Tuesday, June 20, 2017

Diparkir Tukang Palak


Selain mami-mami bawa motor yang lampu sen dan arah beloknya mengalami disparitas arah, maka salah satu masalah yang cukup meresahkan masyarakat di abad ke 21 ini adalah tukang parkir ilegal yang tidak bertanggung jawab. Datang tak diundang, pulang minta duit. Belum lagi ada tukang parkir yang suka matok harga secara berlebihan dengan metode abuse of power. Gue gagal mengerti, istilah apa yang tepat untuk menggambarkan fenomena dimana tukang parkir mematok harga secara gila-gilaan. Dipalak tukang parkir, atau diparkir tukang palak? 

Setelah kurang lebih 2 semester menikmati bangku kuliah BINUS, ada banyak kisah tidak mengenakkan yang gue dengar tentang pengalaman parkir motor di minimarket dekat BINUS Syahdan. Banyak yang ngeluh kalau tukang parkirnya matok harga terlalu tinggi Rp. 5.000 per motor padahal bukan tukang parkir resmi alias ilegal dan minim servis. Uhuk, gue cuma mau bilang, kalau kalian mengeluh karena disuruh bayar parkir ilegal Rp. 5000, kalian lemah.. kalian lemah... Gue pernah terpaksa bayar parkir motor ilegal Rp. 8000 per satu jam dan hampir terpaksa bayar Rp. 20.000 untuk satu setengah jam. 

Ciluk Ba kekok
Salah satu kisah kelam yang gue dapat di BINUS adalah pengalaman parkir yang tidak menyenangkan waktu ada kegiatan mahasiswa di gedung Syahdan. BINUS sendiri sejatinya memiliki 3 gedung yang diantaranya gedung Anggrek, Syahdan dan Kijang. Gedung Anggrek dan Kijang adalah 2 gedung yang memiliki fasilitas parkir yang lengkap, parkir mobil ada, parkir motor juga ada. Sedangkan, gedung Syahdan adalah gedung yang paling tidak pemotor friendly karena yang bisa parkir didalam cuma mobil dan motor yang ber-stiker resmi yang entah gimana dapetinnya.

Karena gue nggak punya stiker resmi, maka gue terpaksa mencari tempat parkir di luar Syahdan. Ternyata, parkir diluar Syahdan itu harus teliti dan berhati-hati. Gue pernah terpaksa bayar parkir motor Rp. 8.000 per satu jam, dan hampir membayar Rp. 20.000 per satu setengah jam. Padahal harga parkir seharusnya Rp. 2.000 dan paling mahal Rp. 5000 all time. Iya, parkir motor. Hebat kan..

Trik terbijak untuk parkir di Syahdan sebenarnya terbagi menjadi 3 langkah hemat. Pertama, paksa parkir di dalam gedung kalau nggak ketahuan penjaganya. Kedua, parkir di tempat parkir dekat Syahdan yang non mini market. Terakhir, jika anda memiliki mental kriminal, maka anda bisa mencoba untuk mengopek stiker di motor yang berstiker, lalu taruh stiker tersebut di motor anda. Namun, cara terakhir itu sangat tidak disarankan.


Harga tempat parkir yang ada di dekat Syahdan itu Rp. 3000, parkir di minimarket Rp. 5000 kalau belum ganti shift. Biasanya, anak Syahdan sejati kalau markir motor, parkirnya di tempat parkir yang Rp. 3000 all time itu. Permasalahannya kemudian adalah, tempat parkir anak Syahdan sejati itu cuma buka sampai jam 7 malam. Jadi, kalau ada rapat UKM atau rapat himpunan sampai lebih dari jam 7 malam, maka kita nggak bisa parkir disana dan terpaksa nyari tempat parkir lain. Minimarket pun sering menjadi pelarian sementara.. 

