Sunday, May 17, 2015

Terdampar Di Desa Buntu Part 1


Tiba di rumah orang tua asuh. penampakan rumah yang cukup sederhana khas ala pedesaan tidak begitu mengejutkan mimik wajah gue. gue dan temen serumah gue, kami tiba di depan sebuah rumah yang cukup sederhana. gentengnya warna cokelat agak gelap, memiliki beberapa jendela, dan pintu masuknya bewarna cokelat terang. di depan rumah terdapat kandang ayam dan tempat jemuran baju. dengan segala persiapan, kami siap untuk menempuh hidup baru selama 4 hari di rumah ini.



Dengan restu semesta, tanggal 11 mei kemarin gue dan seluruh murid kelas 11 SMA St. Kristoforus 1 angkatan 2014-2015 berhasil terdampar di wonosobo dengan selamat. tujuan kami melancong ke salah satu kota di jawa tengah ini adalah untuk melaksanakan kegiatan live in selama 4 hari 3 malam di salah satu desanya. nama desa itu tidak lain dan tidak bukan adalah.. desa buntu. entahlah, entah apa yang menyebabkan desa ini dikasih nama desa buntu. mungkin karena di desa ini jalannya buntu semua, atau mungkin karena orang yang pertama kali menemukan desa ini mengidap penyakit usus buntu. dan nama desa buntu lebih enak didengar olehnya daripada desa usus. entahlah, tanyakan saja pada duo serigala yang bergoyang...

Sebelumnya, kami sempat di briefing oleh para guru yang ikut ambil andil dalam kegiatan live in ini. kami diberi pengarahan tentang alat apa saja yang harus dibawa, dan apa saja yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan saat tiba di tkp nanti. saat di sesi briefing, guru-guru membagi tujuan live in ini menjadi 2 bagian: tujuan umum dan tujuan khusus. lah, ini live in atau perang dunia? ada tujuan umum dan khususnya segala.. padahal, live in ini sendiri adalah sebuah kegiatan yang melatih para murid untuk dapat bersosiialisasi di kalangan masyarakat. nggak cuma masyarakat yang kelas atas, tapi juga kelas menengah. nggak cuma masyarakat kota, tapi juga desa. ya begitulah inti dari semua tujuannya: untuk melatih sosialisasi dengan masyarakat desa, selesai...  

Kembali ke wonosobo. pagi itu, setelah menghabiskan waktu lebih dari 12 jam di dalam bis, kami pun akhirnya berhasil mendaratkan sepasang kaki kami di... sebuah tempat yang nggak jauh dari desa buntu. bobot bis yang kami tumpangi ini sangat tak memungkinkan untu memasuki daerah pedesaan, jadi parkirnya ditempat yang nggak jauh dari desa. mungkin jarak tempat itu dengan desa sekitar.. kurang dari 1 km. desa. itu berarti, kami harus berjalan kaki sekitar 1 km untuk mencapai tempat tujuan. setelah semua barang diturunkan dari bis, perjalanan pun dimulai... kami berjalan menuju sebuah tempat yang sudah diarahkan oleh sang guru. tempat tersebut adalah basecamp yang cukup gaul yang letaknya nggak jauh dari gereja. 


mendaki gunung.. lewati lembah...
Tiba di basecamp. Saat tiba di sebuah tempat yang disebut basecamp oleh para guru, kami disambut oleh ratusan tempe mendoan khas wonosobo dan ratusan cangkir teh manis hangat. ini sunguh kooperatif dan sangat cengli. ketika udara dingin khas pedesaan yang terletak dekat dengan gunung menusuk hingga ke tulang, segelas teh manis dan tempe mendoan khas wonosobo menjadi jawaban dari semua kegelisahan ini. 

Selanjutnya, saat semua murid sudah tiba di basecamp, kami kembali diarahkan oleh para guru. dan beberapa saat kemudian, kami disambut oleh orang yang terlihat seperti... ketua RT dari desa tersebut. saat pertama kali gue liat, muka dari ketua RT itu mirip dengan salah satu pemain timnas spanyol yang main di manchester city: david silva. bukan cuma sekilas miripnya, tapi berkilas-kilas. rambut dan wajahnya berkilas-kilas mirip dengan david silva, cuma postur tubuhnya aja yang cukup signifikan berbeda. sekarang, dia terlihat seperti david silva yang belum di upgrade. si bapak david silva yang belum di upgrade itu menyampaikan kata sambutan dan mengarahkan kami ke orang tua asuh kami masing-masing. jadi, di live ini kali ini para murid diwajibkan untuk memilih teman serumah. milihnya bebas, tapi dengan catatan satu rumah hanya untuk 2 orang. dan gue, gue sudah mendapatkan teman serumah dari jauh-jauh hari. dan usut punya usut, nama orang tua asuh gue disana adalah... pak tomo. 

