Wednesday, May 20, 2015

Terdampar Di Desa Buntu Part 2



Nggak kerasa udah 4 hari gue terdampar di desa ini. itu berarti, gue dan seluruh teman yang lain harus angkat kaki meninggalkan tempat yang indah ini. 4 hari di desa ini, ada cukup banyak momen yang bisa dijadikan sebuah cerita yang menarik di setiap detiknya. kehidupan di desa ini begitu sederhana dengan cara yang anggun. kepercayaan warganya beraneka ragam, tapi umat-umat beragama hidup berdampingan dengan rukun. desa ini seperti halnya pelangi, yang terdiri dari banyak warna berbeda tapi bersatu menjadi sesuatu yang indah. 4 hari yang berharga dalam hidup sudah kami lalui, sekarang waktunya untuk pulang. kembali ke ibu kota, kembali rumah masing-masing, ke rumah yang sebenarnya.

Sebelum memasuki hari ke empat, tentunya gue melewati beberapa hari yang cukup gaul terlebih dahulu. Setelah sebelumnya melewati hari pertama dengan cukup horror dan indah, cerita gue di desa ini terus berlanjut di keesokan harinya... dan keesokan harinya lagi.. 

******

Ratusan kilometer dari jakarta.....   

Hari Kedua. 

12.5.15

Segelas teh manis hangat menjadi teman yang sangat kooperatif bagi gue di pagi yang dingin ini. kedinginan, adalah hal pertama yang gue rasakan saat terbangun dari nyenyaknya tidur malam. suhu udara desa ini bagaikan langit dan bumi kalau dibandingkan dengan jakarta: beda jauh, men... 

Pagi ini gue dan temen serumah gue dijadwalkan untuk membantu orang tua asuh berladang. katanya, ladang yang dimiliki oleh sang pemilik rumah ini letaknya cukup jauh. memerlukan waktu sekitar 1 jam baru bisa sampe kalau ditempuh dengan jalan kaki. dengan jarak pulang-pergi dari rumah - ladang kurang lebih 4 km, sepertinya pagi ini akan menjadi pagi yang cukup menyenangkan dan melelahkan. dengan segera gue menghabiskan teh manis hangat yang sudah dibuat oleh nyokap asuh gue di sini. dan selanjutnya, hal yang gue lakukan adalah mandi. walaupun air mandinya adalah air yang langsung diambil dari pegunungan yang nggak usah dipertanyakan lagi dingin atau enggaknya, ditambah dengan udara desa yang juga nggak kalah dingin bisa membuat gue gemeteran, tapi nggak apa-apa. yang penting kesegaran terasa dalam perjalanan berladang nanti.

Selesai dingin-dinginan di pagi hari dengan air pegunungan langsung, sekitar jam 8 pagi perjalanan menuju ladang dimulai. gue dan temen serumah gue ini nggak sendirian, karena.. ternyata temen gue yang tinggal di rumah tetangga sebelah juga ikut ke ladang yang sama. orang tua asuh dari temen gue yang disebelah itu sendiri notabenenya adalah anak dari orang tua asuh gue. yang berarti, secara tidak langsung kedua temen gue yang menjadi tetangga gue itu adalah cucu dari orang tua asuh gue. dan perjalanan ke ladang ini di ramaikan dengan dua teman kami yang rumahnya terletak diatas kami (naik tangga dikit) memutuskan untuk ikut ke ladang yang sama. jadi, total ada enam orang yang pergi berladang ke ladang yang ditempuh dengan waktu 1 jam jalan kaki. perjalanan dimulai, kami berenam mengekor kepada pak tomo di belakang, mengikuti setiap langkahnya menaiki gunung. dan ternyata, di perjalanan menuju ladang ini kami melewati 2 buah batu yang menjadi tanda perbatasan desa yang sempet gue dan beberapa temen gue lihat kemarin malam. perbatasan desa yang dikira horror oleh gue dan teman-teman gue kemarin, ternyata terlihat cukup asri di pagi hari. 

Segarnya udara pagi desa buntu menemani perjalanan kami menuju ladang yang medannya berliku-liku dan cukup berhasil membuat sepasang kaki ini kewalahan. gue melihat pak tomo, dia terlihat belum kelelahan sama sekali. mungkin karena orang desa ini staminanya kuat-kuat karena sudah terbiasa dengan aktifitas sehari-hari ini, atau mungkin dia hanya berusaha untuk kuat dan tak ingin menunjukan lelahnya dia kepada kami, para anak asuhnya. ternyata pak tomo orang yang kuat. dia cuman.. nggak pernah mau nunjukin seberapa sakitnya dia kepada kami para anak asuhnya, dan anak asuh tetangganya.. *lalu terdengarlah backsound pupus - dewa 19*

Hampir satu jam kemudian..
Akhirnya. setelah mengarungi samudera, mendaki evrest, mendapatkan kitab suci, kami berenam berhasil mendarat di ladang pak tomo. setelah dilihat-lihat dengan seksama, ternyata tanaman yang ditanam oleh pak tomo adalah.. kentang. wiih, gaul. ternyata bokap asuh gue petani kentang. beberapa saat setelah tiba di ladang ini, ternyata kami mendapati bahwa ekspektasi tak seindah realita. 

