Sunday, August 21, 2016

Last Day in Singapore, Dapet Taksi itu Susah!


Setelah 3 hari berada di Singapore, di hari keempat gue dan kedua wanita itu akhirnya kembali ke Jakarta. Kembali ke ibukota tercinta, kembali bergulat dengan kemacetan lalu lintas, kembali menghirup polusi udara ibukota. Ah, sudahlah. Seminggu setelah gue kembali ke Jakarta, gue denger kabar ada teroris di Batam yang mau meluncurkan roket ke Marina Bay Sands. EH Buset?!

Tapi seenggaknya, di hari terakhir itu gue, kakak, dan nyokap menjadi saksi hidup... betapa sulitnya kami mendapatkan taksi di Singapore. Taksinya banyak, nyetopinnya susah. 




Agenda kami di hari terakhir itu adalah.. jajan di Bugis, mampir ke Haji Lane, dan kembali ke bandara Changi di siang menjelang sore hari dan terdampar di Jakarta di malam hari. Uhuy..

Pagi hari, kami terdampar di food court yang terletak di Bugis. Berhubung distrik Little India dan distrik Bugis itu cuma perlu naik satu station MRT, maka kami memulai pagi itu dengan cukup santai. Di food court yang ada di Bugis itu, macam-macam makanan khas beberapa negara tersedia. Ada makanan yang khas India, ada yang khas Indonesia, Khas Cantonese, dan lain sebagainya. Yang jadi perhatian gue waktu itu adalah antrian panjang di tempat sup ikan hiu dan kue wortel (carrot cake). Karena antriannya cukup panjang, nyokap gue iseng-iseng ngebeli carrot cake, awalnya gue kira enak tapi ternyata.... biasa aja. Standard. Entah karena lidah gue yang emang nggak srek atau emang carrot cake nya yang standard, gue nggak tau.

Setelah nyobain kuliner di Bugis, kami selanjutnya mengitari Bugis Street. Konon katanya, barang-barang yang ada di Bugis Street ini harganya bersahabat semua. Dan ternyata benar kawan-kawan, Bugis Street ini mirip pasar pagi nya Singapore. Mungkin kalau di Bandung-kan, Bugis Street ini semacam "jalan dago" nya Singapore. Disana, kakak gue beli beberapa baju dan nyokap gue beli cokelat. Harga cokelat di Bugis sendiri bisa dibilang salah satu yang paling bersahabat.Kit Kat nya kek, M&M nya kek, atau pun toblerone nya. Nyokap gue pun agak sedikit nyesel karena kemarinnya sempet beli cokelat juga di area Orchard. Gue sendiri keluar dari Bugis Street dengan celana dan kacamata baru. 


new glasses brotha..
Sekitar jam 12 siang, kami melanjutkan perjalanan dari Bugis Street menuju Haji Lane. Haji Lane sendiri adalah sebuah gang di area Bugis yang konon katanya tembok-temboknya dipenuhi dengan gravity yang asik buat diajak foto. Disana juga ada beberapa tempat nongkrong semacam cafe dan tempat shopping, sih. Tapi tujuan kami ke situ cuma untuk berburu foto. 


Dibawah teriknya sinar matahari di negri tropis, kami berjalan mencari Haji Lane. Waktu udah nyampe Haji Lane, ternyata tembok-tembok yang banyak gravitynya itu adanya disudut jalan. Kami harus berjalan menuju sudut jalannya lagi. Berbagai cara kami halalkan untuk bisa sampai ke sudut jalan itu, mulai dari insting sok tau sampai dengan bertanya ke orang India yang jaga toko selendang. Hingga akhirnya... kami tiba di sudut jalan Haji Lane itu dengan peluh yang menetes dan kulit yang legam terbakar sinar sang mentari.


terdampar di haji lane, mencari ujung jalan... 

peace is my religion
Setelah berhasil foto-foto, sekitar jam 2 kami kembali ke our hotel yang terletak Little India buat packing. Sekitar jam setengah 3 lewat, kami sampai di hotel. Karena waktunya agak mepet dan kakak gue udah agak capek, perjalanan dari Little India ke Changi yang awalnya direncanakan ditempuh via MRT berubah jadi via taksi. Ternyata, dapetin taksi di Singapore itu susah, kawan! Pesawat kami terbang jam setengah 5, dan sekitar jam setengah 4 kami masih belum dapet taksi. Entah waktu itu kami emang lagi sial, atau taksi di Singapore itu emang susah didapetin, yang jelas waktu itu gue menjadi saksi nyata betapa sulitnya nyetopin taksi di Singapore. 


with motha n sista..


oh haji lane..

Di deket station MRT Little India ada halte tunggu taksi. Dari jam 3 kami nunggu, sampe jam setengah 4 nggak ada taksi yang nongol. Kakak gue pun berinisiatif buat nyetopin taksi yang lalu lalang, tapi tak ada satu pun taksi yang berhenti. Bukannya nggak ada taksi, ada sih banyak... tapi nggak ada yang mau stop. Kalau di Jakarta kan, kita cuma perlu melambaikan tangan... lalu taksi berhenti, lalu kita naik taksi dan sampai tujuan, dan hidup bahagia selamanya. Tapi kalau di Singapore, udah dilambai-lambaiin tangan pun taksinya tetep melaju kencang. Masih juga jual mahal. 

