Thursday, July 7, 2016

Eye in The Sky, Sebuah Drama Thriller Rasa Kemanusiaan




Eye in the Sky akan menceritakan tentang satuan militer pengguna Drone di London, Inggris yang sering ditugaskan untuk mengawasi pergerakan sekelompok teroris. Pada operasi kali ini, mereka dipimpin oleh Kolonel Katherine Powell (Helen Mirren). Mereka diberi tugas untuk menangkap sekelompok teroris di Nairobi, Kenya. Lokasi target adalah sebuah rumah yang telah lama diawasi oleh badan intelijen Inggris. Tujuan untuk menangkap para teroris yang merupakan otak dibalik sebuah kasus bom bunuh diri itu menjadi sulit saat di lokasi penangkapan yang akan dihancurkan itu ternyata terdapat anak kecil.

Mengetahui kenyataan itu, Kolonel Katherine Powell dihadapkan pada situasi dan pilihan yang sangat sulit. Selaku pimpinan operasi ia harus segera memutuskan, apakah ia akan menghancurkan persembunyian teroris walaupun ada anak kecil disitu atau harus menundanya dengan resiko para teroris itu bisa berpencar lagi untuk melakukan aksinya dan itu artinya misi mereka gagal.

(Sinopsis Eye in The Sky dari: http://www.detikbaru.com/2016/02/film-eye-in-the-sky-sinopsis-detail-para.html)

Cast:
Helen Mirren as Colonel Katherine Powell
Aaron Paul as Steve Watts
Carl Beukes as Sergeant Mike Gleeson

[[[[

Apa jadinya ketika kita dihadapkan dengan dua buah pilihan berat: membunuh kelompok teroris berbahaya tetapi dengan catatan akan ada anak kecil tak bersalah yang juga ikut terbunuh, atau... tidak membunuh kelompok teroris tersebut agar si anak kecil yang tak bersalah dapat selamat tetapi dengan catatan si kelompok teroris bisa saja melakukan aksi teror dan membunuh lebih banyak lagi orang di pusat kota?

Yap, Psywar antara membunuh atau tidak merupakan konflik utama dari film Eye in The Sky ini. 

Pada awalnya, operasi militer yang dipimpin oleh kolonel Katherine Powell hanya berwenang untuk mengamati gerak-gerik kelompok teroris di Kenya dari atas langit. Tapi setelah mata dari atas langit mereka mengetahui kalau kelompok teroris yang sedang diamatinya itu akan melakukan serangan bom bunuh diri, misi memata-matai teroris itu pun berubah menjadi misi membunuh teroris. 

tembak bro, tembak!
tembak nggak yah...

Semua beban pun tiba-tiba jatuh menimpah Steve Watts, pilot pesawat tempur yang ditugaskan oleh sang kolonel untuk membombardir kediaman teroris dengan peluru canggih yang dimiliki oleh pesawat tersebut. Pasalnya, bukan hanya dihadapkan dengan situasi dimana ia harus membunuh teroris, Steve Watts juga dihadapkan dengan situasi dimana ada seorang anak perempuan yang sedang berjualan roti didekat kediaman teroris yang harus di bombardir itu. Logikanya, kalau pelurunya menghancurkan kediaman teroris, maka si gadis penjual roti tersebut juga akan terkena imbasnya. Mungkin terluka parah, atau bahkan meninggal. Tapi kalau teroris tersebut dibiarkan bebas begitu saja, mungkin si anak penjual roti itu akan tetap hidup, tapi kita nggak tau berapa banyak nyawa yang akan melayang karena aksi bom bunuh diri yang akan dilakukan oleh kelompok teroris itu nantinya. 

Kalau diibaratkan Warkop DKI, maka situasi dan konflik yang terjadi di film ini adalah "Maju kena, mundur juga kena". Gimana enggak, kalau si pilot nembak.. si pilot akan membunuh innocent child. Tapi kalau dibiarin, si kelompok teroris akan membunuh lebih banyak innocent people. Serba salah, gitu. Mungkin kalau gue jadi pilotnya, gue bakal langsung resign disaat itu juga.

Boleh kakak rotinya...

Salah satu hak asasi manusia yang paling utama dalah hak untuk hidup. Tapi apa jadinya, ketika hak untuk hidup itu direnggut secara legal? Nggak berlebihan loh, kalau dikatakan hak untuk hidup si gadis penjual roti akan direnggut secara legal kalau memang peluru itu ditembakkan. Kedoknya kan, membunuh kelompok teroris untuk menghentikan aksi teror. Dunia pasti memaklumi. Semua kembali lagi ke mental si pilot, kembai lagi ke rasa kemanusiaan yang dimiliki. 

Waktu pertama kali ngeliat trailer film ini, gue kira film ini sebelas dua belas sama American Sniper atau semacamnya. Tapi ternyata cukup berbeda, fellas. Meskipun konflik yang disuguhkan film keluaran tahun 2015 ini cenderung simple, tapi esensi dan feel dari konfliknya bisa sangat tersampaikan kepada penonton. Mungkin, karena konfliknya bermain di seputar rasa kemanusiaan. Jujur, mata gue sempat tergoda beberapa kali untuk mengganti backgroundnya menjadi berkaca-kaca. Meskipun rilis tahun 2015, tapi film ini sendiri baru mulai masuk ke bioskop Indonesia tahun 2016. 

Film berdurasi 103 menit ini pastinya worth to watch, apalagi buat anak-anak hubungan internasional. Political, humanity, pokoknya cocok deh buat anak international relations. hahahaha. Relevansi antara konflik yang ada dengan kehidupan di zona perang ataupun zona konflik sana seakan-akan membuat film ini terasa seperti based on true story.