ekspektasi:
Ke ladang membantu bokap asuh berladang, menanam kentang dan kotor-kotoran karena berani kotor itu baik. pulang siang dengan penuh kemenangan karena sudah membantu orang tua asuh berladang dengan penuh ketulusan..

realita: 
Di ladang ternyata banyak serangga seperti kelabang dan teman-temannya sampai dengan serangga yang jenisnya tidak dikenal. kami berenam pun tidak jadi menanam kentang karena tidak membawa sepatu boot dan malas berinteraksi dengan serangga-serangga gagal gaul tersebut. alhasil, kami hanya bermain kecebong di dalam tenda yang ada di dekat ladang... 

Karena banyak hal tak terduga yang ada di ladang, maka kami pun tidak jadi membantu menanam kentang seperti perkiraan kami. yang kami lakukan adalah memainkan celurit milik pak tomo, bermain golf dengan menjadikan kentang busuk sebagai bolanya, sampai mengobok-ngobok kecebong yang ada di dalam tenda yang ada ditengah ladang. setelah kurang lebih satu jam, kami pun memutuskan untuk kembali pulang ke rumah orang tua asuh masing-masing dengan jalan kaki. tadinya, kami ingin meniru aksi bajing loncat dengan menumpangi truk-truk yang lewat. tapi kampretnya, nggak ada truk yang mau diajak bekerja sama. alhasil 4 km adalah jarak yang kita tempuh saat pulang-pergi ke ladang ini.

Siangnya, sang ibu asuh telah menyiapkan makan siang. para ibu asuh di desa ini emang hobi nyiapin makan dan minum. waktu gue baru pulang dari perjalanan, dia pasti selalu menawarkan minum. kalau udah jam makan, dia selalu menyuruh anak asuhnya ini untuk makan. sungguh ibu asuh yang baik hati. cuma satu kekurangannya: sepasang sayap malaikat. dan sorenya, gue dan beberapa teman yang lain dijadwalkan untuk bermain volley di lapangan volley yang ada di desa ini. kami memutuskan untuk uji lapangan terlebih dahulu. maka dari itu, kami haru ke rumah ketua RT: ke rumah bapak david silva yang belum di upgrade untuk meminjam 2 buah bola volley. 

Di rumah ini, pak david silva belum di upgrade sempat mengajak kami berbincang-bincang sejenak. ternyata, dia adalah seorang cules. seorang fans dari barcelone. gue dan bapak david silva belum di upgrade sempat terlibat sedikit perbincangan tentang bola. seperti... kekalahan barcelona dari chelsea di tahun 2012 lalu. si bapak david silva ini juga mengatakan kalau dia nggak suka sama chelsea karena pemilik klub dan pelatihnya arogan. selain tentang bola, gue juga sempat bertanya beberapa hal ke dia. seperti.. apa untungnya kegiatan live ini ini bagi warga desa setempat. sejujurnya gue sangat bingung, apakah ada simbiosis mutualisme yang terjadi. pasalnya, warga setempat ini harus menyisihkan cukup banyak makanannya untuk kami ketika kami datang kesini. beberapa dari mereka yang seharusnya tidur di kamar pun juga harus terpaksa tidur di tempat seperti dapur, ruang tamu, dan juga sofa. gue gagal paham, apakah untungnya kedatangan kami bagi warga desa ini. 

Sekitar jam 4 sore, percakapan kami berakhir. pak david silva belum di upgrade pun menanyakan sebuah pertanyaan yang dirasa cukup menantang..

"Udah siap belum, lawan jagoan kampung?

Challenge accepted. dengan dua buah bola volley, kami pergi menuju lapangan volley yang jaraknya tidak jauh dari rumah pak david silva. pak david silva yang belum di upgrade sendiri ke lapangan dengan membawa pluit, yang menandakan kalau dia akan menjadi wasit dalam pertandingan volley kali ini. para jagoan kampung tiba, pertandingan dimulai. kami mengakhiri sore di desa buntu dengan bremain volley bersama warga. setelah merasa kurang puas dengan volley, takraw pun menjadi pelampiasan. tapi sayang, hanya sebentar waktu yang tersedia bagi gue untuk bermain takraw ini dikarenakan langit keburu gelap. selanjutnya, kami pulang ke rumah orang tua asuh masing-masing, makan malam, pergi ke gereja, main ke rumah teman, sampai akhirnya masing-masing dari kami merasa cukup lelah dan tidur di rumah masing-masing sekitar jam 11 malam. 



yo, welcome to my 4 days house..






Hari Ketiga.

13.5.15

Sama seperti pagi sebelumnya, pagi ini gue terbangun dengan ditemani udara dingin yang menusuk sampai ke tulang. dan sama seperti di pagi sebelumnya juga, ibu asuh gue dengan baik hati membuatkan 2 gelas teh manis hangat untuk gue dan temen serumah gue. sambil menikmati hangatnya teh manis di pagi hari, gue bergulat dengan udara dingin yang mencekam. 

