Sunday, April 12, 2015

Trotoar Itu Kan...


Semakin jauh perjalanan, semakin lelah kaki kami melangkah. lagi asyik-asyiknya jalan, gue melihat seorang pengendara motor yang melawan arah dengan cara menaiki trotoar. ini cukup kampret. dan dari arah jalannya, pengendara tersebut sepertinya akan melewati kami. dengan sedikit jiwa sosial dan sok berani, gue berusaha untuk membuat motor diatas trotoar tersebut merasa risih. ketika akan melewati kami, gue berjalan dengan cukup lambat agar pengendara tersebut sedikit terhenti jalannya. dan perlahan, setelah sangat dekat, malam itu gue menatap mata sang pengendara motor. pengendara tersebut seorang bapak-bapak, berkumis, pakai helm nggak full face, perut agak sedikit buncit. tanpa gue sadari, ternyata bapak-bapak tersebut melotot ke arah gue. karena takut dimakan oleh bapak-bapak tersebut, gue pun mempercepat langkah dan melewatinya. sial, untung kumis lo serem, pak...

Kehilangan sesuatu memanglah tidak mengenakan. kehilangan kunci, kehilangan remote tv, kehilangan pacar, sampai kehilangan perhatian adalah contohnya. dari sekian banyak kehilangan, situasi kehilangan yang paling tidak mengenakan adalah situasi ketika kita merasa kehilangan sesuatu tapi sebenarnya kita nggak kehilangan apa-apa. ngerti kan..

Nggak cuma kehilangan barang milik pribadi aja yang nggak mengenakan. kenyataanya, kehilangan hak atas barang yang dimiliki bersama juga sangat tidak mengenakan. akhir-akhir ini, semakin banyak gue liat penampakan motor-motor yang naik ke atas trotoar dengan seenaknya. entah itu motornya lagi dikendarai, ataupun lagi diam terparkir. padahal, trotoar itu kan.. diperuntukkan untuk para pejalan kaki. ah, rasanya pejalan kaki benar-benar mulai kehilangan hak mereka atas kepemilikan trotoar..

******

Beberapa malam yang lalu, jalan-jalan yang ada di jakarta dibasahi oleh rintik-rintik hujan. serbuan rintik hujan ini pun mengakibatkan macet yang cukup panjang di kawasan senayan dan sekitarnya. malam itu, gue bersama dengan ketiga teman gue sedang berada di fx, salah satu mall yang berada di kawasan senayan. kami yang malam itu berniat pulang, menjadi frustasi mendadak melihat kemacetan yang cukup panjang ini. pada awalnya, taksi-taksi yang biasanya nongkrong didepan mall adalah kendaraan yang kami cari. tapi kalau melihat macetnya parah kayak gini, bisa-bisa argo taksi membuat dompet gue terserang kurang gizi mendadak. gue dan ketiga teman gue pun mengalihkan incaran dari taksi ke busway. kami datang dengan busway, maka kami akan pulang dengan busway juga. begitu pikir gue..  

Melihat halte busway yang begitu penuh sesak dan sudah akan tutup sebentar lagi, gue dan ketiga teman gue pun hanya bisa pasrah. tinggal 2 pilihan yang kami punya.. pilihan pertama, kami pulang dari fx jalan kaki ke rumah masing-masing lalu keesokan harinya kami akan tumbang dengan indahnya. atau pilihan kedua, kami akan jalan kaki ke depan dan berharap macet segera berakhir dan kami menemukan taksi di depan, lalu kami akan pulang naik taksi dengan penuh kemenangan. karena pilihan kedua adalah pilihan yang paling manusiawi, kami pun memutuskan untuk jalan kaki ke depan dengan harapan menemukan taksi yang berbaik hati mau mengantar kami pulang. 

Di perjalanan mencari taksi ini lah gue menemukan beberapa pengendara motor kampret yang dengan seenaknya naik keatas trotoar. karena situasi yang masih macet, ada beberapa pengendara motor yang menjadikan trotoar sebagai alternatif jalan. ternyata, nggak cukup dengan jalur busway, trotoar yang seharusnya digunakan untuk tempat berjalan kaki pun ikut menjadi korban dari beberapa pengendara motor yang nggak tau aturan ini. 

