Monday, February 20, 2017

Tuyu-tuyul yang Demokratis


Tuyul.

Siapa sih, yang nggak tau tuyul? 

Palanya botak, suka pake bedak, kancutnya kadang motif polkadot. Dalam mitologi orang Indonesia, tuyul merupakan setan pencuri uang yang doyan pakai kancut. Tapi apa jadinnya, kalau tuyul-tuyul yang ada di negri ini menjadi sosok yang demokratis? Yang dicuri bukan uang, tapi suara rakyat, hak konstitusi rakyat. 

Suara rakyat seharusnya dikawal, bukan dibegal. 


Petugas TPS seharusnya bersikap responsif, bukan koruptif. 

Menjalankan kewajiban seharusnya secara lurus, bukan tendensius.

Ratusan suara rakyat hilang, hanya karena indikasi curang. 

Maaf bukan solusi, wahai penista demokrasi.

Berjam-jam telah berbaris, surat suara dinyatakan habis.

Mengoper kesana kemari, hak konstitusi kalian curi.

Sayangnya warga sudah cerdas, ketidakadilan akan ditumpas.


Kalian tidak lebih dari cerita miris, wahai tuyul-tuyul yang demokratis.

Tanggal 15 februari kemarin, PILKADA serentak dilakukan di 101 wilayah di Indonesia. Sebagai ibukota negara yang tercinta, Jakarta pastinya termasuk kedalam salah satu wilayah dari angka seratus satu itu. Tanggal 15 februari kemarin sekaligus menjadi momen pertama gue dalam mengikuti pesta demokrasi di negri ini. Tentunya, sebagai warga Jakarta. Akhirnya, bisa nyoblos. Akhirnya, bisa nyelupin jari ke tinta pencoblosan yang penuh kemenangan. Entah dirasuki insting sok ide macam apa, tanggal 15 kemarin jari yang gue masukin ke tinta pencoblosan itu bukan jari kelingking, tapi jari tengah, masukinnya dalem pula.  Jari tengah gue hari itu mungkin telah menjadi jari tengah yang paling demokratis di dalam dunia jari-jarian.




Program rumah mengapungnya buah hati pepo nyatanya belum cukup garang untuk merebut hati warga Jakarta, dan Quick count di hari itu pun menyatakan kalau PILKADA DKI pada akhirnya harus berlangsung 2 putaran. Itu artinya, warga DKI harus datang ke TPS lagi untuk mencoblos lagi. Itu artinya, jari tengah gue akan menjadi jari tengah paling demokratis di dunia jari-jarian lagi. Tapi bukan itu masalahnya, akan dilangsukannya putaran kedua PILKADA DKI  atau jari tengah gue akan menjadi jari tengah paling demokratis lagi bukan merupakan permasalahannya.

Yang menjadi masalah di hari itu adalah tuyul-tuyul pencuri hak konstitusi warga Jakarta.  


                       

Salah satu cerita datang dari TPS 89 di Cengkareng. Pemilih yang jelas-jelas sudah seharusnya terdaftar disitu, dinyatakan tidak terdaftar. Ditahan-tahan, tidak diperbolehkan menyalurkan hak suara mereka dalam memilih pemimpin. Kabarnya, surat suara dinyatakan sudah habis. Padahal.... MUASIH BANYAK. Berusaha membohongi publik? Mungkin. Berusaha mencuri hak suara rakyat? Jelas.

Yang menarik kemudian dari video kecurangan di TPS 89 ini adalah berkat 'The Power of Emak-emak', hak konstitusi warga yang tadinya hampir dicuri akhirnya dikembalikan. Disini dapat ditarik kesimpulan, emak-emak yang ngamuk merupakan penangkal terbaik untuk tuyul pencuri hak konstitusi warga.