Emm... 
perlahan gue membuka buku jadwal. hari ini, hari ketiga. kami para murid dijadwalkan untuk aktif dalam kegiatan bazar sembako dan baju bekas yang akan dilakukan siang nanti di basecamp dekat gereja. dan pada pelaksanaan bazar nanti para murid diwajibkan memakai kaus olahraga kebangaan sekolah. setelah menghabiskan teh manis hangat ini, gue kembali harus bergulat dengan dinginnya air pegunungan saat mandi pagi. dan setelah mandi, gue bingung harus mengawali hari dengan melakukan apa. dan kebetulan, sekumpulan temen gue berencana untuk pergi ke rental ps 3 yang ada di desa. tanpa pikir panjang, gue langsung mengekor...

Setelah makan pagi, gue dan beberapa teman berhasil terdampar di rental ps 3 dengan anggun. rental ps 3 ini ternyata adalah sebuah bengkel di lantai satunya, dan di lantai 2 barulah terdapat sebuah ps. iya, cuma satu ps nya. ternyata tempat rental ini merupakan rumah orang tua asuh salah seorang teman gue yang lain. oke, game pertama yang dibuka oleh kami tidak lain dan tidak bukan adalah... pes 2013. dan kebetulan, gue mendapat giliran pertama bermain. dengan yakin, gue mengarahkan analog ke sebuah tim yang main di liga inggris. tim tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah... chelsea. dan lawannya adalah temen gue, dengan tim real madrid. nggak sampai 1 menit pertndingan dimulai, gue udah dapet kartu merah. kampret kan. gue memang terbilang sangat cemen dalam urusan main ps. tapi, gue berhasil memberi perlawanan yang cukup apik untuk seorang yang cemen. gue memaksa temen gue untuk bermain extra time dengan skor 3-3, tapi endingnya... gue kalah 4-3.  pagi itu dibuka dengan kekalahn gue di rental ps..

Sekitar 2 jam kemudian, gue dan teman-teman keluar dari rental ps. gue lalu menyambung pagi dengan bermain di salah satu rumah seorang teman. menghabiskan waktu sampai siang menjemput. ketika sudah hampir jam 12 siang, gue pulang ke rumah gue. dan seperti biasa, gue sudah disambut dengan hangatnya makanan siang yang sudah dibuat oleh orang tua asuh. seperti biasa juga, sang ibu asuh menyuruh gue untuk makan dulu. tercatat dari hari pertama, kata-kata yang paling sering dikeluarkan oleh ibu asuh gue adalah..   

*"Di makan dulu.."

*"Minum dulu.."

*"Oh ya, ya.."

*"Mandi dulu..." 

Sebenernya nggak beda dengan nyokap gue yang sebenernya, ibu asuh gue ini selalu mengingatkan hal-hal yang positif. bedanya, ibu asuh gue ini menggunakan logat jawa dalam berbicara. singkat cerita setelah menyantap lauk, gue bersiap untuk mengikuti kegiatan bazar. sekitar jam 1 siang, bazar dimulai. ronde pertama adalah sembako. di bazar sembako ini, gue dan beberapa teman yang lain mengambilkan sembako untuk para orang tua asuh masing-masing. menyisihkan uang sedikit untuk sembako tak ada salahnya sama sekali mengingat betapa baik sikap orang tua asuh terhadap kami, para anak asuhnya yang sehari makan bisa 3 kali atau lebih. lalu, sekitar 1 jam kemudian bazar ronde kedua dimulai. bazar ronde kedua ini menjadi bazar yang paling ditunggu-tunggu. karena di bazar ini, baju bekas akan dijual secara berjamaah dengan harga yang sangat bersahabat. 

Di bazar baju bekas kali ini, cukup banyak siswa siswi yang membelikan baju untuk anggota keluarga asug di rumah mereka masing-masing. tanpa terkecuali, gue dan temen serumah gue. kami bekerja sama untuk mencari banyak baju untuk orang-orang di rumah. incaran pertama adalah kemeja lengan panjang untuk sang bapak, lalu baju untuk sang cucu, lalu baju wanita bercorak batik untuk sang ibu, dan nggak ketinggalan kaus pria untuk anak dari sang pak tomo yang udah menikah.

Situasi waktu itu cukup ramai. tanpa sadar, hujan turun diluar basecamp dengan cukup deras. warga cukup berdesak-desakkan untuk mencari baju dengan harga bersahabat. di tengah keramaian itu, terdapatlah gue dan temen serumah gue yang nggak mau ketinggalan berburu baju. hasil akhir dari buruan kami adalah 11 baju untuk seluruh anggota keluarga kalau nggak salah. mungkin nggak terlalu banyak, tapi... yang penting tulus. untung aja sebelum berangkat live in, nyokap asli gue udah ngasih uang jajan yang cukup. bazar ini terus berlanjut sampai sore. ketika bazar berakhir, ternyata masih cukup banyak baju bekas yang tersisa. entahlah, mungkin harga bersahabat saja tidaklah cukup untuk beberapa warga. mungkin mereka ingin lebih dari sekedar sahabat..

