Thursday, May 11, 2017

Basuki dan Mitos Toleransi



Sebagian dari Indonesia tengah berkabung. Tepat pada tanggal 9 Mei 2017 lalu, seorang putra terbaiknya dikurung karena dituding menista. Hukum dan toleransi di negri ini mungkin telah merepresentasikan raga tanpa jiwa, atau mungkin mayat yang diawetkan. Intervensi dapat dilakukan secara mudah dengan dalih demokrasi. Meski berulang kali permintaan maaf telah disampaikan, segala desakkan membawanya kepada ketukan palu yang mengurungnya selama 2 tahun. 

Sebuah senyum yang mengembang dan kepala yang bergeleng-geleng pun menjadi potret dari mereka yang tengah berkabung. Lucu, bagaimana orang-orang bisa lebih memilih untuk menerima pemimpin yang koruptif namun seiman ketimbang pemimpin yang bersih, jujur, dan transparan namun tidak seiman. Pantas negara ini sukar untuk maju, dikasih emas malah minta perunggu. Emasnya dibuang pula. Kasus penistaan Basuki Tjahaja Purnama mungkin dapat menjadi representasi bahwa hukum dapat diintervensi dan toleransi mungkin kini sedang bertransformasi menjadi mitos. 


Ahok, aset terbaik

Teruntuk mereka yang waras, Ahok tentu merupakan aset terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Setiap pagi bertatap muka dengan warga, menyapa dan memberi solusi di balai kota. Memerangi kasus korupsi, hingga dirinya dibenci oleh para elit politik kotor. Membangun untuk Jakarta, mengatasi permasalahan-permasalahan yang sukar untuk diatasi Gubernur terdahulu. Namun sayang, perbedaan lagi-lagi menjadi senjata bagi mereka yang radikal dan intoleran.

Ahok adalah sosok sempurna untuk dijadikan panutan. Beliau adalah pria sejati, bukan banci seperti si suci yang tidak datang saat dipanggil polisi. Atau seperti si koruptor yang selalu mengaku tidak enak badan ketika dipanggil polisi. Beliau bahkan tidak melulu mengeluh dikriminalisasi ataupun dipolitisasi seperti para koruptor najis yang secara objektif terbukti bersalah. Bagaimanapun, dipenjaranya Ahok adalah kekalahan dari toleransi.

Media internasional bahkan mengkritisi kasus Ahok sebagai hilangnya kebebasan berpendapat. Bukan hanya Indonesia, dunia pun sadar jika vonis yang dijatuhkan kepada Ahok adalah sesuatu yang rancu. Padahal, toleransi merupakan substansi dari kehidupan berbangsa. Terlalu menyedihkan bagi Indonesia jika pejabat bersih yang mampu membawa perubahan yang jauh lebih baik justru dikriminalisasi hanya karena kepentingan tertentu. Indonesia dan toleransi kini bagaikan pungguk yang merindukan bulan. 

Intervensi dibalik aspirasi

Indonesia adalah negara demokrasi, legalitas demonstrasi memang telah diakui. Namun sayangnya, demo dan aksi damai dengan substansi tuntutan yang sama yang terus menerus dilakukan seakan-akan menunjukkan kepada dunia jika demokrasi di Indonesia bukanlah demokrasi yang berintelektualitas namun demokrasi yang demo melulu. Sebelum Ahok disidang, sebuah demonstrasi dilakukan untuk menjadikan Ahok tersangka. Setelah pemerintah melakukan pemeriksaan kepada Ahok agar tidak terjadi kegaduhan sampai lebaran kuda, Aksi serupa kembali dilakukan saat Ahok telah dijadikan tersangkan dan bahkan sampai beberapa hari sebelum putusan sidang pun Aksi serupa tetap dilakukan. 

Substansi tuntutan yang selalu sama kemudian melahirkan sebuah sentimen jika intervensi merupakan sesuatu yang berusaha disembunyikan dalam bentuk aspirasi tersebut. Substansi tuntutan demo atau aksi damai sebelum, saat, dan beberapa hari sebelum vonis dijatuhkan selalu sama, yakni ingin Ahok dipenjara. Tentu hal ini menjadi polemik tersendiri. Jika substansi tuntutan selalu sama dan Ahok sudah diproses sesuai hukum, bukan kah keputusan dari tuntutan mereka hanya masalah waktu? Lalu mengapa kemudian aksi serupa harus sampai terulang berkali-kali? Apakah aksi tersebut adalah bentuk dari upaya intervensi?

Lucu memang, jika hukum yang memiliki supremasi dapat terpengaruh oleh ribuan massa yang turun ke jalan untuk melakukan tuntutan. Kumpulan rakyat kemudian seakan menunjukkan sikap ditaktor yang demokratis. Mengingat Indonesia sedang dikuasai oleh teknologi digital, mungkin di masa depan nanti, akan ada ruang bagi mereka yang inovatif dan hobi berdemo untuk menciptakan sebuah startup dengan tajuk "GO-DEMO" atau "Grab-DEMO". Namun karena kata demo terlampau kasar, maka aplikasi startup demo online tersebut mengalami revolusi nama menjadi "GO Aksi damai" dan "Grab Aksi damai".