Akhirnya kakak gue pergi kembali ke dekat hotel buat nyetopin taksi. Sementara gue dan nyokap duduk di tempat tunggu taksi. Mungkin taksi di jalan raya terlalu jual mahal, makanya kakak gue berinisiatif buat nyetopin taksi yang bukan di jalan raya. Tapi ternyata tetap... taksinya susah disetopin. Gue sampe bolak-balik dari tempat tunggu taksi ke area hotel yang emang nggak begitu jauh buat membantu kakak gue ngedapetin taksi. Tapi tetep aja taksi di sana begitu sulit ditaklukkan. Gue mulai curiga kami akan ditinggal terbang pesawat...

Hingga pada akhirnya, kakak gue melihat sebuah taksi yang stop di depan restoran. Taksi tersebut ditinggal pergi sopirnya yang lagi buang air kecil di wc dekat restoran situ. Waktu si sopir selesai kencing, kakak gue langsung bicara pake bahasa mandarin sama si om sopir dan menjelaskan segala perkaranya. Sopir tersebut akhirnya mengerti dan memberi tumpangan. Akhirnya! Dapet taksi! Karena waktunya udah cukup mepet, gue disuruh kakak gue kembali ke tempat tunggu taksi buat ngasih tau nyokap kalau doi udah berhasil dapet taksi. Kakak gue naik taksi tersebut, dan taksi tersebut akan menghampiri gue dan nyokap di tempat tunggu taksi. Begitu rencana awalnya, tapi...

Tapi setelah duduk di tempat tunggu taksi dan menunggu kakak gue, taksi yang dinaiki kakak gue itu tak kunjung datang. Gue sampe beberapa kali bolak-balik dari tempat tunggu taksi ke area ditemukannya taksi tersebut, tapi nggak ada apa-apa. Taksi itu emang udah jalan, tapi nggak tau jalannya kemana, kakak gue nggak muncul setelah sekitar 15 menit dia naik taksi. Gue mulai panik... jangan-jangan...JANGAN-JANGAN DIA DICULIK SOPIR TAKSI! Asli, kalau ngeliat rute, seharusnya taksi itu sampe ditempat tunggu taksi kurang dari 5 menit. Tapi setelah 15 menit-an, taksi itu tak kunjung datang. 

Jangan-jangan kakak gue diculik. Jangan-jangan sopir taksi itu agen penjual organ tubuh yang nyamar jadi sopir taksi. Jangan-jangan taksi itu taksi curian. Jangan-jangan sebenarnya sopir taksi itu adalah kakak gue sendiri. AKHH! Gue bisa gila memikirkan itu semua.... 

Ditengah lamunan dan konspirasi liar gue tentang kakak gue dan sopir taksi itu, tiba-tiba datang taksi yang tadi dinaiki kakak gue ke tempat tunggu taksi dimana  gue dan nyokap sedang terduduk. Ternyata, kakak gue nggak diculik, tapi dia salah nyebutin tempat tunggu taksi. Seharusnya di nyebut tempat tunggu taksi Mackenzie, tapi dia nyebut jadi tempat tunggu taksi Little India. Akhirnya mereka berdua muter. 

Sekitar jam 4 lewat 10, kami sampe di Changi. Dan sekitar jam 6 sore, akhirnya kami tiba di bandara Soekarno Hatta dan hidup bahagia selamanya. Sampe di rumah gue masih nggak paham, apa cara kami nyetopin taksi di Singapore yang salah, atau taksi di Singapore emang susah disetopin. Ah, sudahlah..

Tuesday, August 16, 2016

Dari Chinatown sampai Orchard, dari Ya Kun Kaya Toast sampai Subway


Jalan-jalan di Singapore itu belum lengkap rasanya kalau belum bikin itinerary buat shopping. Dan bikin itinerary shopping di Singapore itu belum lengkap rasanya kalau belum masukin Chinatown dan Orchard sebagai tempat yang dikunjungi. Entah itu belanja barang-barang dengan harga bersahabat di Chinatown, ataupun sekedar berjalan-jalan di deretan mall-mall yang ada di Orchard. Untuk itulah, di hari ketiga kami bertiga terdampar Di Chinatown pada pagi hari, dan Orchard dari siang sampe malam. It's kind of shopping saturday, fellas.

bergaya ..


Pagi di hari sabtu itu gue, kakak gue, dan nyokap kembali menggunakan MRT sebagai sarana transportasi andalan. Dari station Little India, kami naik MRT ke station Chinatown. Tempat pertama yang kami kunjungi di Chinatown waktu itu adalah..... Red Dot Design Museum

Sesuai sama namanya, Red Dot Design Museum ini memiliki warna bangunan yang merah merona. Karena bagian dalamnya nggak keliatan seindah bagian luarnya, kami bertiga memutuskan untuk nggak masuk ke dalam Red Dot Design Museum ini. Cuma diluar, sambil foto-foto. Ya begitulah, namanya juga turis. Ngeliat jalan bersih dikit, di foto. Street photography gitu, ceritanya. Foto di jalanan dekat Red Dot Design Museum ini sebenarnya mencerminkan prilaku turis yang antimainstream. Foto di Singapore di tempat yang photogenic tapi belum diketahui banyak orang, terus di upload ke Instagram. Begitulah bung. Singapore bukan melulu tentang Merlion atau Marina Bay Sands. 

Keberadaan kami di Red Dot Design Museum enggak begitu lama, mungkin sekitar setengah jam-an. Selanjutnya sekitar jam 9 pagi, karena belum sempat sarapan kami memutuskan untuk singgah di salah satu tempat makan yang ada di Chinatown. Namanya Ya Kun Kaya Toast. Ya Kun Kaya Toast itu sebenernya juga ada di Jakarta, di mall kayak Grand Indonesia ataupun Taman Anggrek. Tapi konon katanya, Ya Kun Kaya Toast itu aslinya dari Singapore. 