Hujan diluar basecamp berhenti. yang tersisa tinggal kabut yang bertiup. gue pulang ke rumah sore itu, dan kembali... waktunya makan malam. gile, kerjaan gue disini cuma makan.. kerumah temen.. main.. makan.. betapa indahnya hidup. dan seperti hari sebelumnya, aktifitas malam dihabiskan didalam gereja. malam ini adalah malam yang cukup spesial, karena ini merupakan malam terakhir kami di desa ini. pasti akan ada banyak sekali hal yang dirindukan dari desa ini setelah kami pulang besok.  

Malam terakhir ini gue lalui dengan tidur di kamar orang tuah asuh sendirian. ini semua terjadi karena temen gue dengan kampretnya menyelinap ke rumah tetangga untuk nonton bola. sebenarnya gue juga sempat tergoda untuk nonton match liga champion itu, gue bahkan udah minta izin ke pak tomo dan istrinya untuk nginep di rumah tetangga. dan ketika sampai di rumah tetangga, gue dihantui dengan rasa tidak enak. gue nggak enak sama pak tomo dan istrinya, mereka udah menyiapkan kamar yang begitu nyaman dan merelakan diri mereka tidur di dekat dapur. dan gue pergi dengan santainya nginep ke rumah ini, rumah tetangga. perang batin pun terjadi. gue berusaha membujuk mati-matian temen serumah gue itu untuk kembali ke rumah yang seharusnya menjadi tempat peristirahatan kita di malam terakhir ini. tapi, memang kampret temen gue ini. dia ngoto pingin nonton juventus. alhasil, gue kembali ke rumah pak tomo sendirian malam itu. gue mengetuk pintu, lalu memberi tau kalau gue nggak jadi nginep. dan akhirnya... malam terakhir di desa buntu gue habiskan dengan tidur sendirian di kamar yang cukup nyaman ini. 





terbangun di pagi yang dingin. menghabiskan malam terakhir, sendirian... 
   
bukan boyband


Hari Keempat.

14.5.15 

Hari ini gue terbangun kembali dengan dingin yang menemani, gue terbangun karena ada yang mengetuk jendela kamar sekitar pukul 5 pagi. ternyata... yang mengetuk jendela itu adalah.... si kampret temen serumah gue yang abis nonton bola di rumah tetangga. ia kembali jam 5 pagi ke rumah. 

Gue menyadari sesuatu saat terbangun. gue sadar kalau hari ini adalah hari terakhir kami di desa buntu ini. ah, waktu terasa sangat cepat berlalu. rasanya baru kemarin gue terdampar di tempat ini dan disambut dengan tempe mendoan khas wonosobo. sekarang, beberapa jam lagi gue harus pergi meninggalkan desa ini. pagi di hari terakhir ini diawali kembali dengan dinginnya air pegunungan saat mandi pagi. ekstremnya lagi, setiap kali gue menghembuskan nafas, selalu terlihat dengan jelas ada asap yang keluar dari mulut. segelas teh manis hangat pun tak bisa berbicara banyak. 

Hari ini adalah tanggal merah di kalender. ternyata, hari ini merupakan kenaikan isa almasih. hari yang cukup sakeral bagi umat nasrani. maka tak heran kalau pagi di hari terakhir ini kami habiskan di gereja untuk misa bersama warga. di misa ini, gue sudah diperingati oleh temen gue sebelumnya untuk memakai celana panjang dan sepatu untuk masuk ke gereja. tapi karena bodo amat, gue datang ke gereja dengan menggunakan atasan jersey chelsea warna kuning yang dilapisi oleh jaket varisity, bawahnya celana 3/4 motif tentara dan dibawahnya lagi ada... sandal jepit. ootd yang cukup membuat gue kena marah oleh guru saat di gereja. 

Misa dimulai, beberapa kali sang pastor menggunakan bahasa jawa. gue cuma bisa bengong karena nggak ngerti apa yang dia katakan. gue cuma bisa bilang.. nggeh, nggeh. dan gue mendapatkan istilah baru di misa ini: berkah dalem. entahlah, gue nggak tau apa artinya. tapi pasti sesuatu yang berbau positif. dan setelah cukup lama misa berlangsung, para siswa pun diberi jadwal untuk packing dan pamitan ke orang tua asuh masing-masing. karena jam 12 siang nanti, kami dijadwalkan untuk sampai ke dalam bis. ke dalam bisa yang akan membawa kami kembali ke ibu kota, dan kembali ke ibu yang sebenarnya. 

Sampai di rumah orang tua asuh, gue langsung berkemas. ada rasa ketidak relaan untuk meninggalkan desa ini sebenarnya. gue nggak tau jelas rasa apa itu namanya. tapi, yang jelas adalah gue akan sangat merindukan tempat ini ketika gue kembali ke ibu kota nanti. barang demi barang gue kemas sampai segala sesuatunya gue rasa sudah cukup. gue dan teman serumah gue lantas bergegas untuk pamit ke orang tua asuh. tapi, sebelum benar-benar meninggalkan mereka, gue sempat meminta untuk mengabadikan momen bersama dalam sebuah foto lewat kamera handphone. tapi sayang, pak tomo sedang berladang waktu itu. tapi..... dengan mengharukannya dia menyempatkan diri untuk datang ke basecamp mengujungi kami sebelum kami benar-benar pulang. padahal, jarak ladangnya itu memang cukup jauh..


ini dia sang nyokap asuh, dan juga anak plus cucunya. ah......................
 