Suatu sore menjelang malam, gue pernah mendatangi pertemuan UKM di Syahdan. Karena tempat parkir yang anak Syahdan sejati itu udah mau tutup, gue terpaksa markir di Indomaret sebrang kampus. Biasanya, parkir disitu berjam-jam harganya tetap normal Rp.5000, tapi ternyata ada sesuatu yang berbeda dikala itu. Waktu dateng, gue udah bayar Rp. 5.000 ke si om parkir. Kurang lebih sejam setelah menghadiri pertemuan itu, gue kembali ke minimarket tersebut dan tetap ditagih duit parkir lagi oleh si paman parkir. Ada apakah gerangan? Ternyata tukang parkirnya ganti shift, jadi bayarnya harus double. Hebat ya, padahal resmi juga kagak, bisa ada shiftnya. Akhirnya gue terpaksa membayar Rp. 8.000 per satu jam untuk motor. Bukannya pelit, tapi masalahnya.. dikenakan biaya double tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, terus tukang parkirnya minim servis pula. Kan setan..

Tapi ternyata, sore itu bukan yang paling naas. Masih ada kisah naas parkir di minimarket dekat Syahdan lainnya. 


Lagi-lagi di suatu sore, dan lagi-lagi rapat UKM. Malam itu sekitar jam setengah 7 gue datang buat menghadiri rapat UKM. Karena tempat parkir motor yang anak BINUS sejati itu udah tutup kalau jam 7 malam, gue terpaksa nyari tempat parkir lain. Gue berniat untuk nerobos parkir di dalam gedung Syahdan, tapi gue teringat saat terakhir kali gue nyoba nerobos masuk gue ditegur sama petugas. Gue pingin parkir di minimarket sebrang Syahdan itu, tapi gue keinget pengalaman terakhir yang penuh jebakan saat parkir disitu. Akhirnya gue memutuskan untuk parkir di minimarket lain yang agak jauh dari Syahdan tapi nggak jauh-jauh amat.

Minimarket itu sama seperti minimarket dengan warna biru dan kuning yang mendominasi pada logonya. Awalnya gue parkir motor, dan karena sadar ada rapat yang akan memakan waktu cukup lama, setelah parkir disana gue nyari tukang parkirnya dan gue bilang kalau gue akan parkir disana mungkin sampai jam 8 malam. Tukang parkirnya kemudian nyuruh buat bayar duluan. Karena belum pernah parkir disitu, gue sengaja ngasih duit yang pastinya akan ada kembaliannya. Karena yang ada dibayangan gue parkir disana palingan Rp. 2000 dan paling mahal Rp. 5.000, gue ngeluarin Rp. 20.000 dengan skenario yang sangat gue yakini si tukang parkir akan memberi kembalian minimal Rp. 15.000. Tapi ternyata gue salah, skenario selanjutnya adalah..

Tukang parkir tersebut mengambil Rp. 20.000 tadi seraya berkata,
"Oke, duitnya pas ya.."
Lalu gue terkejut seraya berkata...
"Lah, kok mahal amat?"
"Iya, kan sampe jam 8.. lagian kan bakal ganti shift." dia membalas.
Gue memandang dia, dia memandang gue. Mata kami bertemu di satu titik. Untung saat itu tidak ada lagu romantis yang terputar.

Alasan yang dikasih si tukang parkir ilegal itu sangat tidak bisa dicerna logika. Iya emang sampe jam 8 malam, terus kenapa? Berarti kan cuma satu setengah jam, Iya masa Rp. 20.000? Udah ilegal, nggak resmi, cuma satu setengah jam doang, servis minim pula. Mending kalau gue bayar Rp. 20.000 terus gue dapet bonus pijat gratis, atau nggak voucher main PS di rental gratis selama sebulan. Lah ini, udah ilegal, malak pula. 

Akhirnya saat itu setelah bertatap-tatapan gue bilang nggak jadi parkir disitu. Gue kasih dia Rp. 2000, dia balikin Rp. 20.000 gue yang sudah bersarang di kantungnya. Sebelum gue benar-benar pegi, dia sempat berkata dengan tanpa dosanya.. "Yaudah 15 rebu aja deh". Gue menolak, lalu dia berkata..
"Yauda, pergi sekarang ya.."
Memang dasar aktor intelektual tak bermoral yang menciptakan permasalahan di abad ke 21. Miris juga sebenarnya, masih ada aja orang-orang begini. Udah nyamar jadi tukang parkir, malak pula. Untung sih, gue nggak jadi parkir disitu. Mungkin kalau gue ngasih duit pas saat itu, dan ternyata pulang lebih telat dari perjanjian, maka tragedi pemalakan yang akan terjadi bisa lebih parah lagi. Setidaknya ada pelajaran berharga di kisah kelam itu. Pertama, jangan parkir di minimarket. Kedua, kalau terpaksa parkir, bayar pake duit pas. 

