Sunday, June 4, 2017

Mikel Comeback - Sebuah Kisah Pertemanan di Sekolah Menengah Akhir


Semasa sekolah dulu, secara general, kita pasti memiliki beranekaragam jenis teman. Ada teman yang setiap ulangan selalu ngakunya nggak belajar tapi tiba-tiba dapet bagus sendiri, ada juga temen yang setiap ulangan ngakunya sudah belajar keras tapi nilainya tetap aja jelek. Ada teman yang nilai akademiknya jauh lebih bagus dari nilai non akademiknya, ada juga yang non akademiknya lebih bagus jauh dari akademiknya. Ada juga teman yang selalu menasehati kita perihal asmara, tapi dia malah jadian sama orang yang sering kita curhatin, teman makan teman.

Tapi disamping itu semua, kita pasti memiliki satu teman yang pendiam dan nggak banyak bicara. Entah nggak ada yang mau berbicara dengannya, atau dia sendiri yang terlalu menutup diri. Kita pasti punya teman semacam itu, pasti..


buku tahun

Kemarin entah mengapa gue tiba-tiba iseng ngeliat yearbook SMA. Mungkin sekitar 20 menit halaman demi halaman gue balik dan gue resapi, ada rasa rindu untuk kembali memakai celana abu yang agak kebesaran itu. Agak berlebihan memang, padahal baru setahun jadi alumni. Nggak terlalu kerasa men, sekarang udah di pertengahan tahun. Rasanya baru kemarin tahun baruan dan menikmati suasana sebagai mahasiswa semester satu, sekarang udah mau UAS sebagai mahasiswa semester dua  aja.

Lembar demi lembar gue balik, sampai pada akhirnya ada sebuah halaman yang membuat gue berhenti menatapnya dengan cukup lama. Sebuah senyum mulai mengembang, ada sebuah kenangan yang mulai kembali bermain. Halaman tersebut mengingatkan gue tentang sebuah kisah di kelas 12 dulu. Sebuah kisah pertemanan, sebuah kisah tentang "Year Book" dan seorang teman pendiam yang nggak banyak ngomong...

***


2015, Pertengahan semester 1 kelas 12.

Semasa sekolah dulu, gue punya seorang teman yang pendiam dan nggak banyak ngomong. Sebut saja namanya Mikel, bukan nama sebenarnya. Nama sebenarnya sih, tapi diplesetin dikit. Kulitnya putih, kepalanya bulat, agak gendut tapi nggak gendut-gendut amat, matanya sipit. Semasa SMA, gue selalu sekelas sama dia. Gue nggak tau dengan jelas kenapa dia memilih untuk menjadi pendiam dan kurang membaur dengan yang lain. Pernah sekali waktu gue kelas 10 gue mencoba untuk ngecengin dia selama beberapa hari agar dia jadi pusat perhatian dan mungkin bisa berbaur, tapi dia malah marah dan membentak gue dengan cukup keras. Cukup keras, untuk membuat seluruh kelas terdiam saat pelajaran BP. 

Suatu hari di semester 1 kelas 12, Mikel nggak masuk selama beberapa hari tanpa pemberitahuan yang jelas. Ketika gue dan teman-teman gue yang lain dipusingkan dengan masalah pendaftaran universitas, wali kelas kami dipusingkan dengan ulah Mikel yang perlahan menghilang tanpa kabar. Hingga akhirnya suatu hari wali kelas gue masuk ke kelas dan menyampaikan sebuah pengumuman yang bernada sendu, kurang lebih pengumumannya seperti ini..
"Teman kalian, Mikel, sudah nggak masuk beberapa hari. Katanya dia mau mengundurkan diri, dia nggak tahan sama pelajaran Akuntansi."
Kelas yang awalnya cukup tenang kemudian menjadi sangat tenang sebelum akhirnya menjadi ribut. Spekulasi demi spekulasi yang melahirkan sebuah teori konspirasi pun tercipta. Wali kelas gue kala itu mengajak kami semua untuk membujuk Mikel agar kembali masuk sekolah.
"Kalau bisa, kalian ini kan temennya, bujuk dong si Mikel biar kembali ke sekolah."
Ada perasaan sedih, ada perasaan iba, ada juga perasaan yang biasa aja. Gue nggak habis pikir, betapa menakutkannya aktiva dan pasiva sampai-sampai dapat membuat Mikel berpikir untuk berhenti sekolah. Namun nyatanya, meskipun wali kelas telah melakukan tindakan persuasif agar kami membujuk Mikel, di hari itu nggak ada satu orang pun dari kami yang mengetuk pintu rumahnya untuk membujuk dia. 