Bersama dengan pak tomo..


Dari basecamp, para murid berjalan menuju bis yang sudah menunggu di jalan keluar desa. sekali lagi, untuk terakhir kalinya kami berjalan mengitari desa. melewati lapangan bola, sebuah tempat dimana gue dan beberapa teman menghabiskan soer bersama. melewati rumah penduduk yang selalu bersikap ramah, berjalan merasakan sejuknya udara desa buntu untuk terakhir kalinya. 

Tiba di bis. satu hal yang pasti setelah tiba di bis: pergi meninggalkan desa. ah, rasanya tidak salah kalau kegiatan live in 4 hari ini mengambil tempat di desa buntu. 4 hari yang cukup berharga, dan mengesankan. selarang kami sudah berada di dalam bis. di dalam bis yang akan membawa kami meninggalkan desa yang indah ini. di dalam bisa yang akan membawa kami kembali ke ibu kota... dan kembali ke ibu yang sebenarnya. 

Rasanya, saat pulang nanti akan ada cerita menarik yang bisa gue ceritakan di blog. cerita tentang kegiatan live in yang membuat gue terdampar di sebuah desa yang indah. mungkin tulisan blog itu akan gue beri judul.... emm... terdampar di desa buntu.




Selamat tinggal desa buntu.  saatnya kembali ke ibu kota, dan kembali ke ibu yang sebenarnya...
       
     

66 comments:

  1. Aahaha maein kecebong...coba cari ikan kecil jga gan yang suka ada di sungai atau nggak kolam kecil...nginget masa kecil gitu.

    itu yang di gambar, cucunya..
    hem...anaknya dah nikah...padahal pengen nanya namanya siapa sama akun medsosnya apa
    ckckc

    ReplyDelete
    Replies
    1. masalahnya.... di ladang nggak ada sungai.
      wahahaha, gue nggak yakin ada jaringan internet yang cukup kuat di desa yang bisa membuat warga main sosmed..

      Delete
    2. ya kali aja ada gitu..

      Delete
  2. wwaaahhh... baca ini terkagum - kagum sekaligus ketawa - tawa :D.
    Lagi di desa sempet-sempetnya main di rental PS, Udah bangun tidur langsung selfie :v
    Tapi foto yang terakhir keren banget :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. gue juga sempet gagal paham. jauh-jauh ke desa, eh malah ke rental ps. hmm..
      itu.. selfie.. sebagai testimoni malam terakhir dilwetkan sendirian gara2 temen serumah gue yang kampret itu menyelinap ke rumah tetangga buat nonton bola.

      Delete
  3. Terjawab sudah rasa penasaranku tentang seperti apa rupa si David Silva belum diupgrade . . Hahaa, sekilas malah mirip pak tarno yaa . .?? :D

    E ya, jadi apa jawabannya pak David silva belum diupgrade itu tentang simbiosis mutualisme yang dia dapatkan dengan menampung murid2 yang ngabisin beras kek kalian . .?? :O

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau lo liat aslinya, lebih mirip lagi :")

      hmm, dia bilang.. kalau apa yang ditanyakan itu cukup kritis. gue juga nggak terlalu ngerti inti dari jawabannya apa. dia bilang... kalau dia pernah ditanyakan pertanyaan yang sama oleh polisi di kota. dan dia jawab kalau ini semua bukan masalah uang. karena kalau perekonomian di kota masuk ke desa, berarti uangnya bakal muter di desa. karena, fyi, ada cukup banyak sekolah swasta yang milih desa ini sebagai tempat live in.

      Delete
  4. pas ke dieng dan wonosobo dulu, aku slalu dijamu ama kentang, kentang dan kentang ama ibu losmen :D.. Tapiiii g prnh bosen krn kentang dieng dan wonosobo itu terkenal paling enakkk ^o^.. manis gurih rasanya.. g prlu tambahin garam udh enak bgt :) jd kgn pgn k dieng lg.. cobain mie ongklok ga Jef?

    ReplyDelete
    Replies
    1. maka nggak heran kalau mayoritas petani di desa buntu nanam kentang di ladang...
      mie onglok? apaan tuh..

      Delete
  5. pasti banyak hal yg didapat dari desa buntu,tentu kalian rindu tempat itu,karna disana tenang ,nggak macam kote jkt kan bising hehehe
    oiya gimana kalo kalian bikin aja boyband,nama boybandnya boybuntu,aku jadi manager kalian xD *abaikan

    ReplyDelete
    Replies
    1. bahahaha, sekalian aja desabuntu48.
      anggotanya para orang tua asuh..

      Delete
  6. Ternyata pak David Silva yang belum di-upgrade-nya seperti itu toh. :o

    Itu lu cuma ngomong nggeh-nggeh gue bayangin malah keinget kejadian saat gue penelitian ke pedalaman. orang kampungnya ngomong pake bahasa daerah mereka, guenya cuma bisa miring-miring kepala. gak ngerti.

