Monday, April 17, 2017

Jokowi dan Tol Laut, Realisasi Indonesia Poros Maritim Dunia



Indonesia merupakan negara bahari terbesar di dunia. Fakta mengatakan jika luas daratan di Indonesia tidak lebih dari 2.000.000 km², sementara luas perairannya mencapai 3.257.357 km² dan akan menjadi 5,8 juta km² jika menyertakan Zona Ekonomi Eksklusifnya.  Belum lagi panjang garis pantainya yang telah mencapai 95.181 km. Data statistik perairan Indonesia dengan jelas menegaskan kepada dunia jika Indonesia merupakan negara kelautan paling kaya yang pernah ada. Kekayaan perairan Indonesia kemudian dapat menjadi representasi dari potensi Sumber Daya yang sudah seharusnya dikelola secara optimal oleh pemerintah. Namun sayangnya, dari zaman ke zaman, potensi laut Nusantara belum bisa dirangkul secara komprehensif oleh pemerintah. 

Indonesia merupakan negara bahari terbesar di dunia. Namun, Mengapa masih banyak nelayan yang harus hidup miskin di laut yang kaya? Potensi Sumberdaya Perikanan Indonesia 6,4 Juta ton per tahun, namun masih banyak nelayan yang hidup dibawah garis kemiskinan. Potensi budidaya laut Indonesia seluas 8.363.501 ha, namun hanya 74.543 ha yang teroptimalkan. Luas lautan Indonesia secara total 5,8 juta km², namun PDB perikanan masih dibawah 5% dari total PDB. Bahkan untuk mengatasi permasalahan klasik seperti disparitas harga yang begitu mencolok antara Indonesia bagian Barat dengan Timur saja laut kita masih belum bisa memberi solusi. Indonesia dalam angka memang selalu terlihat perkasa, namun realisasi dan optimalisasi pengelolaannya acapkali terkesan 'loyo'.

Untuk mengoptimalkan sektor maritim yang seharusnya perkasa agar tidak terlihat loyo, Jokowi sebagai nahkoda ke-7 Indonesia telah menggagas gagasan Indonesia 'Poros Maritim Dunia'. Poros Maritim merupakan gagasan yang mengacu kepada pengoptimalan di sektor-sektor Maritim Indonesia yang merangkul konektivitas antar pulau, pembangunan industri perkapalan dan perikanan, keamanan maritim, perbaikan transportasi laut, serta infrastruktur-infratsruktur yang mampu menunjang eksistensi perekonomian maritim. Berpindahnya geo-ekonomi dan geo-politik dunia dari bagian barat ke asia timur, dianggap banyak pihak mampu menjadi momentum yang baik bagi Indonesia untuk menggapai cita-cita menjadi poros maritim dunia. 

Namun, Bagaimana cara merealisasikan cita-cita Indoensia sebagai poros maritim dunia tersebut, jika permasalahan internal seperti disparitas harga antara Indonesia barat dan Indonesia Timur masih cukup tinggi karena tarif transportasi laut? Tentu cita-cita Poros Maritim Dunia tersebut kemudian dikhawatirkan banyak pihak hanya akan menjadi retorika semata, jika  akses laut Indonesia yang begitu luar biasanya tidak dapat mengatasi permasalahan ekonomi maritim seperti disparitas harga.



Untuk mampu membangun ekonomi kemaritiman yang begitu perkasa agar dapat merealisasikan gagasan Indonesia sebagai poros maritim dunia tentu bukanlah pekerjaan yang mudah bagi Presiden Jokowi. Untuk menunjang eksistensi cita-cita Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia, Jokowi telah menjabarkan 5 pilar utama yang diantaranya:


  1. Pilar pertama, bangsa Indonesia harus menyadari dan melihat dirinya sebagai bangsa yang identitasnya sangat ditentukan oleh bagaimana kita mengelola samudera.
  2. Pilar kedua, komitmen untuk mengelola maritim Indonesia untuk kepentingan rakyatnya sendiri. 
  3. Pilar ketiga, komitmen mendorong pengembangan infrastruktur dan konektivitas maritim. 
  4. Pilar keempat, Diplomasi maritim yang mengajak semua mitra Indonesia untuk bekerja sama pada bidang kelautan. 
  5. Pilar kelima, Kekuatan pertahanan maritim adalah harga mati yang harus dibangun oleh Indonesia.


Berbagai kebijakan telah diimplementasikan oleh Jokowi untuk mendukung eksistensi kelima pilar tersebut. Salah satu pilar yang paling menyedot perhatian publik untuk dinanti realisasinya adalah pilar ketiga, komitmen untuk mendorong pengembangan infrastruktur dan konektivistas maritim. Pilar ini merupakan pilar yang akan merangkul beberapa pembangunan infrastruktur maritim secara komprehensif yang salah satunya meliputi pembangunan tol laut.