Sampai suatu siang di hari Jumat, terkumpul lah beberapa orang dari kami yang memiliki niat baik untuk membujuk Mikel. Di paginya sendiri, wali kelas kami memang kembali melakukan tindakan persuasif secara verbal agar kami membujuk teman kami tersebut. Jumat siang itu, setelah pulang sekolah, terkumpul lah sejumlah orang mungkin sekitar 8 orang, gue nggak begitu ingat. Yang gue ingat cuma sekumpulan orang itu berisi satu wanita dan sisanya pria. Siapa sangka, sekumpulan orang itu memiliki niat baik. Ppada Jumat siang itu, terkumpul sejumlah orang yang ingin kembali membujuk temannya yang hilang harapan untuk dapat kembali bersekolah. 

Dan gue, gue masuk kedalam sekumpulan orang itu.

keren juga..
Sebut saja kami sekumpulan orang itu sebagai FPM, Front Pembela Mikel. Kami akan melakukan yang terbaik untuk dapat membangkitkan semangat Mikel dan membawa Mikel kembali ke sekolah kami yang tercinta. Maka dimulai lah perjalanan kami sepulang sekolah itu. Dibawah terik matahari di Jumat siang sepulang sekolah, dengan menggunakan beberapa motor kami mulai mencari rumah Mikel.  

Ada sebuah permasalahan yang kemudian timbul diawal perjuangan kami. Permasalahannya adalah... kami nggak tau dimana rumah Mikel, bahkan nomor handphone dia pun kami nggak punya. Tapi perjuangan FPM tentu tidak hanya disitu. Dengan modal "ingat-ingat" rumah Mikel dari salah seorang dari kami, kami memulai perjalanan mencari Mikel.

Ada gosip yang beredar kalau rumah Mikel berlokasi didekat sekolah negri, ada juga yang bilang kalau rumah Mikel pagarnya berwarna pink, ada juga yang nggak punya informasi apa-apa, kayak gue. Setelah melakukan perjalanan masuk keluar gang, kami terdampar di depan sebuah rumah yang kami curigai adalah rumah Mikel.

Satu hal yang sangat membuat kami yakin kalau rumah tersebut adalah kediaman Mikel adalah karena di depan rumah tersebut tergantung sebuah seragam yang kami curigai merupakan seragam sekolah kami. Maka dari itu, kami memberanikan diri untuk memencet bel rumah tersebut. Saat penghuni rumah keluar, kami lalu bertanya Apakah kediaman tersebut benar merupakan kediaman Mikel atau bukan. Dan dia menjawab... menjawab... menjawab... bukan.

Teman gue merasa cukup aneh, karena dia cukup yakin kalau rumah tersebut benar rumah Mikel, tapi penghuni yang keluar malah mengatakan kalau dia tidak mengenal Mikel. Dengan insting pecinta film thriller-mystery, gue mulai membayangkan skenario terburuk. Biasa aja, Mikel ini akan menjadi korban Human Trafficking. Biasa aja, karena dia pendiam dan tak memiliki banyak teman, keluarga dia ingin menjual organ tubuhnya? Biasa aja, rumah yang tadi itu adalah rumah Mikel dan organ tubuh Mikel sudah dibungkus di dalam freezer? Dan bisa aja, gue terlalu banyak berfantasi.

tebak yang mana dia..

tebak dia yang mana.. 
bunga ini sungguh harum..

Kami tentu tidak menyerah sampai disitu. Kami, dengan rasa solidaritas, kembali memutar otak untuk menemukan rumah Mikel dan mengembalikan dia ke sekolah. "Itu juga kalau organ tubuhnya masih utuh", pikir gue. Tapi gue percaya organnya masih utuh, dan gue yakin kalau kami bisa membawanya kembali. Kami bisa, pasti bisa.

Tiba-tiba terbesit sebuah ide jenius di benak salah seorang dari kami. Salah seorang dari kami memberi saran, 
"Kenapa kita nggak liat Yearbook SMP aja buat tau alamatnya Mikel?"
Crot, crot, crot. Gue menatap langit. Betapa bodohnya, kenapa kita nggak menggunakan cara itu dari tadi. 