Gerimis masih turun malam itu. karena masih belum menemukan taksi, kami pun melanjutkan perjalanan. diatas trotoar, kami berusaha untuk menyetopkan taksi-taksi yang lewat. ada penumpang atau enggak, itu bukan masalah. yang penting tangan terus dilambaikan. tapi kampretnya, nggak ada taksi yang mau menepi. perjalanan pun kami lanjutkan. setelah perjalanan yang cukup jauh, masih aja ada pengendara-pengendara motor yang seenaknya naik ke trotoar. selain harus berjalan hati-hati karena ada beberapa genangan air, gue pun juga harus berhati-hati karena ada motor diatas trotor yang bisa menyerempet kapan saja. 

Semakin jauh perjalanan, semakin lelah kaki kami melangkah. lagi asyik-asyiknya jalan, gue melihat seorang pengendara motor yang melawan arah dengan cara menaiki trotoar. ini cukup kampret. dan dari arah jalannya, pengendara tersebut sepertinya akan melewati gue dan temen-temen gue. dengan sedikit jiwa sosial dan sok berani, gue berusaha untuk membuat motor diatas trotoar tersebut merasa risih. ketika akan melewati kami, gue berjalan dengan cukup lambat agar pengendara tersebut sedikit terhenti jalannya. dan perlahan, setelah sangat dekat, malam itu gue menatap mata sang pengendara motor. pengendara tersebut seorang bapak-bapak, berkumis, pakai helm nggak full face, perut agak sedikit buncit. tanpa gue sadari, ternyata bapak-bapak tersebut melotot ke arah gue. karena takut dimakan oleh bapak-bapak tersebut, gue pun mempercepat langkah dan melewatinya. sial, untung kumis lo serem, pak...

Setelah berjalan kaki cukup jauh, akhirnya kami menemukan beberapa taksi yang sedang nongkrong di depan gedung MPR. malam itu, ditengah gerimis yang turun, jalan kaki dari fx sampai gedung MPR terasa sangat melelahkan untuk kami. tanpa pikir panjang, langsung lah terjadi dialog antara kami dengan sang sopir taksi. dan beberapa saat kemudian, kaki-kaki lelah kami sudah berada didalam taksi untuk menempuh perjalan pulang.  

******

Entah apa yang membuat para pengendara motor yang gue temui malam itu menaiki trotoar dan menjalankan motornya diatas trotoar tanpa merasa dosa sama sekali. mungkin mereka tidak memilik kesadaran, atau mereka pikir merebut hak pejalan kaki adalah hal yang keren. emm, mereka benar-benar gagal gaul. sebagai salah seorang pengendara motor, gue pun juga pernah berkendara melawan arah diatas trotoar saat perjalanan pulang sekolah. tapi, itu karena terdesak. dan disaat itu juga gue merasa berdosa. aku kotor...

Trotoar ada, karena ada para pejalan kaki. trotoar itu kan.. haknya pejalan kaki. untuk para pejalan kaki, janganlah bersikap acuh tak acuh, jangan mau haknya diambil begitu saja. jangan sampai di masa depan nanti trotoar benar-benar menjadi hak milik dari pengendara motor, jangan sampai kita kehilangan hak atas trotoar. jangan sampai nanti pas kita kehilangan trotoar, barulah kita menyesal dan demo sana sini. karena, sama seperti hukum kehilangan yang berbunyi:  kita nggak akan tau seberapa penting hal yang kita miliki sebelum kita kehilangan hal tersebut.

Dan untuk para pengendara motor yang hobi mencuri hak pejalan kaki, sadarlah. kalian kan sudah memiliki jalan sendiri. janganlah kalian mengambil hak para pejalan kaki. cukup kehilangan hak kasih sayang dari mantan pacar saja yang kami rasakan, janganlah kalian membuat kami kehilangan hak atas trotoar. karena trotoar itu kan... bukan untuk pengendara motor, tapi trotoar itu kan... untuk pejalan kaki. 

tulisan ini diikutsertakan dalam best article blogger energy. 
              

75 comments:

  1. Minta digibeng juga tu yg nerobos..,
    make yang bukan haknya seenak perutnya yang buncit, huhuuu

    ReplyDelete
    Replies
    1. dan giliran ditegur, mereka malah lebih galak.

      Delete
  2. Alasan yang sering didengar adalah "saya terburu-buru pak,jadi lewat trotoar".Sungguh alasan yang mainstream dan bikin geleng kepala.Mereka pikir semuanya nggak keburu-buru kali ya,bahkan banyak juga yang lebih keburu-buru dan urgent dari orang itu.tpi dari raut mukannya aja situ (pengendara) tenang aja (cuma alasan)....
    *sebagai pemuda jgn ditiru ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. alasannya mainstream memang.
      tapi yang paling ngekiin adalah.. mereka nggak mau disalahin.