Bapak david silva yang belum diupgrade tersebut memanggil satu persatu nama kami, untuk diarahkan ke rumah orang tua asuh kami disana. dan di luar basecamp sendiri memang sudah terlihat cukup banyak warga yang menunggu. setelah beberapa nama dipanggil, tibalah nama gue dan temen serumah gue dipanggil. gue dan temen gue lalu dijemput oleh seseorang yang tak dikenal, dan kami pun langsung bergegas mengambil tas dan bergegas pergi menuju rumah orang tua asuh.. 

Tiba di rumah orang tua asuh. penampakan rumah yang cukup sederhana khas ala pedesaan tidak begitu mengejutkan mimik wajah gue. gue dan temen serumah gue, kami tiba di depan sebuah rumah yang cukup sederhana. gentengnya warna cokelat agak gelap, memiliki beberapa jendela, dan pintunya bewarna cokelat terang. di depan rumah terdapat kandang ayam dan tempat jemuran baju. dengan segala persiapan, kami siap untuk menempuh hidup baru selama 4 hari. di depan rumah terdapat sesosok wanita yang terbilang masih cukup muda, mungkin usianya sekitar 20 tahun keatas. sepertinya wanita ini adalah sang pemilik rumah. dia tersenyum dan mempersilahkan kami masuk. gue jadi gagal paham. masa iya ibu asuh gue semuda ini...... belum sampai setengah menit, kami kembali disambut oleh sesosok wanita. kali ini wanita itu berasal dari dalam rumah. dia dikategorikan sudah lanjut usia. beliau mengenakan baju sederhana lengan panjang dengan bawahan rok batik panjang. hangatnya kesederhanaan terlihat di raut wajahnya. sekilas, beliau terlihat seperti asisten rumah tangga baik hati yang sering diperlakukan dengan tidak adil oleh pemeran antagonis di sinteron-sinetron gagal gaul. sekarang gue yakin, kalau beliau adalah orang yang akan menjadi orang tua asuh gue. 

"Silahkan masuk, mas-mas'e"

"oh iya, bu. makasih.."

"saya orang nggak punya, seadanya saja."

"ah, enggak bu... (lalu situasi sedikit canggung terjadi)"


Beliau mengenalkan kami kepada sebuah ruangan yang akan menjadi kamar kami selama 4 hari kedepan. kamarnya sederhana, ada dua bantal guling dan bantal kepala bewarna putih. kasurnya empuk, gue mendadak bahagia. ini kayaknya gue masuk ke rumah yang bener. beberapa saat kemudia, gue memberikan sekaleng biskuit yang memang sudah dititipkan oleh nyokap gue untuk orang tua asuh gue disini. situasi mencair. ternyata beliau adalah istri dari pak tomo, orang yang akan menjadi orang tua asuh dari gue dan temen gue. gue dan temen gue pun mengenalkan diri. karena tau kalau lidah daripada masyarakat desa akan sulit untuk mengucapkan nama jefferson, maka gue memperirit nama gue menjadi jeffri. "nama saya jeffri, bu". perkenalan kami pun dimulai. ternyata, pak tomo sedang berladang dan akan pulang sekitar jam 12-an. setelah bercerita-cerita sedikit, perkenalan kami ditutup dengan dua cangkir teh manis hangat (lagi), dan sehabis itu makan siang sudah menanti.



     
 
Ruang tamunya, Cukup merindukan tempat ini..


Setelah ditemani dengan tempe dan lauk lainnya saat makan siang, kami memutuskan untuk berjalan-jalan keluar. sambil berusaha mengenali rumah teman-teman kami yang lain. tadi pagi, kami sudah dibagi sebuah buku khusus untuk kegiatan live in ini. di buku itu tertera berbagai macam kegiatan yang harus kita lakukan, dan di buku itu juga tertera nama masing-masing murid beserta dengan nama orang tua asuhnya. dengan petunjuk sebuah buku, kami berusaha mencari-cari rumah teman kami. satu hal yang mengagumkan dari warga desa ini, mereka hafal semua alamat tetangga mereka dan rumah warga lain yang rumahnya cukup jauh dari rumah mereka. gue... gue bahkan nggak hafal rumah temen-temen sekelas gue. setelah menemukan rumah teman yang kami tuju, maka gue dan temen gue tadi bertamu sejenak untuk ngobrol-ngobrol. setelah itu, gue dan beberapa orang tema berjalan menyusuri jalan desa. 