Ya Kun Kaya Toast. 
Hidangan yang kami pesan waktu itu adalah salah satu hidangan andalan dari Ya Kun Kaya Toast itu sendiri, 2 buah roti panggang dengan sedikit selai srikaya, dan dua buah piring telur sebagai pelengkapnya. Minumnya satu es kopi, satunya lagi semacam teh tarik. Rasanya gimana? Ya begitulah... rasanya kayak roti panggang yang dikasih selai srikaya terus dicampur sama telur. 

Buat masalah pelayanan, bisa dibilang pelayan-pelayan yang ada di restoran-restoran Singapore itu nggak seramah pelayan-pelayan di Indonesia. Entah itu karena kondisi restorannya waktu itu emang lagi padat turis atau emang karena pelayannya lagi ada masalah keluarga yang nggak terselesaikan, yang jelas pelayannya nggak seramah pelayan-pelayan yang ada di restoran Indonesia. Namanya juga negara maju, suka-suka lu deh Sing..

Setelah menyantap sarapan pagi di Ya Kun Kaya Toast nya Chinatown, kami bertiga lalu menelusuri Chinatown lebih lanjut. Kami pergi ke pusat perbelanjaan di Chinatown, yang juga terdapat Vihara di dalamnya. Ya kalau di Jakarta-kan, tempat ini semacam Glodoknya Singapore.



Glodok Singapore part 1
Glodok Singapore part 2
Di kompleks Chinatown yang rada mirip Glodok itu, kami singgah ke beberapa toko. Harga barang-barang yang dijual di distrik Chinatown ini memang sejatinya lebih bersahabat daripada barang-barang yang dijual di distrik-distrik lainnya. Konon katanya, selain Chinatown, distrik Bugis juga menawarkan barang-barang dengan harga yang bersahabat. Tapi waktu itu, kami mengandekan Bugis sebagai tempat yang dikunjungi di hari terakhir. Karena jarak antara distrik Bugis dengan distrik Little India (tempat dimana hotel kami berada) itu cukup dekat. Cuma butuh sekali pemberhentian MRT dari Little India ke Bugis, kalau nggak salah.  

Di agak ujung jalan kompleks Chinatown ini, ada sebuah Vihara Buddhist. Namanya Buddha Tooth Relic Temple. Di temple ini, nyokap menyempatkan diri buat singgah lalu sembahyang. Sementara gue, cuma masuk liat-liat dalemnya lalu keluar duduk nunggu nyokap sembahyang. Kalau dari dalam, Buddha Tooth Relic Temple ini cukup nyaman untuk ukuran Vihara. Dingin, bersih, asep dupanya nggak terlalu dominan. Asik deh, temple nya. 


Ma motha n sista @ Buddha Tooth Relic Temple

Sekitar jam setengah 12 siang, kami melanjutkan perjalanan. Dari Chinatown, kami melanjutkan perjalanan menuju.. Orchard Road, salah satu Shopping Centre terkenal yang ada di Singapore. Kali ini, transportasi yang kami gunakan bukan lah MRT tetapi... bis. Yap, bis bertingkat yang ada di Singapore.

Tapi sebelum menjelajahi beberapa mall yang ada di Orchad Road itu, kami terlebih dahulu singgah di Anchorpoint Mall yang terletak di Alexandra Road. Tujuan kami waktu itu kesini bukan karena pingin belanja barang-barang tertentu, tapi tujuan kami singgah di mall ini adalah untuk... Subway. Yeah! GIVE A WAY FOR SUBWAYYYY....


Sebelum ditelanjangi..
 
AkHHHH... 
Subway itu adalah semacam sandwich yang dibalut dengan beberapa jenis roti dan juga saus-saus yang bisa dipilih sendiri. Sedangkan "daleman" alias isi dari rotinya itu tergantung dari menu yang kita pilih. Harganya pun bervariasi, mulai dari $4, $5, $6, $7, $8 dan seterusnya. Gue sendiri memilih subway yang harganya $7, yakni Subway Steak and Cheese. Rotinya sih, roti biasa dengan saus yang agak pedas.  


Sama kayak namanya, Steak and Cheese ini isinya daging beef yang dibalut dengan keju dan beberapa toping segar pilihan kayak tomat bulat dan kawan-kawannya. Rasanya gimana? Rasanya asik, serius. Rotinya empuk, dagingnya masih hangat abis dipanasin, Kalau abis dimakan, pemakan dibuat pingin mengeluarkan suara "mmmhhhhh" gitu lah. Mungkin untuk saat ini, subway belum ada di Jakarta. Tapi bukan Jakarta namanya kalau enggak menyediakan pilihan lain. Meskipun di Jakarta nggak ada Subway tapi di Jakarta ada Quizons Sub, ya kuliner yang sejenis gitu lah sama Subway.





Selepas mencicipi Subway di Anchorpoint, kami kembali melanjutkan perjalanan yang sesungguhnya ke Orchard. Kali ini kembali dengan Bis, bukan MRT. Untuk masalah pembayaran, Bis dan MRT itu sama aja. Sama-sama di tap pake kartu. Kalau di MRT kita nge-tap setiap kali masuk pintu, maka di Bis ini kit ange-tap nya setiap kali naik dan turun. Jadi naik nge-tap, turun juga nge-tap. Saldonya bakal kepotong sendiri, pastinya. Jadi bisa dibilang, di Singapore kartu MRT itu perannya cukup penting. 