      Delete
  3. Kalau lagi naik motor emang pengennya nyelip sih, apalagi kalau udah macet gitu. Tapi saya juga ngerasain sih ga enaknya diambil hak kalau lagi jalan kaki, untung saya belum pernah pakai motor ke atas trotoar.
    Dan sebel juga sama yang suka jualan di trotoar, itu juga ngambil hak yang jalan kaki :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang jual-jual makanan minuman di atas trotoar itu kan masih bermanfaat buat pejalan kaki :")
      nah ini motor, nggak ada untungnya..

      Delete
  4. terima kasih telah berbagi info
    salam kenal dan salam sukses..........

    ReplyDelete
  5. Kalo ada pengendara kayak gitu . . pejalan kaki sah2 aja kalo harus mbegal tu pengendara motor . . Yang salah siapa . ?? Yg salah yg naek motor . . tapi lebih salah'an yang mbegal sih . .
    Biasanya waktu macet nih suka kejadian . . dan walaupun gue kalo keburu2 suka nglakuin hal yg sama sih . . *Ampuni aku*

    ReplyDelete
    Replies
    1. tetaplah menjadi bintang di langit..

      Delete
  6. Ya ampun. Segitunya ya

    By the way, gaya bertutur elu asyik bro. Kadang gue malah jadi ngerasa kayak baca novel hehee ada diksi yang bagus, pinter lu

    ReplyDelete
    Replies
    1. WAH!
      masa sih? pasti fitnah..
      mungkin karena gue hobi baca buku personal literature

      Delete
  7. Bales aja Jev, kalo mereka pake motor di trotoar, lu jalannya di tengah jalan rayanya.

    semoga tulisannya bisa terpilih sebagai best artikel ya. *kecil amat itu note bottom nya*

    ReplyDelete
    Replies
    1. lalu gue di tabrak oleh para pengendara motor dan terhempas ke jalur busway lalu dihantam sekali lagi oleh busway.

      Delete
  8. memang hak pejalan kaki sepertinya sudah diambil oleh pengendara motor. Menurut saya tidak apa naik taksi ketika macet, justru malah sopir taksi tidak mau terkena macet, tapi entahlah, saya pun tak mengerti.

    ReplyDelete
    Replies
    1. begitu juga dengan saya, yang tak mengerti apa maksud anda..

      Delete
    2. maksud saya sopir taksi malah nggak suka sama macet, biasanya kan malah senang

      Delete
  9. betul mas, jadi rindu sama GDN (gerakan disiplin nasional) dulu
    kalo ga salah, ada edukasi mengenai trotoar, zebra cross, dll

    tapi emang ironis banget, trotoar kalo ga dilewatin motor ya dipake buat dagang...

    ReplyDelete
    Replies
    1. sekarang sih udah ada gerakan.. trotoar untuk pejalan kaki gitu.
      dan mereka cukup aktif dalam melakukan aksi sosial..

      Delete
  10. Sekarang udah sering kayak gitu. Entah mau gimana lagi biar mereka bisa sadar

    ReplyDelete
    Replies
    1. harus ada peraturan yang jelas.....
      tapi percuma juga sih. jalur busway disuruh denda 500 k aja masih banyak yang nerobos..

      Delete
  11. pemerintah seharusnya bikin torotoar yang tingginya 1 meter, biar pengendara ga ada yang lewat. :D

    ReplyDelete
  12. Bahaya juga kalo budaya nyerobot trotoar terus dilakukan, harusnya ada tindakan tegas.

    ReplyDelete
  13. Di trotoar bikin penghalang kayak trotoar yang di depan kedubes Australia, jadi aman buat pejalan kaki.
    Kadang kayak gitu udah melanggar malahan galak lagi.

    salam,
    http://alrisblog.wordpress.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah? trotoar di depan kedubes ausie ada penghalangnya?
      keren..

      Delete
  14. Nyebelin ya pengendara motor yang jalannya di trotoar. Masa kita harus gantian jalan kaki di jalan raya? Gak mungkin kan? Bilang ke gue, gak mungkin kan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. nggak mungkin..... bila nanti....

      Delete
  15. Nah, iya nih. Gue juga suka sebel sama pengendara motor yang ngambil hak trotoar dari pejalan kaki. Masalahnya para pejalan kakinya nggak ada yang berani negor. Jadi mereka pikir perbuatan itu biasa. Yang tadinya cuma satu dua orang, karena kebiasaan akhirnya yang lain ikut-ikutan. Sungguh ironi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. selain jarang ada yang berani negor, kalau ada yang negor pun malah yang ditegor justru lebih sangar daripada yang negor. oh batagor..