Keberadaan para murid disini tidak sebebas yang dikira. kami sudah di atur oleh sebuah jadwal. jam segini sampai segini, membantu keluarga angkat. jam segini sampai segini, makan siang dengan keluarga angkat. jam segini sampai segini, makan malam, dan seterusnya. itulah yang tertera di jadwal kegiatan live in. tapi nyatanya, para murid lebih sering keluyuran main ke rumah orang lain ketimbang membantu orang tua angkat di rumah. 

Setelah asik jalan-jalan di sekitar desa, waktu untuk mandi siang pun telah tiba. satu hal yang perlu diketahui: air yang digunakan untuk mandi yang ada di rumah ini mata airnya berasal dari gunung langsung. jadi, udah kebayang kalau suhu dari air ini akan sangat dingin. belum lagi ditambah dengan udara sekitar desa yang cukup membuat mengigil. setiap guyuran air saat mandi di rumah ini selalu berhasil membuat mulut gue mengeluarkan asap setiap kali bernapas sangking dinginnya. setelah dingin-dinginan dengan air gunung, beberapa teman gue sepakat untuk menghabiskan waktu dengan berolahraga di sore hari. alhasil, sore itu pun ditutup oleh para kaum adam dengan permainan sepak bola..

Kejadian agak horror menyelimuti malam di hari pertama. setelah selesai melakukan aktifitas di gereja, gue dan beberapa teman memutuskan untuk jalan-jalan sejenak di tengah gelap dan dinginnya malam di desa. saat sudah berjalan cukup jauh, gue dan keenam teman gue yang lain melihat dua buah batu yang sepertinya.. menjadi tanda sebagai pembatas desa. suasana waktu itu benar-benar gelap gulita. dengan cahaya senter di power bank yang gue bawa, hanya 2 buah batu yang berdiri kokoh tanda perbatasan desa yang nampak terlihat. tiba-tiba gue teringat dengan cerita banyaknya para pendaki gunung yang hilang karena masuk ke alam lain. suasana horror pun mulai mencekam saat itu. tiba-tiba, dengan gagah berani salah seorang teman gue berjalan menuju perbatasan tersebut. dia menggunakan senter kepala dikepalanya, layaknya senter kepala yang digunakan penambang di dalam goa. dia masuk melewati 2 buah batu tanda pembatas desa tersebut. dia melihat-lihat keadaan sekitar.. dan saat kembali, dia kembali dengan wajah yang memelas.

Saat ditanya ada apa, dia bilang kalau di perbatasan tadi dia melihat seperti ada sosok bayangan hitam yang cukup tinggi. dia melihat bayangan tersebut berjalan di tengah ladang dengan sangat cepat, lalu menghilang. jeng-jeng... ditengah gelap dan dinginnya malam, suasana semakin mencekam. gue pun mulai berhipotesis, bayangan hitam dan tinggi apakah yang dilihat teman gue itu...

a. bayangan mantan gue yang lagi naik enggrang
b. bayangan itu adalah bayangan temen gue sendiri, tapi karena situasi gelap, dia merasa seperti melihat bayangan sosok lain. padahal kalau di cari secara fisika, bayangan tersebut bisa dicari dengan rumus bayangan cermin 1/f = 1/s + 1/s'
c. sebenarnya tidak ada bayangan. dia cuma berhalusinasi.....  
d. semua jawaban benar 

Bayangan apapun itu, gue nggak terlalu memperdulikan. seseram-seramnya bayangan mhakluk astral, nggak akan terasa lebih menyakitkan daripada bayangan mantan yang selalu menghantui setiap saat. gue rasa yang dilihat teman gue malam itu adalah bayangan ranting pohon yang tertiup angin malam. jadi kelihtan seperti bayangan yang cukup besar dan cepat geraknya karena tertiup angin. setelah kejadian itu, gue dan beberapa teman mampir ke rumah salah seorang teman kami yang kebetulan jaraknya nggak jauh. disana, sang pemilik rumah bercerita tentang keadaan desa sambil memberikan tutorial melinting. tapi sayangnya, gue bukan seorang perokok. jadi, tutorial tersebut tak terlalu berarti.

Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam lewat sedikit, kami melangkah... pun berjalan pulang ke rumah masing-masing. berharap bisa menikmati tidur malam yang nyenyak di rumah kami yang hanya bersifat sementara. perlahan, gue termenung. masih ada 3 hari lagi yang harus gue habiskan di desa ini. pasti akan ada cerita menarik yang bisa diceritakan di 3 hari itu. selamat malam desa, mari kita lihat cerita menarik apa yang bisa diceritakan di hari esok... dan esoknya lagi...


Teman serumah..


Bukan Idol Group.

93 comments:

  1. Wah... Desa buntu kayaknya sodara jauh gue ada di sana deh....
    Buntu sendiri karena desa itu waktu itu cuma punya satu akses jalan. Nggak tau kalau sekarang. Terakhir kedana 2006....

    Hahaha :3
    Mampirlah ke kota tetangga, purworejo. Dekat kok, cuma 80 km arah selatan wonosobo...

    ReplyDelete
    Replies
    1. emang iya? jadi karena itu dibilang buntu?
      purworejo ya, hmm. nggak lewat gue kayaknya.
      yang gue lewatin waktu itu purwokerto...

      Delete
    2. Lu berani mandi kagak disana? Gue waktu nginep disana mandi cuma sehari sakong dinginnya...

      Mandi pagi aja jam 12....
      Njirrr :v

      Delete
    3. gue mandi tiap pagi sama siang. gue paksain tuh dingin-dinginan :")
      emang agak ekstrem. gue kalau mandi disana setiap hembusin nafas, selalu keluar asep dari mulut sangking dingin airnya...

      Delete
  2. namanya unik ya,, kirain buntu itu bukan nama desanya :|
    oke, gue tunggu cerita lanjutannya, gue penasaran, sebenarnya kegiatan kamu tuh ngapain aja, gue waktu sma gak pernah ngalamin kaya gini, nginep sampe 4 hari di rumah orang tua asuh :|,
    btw, efek pasang behelnya mulai kelihatan tuh, hahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. nantikan kelanjutannya..
      wahahaha, lo merhatiin aja. sebenernya itu karena ada sedikit pengaruh dari sariawan. besokannya juga udah biasa :")

      Delete
  3. Desa ubuntu di daerah woonosobo, masih awam ternyata gue sama wonosobo. acaranya kayanya seru juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. emang seru. melancong dari ibu kota ke sebuah desa yang sejuk. hidup di desa, jauh dari karbon monoksida asap kendaraan kota yang acap kali menyesakkan dada.

      Delete
  4. Sang penjelajah alam nih! mantab

    ReplyDelete
    Replies
    1. kayaknya agak hiperbola kalau dibilang penjajah alam.
      wong cuma ikut serta dalam kegiatan sekolah...

      Delete
  5. Itu gunung Sindoro dan Sumbing. Besok-besok sekalian ke Sikunir. Desa Teringgi di Jawa, dekat Dieng :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wih, gaul nih orang. padahal gue nggak ngasih penjelasan tentang gunung apa itu, bisa apal aja...

      Delete
    2. Lahh di wonosobo sama temanggung emang cuma itu gunungnya jev -_- sama prau

      Delete
    3. Lahh di wonosobo sama temanggung emang cuma itu gunungnya jev -_- sama prau

      Delete
  6. Kalau masih disana kirim salam sama bapak RTnya ya. Kayaknya menjanjikan sekali wajahnya.
    Jangan-jangan dia saudara kembarnya davil silva?

    Panorama desa memang adem ya? sealin dingin masih dikit polusi, apalagi didekat gunung.
    Enank banget dibuat tidur hahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. dia adalah david silva versi desa.
      maka dari itu bisa dibilang kalau dia david silva belum di upgrade...

      betul...

      Delete
  7. desa buntu, kayak pernah denger nama desanya.. tapi desa buntu yang gue denger itu kampung sebelah gue :v wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. jangan-jangan.........
      tempat yang dijadikan tempat live in oleh sekolah gue adalah desa tetangga lo.