Orchard Road itu memang terkenal dengan shopping mall nya. Di Orchard, kami dsiuguhi dengan deretan mall yang beraneka ragam. Ada yang ellite, ada yang nggak ellite-ellite amat. Salah satu mall yang ada di Orchard adalah Lucky Plaza. Di mall ini, terdapat cukup banyak orang Indonesia. Ketahuan, dari percakapan bahasa Indonesia yang bertebaran dimana-mana. Bahkan ada beberapa restoran khusus makanan Indonesia di mall ini. Bukan cuma Indonesia, ada juga lantai yang didominasi oleh orang Fillipina di mall ini. Campur aduk, gitu. Kalau di Jakarta-kan, ya.. Lucky Plaza ini kurang lebih sama kayak.. emm.. Season City gitu, deh. 

Nyokap dan kakak gue sendiri membeli beberapa cokelat di Lucky Plaza buat dijadiin oleh-oleh. Di Singapore, cokelat itu memang merupakan salah satu oleh-oleh yang cukup worth it sih.

Selain Lucky Plaza, masih terdapat beberapa mall lain. Kami juga mengunjungi beberapa mall lain yang berderet. Mall-mall cukup ellite kayak ION ataupun Paragon Shopping Centre pun dikunjungi. Tapi ya begitulah, namanya juga mall ellite, isinya juga ellite-ellite. Nggak 'oleh-oleh friendly' gitu lah. Isinya Louis Vuitton, Prada, Gucci, dan sekutu-kutunya. Kalau barang-barang dari brand-brand itu dibawa pulang buat dijadiin oleh-oleh, bisa-bisa nyokap gue bangkrut disana. Enggak bisa pulang ke Jakarta. Tiket pulang ke Jakarta terpaksa digadein. 



Orchard...


Diluar dugaan, gue yang awalnya ngira kalau gue bakal capek abis seharian karena nemenin 2 wanita shopping, malah biasa-biasa aja. Justru nyokap dan kakak gue yang mengeluh capek seharian jalan. Gue curiga, ini semua berkat campur tangan yang diberikan oleh subway yang gue santap di Anchorpoint tadi. Subway memang hebat! 

Setelah berjam-jam jalan kesana kemarin dan membeli beberapa item, sekitar jam 6 sore kami pulang meninggalkan Orchard, menggunakan MRT. Rasa lelah cukup menyelimuti kaki ini di atas MRT dari perjalanan Orchard menuju kembali ke Little India. Nggak kerasa, malam itu adalah malam terakhir kami di negri tetangga ini. Rasa lelah yang terasa di malam itu, mungkin akan dikonversikan menjadi rasa rindu suatu saat nanti. Siapa tau. 
Part sebelumny nya disini

Friday, August 12, 2016

Kenapa Najwa, KENAPAAHHH?!


Kalau ditanya acara talkshow bertemakan politik yang paling keren dan inspiratif di TV Indonesia, maka mungkin Mata Najwa adalah jawabannya. Yang bikin keren mungkin bukan karena acaranya, tapi justru karena host nya, the one and only Ms. Najwa Shihab. Kenapa begitu? Ya, coba aja kalau Najwa Shihab diganti posisinya sama DJ Soda. Acaranya jadi Mata Soda. Itu nanti cowok-cowok yang nonton bukannya pada duduk, tapi malah pada berdiri. Apanya yang berdiri ya.. hmm..

Tapi tenang, kalau disuruh milih antara DJ Soda dan Najwa Shihab, maka gue akan lebih memilih Najwa Shihab. Kenapa? Karena wanita yang besar 'intelegensinya' itu terlihat jauh lebih sexy daripada wanita yang besar 'itunya'. Asik. 

Ngomong-ngomong, ada yang nonton Mata Najwa eps. "Berebut Jakarta" minggu lalu? Bukannya apa-apa, gue cuma mau ngasih tau kalau di episode itu, gue nonton langsung di studio Metro TV bersama dengan beberapa teman satu jurusan lainnya. Nggak hebat kan.. 


yuhu


Rabu malam itu, gue dan beberapa teman Binusian 2020 jurusan Hubungan Internasional lainnya terdampar di studio Metro Tv Jakarta. Dengan ditemani beberapa kakak senior, agenda kami malam itu adalah menyaksikan Mata Najwa yang katanya bakal disiarin live jam 20.05 malam. Temanya malam itu adalah "Berebut Jakarta", bintang tamunya adalah Sandiaga Uno dan beberapa perwakilan partai. 

Topik perebutan tempat untuk menjadi orang nomor satu di Jakarta 2017 nanti memang lagi hangat-hangatnya. Sebagai pengusaha sukses yang pada akhirnya berniat terjun ke dunia politik, Sandiaga Uno berani mencalonkan diri sebagi cagub dan menantang Ahok di pemilihan nanti. Ahok yang awalnya memakai jalur independen pun akhirnya memutuskan maju bersama dengan partai. Setelah mengantungi dukungan dari 3 partai, Ahok bisa saja memperkokoh langkahnya dengan dukungan PDIP yang masih bimbang antara memihak Sandiaga Uno atau Ahok. Jadi, siapa kah yang akan menjadi gubernur DKI di 2017 nanti? Ya Ahok, lah. Hahahaha.