    ReplyDelete
    Replies
    1. untungnya, gue nggak live in di kampungnya minnion.
      bisa dibayangkan betapa pusingnya kepala ini kalau harus dipaksa mengerti bahasa minnion..

      Delete
  7. Perjalan terdampar di desa buntu, sepertinya begitu berkesan dan sangat membuat dirimu akan merindukannya.

    Selain orang-orang yang ramah tentunya. Suasana di desa menjadi pelengkap nikmatnya jauh dari sibukkan kota jakarta. Gue kadang jadi kangen rumah di desa. Setelah merantau begitu lama. Jujur, gue mulai merindukan desa, ketika baca postingan seperti ini.

    Mulai dari Part 1 - 2. Banyak hal yang udah lu lewatin. Semoga aja, tidak berakhir dengan selfie dan takutnya kalian sama serangga di sawah yang kalian harusnya bantuin malah sibuk mainin kecebong.

    Beberapa moment yang diabadikan, gue suka. Karena, angle yang ngambil bagus. Keknya kemampuan dalam megang kamera udah lama itu. Nice pic-lah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. begitulah, desa memang suatu tempat yang..... apik.
      sebenarnya bukan takut serangga, cuma... menghindari kemungkinan terburuk dari para serangga yang sewaktu-waktu bisa menyerang. hmm, beberapa momen diabadikan oleh orang-orang yang berbeda. dan... cuma pake kamera gadget doang sih..

      Delete
    2. Yoi, jev. Sering buat kitanya betah untuk berlama-lama.

      Hahaha, kemungkinan, ya. Dari gadget bagus tu...

      Delete
    3. kemarin paman datang...
      pamanku, dari desa... buntu. *HIRAUKAN

      ya, cukup bagus. LG G3.

      Delete
  8. Ternyata ekspetasi sama realitanya beda banget ya. Malah maen kecebong. Buat apa ? Mendingan maenan serangga. Anti mainstream.

    Itu keren banget ya. Main voli lawan jagoan desa sampe langit gelap. Itu karena mendung apa karena mau gelap ?. Eh, ngomong itu sih bukan David Silva belum di upgrade. Tapi David Silva kebanyakan di upgrade. Makanya tua :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. bahahaha, apalah itu anti mainstream main serangga.
      nanti yang ada pori-pori kulit ditusuk sama kelabang... lalu gue jadi rival dari spider man.
      the amazing kelabang man.

      Delete
  9. bagun tidur langsung silfie.. cik..cik #sambil geleng2kepala.

    pic nya bagus dan kocak.. tapi sayang, ga sempat silfie-an sama kecebong. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. pertama, gadget dikembalikan pada hari ketiga dan main kecebong terjadi di hari kedua. jadi nggak bisa gunain kamera gadget buat selfie...
      kedua, selfie dengan kecebong bukanlah hal gaul..

      Delete
  10. hihi seru banget kegiatannya..masa kecil saya juga dihabiskan di desa. kalo mudik brrr...dingiiiin...

    ReplyDelete
    Replies
    1. tapi, udara di desa jauh lebih sehat.. ketimbang udara kota besar yang dipenuhi dengan karbon monoksida yang menyesakkan dada dan menipiskan lapisan ozon yang dimana dapat berdampak kepada efek rumah kaca. *LAH?

      Delete
  11. Foto lo yang terakhir keren ya panoramanya.

    itu ladang atau ternak kelabang sih, masa'an penuh isinya itu semua.
    kalau aku diposisi mu jef mungkin langsung balik, jijik!

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, hoki dapet paronamanya. padahal... itu dalam perjalanan pulang menuju bis. waktu liat lapangan bola, iseng-iseng singgah sebentar buat mengabadikan sesuatu.

      bahahaha, namanya juga ladang kentang... nggak heran kalau tanahnya banyak serangga gagal gaul.

      Delete
  12. Satu hal yang bisa dipetik ketika lu ngebantu bapak angkat lu di ladang bersama teman-teman jef. Kalian cupu, kalian dikalahkan oleh serangga yang gagal gaul. Tapi enggak papa lah, yang penting diawal kalian punya niat membantu yang baik, walaupun berakhir dengan tidak elite.

    Aku juga sempat kepikiran apa manfaatnya kegiatan ini bagi orang-orang desa. Terus bapak yang katanya mirip david silva tapi kalo aku lihat malah mirip sama pak tarno itu jawab apa jef?

    Tapi kayaknya orang-orang disana juga ada yang seneng atas kehadiran kalian. Mungkin menghangatkan suasana dirumah, dan sedikit membuat mereka bahagia. Ada rasa kehilangan juga waktu aku baca tulisan ini, kayak pengen selalu baca cerita lu di desa itu jef. Ahh.. aku emang cowok lemah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, gue merasa cemen karena dikalahkan oleh mhakluk gagal gaul yang bernapas dengan trakea itu.
      bahahaha, pak tarno? hmm, mungkin mirip kalau dikasih topi sulap. tapi, kalau dilihat secara langsung.. mirip david silva dah serius.

      bisa dibilang, hampi semua warga senang dengan kegiatan live in yang berlangsung di desa mereka. entah lah, gue bingung kenapa mereka senang semua. padahal, makanan mereka jadi berkurang karena mereka ngasih kami peserta live in makan sehari 3 kali..

      gue masih nggak terlalu paham dengan manfaatnya. bapak david silva waktu gue tanya dia kayak.. memutar-mutarkan jawabannya. dia kayak nggak kepingin langsung to the point..