      Delete
  8. Asikk banget nih acara sekolah lo jef . . behh kemaren wawancara bule, sekarang mencoba hidup di pedesaan .. keren lah, jadi pengen . .!!!

    gue tebak deh, kelanjutan ceritanya. . pasti lo kenalan sama gadis desa disana .. awalnya emang saling benci karna lo nggak sengaja mencidrai kebo kesayangannya . , tapi 2 hari kemudian lo udah deket sama dia, walaupun lo juga harus bersaing sama pemuda dari desa lainnya yang udah ngicer dia dari awal . . tapi si cewek akhirnya memutuskan memilih lo .. dan jadian dehhhh . .

    Ramalan aja sih . .!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. sekolahnya siapa dulu....

      oke, hipotesis lo hampir bener. sebenernya gue kenalan sama gadis desa sana, terus jatuh hati. lalu ternyata gue harus dihadapi dengan kenyataan bahwa gadis tersebut adalah tukang bubur dan dia harus segera naik haji. dan gue pun akhirnya nggak jadian sama dia..

      Delete
  9. kok seru gitu sih, kegiatan sekolah live di desa dengan orang tua asuh. Pasti nanti dapat pelajaran deh dari situ kan.. ceritain lagi ya.

    ini semacam KKN, tapi ini kita jadi anak. Kaya Jika aku Menjadi gitu ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. siapa dulu cleaning service sekolahnya..... *LAH?
      kkn? hmm... mungkin.

      Delete
  10. Mendaki gunung...lewati lembah...
    sungai mengalir indah ke samudera
    bersama teman ...berpetualang

    ckckckc


    loh, temennya liat hantu...kenapa nggak difoto sebelum hilang.. kan lumayan jadi kenang-kenangan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. pertama, gue bukan ninja hatori..
      kedua, belum tentu hantu yang di liat...
      ketiga, handphone dikumpul dan hari ketiga baru dibagikan. jadi nggak bisa difoto..

      Delete
    2. waduh .. dikumpulin hpnya

      Delete
  11. Wah seru ya bisa jalan-jalan ngerasain jadi orang desa, ketemu gak sama kembang desanya? Kira2 di desa ada cewek secantik melody gak ya

    Eh oot nih kibouteki refrain jadi single ke 10 nih menurut jeffri gimana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha, tujuan utama ke desa ini untuk mecari arti hidup sesungguhnya. buka untuk mencari kembang desa.

      hmm, serius tuh? gue baru tau refrain jadi single ke 10. bagus sih emang lagunya. kalau nggak salah waktu konser di kota kasablanka februari lalu, itu lagu paling pertama yang dibawain. lagunya oke, dan mungkin makin oke kalau ve yang jadi center. gaul lah...

      Delete
    2. Haduh tertohok nih aku, tapi bisa jadi kan ketemu jodoh disana habis itu LDRan deh

      Bagus sih tapi gak pas gitu buat sosenkyo, kan kiboteki refrain doble center. Masa ve berbagi posisi centernya

      Delete
  12. Harap maklum kalau Wonosobo adalah dataran tinggi jadi sudah pasti airnya dingin banget. Tapi enak kan datang disambut dengan teh panas dan mendoan, hmmmm
    Hari pertama sudah berhalusinasi tingkat tinggi, moga hari ke depannya ada cerita yg lbh menarik lgi

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, sangat dimaklumkan :)
      enak lah.... seperti adiksi. ini lagi nulis ceritanya lagi...

      Delete
  13. Wah menarik sekali ceritnya ya gan!

    ReplyDelete
    Replies
    1. cendol dong gan kalau menarik..

      Delete
  14. Kayanya seru banget, wonosobo itu dingin banget, gue pernah lewat, iya cuman lewat dr cilacap ke smg naik mtr mlm2 sendiri. Mungkin klo skr gue gk berani.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wih, apik juga naik motor. bisa dibayangkan dinginnya..

      Delete
  15. langsung cari carica jev, manisan pepaya khas sono

    ReplyDelete
    Replies
    1. carica? hmm, gue nggak tau menau tentang buah ini.

      Delete
    2. Sodara gue punya kebunnya :v
      Khaaakkh...


      Enak jev, kayak pepaya tapi kecil. Lebih keras juga dari pepaya. Tapi kalau jadi manisan bahh pingin nambah suer....

      Delete
  16. Baru pertama kali denger nih nama desa Buntu, semoga kantongnya nggak ikutan buntu #ehh :D

    ReplyDelete
  17. Pengalaman yang menarik tuh. Sekolah gue kok nggak ada yang kaya gituan yah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. siapa dulu guru agama di sekolah gue... *LAH?!