PDIP ini ternyata agak sedikit bimbang. Kata salah satu perwakilannya malam itu, PDIP bisa aja memihak Sandiaga Uno, tapi bisa juga memihak Ahok. Karena sejatinya, PDIP ke Ahok itu bagaikan benci tapi rindu. Sok-sok jual mahal, padahal masih sayang. Gue jadi kasihan sama Sandiaga Uno. Kalau memang PDIP masih sayang sama Ahok, berarti Sandiaga Uno cuma dijadikan pelarian dan diberikan harapan palsu biar Ahok cemburu. Giliran Ahok udah cemburu, Sandiaga Uno ditinggalin. Politik memang sadis!

Tapi, namanya juga PDIP, semua kembali ke ibu Mega.

untung bukan Mata Soda..

Kalau dilihat-lihat, Sandiaga Uno itu sebenernya orangnya baik, nggak freak kayak beberapa penghujat Ahok lainnya. Ya, sayangnya aja mungkin pilgub 2017 nanti bukan waktu yang tepat buat dia. Jakarta masih butuh Ahok, for sure. Waktu nonton Mata Najwa kemarin pun gue sempat punya wacana buat teriak "Hidup Ahok.. Basukiii Pasti bisaa!" Tapi karena takut dibakar hidup-hidup sama keamanannya Sandiaga Uno, gue nggak jadi mengatakan hal tersebut. 

Setelah terduduk lebih dari satu setengah jam di studio itu, Mata Najwa eps waktu itu akhirnya selesai. Semua tamu berdiri dan berfoto bersama dengan si Najwa Shihab, sebelum akhirnya meninggalkan panggung. Selanjutnya, panggung kemudian dipenuhi dengan penonton yang naik buat minta foto. Ada yang minta foto sama mbak Najwa, ada yang minta foto sama pak Sandiaga, ada yang minta foto sama kru Metro Tv nya, ada juga yang minta foto sama mbak Najwa terus minta sama pak Sandiaga juga terus sama kru Metro TV nya juga. Asli, yang terakhir itu maruk abis.

Gue sendiri cuma berniat minta foto sama Najwa Shihab. Mungkin kalau waktu itu ada Ahok juga sebagai bintang tamunya, maka gue  bakalan minta foto juga sama pak Ahok. Percayalah, minta foto sama Najwa Shihab di studio Metro TV setelah acara Mata Najwa selesai itu bukan perkara mudah. Setiap berusaha minta foto sama mbak Najwa, pasti ada aja halangannya. Satpam yang terllu overprotective lah, mbak Najwanya lagi sibuk foto sama penonton yang lain lah, sampai.. fotonya kabur. Pasti ada aja kampret-kampretnya. Wacana kembali muncul dalam pikiran gue, buat nyari nomor plat mobil Najwa Shihab di google, terus nunggu di depan mobilnya buat ngajak foto.   

Ada kalanya gue ngajak foto, mbak najwanya ngadep ke kamera penonton lain yang juga ngajak foto. Ada kalanya, gue ngajak foto dan muka satpamnya ikut ke foto. Dan ada kalanya, gue ngajak foto tapi fotonya kabur dan satpamnya juga ikut ke foto. Pffftt...

Kenapa kau tak melirik ku... 


Kenapa agak kabur... 
Kenapa semakin kabur.. terus satpamnya ikut ke foto.. 


Foto terakhir itu adalah salah satu foto paling kampret. Giliran Najwanya udah deket dan wajahnya menghadap ke kamera gue, eh... wajahnya agak kabur karena itu kondisinya dia sambil jalan. Terus satpamnya ke foto lagi. Pembunuhan background ini namanya. Alhasil, nggak ada foto sempurna dengan seorang Najwa Shihab yang bisa terabadikan malam itu. Kampretnya, waktu itu gue malah disuruh fotoin salah satu grup yang datang dari luar daerah sama si mbak Najwanya. 

Oh Najwa.. Kenapa kau tidak melihat kamera ku saat bayang mu belum kabur.. Kenapa saat kau melihat kamera ku bayang mu malah kabur.. ada satpamnya lagi... 

Kenapa Najwa, KENAPAAHHH?!


HI BINUS kala itu.. 


Monday, August 8, 2016

Lelah di Marina Bay Sands, Lemas di Merlion


Setuju nggak setuju, yang namanya jalan-jalan ke Singapore itu belum kerasa kalau belum pergi ke Merlion sama Marina Bay Sands. Ya begitulah, karena sejatinya Merlion dan Marina Bay Sands adalah 2 buah ikon yang Singapore 'banget'. Yang satunya Landmark negara, yang satunya lagi pusat hiburan terbesar. Semuanya terbukti, dari banyaknya pelancong-pelancong yang foto di depan Merlion ataupun di Marina Bay Sands terus di upload ke Instagram. Terus di kasih caption, 'A day in Singapore', atau kalau enggak.. 'No caption needed'. Ya begitulah.

Karena itulah, di hari kedua ini gue, kakak gue, dan nyokap melanjutkan perjalanan menuju 2 ikon abadi Singapore itu. 


Lil India


Perjalanan kami kembali dimulai dari Little India. Karena memang disitulah Hotel kami berada. Nggak jauh dari hotel, ada semacam bioskop, namanya Rex Cinemas. Kalau gue tebak, isinya film Bollywood semua dan yang nonton kebanyakan orang India. Atau, malah orang India semua yang nonton. Entahlah. 