Akhirnya, berlandaskan ide jenius itu, kita pergi ke rumah salah seorang dari kami terlebih dahulu untuk mengambil Yearbook SMP dan mencari alamat rumah Mikel. Setelah ditemukan, kami langsung bergegas menuju alamat yang kebetulan tidak jauh dari posisi kami saat itu. Dengan harapan dia belum pindah rumah, terdampar lah kami di depan sebuah rumah yang ditunjukkan alamat tersebut. 

Beberapa saat kemudian, kami mengetuk pintu untuk mencari pemilik rumah. Beberapa saat kemudian, muncul sesosok manusia yang sangat familiar dari dalam rumah tersebut. Sesosok manusia yang sepertinya sedang kami cari dari tadi. Ya, dia adalah Mikel. Ternyata, ini benar rumah Mikel. Ternyata, rumah mikel warna pagarnya bukan pink seperti kata teman gue tadi. 

Nggak lama kemudian, kami masuk kedalam rumah tersebut. Kami bertanya kenapa dia takut sama akuntansi? Kenapa dia nggak mau sekolah lagi? Kenapa dia harus pergi? Kenapa dia harus meninggalkan kami? Kenapa warna pagar rumahnya bukan pink? Ternyata, pagar rumahnya sudah ganti warna karena di cat. 

Kami berusaha sebisa mungkin untuk meyakinkan dia. Kami berusaha untuk membuat dia merasa tidak sendirian. "Kalau lu pindah sekolah ke Palembang, emang lo kira di sekolah lo yang baru nanti itu nggak ada Akuntansi? Tetap ada kali, malah lebih susah" kata salah seorang teman gue. Dengan wajah polos dan sedikit murung, Mikel berkata, "Oh iya, ya". Dan dengan wajah yang tidak murung, gue berkata dalam hati "DIALOG MACAM APA INI?!"

Sekitar setengah jam kami berada di dalam rumah Mikel. Sepintas, ada keyakinan dalam diri kami kalau dia akan kembali ke sekolah. Keyakinan ini bukan keyakinan yang tidak berdasar, keyakinan ini didasari dengan janjinya sendiri yang menyatakan kalau dia akan kembali bersekolah dan mengurungkan niatnya untuk pindah ke Palembang. Ada perasaan senang dalam diri kami, usaha keras kami ternyata tidak berakhir sia-sia.



Beberapa saat sebelum mengakhiri pembicaraan dengan Mikel dan pergi meninggalkan rumahnya yang warna catnya bukan pink itu, kami mengumpulkan tangan ke di tengah kayak orang-orang lagi turnamen futsal begitulah. Kami berusaha untuk menyemangati diri kami dan Mikel dengan genggaman tangan kebersamaan itu. Seketika, belasan tangan terkumpul saat itu. Tiba-tiba, entah siapa yang nyuruh, Mikel mengangkat tangannya dari kumpulan genggaman tangan tersebut seraya berkata...

 "Mikel, Comeback!"

Demi apapun, nggak ada yang nyuruh dia buat ngomong kayak gitu. Dia sendiri yang ngomong kayak begitu. Spontan, kami langsung tertawa geli bersama-sama. Tawa tersebut nyatanya merupakan tawa yang cukup bersejarah, karena tawa tersebut adalah tawa yang membawa Mikel kembali ke sekolah. Beberapa hari setelah kunjungan itu, Mikel kembali ke sekolah bersama kami dan pada akhirnya lulus UN bersama kami.


***
Sebuah putaran kenangan semasa SMA tentang yearbook dan teman pendiam yang terputar kembali sekarang perlahan mulai berhenti. Hari itu, mungkin adalah hari yang berarti bagi kami dan Mikel. Banyak hal yang dapat kami pelajari di hari itu. Pertama, ketika teman kalian merasa putus asa, kalian harus bisa membuat dia merasa kalau dia tidak sendirian. Kedua, ternyata yearbook bisa membantu kita untuk menemukan alamat teman kita yang kita tidak tahu. Ketiga, ternyata warna pagar rumah Mikel bukan pink. 