      Delete
    2. Iya sih mirip sama david silva juga. Jangan-jangan dia kloningan david silva yang gagal dan akhirnya terbuang di desa buntu. Menyedihkan.

      Sepertinya masalah materi tidak mereka pedulikan, mereka lebih memperdulikan kehangatan dan kebersamaan, akhirnya mereka senang kalau ada orang baru yang jadi keluarga sementaranya. Sepertinya cuma sesimpel itu jef pemikirannya. Tapi entahlah.

      Delete
    3. ya, mungkin bahagia mereka sesederhana itu.
      tapi, yang gue lihat mungkin.... nilai pariwisata desa itu bisa jadi terpromosi dengan seringnya dijadikan tempat live in. mungkin...

      Delete
  13. Btw, apa cuma gue disini yang ngeliat pak rt nya mukanya mirip master tarno? Haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin kalau dia make topi pesulap, bukan cuma elu..

      Delete
  14. Btw, apa cuma gue disini yang ngeliat pak rt nya mukanya mirip master tarno? Haha

    ReplyDelete
  15. hahaha bapak david silva belum di upgrade bisa ajah mas ijev :D

    ReplyDelete
  16. cie pulang ke kotamu~
    ada yang tertinggal nggak di desa buntu? Adalah ya... kenangan-kenangan bersama keluarga baru. Walau cuma empat hari.

    Oleh-olehnya apa? :O
    kalau ada lain waktu main ke desa buntu lagi Jef. Mengenal budaya mereka, ngobrol sama tetua di sana. Berkah dalem yak? Apa ya? Berkah yang besar? yah pokoknya ada berkah alias rahmat dari Tuhan. Mungkin begitu ya. -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. sebuah pelajaran hidup, itu yang tertinggal.
      iya, gue udah berusaha mengenal budayanya.....
      gue dikasih oleh-oleh sama orang tua asuh gue, satu kardus full of hasil panen. kentang dan kawan-kawan :")
      hmm, yang jelas itu artinya positif~

      Delete
  17. Desanya suka dijadiin tempat live in? Namanya diganti aja jadi desa Live In kayaknya lebih bagus..hehe...

    ReplyDelete
  18. Njir gue baper pas di kalimat cuma satu kekurangan: sayap malaikat. Romantis juga ya lo jep ternyata. Bhahak.
    Itu ke ladang pada gatau diri amat bukannya bantuin. Dasar anak asuh tidak berperasaan! :( (abis dipuji dijatohin)
    Gue suka deh main main ke desa kayak gitu. Semoga kegiatan kalian bisa banyak bikin mereka terbantu yak. \:D/

    ReplyDelete
    Replies
    1. romantis dong...
      tapi kalau dilihat, memang kekurangan nyokap asuh gue selama 4 hari itu adalah.. sepasang sayap malaikat.
      hahahahaha, emang nggak tau diri itu anak asuhnya :")

      Delete
  19. Wah, keren banget ya. Gue jadi ngerasa gak rela lu pulang, kayaknya lu mesti lebih lama lagi deh, jadi ngebayangin gue serunya di desa buntu ini. Gue sih kagak terlalu bisa main voli, tapi kalau nanti sekolah gue ada acara live in, kalau ditantangin main futsal di lapangan bareng warga, gue ladenin dah xD

    Oh iya, itu mungkin maksudnya 'berkah dalem' adalah berkah yang 'dalem' alias gede banget, mungkin sih ._.

    Eh, itu lu ke gereja gitu banget ya, masa ke gereja di kampung pakai begituan, pantesan dimarehin dah lu sama guru :P.

    ReplyDelete
    Replies
    1. lah, ngapa lu yang nggak rela gue pulang....
      nggak ada lapangan futsal, adanya lapangan sepak bola. sebenernya, lapangan hijau cukup luas yang dikasih 2 buah gawang sih...

      yoi, gue mah gitu manusianya...

      Delete
    2. Manfaatin sebaik mungkin jev momen ini
      kpn lg kn turun ke ladang buat nanem kentang

      Delete
  20. desa buntu itu di mana ya baru pertama kali dengar,
    tp jjur dulu pernah ketempat desa2 gtu alhasil w ga betah di sana
    karena ga ada sesuatu yang membuat terkesan :)

    ReplyDelete
  21. tipikal anakkota kalo main ke kampung yaa.. kalo aku anak kampung main ke kota wkwkkwwk..
    saran yaaaa, kalo bisa postingan masing2 hari dibedakan aja, kalo aku soalnya rada pegel baca 1 potingan lebih dari 500 kata

    ReplyDelete
    Replies
    1. pinginnya juga part 1 sampai part 4, tapi... nanti bosen kalau 4 part.
      lagian... mau mencoba biasa dengan nulis panjang.
      jadi, biar nggak terlalu padat sama kata-kata, di setiap ending di bagian hari-harinya dikasih gambar-gambar..