Dari Little India, kami naik MRT menuju Marina Bay Sands. Harga pasti dari tapping kartu saldo MRT nya sendiri gue nggak tau. Mungkin enol koma sekian dolar sekali tap. Buat masalah transportasi, Singapore memang lebih sejahtera daripada Indonesia. Polusinya sedikit, jalanannya bersih, orang-orangnya taat lalu lintas, sejahtera lah pokoknya. MRT nya pun bersih, baik di stasiun ataupun di dalam MRT nya sendiri. Konon katanya, ada larangan buat makan di dalam MRT atau juga stasiun MRT nya. Kalau ketahuan makan, nanti bisa kena denda pake $ingapore dollar. Konon juga katanya, salah seorang dosen kakak gue pernah kena denda karena memainkan kartu MRT nya dengan cara di keplek-keplek sehingga membuat suara berisik. Katanya, bunyi keplekan kartunya itu mengganggu ketenangan. Ya namanya juga negara maju, suka-suka lu deh sing..

waitin'


standin'

silau bray


Sebelum ke Marina, kami pergi ke museum nasionalnya Singapore dulu. Wisata sejarah, gitu. Nggak terlalu banyak hal yang bisa diliat dari Museum itu. Gue nggak terlalu merhatiin malah, di dalem museum itu ada apa aja. Yang gue tau, waktu itu ada pasangan yang lagi foto pre wedding di museum itu. Dan museum itu didominasi oleh percakapan bahasa mandarin, entah itu orang Singapore nya sendiri atau turis dari China. 

panas


Sekitar jam 11 atau jam 12, perjalanan berlanjut ke Marina Bay Sands. Pake MRT lagi, pastinya. Perjalanan pake MRT itu melelahkan, sobat. Masuk stasiun, tap disatu pintu ke pintu yang lain, naik eskalator, nunggu MRT, kadang desak-desakan. Tapi nggak apa-apa, naik MRT itu asik juga, kok. Sekitar jam 1 siangan, kami tiba di mall Marina Bay. Ya, mall nya ellite sih, emang. Tapi terdampar di mall Marina ini nggak berkesan-berkesan amat buat gue, karena penampakan dalem mall nya nggak jauh beda dari mall-mall di Jakarta. Jakarta punya 173 mall, bung. 

Perjalanan di Mall Marina Bay ini 'melelahkan'. Wanita memang benar-benar kejam! Gue nggak ngerti, kenapa yang namanya wanita itu kakinya mendadak jadi kuat banget ketika mereka berbelanja. Kakak dan nyokap gue menjadi bukti nyata, betapa kuatnya kaki seorang wanita ketika sedang berbelanja. Gue sebenernya agak kesel, sama kedua wanita ini waktu lagi di Mall Marina Bay. Mereka pergi ke toko-toko di Marina Bay Mall yang jelas udah ada di Jakarta. Mereka pergi ke Charles and Keith, padahal di Jakarta Charles And Keith pun juga ada di mall kayak Central Park. Kakak gue juga sempet-sempetnya beli parfum di Victoria Secretnya, padahal di mall kayak Taman Anggrek Victoria Secret pun juga ada. Ngapain jauh-jauh ke negri orang kalau beli barang yang bisa dibeli di negri sendiri?! Mending, kalau belinya di Singapore dengan catatan harga barangnya bisa lebih murah. LAH INI HARGANYA SAMA. MALAH AGAK SEDIKIT LEBIH MAHAL. KENAPAH MAMA.. KENAPAH CICIK... KENAPAHHHH?! 

'Kelelahan' gara-gara jalan di mall Marina Bay itu sangat gue rasakan. Pasalnya, jumlah bangku di setiap tokonya nggak sebanyak jumlah bangku di toko-toko yang ada di mall-mall Jakarta. Belum tentu di satu toko itu ada tempat duduk buat pembeli duduk. Syukur kalau ada, kalau nggak ada ya begitulah. Saat itu, gue benar-benar merasa kalau emansipasi gue direnggut dan dijajah oleh wanita. Dan lebih sedihnya lagi, wanita-wanita itu adalah keluarga gue sendiri. 


Chillin' at Marina Bay Sands Mall
di atasnya..

Untungnya, area  Marina Bay Sands ini nggak cuma terpaku pada mall doang. Karena sejatinya, Marina Bay Sands ini adalah pusat hiburan yang keren abis. Ada kolam renang infinity pool nya yang terkenal di lantai paling atas, tapi sayangnya infinity pool di Marina Bay Sands itu cuma bisa diakses sama pengguna hotel Marina Bay Sands doang. Padahal, dulu katanya yang nggak nginep di Marina Bay pun bisa nyobain infinity pool.

Selain mall, ada juga Gardens by the Bay, taman umum yang cukup terkenal di Marina Bay Sands. Kami sendiri nggak masuk ke dalem ruangannya, cuma jalan-jalan diluarnya. Sebelumnya, gue juga sempet mengitari Helix Bridge sebentar, sebelum akhirnya terdampar di Gardens by The Bay. Waktu itu cuaca di Marina Bay panasnya emang lagi kampret abis. 

Gardens by the Bay emang cukup asik buat diitari. Selain karena oksigennya sehat, tempatnya juga asik buat foto-foto.   

jefferson laay
helix bridge..


jefferson laay
helix bridge lagi..



Garden by the bay with motha n sista


Sampe sekitar jam setengah 6 sore, kami masih terdampar di Marina Bay. Gue yang udah lelah, jadi tambah lelah. Dari Marina Bay, kami masih harus naik MRT lagi Merlion park.  Niatnya sih, pingin mengabadikan foto di depan Merlion. Tapi percayalah, berpose di Merlion di waktu malam hari itu bukan perkara mudah. Apalagi, kalau kamera yang digunakan cuma kamera handphone. Handphone sekelas Iphone 6 pun kameranya masih kampret-kampretan.