[[[[

Percaya nggak percaya, film-film horror yang memiliki scene dimana setannya membunuh itu nggak ada horror-horrornya sama sekali kalau dibandingin sama film thriller kayak gini. Kenapa? karena kalau disangkutpautkan dengan relevansi kehidupan, hanya ada beberapa kasus pembunuhan di dunia ini yang pelakunya adalah hantu. Itu pun buat yang percaya kalau hantu bisa membunuh manusia. Tapi kalau kasus manusia membunuh manusia? Setiap hari pasti ada kasusnya di dunia ini. Hal ini tentunya sudah cukup membuktikan, kalau makhluk yang paling menakutkan di muka bumi ini adalah manusianya sendiri. 

"Riffle riffle riffle, weapon away."


Jadi, pertanyaannya adalah, Apakah peluru itu akan tetap diluncurkan oleh si pilot? Dan Kalau memang peluru tersebut diluncurkan, akankah gadis penjual roti itu tetap bertahan hidup? Saksikan sendiri, hanya di.. toko dvd bajakan kesayangan anda. 

My Stars: 8.3/10


                      

24 comments:

  1. Jadi pingin nonton gue hahaha tau aja bakal nonton di dvd kesayangan kita mah mahasiswa cari paling irit aja XD

    Willynana.blogpot.com

    ReplyDelete
  2. Udah nonton beberapa waktu lalu. Salu juga sih sama film ini. Dimana mereka dengan set yang kecil mampu memunculkan ketegangan yang sangat enak untuk dinikmati. Awalnya memang agak bosan, namun pas nyampe dibeberapa menit kemudian, konflik mulai muncul, dan ketegangan muncul satu persatu. Good job untuk Gavin Hood, Guy Hibbert, dan semua para cast dan crew-nya~

    ReplyDelete
  3. ya ampun toko dvd bajakan kesayangan anda. wkwkkw

    ReplyDelete
  4. kayaknya temanya emang seru banget nih, dilema antara membunuh teroris tapi kena anak-anak kecil disekitarnya, atau nggak nembak sama sekali tapi terorisnya ntar berkeliaran. bikin penasaran juga nih mana nantinya aksi yang mau dipilih.

    betul apa katamu. film-film kayak gini ini justru malah bikin ada daya tariknya tersendiri karena menyentuh sisi kemanusiaan. aku justru kasihan sama pilotnya sih karena dia mengalami dilema yang sangat luar biasa haha.

    nanti deh aku sewa dvdnya di toko langganan aku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yoi, temanya relevan banget sama daerah peperangan..

      Delete
  5. Banyak hal yang kita dapat ambil dari film ini. Walau lama tapi tak membosankan. bahkan kita tahu apa-apa yang harus dilakukan sebelum mengambil keputusan.

    ReplyDelete
  6. Ah, film ini, pada mulanya sih aku gak begitu tertarik dengan film ini. Tetapi, ketika situasinya semakin tegang dan konfliknya mulai memuncak, di sanalah menurutku film ini mulai mendapatkan perhatiannya. Sungguh psywar yang luar biasa sih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yoi, pilotnya kasian dilema antara nembak atau enggak..

      Delete
  7. Gue selalu suka film-film bergenre kek gini ..
    daripada film film tetangga yang ga jelas .

    ReplyDelete
  8. masa iya ceritanya sesimpel itu?
    tapi, teteep penasaran sih gue sama pilihannya si pimpinannya.
    yah, smoga pas nanti nonton, beneran sesuai ekspektasi gue, kalo filmnya keren. hahaha
    gue jarang'' juga sih nnton film perang, karena yah emang pemainnya gue ga kenal.

    gue ada film perang juga yg seru, klo ga salah judulnya 13 hour gitu. coba aja search di gugel, mngkin lu tertarik gtu kan. ehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. simple tapi psywarnya kompleks bro. oh 13 hour, gue udah pernah nonton.. itu yang tempatnya di libya kan.. yang kedutaan besar amerika diserbuu

      Delete
  9. Jadi di lema yaaa??? Mau di bunuh tp ngorbanin anak kecil

    ReplyDelete
  10. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  11. Konflik batin si pilot ya, antara mau ngehancurin markas teroris tapi malah ikutan ngebunuh si anak, atau malah nunda ngehancurin markas teroris biar ga ngebunuh si anak tapi ngasih celah buat terorisnya kabur, kalo gue jadi pilotnya gue juga resign dah, mending jualan opak.

    btw, gue setuju kalo makhluk menakutkan sesungguhnya di dunia ini adalah manusia, manusia lah yang membuat banyak kerusakan, tapi gue rasa ada hasutan dan bujukan hantu/iblis dibaliknya. hmmm.

    ReplyDelete
  12. Jev ini kamu nonton di mana? Bioskop? Donlot? Serius beli bajakan haha. Kayaknya bagus nih thriller yang mengharu biru. Emang kalo di luar negeri perasaan bunuh tikus aja enggak tega. Beda di indonesia, nyawa udah kayak gak ada harga. Kenapa si anak gak di jemput aja, terus baru di tembak markasnya?

    ReplyDelete
  13. yeaap, nanti nyari dvd bajakannya. dari review-nya udah bikin penasaran, gimana akhir nasib dari anak-anak dan teroris itu...

    ReplyDelete
  14. Udah nonton ini film, Kereennnnn... sayang ya si kecil tetep harus meninggal.

    ReplyDelete

b:if cond='data:blog.pageType != "item"'>