      Delete
  18. Dulu inget banget pas Kuliah ada KKN, dan dapet di daerah krompakan, hampir sebulan disana, segala suka duka terjadi, dan sekarang malah rindu :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. sebulan? lama juga.
      gue juga bakal rindu banget tuh kalau waktunya sebulan :")

      Delete
  19. elu ngapain jev ke desa buntu wonosobo? hhaha mampir purwokerto ya haha beli oleh oleh khas banyumas

    ReplyDelete
    Replies
    1. acara live in bro...
      bis gue sih di purwokerto cuma numpang lewat aja :)

      Delete
  20. kenapa desanya dinamakan desa buntu? mungkin otak mereka pada buntu semua, hahaha, bercandaa~

    itu kenapa bapak RT nya lo namain david silva nggak di upgrade sih, nggak enak banget didengerin. bawaannya pengen gue oper bola mulu tuh orang biar bisa cetak gol.

    seruu banget kayaknya yaa bisa hidup di desa orang dengan suasana yang bener-bener baru. lagipula masyarakat disana juga kelihatannya ramah-ramah. gue juga nggak sabar seperti apa cerita keesokan harinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. woi! otak mereka nggak buntu. mereka orang yang baik hati semua. sebagai warga desa sana selama 4 hari, gue merasa gairah kalau ada yang bilang gitu. maksud gue, marah. sekali lagi lo bilang gitu, abis lo.... maju lo.... *puter gir motor*

      di postingan selanjutnya gue share deh foto bapak david silvanya.
      emang seru hidup di desa. tapi kalau kelamaan kangen juga sama kota~

      Delete
  21. Kayaknya emang gara-gara orang yang nemuin pertama ini kena penyakit usus buntu akut, lalu dia enggak kuat lagi dan harus di oprasi. Tapi saat dia mau lari ke rumah sakit dia tidak menemukan jalan keluar, akhirnya dia berteriak, DASAR DESA BUNTU. Akhirnya terbentuklah desa buntu.

    Keren banget sekolahnya ngadain ginian. Aku juga pengen kegiatan kayak gitu, bantu-bantu orang desa, pokoknya bersosialisasi sama orang-orang desa. Tapi aku baru sadar kenapa sekolahku enggak ngadain kayak gitu, karena rumah kita enggak ada yang di kota, rumah kita di desa semua.

    ReplyDelete
    Replies
    1. bahahaha, fantasinya oke juga.

      HAHAHAHAHA, kalimat terakhir lo kampret asli -______-

      Delete
    2. Orang desa yang pingin acara bantu-bantu orang desa, miris banget kan jef.

      Delete
  22. bayangan mantan pakai enggrang. hahahaha

    mungkin juga itu bayangan kamu kali Jef... kamu kan punya bayangan, trus, bayangan kamu kena sinar lampu, jadinya bayangan kamu punya bayangan lgi dna itu terjadi berutun sampai lima kali. makanya bayangannya jadi tinggi dna jauh. O_o

    gue sepakat ama bang Panu, sekolah gue gak bakal ngadain kayak gitu. Udah kampung banget. mungkin perlu kunjungan ke kota.

    ReplyDelete
    Replies
    1. permasalahannya haw...... waktu itu nggak ada sinar lampu sama sekali.
      benar-benar gelap, cuma ada senter di atas kepala temen gue. senternya... kayak senter penambang goa yang ada di helmnya itu...

      Delete
  23. SMA lo keren juga, ada kegiatan begitu, perasaan jaman gue sma dulu ga ada -_- apa karna gue smk ya... tapi lumayan kegiatannya buat nambah pengalaman, tapi gue baru pertama kali tau ada yang namanya desa buntu hehe -___-

    ReplyDelete
    Replies
    1. perlu diakui, emang worthed banget kegiatan begini...

      Delete
  24. Jefrrii... kamu pengertian banget soal mereka yang akan susah menyebut nama jefferson.
    haha :D

    btw, seru juga ya ada kegiatan kayak gini, mantep!

    ReplyDelete
    Replies
    1. gue selalu mengerti dia...
      tapi kenapa dia nggak pernah ngerti gue, kenapa...

