hak angket DPR ke KPK yang dinilai banyak pihak justru menjadi pelemah KPK. Melemahkan kredibilitas dan kinerja KPK, lebih tepatnya. Polemik tentu bergejolak di tengah masyarakat. Tapi yang menarik perhatian gue disini bukan tentang hak angketnya, tapi tentang argumen dari Bung Fahri tentang KPK. Bung Fahri disini seakan ingin mengkonstruksi pandangan yang melemahkan kredibilitas KPK dan bahkan di salah satu statementnya dengan tegas beliau katakan 'KPK harusnya dibubarkan'. Bukan hanya KPK, komnas HAM bahkan beliau katakan juga harus dibubarkan. Kebayang kan, bagaimana Indonesia tanpa KPK dan Komnas Ham?

Ada yang mau jawab pertanyaan mudah ini?

Isu pelemahan KPK kalau diperhatikan dengan seksama selalu muncul di setiap era kepemimpinan di satu dekade terakhir. Pihak yang melemahkan pun beraneka ragam. Mulai dari institusi keamanan, wakil rakyat, sampai bahkan 'presiden'. Waktu gue kelas 6 SD dulu, headline berita dipenuhi dengan Cicak vs Buaya, yakni perseteruan antara polri dan KPK. Beberapa tahun kemudian setelah presiden berganti dari SBY menjadi Jokowi, Cicak vs Buaya nyatanya bukan terputus rantainya malah melahirkan jilid keduanya. Isu lain yang tak kalah membuat gaduh negara adalah isu penangkapan Antasari Azhar yang dinilai banyak pihak sebagai aksi yang semena-mena oleh (tau sendiri lah ya siapa). 

Sekarang, isu pelemahan KPK bukannya semakin teratasi namun malah semakin masif. Disiram air keras, hak angket DPR, sampai ingin dibubarkan oleh wakil rakyat  menjadi bentuk representatif jika pelemahan KPK di era sekarang ini merupakan pelemahan KPK termasif. Mungkin cukup lucu, ketika banyak dari mereka yang bersenandung untuk membrantas korupsi tapi yang mereka lakukan bukan membrantas korupsi namun melemahkan institusi pembrantas korupsi. Entahlah, mungkin mereka sedang dag dig dug ser dengan kasus E-KTP yang sedang 'panas'.

Pada akhirnya, ketika negara lain sudah bicara tentang luar angkasa,  Indonesia masih sibuk dengan konflik disharmonis Pemerintah dan DPR. Ketika negara lain sudah memandang indah dan bulatnya bumi dari luar angkasa, rakyat Indonesia masih berdebat tentang bentuk bumi datar atau bulat. Tidak heran kemudian jika perdebatan Apakah bumi itu bulat atau datar benar-benar menjadi polemik, orang dana untuk pendidikannya di korupsi sama wakil rakyatnya.... sekarang institusi pemebrantas korupsinya mau diberantas juga malah. 
he-he-he.

Saturday, July 15, 2017

Melindungi Hutan Gambut, Harga Mati untuk Menjaga Indonesia


Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kawasan hutan terbesar di dunia dengan tipe hutan yang sangat variatif dan akumulasi luas hutannya mencapai lebih dari 130 juta ha. Dari jenis dan tipe hutan yang sangat variatif, sepuluh persen diantaranya merupakan hutan lahan gambut, yang ekosistemnya mampu menjaga kestabilan iklim dunia karena menyimpan sepertiga cadangan karbon di dunia. Bukan rahasia lagi kemudian jika Indonesia merupakan rumah dari lahan gambut tropis terbesar di dunia. Bayangkan, luas lahan gambut kita mencapai 14,9 juta hektar atau lebih luas daripada Pulau Jawa dengan perkiraan penyimpanan karbon yang mencapai 22,5-43,5 gigaton karbon