      Delete
  16. Kirain lu kehilangan apa jef? Rupanya kehilangan HAK, ya.

    Emang, sih. Gak di Jakarta aja, keknya. Di Pekanbaru juga kalo macet, banyak yang naik trotoar. Cuman, di Pekanbaru trotoarnya gak lebar, jadi jarang juga kelihatan.

    Tapi, kalo pas macet, yang awalnya bukan jalan, bisa jadi jalan dengan seklip mata. Kerenkan!!

    Semoga aja, bisa sadar para pengguna jalan terhadap apa yang udh mereka lakukan. :)

    ReplyDelete
  17. colok saja sudah yang melototin,, tapi apa selama ini gak ada tindakan dari polantas??

    ReplyDelete
    Replies
    1. tindakan mah ada....
      kesadaran dari pelanggar yang nggak ada.

      Delete
  18. Kayaknya yang kayak begitu bukan karena macet aja, tapi hobi. Bisa jadi pas jalan kosong, dia juga bakalan tetep naik trotoar. Bukan cuma itu, kadang ada pelopornya, jadinya banyak yang ngikutin.
    Kasian juga pejalan kaki, mau negur, biasanya galakan yang ditegur. Ditilang, malah nyalahin polisi. Semoga cepet sadar aja :)

    ReplyDelete
  19. Sama Jeff, di sini kadang juga masih ada yg motoran di trotoar. Tapi setidaknya dengan pengalaman yg lu alami, lu jadi tau kan rasanya nggak nyaman saat hak pejalan kaki diambil. Jadi kamu nggak ngulangi lagi motoran di trotoar.
    Entah aku kok jadi pengen bikin campaign ttg trotoar yak gr2 baca ini, hmm.

    ReplyDelete
  20. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  21. Bagus nih tulisannya jef, mendukung hak-hak pejalan kaki dengan membuat petisi trotoar yang disalah gunakan. gue setuju banget jef, sebagai orang yang sering berpergian dengan hobi berjalan kaki, gue terkadang kesel juga kalau liat trotoar dipake buat jualan, tempat parkir, bahkan sampe jalan alternatif pengendara sepeda motor. hak-hak kita sebagai pejalan kaki yang berhak menggunakan trotoar serasa tidak mendapatkan kenyamanan dan tempat buat berjalan. hidup pedestrian kembalikan trotoar kami.

    (sori ngomennya sampai 3 kali ada kata-kata yang kurang tadi) :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. karena kita berhak memperjuangkan hak kita~

      Delete
  22. Bener jev, sekarang malah banyak ane lihat trotoar dijadikan lapak buat jualan kaki lima. Cari rezeki tapi melanggar aturan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. problematika, ironi, astaga...

      Delete
  23. Wahai para pengendara motor sadarlah kalian, bertobatlah. Gue juga pernah curi kesempatan lewat trotoar, tadi siang malahan, kelakuan kotor tersebut gue lakuin.

    Tapi gue akan insaf, gue insaf karna tulisan ini menyadarkanku, bahwa trotoar mempunyai fungsinya sendiri. Bahwa gak semua fasilitas umum, bisa dinikmati secara umum juga, semua ada porsinya, semua ada aturannya, gak bisa seenaknya saja. Ini tulisan menampar pipi gue banget, gue tersadar, trotoar buat pejalan kaki, bukan roda berjalan.

    hargailah hak pejalan kaki, sebelum kakinya menghargai anda. <---- NGACO!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. YES! bertobatlah kau...

      hahaha, keren. gue suka tuh kata2 terakhir.
      what a quotes...

      Delete
  24. Di sini trotoar malah di gusur demi pelebaran jalan >.< hiks

    ReplyDelete
  25. Jangankan trotoar, pengendara motor itu sering weser kiri malah belok kanan.. Hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. dan lebih parahnya lagi, weser kira kanan tanpa sen.

      Delete
  26. jadi terenyuh baca postingan ini... memang kelakuan pengendara motor di Jakarta sudah masuk kategori bar-bar. Gue pun sering kesal dengan perilaku ugal-ugalan pengendar motor lain. Untunglah sejak lama gue udah biasakan diri untuk tak melawan arah dan naik trotoar waktu naik motor (ini bukan pembelaan diri..hehehe). Gue jadi teringat kata-kata yang pernah ditulis salah satu blogger senior, oom Fanabis, " melakukan kesalahan dianggap biasa. melakukan kebenaran tak dianggap apa-apa. lama-lama apa yang tersisa dari jakarta?"