      Delete
  25. wah asik gtu ya, tp cuma 4 hari, bentar banget

    Nanti kalo lu kuliah, ada namanya KKP gitu, bedanya KKP bakal tinggal didesa selama 2 bulan, dan harus bener bener memajukan desanya gitu deh. tp seru

    Btw nama daerahnya aneh amat ya, desa buntu haha ekor kali ah buntu

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh, kkp toh namanya. eh buste sampe 2 bulan....
      itu kkp cuma buat jurusan tertentu atau semua jurusan kena?

      Delete
    2. KKP apa KKN, sih?
      Semoga kelas karyawan nggak ada. Aamiinn.

      Delete
  26. Wah seru ya bisa jalanjalan kata gitu... jadi kepengen gue...
    Suasana desa emang enak... jdi pengen tinggal langsung di desa...
    Andai aja di desa itu ada wifi gratisnya :v beeh bakal pindah gue ke desa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. problematikanya emang gitu sih sebenarnya. kalau dilihat dari infrastruktur, kekurangan desa ini adalah... free wifi.
      bahkan signal buat browsingnya masih lemah banget..

      Delete
  27. Di Surabaya mah gada kegiatan sekolah beginian. Paling mentok ya KTS. Hikzz..... #Nangis di Pojokan

    ReplyDelete
    Replies
    1. apakah itu kts.....
      apa sejenis yks? ada goyang cesarnya dong..

      Delete
  28. Wah, keren nih acara beginian, mirip sama "Jika aku menjadi" yang di Trans TV dulu itu ya. Bedanya ini tugas SMA, keren keren. Oh iya, itu cewek yang 20-an siapa ya, anaknya ibu angkat lu atau siapa?

    Itu gue pas lu ngomongin soal batu, gue jadi inget pas gue dan temen-temen rekreasi ke desa yang ada air terjunnya, penginapan kami tinggal beberapa meter menuju pintu masuk ke wisata air terjun, nah, malam sebelum kami ke air terjun, kami ngopi di warung deket situ. Dan di pintu masuk wahana air terjun juga ada batu kayak tempat lu, dan kejadian selanjutnya, agak mirip sama cerita lu. Waktunya kira-kira jam 9-10 malam lah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hmm, tapi ini lebih ellite dari jika aku menjadi. karena.... di tempat ini gue dikasih makan mulu. walau cuma secara sederhana. tapi benar-benar diperlakukan dengan baik....

      wah, misteri batu pembatas desa.

      Delete
  29. Kunjungan pertama, salam kenal yaa.. Manggilnya apa nih..

    Oiya, 11 mei kan pas ultah gue.. Mhueuee *pentingbangetnggaksih?*

    ReplyDelete
  30. wah asik banget kalau sekolah ada kegiatan kayak gini bisa liburan sekaligus bersosialisasi, gue gak pernah tahu daerah wonosobo tapi dari tulisan ini gue jadi tahu sedikit tentang wonosobo dan desa buntu :)

    oh iya temenmu yang memelas itu kayaknya yang bener lagi laper tenggah malam kamu aja yang gak peka ih hahaha selamat live in bro :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, kegiatan sekolah yang bisa membuat murid liburan sambil bersosialisasi. gaul memang kegiatan ini..
      hahaha, kayaknya nggak mungkin laper. soalnya orang tua asuh disana aktif banget ngasih makan anak asuhnya

      Delete
  31. Jadi penasaran sama desa buntu. Penasaran juga kenapa dinamakan desa buntu. Kenapa lo gak tanya aja kenapa dinamakan desa buntu ?. Ah payah :P
    Tapi keren lho, bisa hapal nama orang dalam satu rumah dan lokasinya rumah itu. Harusnya seluruh Indonesia juga gini. Hakikat manusia kan hidup berkelompok, membutuhkan satu sama lain. Gak kayak di kota-kota besar, Jakarta misalnya. Hampir semuanya individualisme. Mati ngubur sendiri dah kalo ada orang kayak gitu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. sebenernya, temen gue udah sempet nanya ke warga setempat. tapi, nggak ada ya tau...
      gitu deh, idividualisme mungkin.. hmm.
      tapi, orang-orang sana memang hebat. kalau ditanya rumah bapak ini dimana, mereka tau... rumah ibu ini dimana, mereka tau...
      dan mereka benar-benar mengerti tetangga merek masing-masing.

      Delete
  32. penampakan desa Buntu denga latar belakang pegunungan rasanya nyaman sekali. Udaranya pasti terasa sejuk *kangen suasana pedesaan

    ReplyDelete
    Replies
    1. yap, sejuk banget...
      sejuknya pas.

