Kind of Writer's Personality..


"Travelling" for Happiness
"Mahasiswing" for A Better Education

"Web Developing" For Digital Intellectual

"Searching" For His Missing Rib

Sinopsis & Review Limitless (2011), Ketika Kapasitas Otak Bekerja Tanpa Batas


Menurut penelitian, manusia hanya bisa mengoptimalkan sekian persen kapasitas otaknya. Ada yang bilang hanya 10%, ada yang bilang hanya 20%, yang jelas hanya "sekian" persen saja. Lalu apa jadinya ketika manusia bisa mengoptimalkan kemampuan otak mereka sampai dengan 100%? Bisa jadi kaya dalam sekejap, bisa dapet beberapa cewek cantik dalam semalam, dan bisa mati, begitulah setidaknya menurut film Limitless (2011) kalau manusia bisa mengendalikan 100% kapasitas otaknya.

Limitless bukanlah film baru buat gue. Gue udah nonton film ini 2 kali, dan kemarin yang ke 3. Alasan gue nonton film ini 3 kali bukan karena film ini bagus banget, tapi karena dulu waktu gue tonon film ini pertama kali pas kelas 11 gue agak kurang ngerti. Dan setelah gue tonton untuk kedua kali juga gue kurang ngerti. Dan akhirnya setelah menonton untuk ketiga kalinya tanpa melewatkan setiap adegan, akhirnya gue mengerti.. gue ngerti kalau film ini adalah film yang akan sulit dimengerti kalau kita nonton film ini sambil ngeskip-ngeskip adegannya.

Karena dulu rasa kantuk merundung gue saat menonton film ini, akhirnya gue nonton film ini sambil ngeskip beberapa adegan yang ada. Dan percaya atau tidak, ketika film ini udah masuk ke pertengahan, maka penonton akan dibuat pusing kalau ngeskip adegan-adegan yang ada karena setiap scene setelah pertengahan film mengandung skenario baru yang seharusnya tidak dilewatkan. Mungkin film thriller-scifi keluaran tahun 2011 yang membahas optimalisasi 100% kapasitas otak manusia ini akan terdengar sama seperti film Lucy (2014) yang juga membahas tentang manusia dan 100% kapasitas otaknya. Tapi tenang, cerita, warna, dan gaya yang ditawarkan film ini jauh berbeda dari film Lucy. 

Cast: 
Bradley Cooper - Eddie
Abbie Cornish - Lindy
Robert De Niro - Carl Van Loon


Sinopsis Limitless



Eddie Morra adalah seorang penulis yang telah lama kehilangan masa jayanya. Masa depannya pun terancam suram karena karirnya sebagai penulis tidak berjalan lancar dan kerap dirundung frustasi juga depresi. Suatu hari, ia bertemu dengan Vernon, adik iparnya. Tanpa disangka-sangka, pertemuannya dengan Vernon akan mengubah kehidupannya selamanya. Vernon menawarkan eddie sebuah pill atau obat yang bernama NZT-48 dimana setiap orang yang mengkonsumsinya dapat mengakses 100% kemampuan kapasitas otaknya. Hal-hal cemerlang mulai datang ketika Eddie mencoba obat itu, mulai dari hari itu, Eddie mulai mengalami ketergantungan dengan NZT-48. Namun seiring berjalannya waktu, hal-hal cemerlang yang awalnya hadir perlahan berubah menjadi hal-hal buruk yang tak ia duga sebelumnya.





Review Limitless


Limitless menawarkan sebuah warna film thriller-scifi dengan bumbu mystery yang berkelas dan cukup unik. Eksekusi awalnya yang tidak terburu-buru membuat penonton nyaman untuk mengikuti alur ceritanya. Meskipun sedikit mengundang rasa kantuk di pertengahan film, namun  cerita unik yang ditawarkan tetap dapat mempertahankan ketertarikan penonton.

Ketertarikan penonton akan terpancing ketika efek kecemerlangan Eddie mulai lahir karena mengonsumsi NZT-48. Pertanyaan-pertanyaan yang bermain di pikiran penonton seperti, "Apa jadinya kalau gue punya obat ini?" menunjukkan umpan dari sang sutradara Neil Burger telah berhasil digigit oleh penonton. Cukup menarik memang, menanti skenario apa yang akan dilakukan Eddie dalam menyelesaikan masalahnya ketika berhasil menelan atau bahkan 'menjilat' NZT-48.