7 comments:

  1. Hahaha menarik ceritanya 😂😂

    ReplyDelete
  2. sedih memang lur,,, memang uang 20000 gak bikin kita jadi miskin,,, hanya saja cara yang mereka dapatkan untuk mendapatkannya itu yang terkesan seperti cara - cara premanisme,, dan bukan kamu aja sih yang mengalaminya,,, ditempatku juga begitu,, tapi bukan tukang parkir,, tapi oknum tukang ojeg,, atau preman berkedok tukang ojeg,,,,
    aku mau jemput saudara di bus budiman,, kok aku harus bayar 10.000 ribu ?? sama rukang ojeg itu,, padahal pake motor sendiri,,,, besoknya aku ngomong di media,, tentang aksi pungli premanisme itu, karena kesannya mereka seperti diorganisir, dan dibiarkan,, bahkan dulu sebelum ada aksi cyber pungli, hal semacam itu dilakukan secara terang - terangan,,
    aku juga merasa kesel kalau denger cerita diatas,, Siapa yang mau bertanggung jawab atas akasi premanisme seperti itu ??? siapa ?
    Saran aku lurr... mending besok gerakin mahasiswa buat berantas aksi tukang parkir liar kayak gitu,,,
    bukannya apa - apa, kasianlah mereka makan uang hasil memeras,, tapi yah kalau memang ora iso,, yah ikhlaskan... hehehe, tapi kalau tiap hari kek gitu yah,, bisa tekor bandar... hahah :D

    ReplyDelete
  3. Padahal dulu keknya hampir semua minimarket berlaku parkir gratism tp skrg mahal banyak muncul tukang parkir dadakan.

    ReplyDelete
  4. Wedew, mahal amat tuh si kang parkir ilegal matok harga nyampe 20rebu, lebih-lebih parkir di mall dah. Gue selama markir motor belom pernah sih nyampe 20rebu kalo parkirnya ga resmi, pernah dulu markir motor gue kasih 2rebu eh dia malah minta 3rebu, kesel-kesel gue kasih seratus rebu (gue mikirnya ga ada kembalian dan gue bisa bebas), eh gataunya ada kembaliannya walau receh semua. The power of kang parkir tuh.

    ReplyDelete
  5. gila, baru tau aku kalau parkir di daerah kampus ada tarifnya ckckck
    di solo mah, free. gratis hehe, kecuali kalau pas ada event di kampus. itu baru bayar. tarifnya juga tarif flat, jadi ngga per jam macam parkiran mall gitu

    bener banget tipsnya itu, bayar pakai uang PAS! "mereka" kadang kalau dikasih pas gitu cuek, eee sekalinya dikasih lebih, kitanya yang dikasih kembalian.

    ReplyDelete
  6. gimana ya, kalo kita protes aksi tukang parkir kaya gitu nanti ngeles, bilangnya daripada nyopet, gak ada kerjaan lebih baik jadi tkg parkir, hih.. saya juga pernah brantem sama tkg parkir di minimarket, cuma ambil ATM doang, pas dikasih gopek gak mau hahaha

    ReplyDelete
  7. Ini nih namanya pemerasan bro. Gila,parkir cuman satu setengah jam bayarnya 20rb. Ini malah harganya setara parkir valet di hotel-hotel. Udah gak beres nih tukang parkirnya. Tapi yang saya heranin ada satu nih, emang di kampus mesti bayar parkir juga yah? harusnya sih enggak selama masih di wilayah kampus. Dan tukang parkir tuh apa gak pernah ada penertiban apa kokbisa-bisamasang harga gak wajar gitu.

    ReplyDelete

b:if cond='data:blog.pageType != "item"'>