      Delete
  33. Biasanya aku taunya Gang BUntu. Ini kok desa Buntu ya?
    Oh iya, lebih seru lagi kalau kamu eksplore budaya di Wonosobo. Kalau kamu bilang mendoan nya khas? Apa yang berbeda dari tempe mendoan lainnya.

    Salah satu hal penting yang tidak boleh dilupakan adalah, kamu harus mengamati kegiatan khas di sana. Tentunya akan ada laporan mengenai kegiatan di sana. Namun nih ya, akan sangat berguna untuk kamu sendiri kalau menikmati kegiatan mengamati ini. Karena budaya di setiap itu berbeda. Dan sayang banget kalau kita cuma mengikuti jadwal karena kewajiban.

    ReplyDelete
    Replies
    1. bedanya? hmm, diujung-ujung tempenya kayak ada sesuatu. kayak.. emm... bisa digoogling.
      udah kok, udah cukup mengamati...
      nggak kok, gue nggak cuma ngikutin jadwal. terlalu terkurung banget tuh kalau cuma ngikutin kegiatan di jadwal..

      Delete
  34. wah saya baru tahu sekarang anak SMA ada kegiatan macam begini, kalau saya baru nyobain pas kuliah semacam KKN gitu deh. enak bro punya pengalaman kayak gitu ya, dan kalau ada penugasan atau liburan macam begini, jadi ngangenin gitu dehm karena situasinya beda sama situasi di kota kita tinggal pastinya ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. dari tadi lagi heboh sama KKN, gue jadi penasaran...

      Delete
  35. aku suka wonosoboooo ^o^..kota nya dinggin...kan udh deket ama dieng jef..ga sekalian mampir ya... kalian asik bgt tugas sekolahnya... prasaan jamanku smu g ada disuruh tinggal di desa2 ama org tua asuh gitu -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. mana ku tahu.... mungkin semesta belum mengijinkan kami terdampar di dieng.

      Delete
  36. Akhirnya rasa penasaran saya terjawab juga. Awalnya mengira di desa itu hanya punya satu jalan doank, eh gak taunya ternyata nama desanya "buntu".

    ReplyDelete
    Replies
    1. akhirnya...
      selamat ya, mas.

      Delete
  37. Awalnya saya kira bukan nama desa, ngga taunya Nama Desa Buntu, kirain ga bisa kemana2 gitu.....keren juga perjalannya....sayang semasa SMU hingga kuliah dulu belum kenal blogger.....jd ga bisa diabadikan

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, buntu itu nama desanya.
      buka kata khiasan...

      beruntunglah saya yang sudah mengenal blog sejak masih sekolah.

      Delete
  38. Hahahaha, gue baru tau tempat ini, Jev.

    Pengin juga jalan-jalan lagi gitu. Apalagi itu suasan pegunungan, aahhh. Apaalgi kalo banyak pegunungan kembar.
    Eh, maaf. Malah ngaco.

    Yekali bayangan mantan naik egrang! Mupon ape lu! Mantan mulu. Dari gue jomlo, punya pacar, jomlo lagi, masih aja mantan. Gue tunggu tulisan tentang pacarnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. apa itu gunung kembar.... saya tak mengerti....

      masa sih? masa selama itu gue belu mup on... dari lo pacaran, putus, terus pacaran lagi? yakin?
      hmm, gue bisa aja nulis tentang pacar... pacar orang tapi.

      Delete
  39. Wonosobo kota kecil yang nyaman menurutku :)

    ReplyDelete
  40. Kenapa bayangannya mesti mantan yang lagi naik enggrang sih, Jef? Mau ngintipin yak? Huahahah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. gue udh jenuh ngintipin mantan.
      lebih tepatnya, ngintipin timeline mantan...

      Delete
  41. IH GILAAA SERU BANGET!!

    Oh iya, sekolah lo itu sering ngadain acara kayak gini tiap taun? Lain daripada yang lain ya hahahaha biasanya kan study tour biasa aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyak, tiap taun. sebnernya sekolah swasta yang lain juga sering kayaknya ngadain live in...

      Delete
  42. laporan lo membantu memberikan pencerahan thdp laporan gua gan wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha, kampret nad..
      itulah gunanya aktif di blog. kalau ada tugas bikin laporan, tinggal copas apa yang sudah pernah ditulis di blog. tugas sekolah pun menjadi mudah, gaul kan :")

      Delete

b:if cond='data:blog.pageType != "item"'>