Setelah terdampar di stasiun pemberhentian di Merlion, kami masih harus jalan lagi nyari-nyari dimanakah patung Merlion itu berada. Waktu itu, jam udah menunjukkan skitar pukul setengah 7 malam. Konon katanya, kalau mau foto yang apik di depan Merlion ini ada baiknya kalau di waktu langit masih belum gelap. Tapi apa boleh buat, karena terlalu lama di Marin Bay Sands, kami sampe di depan Merlion saat langit udah mulai gelap. 

Sebagai Landmark dari negara Singapore, Merlion ini emang kayaknya wajib buat dikunjungi. Dan statusnya sebagai landmark yang wajib dikunjungi ini juga lah yang membuat Merlion selalu rame meskipun udah malem. Waktu itu karena harus transit lagi dari MRT ini ke MRT itu, gue pada akhirnya terdampar di depan Merlion dengan lemas. Bukan cuma karena lemas jalan, tapi juga lemas karena ada banyak turis yang juga ngantri foto di depan Merlion. Beraneka ragam bahasa pun bercampur aduk waktu itu. Ada bahasa China, Indonesia, Bahaca China yang dicampur sama bahasa Indonesia, bahasa Tagalog, bahasa Inggris, bahasa Tagalog yang dicampur sama bahasa Inggris, bahasa kalbu, banyak lah. Yang jelas, jumat malam itu, berpose buat foto di depan  Merlion bukan lah perkara yang mudah. 

Karena udah gelep, Merlionnya pun nggak terlalu keliatan jelas. Giliran keliatan jelas, guenya yang gelep. Belum lagi waktu itu rame, setiap mau foto.. selalu aja ada turis China perusak foto turis negara lain. Gue pun yang sama kakak gue saling ganti-gantian buat fotoin mendadak berubah menjadi tukang parkir dadakan untuk mendapatkan angle foto yang sempurna. Dan kalau kami memang tukang parkir dadakan, maka kami adalah tukang parkir dadakan yang ketentramannya diganggu oleh turis China perusak foto...

"Iya ce... kanan.. kiri.. maju dikit, mundur dikit, ya.. Merlion nya udah cakep, iya lu ke kiri sedikit ce... iya... oke mantap.. siap ya, satu.. dua.. IYA ADA DUA CHINA DIBELAKANG LU..."  

Padahal gue sama cece a.k.a cicik gue juga China. Chinese, maksudnya. 

Kami pun terpaksa menunggu si turis China perusak foto itu buat pergi. Satu hal yang gue tau jelas malam itu adalah... foto di Merlion dengan angle Marina Bay Sands nya dapet dan Merlionnya juga dapet tidak semudah yang dibayangkan.


The fault in our Merlion part 1


The fault in our Merlion part 2


a night in singapore
pffttt


Setelah beberapa kali nyoba memfoto dan difoto, kaki gue benar-benar lemas karena jalan seharian. Sekitar jam setengah 9 malam waktu Singapore, kami meninggalkan Merlion untuk kembali ke Little India. Naik MRT lagi, transit lagi. Kebayang kan, capeknya. Sebelum sampe hotel, kami makan malam dulu di deket hotel pastinya. 

Dan begitu lah hari kedua ini berakhir. Lelah di Marina Bay Sands, lemas di Merlion.
Part Sebelumnya nya disini

Friday, August 5, 2016

An Escape to Singapore


Pagi di tanggal 28 July kemarin, gue terdampar secara illegal di bandara Changi. Bukan illegal karena gue nggak punya paspor atau gue diselundupin di koper, tapi illegal karena seharusnya waktu itu gue ada di BINUS buat ngikutin english class karena nilai TOEFL dibawah rata-rata. Tapi nggak apa-apa, berhubung english class setelah FEP itu nggak pengaruh ke point-point mahasiswa, gue tau mana yang harus di pioritaskan. That's why I call this an escape, bruh..

Ma stuff. Get ready for the escape.

Skuad yang melarikan diri ke Singapore ini sendiri cuma 3 orang: gue, kakak, dan nyokap. Sementara ayahanda tidak mengikuti agenda pelarian ini. Pelarian ke Singapore ini murni dalam rangka jalan-jalan, murni karena kami telah jenuh dengan polusi udara ibukota tercinta, Jakarta. 

****



Karena pesawat gue pesawat pagi, gue terdampar di bandara Soekarno Hatta terminal 3 jam setengah 6 pagi, terbang sekitar jam 7 pagi, dan sampe di bandara Changi sekitar jam setengah 9 pagi. Baru sampe tempat pemeriksaan bandara, ada sesuatu yang berbunyi di bagian tubuh gue. Ternyata bunyi itu disebabkan oleh ikat pinggang, gue disuruh menepi dan diperiksa lebih lanjut. Gue kemudian diajak ngomong bahasa Mandarin sama petugas Changi. Gue dikira turis asal China, kampret. Mungkin gue keliatan kayak Andy Lau dimatanya. Setelah melalui beberapa pengecekan lagi, gue naik MRT menuju hotel. Hotel gue letaknya ada di distrik Little India, deket sama distrik Bugis. Semua koper yang gue, kakak gue dan nyokap gue bawa, kami bawa masuk ke MRT menuju Little India. 