Coba pejamkan mata kalian, lalu bayangkan, betapa besarnya emisi yang bisa dilepaskan oleh 17-33 miliar mobil pribadi selama setahun. Ya, seperti itulah jumlah karbon yang terdapat di hutan gambut kita. Kapasitas tanah gambut yang mampu menyimpan air hingga 13 kali bobotnya pun kemudian semakin mempertegas eksistensi hutan lahan gambut baik untuk alam maupun bagi manusia. Mulai dari meminimalisir dampak bencana seperti banjir, sebagai cadangan karbon dunia, sampai dampak positifnya bagi perekonomian masyarakat lokal menjadi bentuk representatif dari fungsi hutan lahan gambut yang begitu besar bagi dunia. Flora dan fauna pun dapat hidup dengan tenang dan aman di hutan gambut.



Sekarang buka mata kalian, lalu gunakan kuota internet kalian untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan hutan Sumatera dan Kalimantan pada pada tahun 2015. Kenyataan yang akan didapatkan sungguh pelik, karena di tahun itu Indonesia dilanda kebakaran hutan dan lahan gambut yang sangat luar biasa dan menyebabkan kerugian finansial mencapai Rp. 220 triliun. Tentu bukan hanya kerugian finansial yang menerpa kita kala itu, kerugian lainnya mulai dari kesehatan sampai hubungan diplomatik pun terlahir dari peristiwa yang didalangi oleh oknum tidak bertanggung jawab itu. 

Jika kita menilik lebih lanjut, maka kita akan mendapati fakta jika lebih 120.000 penduduk terserang penyakit pernapasan, Gangguan akses terhadap pendidikan akibat ditutupnya sekolah, Terputusnya jaringan transportasi akibat berhentinya aktivitas di bandaraLepasnya emisi gas rumah kaca (GRK) yang hampir setara dengan total emisi harian GRK Amerika Serikat, sampai terancamnya keanekaragaman hayati, seperti musnahnya fauna dan hilangnya habitat serta pangan bagi fauna. Dampak yang sangat mengerikan bagi Indonesia dan dunia tentunya, mengingat 52% lahan yang terbakar merupakan lahan gambut yang memiliki peran sangat penting bagi cadangan karbon dunia.  

Isu perubahan iklim atau climtae change memang merupakan isu yang sedang marak diperbincangkan di beberapa dekade belakangan ini. Musibah kebakaran hutan di Indonesia merupakan salah satu fenomena yang kemudian memicu peubahan iklim dunia. Emisi gas rumah kaca yang dihasilkan kemudian dapat mempengaruhi perkembangan Indonesia di seluruh sendi kehidupan. Tentu masyarakat di sekitar lahan yang terbakar merupakan pihak yang paling dirugikan saat itu dari segi kesehatan, ekonomi, dan juga pendidikan. Bukan hanya kelestarian flora dan fauna yang terusik kala itu, kelestarian hubungan diplomatik Indonesia dengan negara tetangga pun ikut terusik.  


Permasalahan pembakaran hutan yang menciptakan kebakaran hutan tentu bukan merupakan cerita baru bagi pemerintah Indonesia. Di setiap tahunnya, kasus serupa terus mengusik hutan Indonesia dan tentunya mengusik iklim dunia. Langkah yang diambil pemerintah dinilai banyak pihak tidak merepresentasikan langkah yang preventif yakni mencegah lebih baik daripada mengobati, namun cenderung 'mengobati' setelah terluka parah. Untuk menjaga hutan gambut demi menjaga Indonesia, pemerintah tentu memiliki banyak pekerjaan rumah karena substansi dari solusi yang seharusnya diambil bukan hanya melakukan restorasi hutan gambut namun juga berperang melawan pihak-pihak 'nakal'.