Kebetulan, atau Kejanggalan?

Ahok dijatuhi ultra petita. Ketika jaksa menyatakan Ahok hanya menghina golongan dengan vonis 1 tahun penjara dan 2 tahun masa percobaan, hakim memvonis Ahok menodai agama dengan kurungan 2 tahun penjara. Sungguh luar biasa, bagaimana Ahok bisa dijatuhi ultra petita atau situasi dimana vonis yang dijatuhkan hakim lebih berat daripada jaksa. Ultra petita sendiri pada pelaksanaannya adalah sesuatu yang jarang atau tidak biasa, meskipun memungkinkan. Sejatinya, hakim lebih sering menjatuhkan hukuman yang lebih ringan daripada tuntutan jaksa. Lalu mengapa ultra petita dijatuhkan di dalam kasus yang diwarnai dengan banyak aksi demo ini? Mungkin hanya sebuah kebetulan, atau mungkin kejanggalan. 

Sebuah kabar yang kembali membuat geleng-geleng adalah isu Ahok dipenjara di sebuah sel di rutan Cipinang dimana beliau satu blok dengan puluhan orang mantan Pegawai Negri Sipil DKI yang pernah dipenjarakannya karena kasus korupsi. Meskipun pada malam harinya beliau dipindahkan dan bertolak menuju markas Brimob Kelapa Dua Depok, namun kondisi satu blok dengan orang-orang yang pernah dipenjaranya tentu bukanlah sesuatu yang baik. Tak hanya sampai disitu, sang hakim pemvonis Ahok dipromosikan menjadi hakim tinggi Denpasar 2 hari setelah ia memvonis Ahok selama 2 tahun penjara. Tentu, jika hal ini merupakan skenario yang telah disusun oleh beberapa oknum, maka tidak ada kesimpulan lain jika Hukum di Indonesia memang telah mati. 

Mungkin, jika Ahok memutuskan untuk tidak maju di pilkada DKI lalu, tidak akan ada tuntutan penistaan agama dan tidak akan ada aksi damai ataupun semacamnya. Semua orang yang ingin mengenyampingkan kemunafikannya sadar, jika segala tuntutan kepada Ahok kental dengan politisasi. Bahkan, vonisnya pun kental dengan intervensi. Sebuah politik busuk yang dibalut hegemoni kemudian mampu menyetir paham radikal untuk mengkriminalisasi salah seorang aset terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. 

God
tears

Pak Ahok tentu sadar jika beliau tidak sendirian. Masih cukup banyak orang waras yang berusaha kembali menghidupkan toleransi di negara kebinekaan ini. Seorang revolusioner seperti Nelson Mandela pun pernah melakukan hal serupa untuk memerangi politik apartheid.  Hal yang menarik untuk dinanti kemudian adalah apakah Ahok mampu menjadi seorang revolusioner seperti Mandela. Mengingat sikap toleransi sedang loyo-loyonya, tentu harapan Indonesia bisa jadi ada di pak Ahok untuk dapat menjadi aktor dibalik revolusi toleransi. 

Tetap kuat, Pak Basuki Tjahaja Purnama! Kami selalu bersama mu.

8 comments:

  1. Sudah byk yang memberitakan ttg ini. Aku sbg warganegara ya berdoa aja biar kedepannya lebih baik. Kalo ngomongin mungkin ke mungkin bakal gk ada solusi, mungkin gak calon gub DKI atau mungkin ga ini dan gak itu. Yang udah terjadi ya harus dipertanggungjawabkan, siapapun dia.

    ReplyDelete
  2. ah sedih ya, semoga ini hanya permulaan akan suatu hal yang besar untuk Indonesia, I put Ahok's safety on His hands.

    ReplyDelete
  3. Kita mendoakan yang terbaik aja untuk pak Ahok..
    Setuju banget dengan pernyataan "aset terbaik yang pernah dimiliki Indonesia"

    ReplyDelete
  4. semoga masalah ini cepat selesai dan terbaik untuk p ahok

    ReplyDelete
  5. Semoga semuanya baik-baik saja sehingga rakyat pun ikut merasakan kenyamanan.

    ReplyDelete
  6. Saya pun berharap, semua kejadian ini dapat kita ambil hikmahnya. Karena kita tahu bahwa, dibalik sebuah kejadian pasti akan ada hikmah yg dapat kita petik.
    Semoga saja utk kedepannya bangsa indonesia tercinta ini menjadi lebih baik dalam segala bidang.

    ReplyDelete
  7. gegara ini nazar saya jika ahok menang kepala saya tak gunduli demi ikutan merasa senang, jadi nggak jadi karena ternyata si bekas Menteri Pendidikan yang dianggap nggak becus jadi menteri (dibredel oleh Jokowi) ternyata yang menangnya...huh

    ReplyDelete
  8. Aku sedih baca ini sbnrnya jev.. Tp biar gimanapun, ttp respect kepada pak ahok.. Dia pemimpin terbaik jakarta :(..2 thn dipenjara, ga bakal bikin bapak redup, aku percaya pak ahok justru akan makin bersinar..

    ReplyDelete

b:if cond='data:blog.pageType != "item"'>