Permasalahan ketimpangan harga antara daerah-daerah di Jawa dan Luar Jawa memang masih menjadi permasalahan yang serius. Jokowi pastinya mengerti, jika konektivitas merupakan solusi terbaik untuk mengatasi ketimpangan tersebut. Seperti data yang dipaparkan Databoks, (http://databoks.katadata.co.id/datapublish/2016/10/19/kurangi-ketimpangan-jokowi-rancang-101-proyek-konektivitas) "Konektivitas akan meningkatkan efisiensi dan kelancaran arus barang dan jasa antar wilayah di Indonesia. Pada 2017 nanti, alokasi pembangunan infrastruktur makin ditingkatkan menjadi Rp 346,6 triliun."  Dalam konteks gagasan Poros Maritim Dunia, permasalahan konektivitas antar pulau dapat diatasi dengan pembangunan infrastruktur laut seperti tol laut.

Pemerintah di berbagai kesempatan telah berkali-kali menegaskan jika tol laut merupakan program pioritasnya dalam pembangunan infrastruktur maritim. Ditetapkannya 24 pelabuhan sebagai simpul jalur tol laut, dibangunnya 47 pelabuhan non komersiil, dan target sudah terbangunnya 100 pelabuhan di tahun 2019 merupakan representasi dari keseriusan pemerintah dalam program pioritasnya ini. Jumlah kunjungan kapal di pelabuhan-pelabuhan Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Fakta menyebutkan bahwa hampir 70% perdagangan dunia berlangsung diantara negara-negara pasifik, dan 75%  hasil industri dan Sumber Daya Alam diperdagangkan melalui laut yang sebagian besarnya melalui laut Indonesia. 

Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, tentu dapat mengatasi permasalahan konektivitas antara pulau dengan adanya pembangunan tol laut. Kesejahteraan rakyat di seluruh pelosok nusantara pun diharapkan dapat semakin meningkat dengan adanya pembangunan tol laut ini. Tol laut merupakan jalur pelayaran bebas hambatan yang mampu menghubungan pulau-pulau di Indonesia. Ketika aksesibilitas antara pulau dan antara pelabuhan di Indonesia semakin mudah, maka kelangkaan barang seperti sembako atau BBM atau semen dapat teratasi. Teratasinya kelangkaan tersebut pada akhirnya tak pelak dapat membuat harga barang-barang yang didistribusikan menjadi lebih murah. Pemerataan ekonomi Indonesia pun akan tercapai dan gagasan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia tentu tidak akan menjadi retorika semata bila lautnya sendiri dapat adil kepada rakyatnya.

Untuk dapat mensosialisasikan tol laut kepada masyarakat, Presiden Jokowi dalam VLOG nya dengan tegas mengatakan pembangunan tol laut merupakan solusi karena laut akan menjadi sumber kekayaan dan kemajuan Indonesia. 

                    

Tol laut bukanlah tol diatas laut, namun lebih mengacu kepada rute-rute yang ditentukan Pemerintah dari pelabuhan-pelabuhan yang telah dibangun. Untuk dapat mengoptimalkan rute dan trayek, maka harus ada pelabuhan-pelabuhan yang dibangun. Mentri Perhubungan, Budi Karya Suma menegaskan jika pada tahun 2016 lalu jumlah trayek perintis Indonesia telah mencapai 96 trayek, dan tol laut 6 trayek. Pemerintah sendiri pada era Jokowi telah meresmikan pelabuhan-pelabuhan baru, seperti: 

  • Pelabuhan Tobelo
  • Pelabuhan Galela
  • Pelabuhan Tutu Kembong
  • Pelabuhan Teror
  • Pelabuhan wonrell

Tol laut di Indonesia sendiri selama era Jokowi, dengan pelabuhan-pelabuhan yang telah dibangun, telah merepresentasikan kesuksesan dalam memberikan solusi terkait disparitas harga. Sebagai contoh, harga semen di pulau sabu turun 14%, dan ayam ras di Wamena turun 49% setelah adanya tol laut. Tol laut kemudian dengan jelas merupakan solusi bagi disparitas harga di Indonesia Timur. Sebagai contoh spesifik, harga semen di Jayapura sebelum adanya tol laut adalah Rp. 100.000/sak, dan sekarang menjadi Rp. 80.000/sak. Harga ayam potong yang awalnya Rp. 80.000/kg menjadi Rp. 60.000/kg. Dan yang lebih dahsyatnya lagi, hara 1 teus kontainer di Jayapura sebelum adanya tol laut sebesar Rp. 23 juta/ teus dan menjadi Rp. 9 juta/teus setelah adanya tol laut.

Pembangunan infrastruktur-infrastruktur tol laut pada era Jokowi kemudian merupakan langkah konkrit Pemerintah untuk mengatasi berbagai permasalahan maritim seperti disparitas harga. Untuk menggapai cita-cita Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia, maka keadilan dan kesejahteraan rakyat dengan pemanfaatan maritim itu sendiri perlu ditekankan menjadi substansi. Jokowi dengan mempioritaskan pembangunan tol laut di perairan Nusantara kemudian telah merepresentasikan bahwa cita-cita Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia bukan hanya retorika, namun merupakan fondasi dari langkah konkrit untuk membuat laut Indonesia Merdeka.