Naik MRT itu ternyata melelahkan, sobat. Harus antri buat isi saldonya, harus transit sana sini, sampe di dalem MRT nya pun belum tentu bisa duduk. Gue agak bingung sebenernya, kenapa banyak pengguna MRT di singapore yang tetep berdiri walaupun ada beberapa bangku yang kosong. Padahal, bangkunya bukan bangku yang dikhususkan buat orang tua atau anak-anak. Tapi nggak apa-apa, dat cool, $ingaporeans. 

Sama seperti namanya, Little India adalah distrik dihuni banyak orang keturunan India. Bukan keturunan sih, tapi memang orang India yang tinggal di Singapore, mungkin. Hotel kami sendiri terletak dekat dengan cinema yang ada di Little India. Dan seperti yang sudah diketahu, orang India kalau ngomong bahasa Inggris itu agak lucu. Aksennya aksen chaiya-chaiya, gue yang denger jadi pingin joget. Kayak di film-film Bollywood gitu, ketemu pager joget.. ketemu pohon joget.. lagi makan joget.. ah, dasar roti canai.

Karena waktu itu kami datang sebelum jam 2 siang, maka kami belum bisa check in masuk ke kama hotelnya. Sentosa Island pun menjadi pelarian kami, dan MRT a.k.a Mass Rapid Transit kembali menjadi andalan. jeng-jeng..

Peace

with sista
Yang namanya Sentosa Island, pasti erat kaitannya dengan Universal Studio. Belum lumrah, kalau ke Universal Studio tapi belum ke Sentosa Island. Eh.. kebalik, belum lumrah kalau ke Sentosa tapi nggak ke Universal. Entah masuk ke dalam Universalnya, atau cuma sekedar foto di lambang bumi yang ada tulisan Universalnya. Percayalah, sobat, nyari pose foto yang sempurna di depan lambang bola bumi Universal Studionya itu nggak gampang. Karena lambang buminya muter terus, maka gue harus menunggu untuk bisa mendapatkan pose dengan background bumi bertuliskan universal di spot yang tepat. Belum lagi nanti banyak turis dari Korea sama China yang suka nyelonong dan merusak backgroud buminya. Huh...

Selain Universal Studio, masih ada beberapa tempat lagi yang kami kunjungi di Sentosa. Entah itu Candylicious, ataupun tempat-tempat di Sentosa yang harus membuat kami naik MRT lagi. Sentosa itu tempatnya cukup asik, dan panas. Di sana gue nyoba masuk ke Casino, tapi sayangnya gue belum cukup umur. Gue masih 18, dan minimal usia yang boleh masuk ke Casino disana itu 21 tahun. Sialan...
Setelah kurang lebih 3 jam di Sentosa, kami melanjutkan perjalanan ke Clark Quay, naik MRT lagi pastinya. 


menuju Clark Quay..



Clark Quay adalah dermaga pinggir sungai yang diisi cukup banyak restoran dan beberapa club. Jadi, bisa dibilang Clark Quay ini hidupnya di malam hari. Night lifenya emang cukup kerasa, walalupun bisa dibilang club malamnya nggak se-jedag jedug club malam di Khaosan Road, Bangkok. Waktu pertama kali sampe di Clark Quay, yang kami lakukan adalah duduk-duduk di pinggiran sungai sambil menikmati udara Singapore. Bisa dibilang, langit di Singapore lebih terang daripada langit Jakarta. Kalau jam 6 sore di Jakarta udah gelap, di Singapore jam 7 lewat baru gelep. 

Peace, bruh..
jefferson laay
chillin' at Clark Quay


Clark Quay ini emang asik banget buat dijadiin tempat menenangkan diri di sore hari. Kalau di sinetron-sinetron FTV khas Indonesia, Clark Quay ini tempat yang cocok buat dijadikan pelarian tokoh utama cewek yang lagi ngambek sama cowoknya buat menenangkan diri sambil melihat sungai. Ada juga beberapa kapal yang melintasi sungai ini, gue sendiri nggak tau darimana dan mau kemana kah kapal itu berjalan. Yang gue tau, sungai di Clark Quay ini nggak sekeruh sungai di Jakarta. Kalau di Jakarta kan, sungai-sungai begini biasanya di jadiin tempat mandi sama anak-anak yang rumahnya di bantaran kali. Lagi asik-asik mandi, tau-tau anunya dihinggapi sama ikan sapu-sapu. Hih..

Setelah hampir satu jam duduk-duduk menikmati oksigen sore hari Singapore, kami melanjutkan perjalanan mengitari tempat-tempat yang ada di Clark Quay. Bisa dibilang, night life di Clark Quay emang cukup kerasa. Mungkin, bisa dibilang Clark Quay itu tempat yang cukup bergengsi. Semacam PIK nya Singapore, mungkin. Jadi selain bisa merasakan night life, di Clark Quay ini kita juga bisa wisata kuliner. Tapi ya begitu lah, harga makanannya kurang bersahabat. 


Good Night, Clark Quay..

Sampai cukup malam, kami masih ada di Clark Quay sebelum akhirnya pulang ke Little India dengan kembali menggunakan MRT. Hari pertama di Singapore itu pun berjalan cukup menyenangkan, dan melelahkan. Sampe di hotel gue nggak langsung tepar tapi. Keren kan. Ya begitulah hari itu berakhir. Karena kami bakalan disini selama 4 hari, maka gue masih punya waktu 3 hari lagi buat explore this country. Yak mari kita lihat apa saja yang bisa kita dapatkan di negri tetangga ini.... 


Yow..

b:if cond='data:blog.pageType != "item"'>