Restorasi merupakan substansi dari solusi untuk masalah deforestasi seperti pembakaran hutan. Selanjutnya, perhatian akan tertuju kepada bagaimana pemerintah mengimplementasikan kebijakan untuk merestorasi hutan gambut. Untuk dapat kembali melindungi iklim di Indonesia, untuk dapat kembali menjaga cadangan karbon di dunia, langkah yang dapat ditempuh pemerintah tidak lain adalah dengan melakukan restorasi lahan gambut. Restorasi tanah gambut sendiri di Indonesia telah memiliki payung hukum yang jelas, yakni Peraturan Menteri no.16/ 2017 tentang Pedoman Teknis Restorasi Fungsi Ekosistem Gambut dan Peraturan Presiden no. 1/2016 tentang Pembentukan Badan Restorasi Gambut

Di bawah Badan Restorasi Gambut, langkah untuk merestorasi lahan gambut sendiri didasari dengan pendekatan 3R yang meliputi rewetting, revegetasi, dan revitalisasi. Pelaksanaannya pun memiliki sistem yang baik dan jelas. Adapun langkah merestorasi lahan gambut adalah sebagai berikut,

  1. Memetakan Gambut
  2. Menentukan Jenis, Pelaku, dan Waktu Pelaksaan Restorasi
  3. Rewetting
  4. Revegetasi
  5. Memberdayakan Masyarakat Lokal

Restorasi di bawah Pemerintahaan Presiden Jokowi nampaknya benar-benar serius dalam mengimplementasikan kebijakan restorasi. Presentase lahan yang ditargetkan pun tidak muluk-muluk, yakni Tahun 2016 sebesar 30%, Tahun 2017 sebesar 20%, Tahun 2018 sebesar 20%, Tahun 2019 sebesar 20%, dan Tahun 2020 sebesar 10%. 

Selain menghajar deforestasi dengan restorasi, menindak tegas perusahaan dan oknum-oknum nakal pelaku pembakaran hutan pun harus dilakukan. Pencabutan izin terhadap perusahaan yang lalai ataupun yang terlibat sebagai aktor pembakaran hutan di bawah pemerintahan Jokowi pun mulai ditindak secara tegas tanpa pandang bulu. Perlindungan total terhadap lahan gambut pun telah menjadi pioritas utama Presiden Jokowi dengan berkoordinasi dengan Mentri Kehutanan.


Sebagai warga sipil, tentu kita tidak memiliki wewenang dan kemampuan seperti pemerintah dalam melindungi lahan gambut. Kita tidak dapat mengimplementasikan kebijakan, kita tidak dapat dengan seenaknya membrantas oknum nakal, namun itu semua tidak berarti jika kita tidak dapat memberi kontribusi untuk melindungi hutan gambut. Hal yang dapat kita lakukan untuk berperan aktif dalam memberi kontribusi untuk melindungi hutan gambut adalah dengan memantau perkembangan realisasi restorasi. Melalui informasi, kita dapat berkontribusi dalam beropini mengenai program pemerintah dan membantu pemerintah untuk mengoptimalkan upaya perlindungan hutan gambut. 

Pantau Gambut merupakan media yang menggabungkan teknologi, kolaborasi data, dan jaringan masyarakat untuk memberikan informasi bebas biaya seputar restorasi lahan gambut di Indonesia. Dengan teknologi terkini, kita dapat memantau perkembangan restorasi lahan gambut secara transparan dan terus mendapatkan informasi terkini seputar kebijakan pemerintah atau kabar terkini tentang restorasi. Selain itu, fitur berbagi cerita pun dapat merangkul opini warga sipil seperti kita untuk mengkritisi perkembangan program pemerintah atau dinamika permasalahan lahan gambut di Indonesia. #PantauGambut

Hutan gambut bagaimanapun tidak bisa dipungkiri memiliki peran yang sangat krusial bagi terjaganya iklim baik di Indonesia maupun dunia. Dengan kebijakan pemerintah dan peran aktif kita, Indonesia dapat menjaga hutan gambutnya dengan lebih baik. Menjaga hutan gambut kemudian merupakan langkah yang sangat penting, karena dengan menjaga dan melindungi hutan gambut maka kita telah ikut menjaga Indonesia dan dunia. 
b:if cond='data:blog.pageType != "item"'>