Visualisasi yang ditawarkan film limitless ini terbilang cukup 'pas'. Permainan warna sebelum dan setelah Eddie Morra mengonsumsi NZT-48 menunjukkan kesan Before-After yang cukup apik. Selain itu, konflik yang ditawarkan di film ini praktis dipicu leh NZT-48 itu sendiri. Mulai dari asmara sampai karir dari Eddie Morra, dan beberapa ancaman kejahatan lainnya muncul karena NZT-48. 

Intelegensi dan kecemerlangan Eddie Morra dalam menyelesaikan konflik merupakan daya tarik utama dari film ini. Limitless menawarkan sebuah cerita prediktif yang tentunya fiktif tentang apa jadinya ketika seorang pria bisa merubah hidup banyak orang dengan cara menggunakan 100% kemampuan otaknya. Meskipun masalah diceritakan silih berganti hadir, namun kecemerlangan membuat masalah tersebut silih berganti tumbang sampai pada akhrinya tercipta lah sebuah solusi.

Film yang diadaptasi dari novel dengan judul The Dark Fields ini ternyata juga telah diangkat menjadi tv series di tahun 2015. Limitless memang terbilang cukup berhasil dalam mengeksekusi cerita yang berlandaskan misteri bagi publik tentang manusia dan kapasitas otaknya. Cerita fiktif yang ditawarkan tentang Eddie Morra dengan 100% kapasitas otaknya bisa dibilang masih lebih 'masuk akal' ketimbang Lucy dan 100% kapasitas otaknya yang jauh lebih scifi di film Lucy (2014). Rating 7.4 di IMDB untuk film ini pun bisa dibilang cukup 'pas'. 


                       


15 comments:

  1. hai Jev..
    wah ternyata ini film lama yahh, dari cerita kamu kayanya film ini lumayan bagus tapi harus di tonton keseluruhan. ya emang nonton film harusnya kek gitu kan? hehehehehe
    btw, cara ngeriviewnya udah cukup baik tapi coba deh buat sesuatu yang bisa bikin pembaca penasaran dan betah mau baca sampe akhir narasi. semangat untuk nge-riview2 selanjutnyaaaa^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. oke mbak sis.. nanti saya kasih gelas cantik buat yang baca sampe abis.. biar greget

      Delete
  2. Mungkin obat kayak gitu beneran ada di dunia nyata, cuma orang-orang nyebutnya Narkoba. Hahahha.
    Masuk daftar tontonan weekend ini... siiplah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. di film pun itu termasuk narkoba bro :)

      Delete
  3. Awalnya pas baca sinopsis di atas langsung kepikiran film Lucy, tapi ternyata ada bedanya. Fix masuk daftar tontonan nih.

    ReplyDelete
  4. Soal film aku memang kurang. Tapi kalau kesin pasti dapat reverensi, sekilas baca keren, tapi pengen liat langsung biar tahunya secsara keseluruhan tidak setengah-setengah..hehe, masukan list nih film :)

    ReplyDelete
  5. Uhgg aku belum pernah nonot ini
    tapi kalo dipikir-pikir kayaknya film ini hampir mirip kayak film LUCY ya ?
    itu loh cewe yang bisa bisa mengoptimalkan kemampuan otak sampai 100%.
    mungkin kalo kedua film ini di gabung mereka bakal keren abis !

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin mirip, tapi.. Lucy lebih sulit dicerna logika

      Delete
  6. temen pernah menyarankan nonton film ini karena ini film memang seru...
    karena cuman mendengar seru tanpa tau apa apa ya aku tidak tertarik...

    berbeda saat aku baca sinopsis reviewnya ini...
    langsung malam ini nonton :D karena memang aku orang yang juga ingin menggunakan otak semaksimal mungkin :v

    ReplyDelete
  7. aku belum pernah nonton film ini mas, sepertinya seru soalnya ada orang yang bisa mengubah hidup banyak orang menggunkan otaknya.

    ReplyDelete
  8. Aku baca diawal langsung mikirnya Lucy ternyata beda yak, okelah langsung noted list film yg mau ditonton :D

    ReplyDelete

BELI SEPATU KUY!

@bokangco_id