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahahaha, true story memang,
      what a quote.

      Delete
  27. Minta dijaabak tu org...
    Untung pakek helm
    Bikin jengkel emang org2 model begitu, utk jalan bagi pejalan kaki yg hanya seiprit doank diembat jugak
    Hadeeh

    ReplyDelete
  28. kawasan Suditman sebenarnya tempat yang enak untuk berjalan kaki, tapi sayangnya jadi "jalur alternatif" kawanan biker dengan motornya, jadi kita sebagai pejalan kaki jadi terpinggirkan.

    oia enaknya selagi jalan kaki disana sambil ngemil beragam jajanan yang enak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. begitulah... pemandangan yang gue lihat di sekitar fx...

      Delete
  29. Haha... artikel yang keren. Bener2 menyuarakan jeritan hati para pengguna jalan! :D

    ReplyDelete
  30. Replies
    1. itu seharusnya menyedihkan :")

      Delete
  31. Wah, jangan-jangan yang lu lototin itu bapak gue lagi ._.

    Hm... masalah hukum kehilangan yang lu bilang, itu bener banget bro, seringnya pentingnya sesuatu itu baru kita sadari setelah kita kehilangan. Contohnya mantan, pas masih jadi pacar kadang sering disia-siain, diselingkuhin, diapa-apain, nah, pas jadi mantan barulah sadar seberapa pentingnya dia :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahahaha, masa iya bapak lo -_____-

      Delete
  32. Iya Jev, fenomena kayak gini udah banyak di Surabaya. Biasanya motor yang lewat trotoar itu butuh jarak untuk belok di tikungan biar gak ketilang polisi. :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. di kota besar rasanya seperti nggak ada dosa ya bawa motor diatas trotoar.
      ah.....

      Delete
  33. udah cape banget sebenernya ngeliat motor yg lewat trotoar, tapi kemaren nonton berita tentang bapak-bapak tukang paket yang mau gak mau dorong motor di trotoar gara-gara thamrin ditutup -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. hmm, mungkin itu pengecualian?

      Delete
  34. baru nyempetin komen nih wkwkw
    da kita mah apa atuh. punya apa-apa juga direbut wae haha
    termasuk trotoar jalan

    ReplyDelete
    Replies
    1. punya pacar pun direbut pria lain.
      masa sekarang punya fasilitas umum mau direbut juga...

      Delete
  35. kesusahan mau jalan di trotoar udah penuh aja :D

    ReplyDelete
  36. Nyebelin yah, Jeff.. :(

    Mereka merasa berhak pakek semua yang ada di jalan tanpa mikirin pengguna jalan yang laen.. Yah kebanyakan manusia seperti itu sih, mikirin diri sendiri..

    ReplyDelete
  37. Iya banget ini! Selain ibu-ibu yang naik motor belok kanan sen ke kiri, terkadang gue juga kesel sama pengguna motor yang begitu. Lebih parah begonya. -____-
    Hmm, anehnya kalo kita jalan dilambatin dan diklason nggak mau minggir, dia malah marah-marah. :/
    Aneh nggak, sih?

    Oiya, yang dibilang Hadi itu bener, mirip novel karena deskripsi dan diksi lu udah bagus. Tapi EYD-nya masih kurang. Kalo nggak salah emang mau nulis buku, kan? Lanjutkan, Jev! :))

    ReplyDelete
  38. kampret baget tu jef....
    daerah gue aman gak ada macet-macetan... gak ada trotoar, gak ada orang yang perutnya buncit+berkumis. gak ada jalan aspal.

    ReplyDelete
  39. iya,semua orang khan udah punya jalan masing masing tapi kenapa masih nyabotase jalan milik orang lain coba?? kamu yang sabar ya jalan kaki dari fx sampe ke gedung MPR walo gue nggak tau itu sejauh apa..tapi kalau cowok mah jalah malem malem di jakarta nggak apa apa..beda lagi kalau cewek, beuhhh...jejalanan Jakarta terlihat sangat menakutkan!!!

    ReplyDelete
  40. Pengendara motor yang sabotase trotoar itu benar benar kampret!!

    Http://beautyasti1.blogspot.com

    ReplyDelete
  41. Ahak..., gimana ya kalau mereka gantian gitu. Motor di trotoar, pejalan kaki di jalan raya pake lampu merah. Yang pengendara motor nggak perlu lampu merah. :D

    ReplyDelete

b:if cond='data:blog.pageType != "item"'>