                       


Cerita lain datang dari TPS 48 di Kelapa Gading. Warga dipermainkan, di oper dari TPS satu ke TPS lainnya. Kabarnya di TPS ini warga disuruh fotokopi KTP, fotokopi KK, bolak-balik, namun akhir-akhirnya warga tidak diperbolehkan mencoblos. Lebih lucu lagi, setelah di oper, disuruh bolak-balik, alasan warga tidak diperbolehkan menyalurkan hak suaranya adalah karena "mereka berdiri di luar TPS", sedangkan aturan yang sah adalah mereka harus berada di dalam TPS. Berjam-jam berdiri diluar TPS terus nggak disuruh masuk sampe waktunya abis,  pak panitia sehat pak panitia? Beberapa jam menunggu untuk menyalurkan hak suara, mereka terpaksa gigit jari karena hak mereka dirampas. Lucu? Iya. Pencurian hak suara? Jelas. 

Yang kemudian membuat suasana semakin lucu dan miris lagi adalah ketika solusi yang diberikan oleh panitia TPS hanya sekedar kata 'maaf'. Maaf, maaf, maaf. Dengan menggunakan analogi pepo, kalau semua panitia di TPS kayak begitu mah, sampe lebaran kuda pun pilgub DKI bakal terus-terusan lanjut ke putaran berikutnya. TPS 89 dan TPS 48 merupakan saksi 2 buah cerita miris dari ulah tuyul yang demokratis. Masih ada beberapa cerita di beberapa TPS yang juga memiliki jalan cerita yang sama, dan mungkin lebih miris. 

Ah, sudahlah. Semoga di putaran kedua nanti cerita-cerita miris macam ini sukar untuk terulang lagi. 

Salam 2 putaran.

Salam,


2 jari.



18 comments:

  1. Hmmm kok gitu amat ya, heran :|

    ReplyDelete
    Replies
    1. gak usah heran mbak, namanya juga politik :|

      Delete
  2. Sembur api aja orang-orang kaya gitu. Kalo enggak lempar ke laut. Mayan mengurangi jumlah orang bodoh dan mengurangi jumalh penduduk Indonesia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sembur api nanti di demo loh bro sama kelompok yang menamakan diri... you know lah :|

      Delete
  3. jadi penasaran siap yang nanti bakal kepilih

    ReplyDelete
  4. wah jakarta pilkadanya memanas sampe segitunyakah jef, di beberapa tps baru tau, di rw gue adem ayem aja tuh, pilkada banten soalnya huahahhaha

    syukurlah ya yang berkat he power of emak-emak semua bisa teratasi bisa nyoblos walo kudu rempong ini itu
    btw kenapa musti jari tengah sik yang dicelup di tinta, gue kelingking aja deh biar cepet ilang hoho

    ReplyDelete
    Replies
    1. ah banten..

      iya mbak, panas karena 3 paslon kemungkinan langsung 50+1 nya mengecil jadinya.

      Delete
  5. Dimana-mana ada aja masalahnya ini pilkada, kalau ada masalah seperti di atas, di kota saya Kendari lain lagi, pemilihnya malas karena gak dapat surat panggilan. Yah, emang susah kalau panggilannya gak dari hati.


    Oh, iya.. pemilihan ulangnya udah selesai belum? Jujur saya gak ngikutin berita. Kalaupun sudah, semoga sudah berjalan sesuai ketentuan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. pemilihan ulang maksudnya putaran kedua? 19 April mbak

      Delete
  6. Liat aja nanti pas putaran kedua, tuyul2nya bakalan beragebunsinojutsu jev, wqwq

    ReplyDelete
  7. takut banget ya orang2 ini kalo ahok menang kayaknya ;p.. ga bisa korupsi lagi... orang2 begini nih yg memang perlu diberantas -__-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap! bagai kan tikus yang menghindari lem tikus :)

      Delete
  8. Wow, aku baru tahu sampe segitunya politik di ibukota? Tapi untuk emak2 yang ngamuk, aku salut banget. Mereka benar2 memperjuangkan haknya sbgai warga negara Indonesia yg baik.

    ReplyDelete

b:if cond='data:blog.pageType != "item"'>