22 comments:

  1. Semoga gagasan yang baik ini terlaksana dan memberi kemudahan para nelayan, ya, mas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yap! kalau menurut databoks di http://databoks.katadata.co.id/datapublish/2016/10/18/2015-2016-nilai-tukar-nelayan-membaik ,di 2015-2016 nilai tukar nelayan sudah semakin membaik :)

      Delete
  2. Hmm sebenarnya ada juga dari kesalahan nelayan sih, pake bom nangkap ikannya.


    Itu pelabuhan tutu kembong ada dua kah??

    Alhamdulillah, dengan adanya tol laut bedapat menurunkan harga di sejumlah kepulauan 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah iya itu, pemerintah juga sudah dengans erius menindak nelayan dengan pukat harimau itu. Cuma satu kok :)

      Delete
  3. semoga memberi dampak positif yang menyeluruh untuk perekonomian indonesia dengan adanya tol laut, sangat bermanfaat informasinya. saya tunggu kedatangannya di blog saya mas => https://bengmoelyono.blogspot.co.id/2017/04/menjadi-gravitasi-saat-belajar-kelompok.html

    ReplyDelete
    Replies
    1. yap, kita semua berharap dengan tol laut ya :)

      Delete
  4. Memang udah banyak yang berubah sejak era pemerintahan Presiden Jokowi yaa..
    Kita sama-sama berharap aja kalau perubahan itu mengarah kepada kemajuan bangsa..
    Salah satunya yaaaah..
    memerdekakan laut kita...
    :D

    ReplyDelete
  5. Yups, ayo kita dukung kebijakan serta gagasan pemerintah yang pro rakyat. Biar kekayaan yang dimiliki negeri ini benar benar jadi milik rakyat indonesia. Salam Nusantara.

    ReplyDelete
  6. Gagasan ini sejalan sama gagasan "Jalur Sutra Maritim" nya presiden Xi Jinping, China. Memang negara-negara di Asia harusnya bersatu dan kompak, supaya bisa jadi raksasa ekonomi dunia. Kita gak kalah sama negara Barat kok, dalam segala hal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yap! semoga Jokowi dan Xi Jinping sama-sama bisa membuat laut negara mereka merdeka dan sama-sama ditakuti dunia :)

      Delete
  7. Wa ini nih inovasi yang keren banget.
    Walau biaya pembuatanya ga murah tapi ini bisa membuat indonesia lebih maju kedepanya.
    terbukti dengan adanya jembatan laut segala kebutuhan jadi lebih murah.
    Kira-kira jembatan atas laut itu bisa dipake buat Joging juga ga ya ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. seperti yang disampaikan, tol laut itu bukan jembatan laut bro, tapi lebih mengacu ke jalur atau rute dari satu pelabuhan komersil ke pelabuhan komersil lainnya. Begitu :)

      Delete
  8. semoga tulisan ini berdampak baik yah . rakyat juga harus saling mendoakan juga biar indonesia maju . dan emang sih para nelayan sekarang belum makmur banget tapi semoga aja kedepannya lebih baikk ..
    amiiinn . keren nih

    ReplyDelete
  9. Semoga tulisannya mendapatkan respon positif yaaa. Emang masih banyak sih nelayan yg ngebom gitu biat dapetin ikan. Seharusnya dari pemerintah setempat lah yang harusnya meminimalisir hal tsb.

    ReplyDelete
  10. Ya, tol laut mungkin bisa jadi salah satu solusi agar ketimpangan antar wilayah teratasi. Fakta saat ini APBN banyak disumbang oleh Jawa sedangkan wilayah lain kurang karena memang infrastruktur yang pembangunannya tidak sepesat Jawa dan juga masalah konektivitas. Tol laut bisa jadi solusi buat konektivitas ini, membuat barang-barang lebih murah sehingga nantinya mengurangi kesenjangan antar wilayah. Kalau harga barang di Jawa tidak jauh beda bahkan kalau bisa sama dengan wilayah lain, tentunya kesejahteraan akan lebih mudah tercapai :D

    ReplyDelete
  11. Apakah ini akan menjadi kenyataan?

    ReplyDelete
  12. Wah jev postinganmu menarik. Tol laut memang awalnya digadang-gadang bisa menekan harga barang di luar Jawa. Dan setelah membaca postinganmu ini sepertinya sudah mulai bisa diterapkan untuk menstabilkan harga-harga. Karena kesenjangan sosial antara Jawa dan luar Jawa, apalagi di Papua sangat mencolok. Baik kesenjangan harga, infrastruktur, dan juga pendidikan.

    Semoga tol laut terus bisa memberikan manfaat yang baik bagi semua wilayah di luar Jawa :)

    ReplyDelete

b:if cond='data:blog.pageType != "item"'>