      Delete
  22. Ini kelanjutan yg kemarin ya Jev??
    Ya namanya juga di ladang pasti banyak serangga hahaha
    Ibu asuh kamu baik banget, tapi emang tugasnya beliau kan ingetin km makan dan minu, hehe
    Ada kalanya kenangan itu akan muncul lagi, jd msti banyak2 bersyukur udah pernah ke desa dengan kegiatan seperti itu, oke sip

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyak...
      betul, bersyukur memang adalah hal yang perlu :")

      Delete
  23. Pengalaman yang sangat menyenangkan. btw ini dalam rangka apa sih? Sekolahan ngadain acara ini? Dulu sekolah gue sih enggak begini. Paling gue mendapati kegiatan kyk gini pas kuliah. KKN.

    Walaupun cuma jadi orang tua asuh, mereka baik banget yah. selalu ngingetin bahkan nyuruh lo makan dan membuatin lo makan. Mereka lebih perhatian daripada pacar.

    Sayang banget masa-masa di sana lo habiskan buat bermain. kayak main pes3 itu. coba klo lo habiskan waktu disana untuk mengeksplor daerah itu. jalan-jalan ke tempat yang bagus. bantu-bantu org tua asuh selain bantin nanem kentang yang gagal malah maenan kecebong. ahaha.

    Kehidupan di desa itu menyenangkan banget loh. Beda sama di kota besar yang sumpek. Udah, mending lo pindah hidup ke desa aja.

    Anyway, ada cewek cakep enggak di desa yang bisa lo jadikan gebetan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini kegiatan live in bro, wajib. semacam... acara kemping gitu. cuma ya beda kegiatannya..
      setuju! mereka memang kebih perhatian daripada pacar...
      hmm, renungan banget. seharusnya gue lebih giat menjelajah desa, bukan main ps 3 :")

      Delete
    2. Nah, iya renungkan. Tahun depan kalo ikut lagi dicoba yah.

      Oh, semacam kemping. namanya gak enggak biasa sih, "live in."

      Delete
  24. David silva abalnya ga nahaannn

    ReplyDelete
  25. daerah gunung itu dingin banget loh airnya kalau mandi

    ReplyDelete
    Replies
    1. thanks gan infonya!!
      sangat bermanfaat!!!

      Delete
  26. Dan semoga aja kamu ga terdampar juga di hati yang buntu, ehhh *di pelototin jeverson*

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimakasih atas perhatiannya kolega.

      Delete
  27. Pengalaman yang seru di desa.
    Wlwpun beda jauh dgn ibukota, tapi hari2 semacam itu bakalan jadi kenangan di hari2 berikutnya.
    Stay di desa berasa nyatu dgn alam dan masyarakat tuh ya palagi ada sesi ikut berladang juga :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyak, berladang itu emang keren.
      tapi sayangnya, mhakluk-mhakluk berkaki 6 yang bernapas dengan trakea berhasil membuat gue gagal ikut nanam kentang.

      Delete
  28. Ya. Bagi kebanyakan warga yang tinggal di perkotaan, bisa kembali ke desa dan menghirup dinginnya udara di sana serta melihat berbagai macam serangga yang berkeliaran adalah hiburan yang tiada duanya. Tentu saja menyenangkan.

    Apalagi seperti yang diceritakan di atas, tiggal bersama orang tua asuh. Keren banget. Punya pengalaman seru, ditambah punya keluarga baru. Benar-benar kegiatan yang membangun tali persaudaraan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau diingat jadi rindu :")

      Delete
  29. Aku baca ini kok langsung baper ya, Jef.. Wkwkwk :P

    Eh tapi keliatannya enak deh di sana. Dingin-dingin bikin hati nyaman kan.. :3
    Desa ku jugak enak sih tapi sekarang panas.

    Btw, itu anaknya muda banget uda gendong bayi ._.

    ReplyDelete
    Replies
    1. baper everywhere~
      nggak semuda kelihatannya kok..
      tapi wajar sih, kan di desa.

      Delete
  30. Itu ada acara apa, Jev, kok kamu ke desa selama 4 hari terus ada orang tua asuh segala?

    Hmm, iya emang sih keren banget kalo masuk ke desa tuh yang diacungi jempolnya pasti udara yang dingin, seger dan tentunya bersih. Apalagi kamu punya orang tua asuh yang sangat baik dan mengorbankan diri mereka demi kamu.

    Salut deh sama sikap kamu bertahan di kamar untuk hari terakhir. Kamu nggak egois, kamu menghargai kebaikan orang tua asuh yang udah nyiapin kamu untuk kamu tidur.

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu namanya... live in.
      udaranya emang nyejukin banget. beda jauh sama kota-kota penuh polusi macam jakarta,

      bahahaha, jadi malu....

      Delete

b:if cond='data:blog.pageType != "item"'>