51 comments:

  1. Haha.. ada ada aja, FPM itu :)
    Itu di foto gimana mau nebaknya mas, banyak banget gitu...hehe
    Benar-benar perjuangan ya, Mas. Dan pada akhirnya bisa UN dan lulus bareng. Dan saat ini tentu menjadi kenangan banget ya, dimana pernah tergabung dalam From Pembela Mikel juga..he

    Baca ini aku juga jadi teringat masa-masa SMA dulu mas, terkadang kalau inget suka pengen kembali ke masa-masa SMA. Dilihat dari muka aku rasa masih oke..hehe

    ReplyDelete
  2. Buku kenangan SMAnya menarik ya. Dulu buku kenangan SMA ku gak terlalu bagus dan terkesan formal. hehe.

    Sepertinya kamu terlalu banyak baca buku atau nonton thriller. Makanya sampai berpikir bahwa Mikel adalah korban perdagangan manusia.
    Tapi, saya suka gaya penulisan di artikel ini yang menyisipkan humor tapi tidak lupa pada esensi tulisannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoi.. thriller all the way.

      Delete
  3. Wah, parah juga, ya, Mikel. Saking gak pahamnya sama satu materi jadi gak mau sekolah. Orang-orang seperti itu memang sangat butuh perhatian yang lebih. Untungnya dia mau dibujuk dan kembali ke sekolah dan akhirnya bisa lulus UN bareng-bareng.

    Masuk bareng, keluar bareng. Itu lah yang sering dikatakan temen-temen gue di sekolah. :)

    Btw, buku yearbook-nya bagus. Huh, pasti nanti kalo udah gak sekolah, jadi suka mengenang masa sekolah, ya. Sedih gue jadinya. :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. karena masuk bareng keluar bareng lebih menyenangkan daripada.....

      masuk lama keluar cepat.

      Delete
  4. Tulisannya bagus. Saya senang membacanya. Keep writing sahabat.

    ReplyDelete
  5. buku tahunannya keren :D itu mau nebank si Mikel gimana yak.. untung temannnya mau sekolah lagi ya, perjuangan FPM-nya nggak sia-sia. Tulisannya bagus, jarang ada cowok yang cerita detil dan bahasanya bagus di blog, keep writing :D

    ReplyDelete
  6. Jev.. Gue baca tulisan lu kali ini... Boleh baper gak? Pgn nangis gue bacanya. :'D Tentang prsahabatan dan solidaritas.. Masa SMA.. Ah indahnyaa..
    Kalian hebat skalii~

    Trs prtnyaan gue stlah baca ini:
    "Apakal mikel stlah come back jd ga pendiem lg?"
    "Lalu rumah yg pertama yg ada jemuran seragam kalian itu rumah siapa??"
    "Jadi pager rumahnya mikel tuh sbnernya warna apa?"

    Hmm, gue pnasaran. Rasanya sperti ada yg mengganjal klo gak nanya. Wuahahaa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahaha, lembut sekali perasan anda kak lulu :)

      Oke, gue jawab 3 pertanyaan diatas.
      1. Ya, dia tetap pendiam.
      2. Mungkin itu rumah dari anak yang sekolah di sekolah kami juga, tapi yang pasti bukan rumah mikel. Apalagi rumah makan padang.
      3. Pager rumahnya.. cokelat atau putih gitu,

      Delete
  7. Jadi kangen masa-masa SMA yang udah berapa abad yang lalu


    Wkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, jangan-jangan situ dinosaurus ya?

      Delete
  8. yaaah buku kenangan jaman sma gue udah ilang entah keman, padahal kayaknya ditaruh dirumah
    tau-tau ilang gitu aja. padahal nyimpen banyak kenangan jaman putih abu-abu :(

    salut dah, bisa sekompak itu satu kelas. ketika ada yg down dan mau mundur kalian ngasih semangat satu sama lain. ckck 2 jempol jev. ngomong-ngomong itu kenapa cat nya diubah segala sih, kan bagus pink ya? *seraaah lah, rumah-rumah dia. elu yang ribet XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bagusan pink, gue juga heran.

      Delete
  9. Buku alumni? Gak siap buka-buka lagi. Masih SMA sih, buku alumni SMP maksudnya. Jaman-jaman alay, kalo ngeliat antara geli sama pengen ketawa sendiri.

    Mikel nama samaran? Nama aslinya itu Michael, bukan? :v

    Di sekolah saya gak ada sih yang sampe pendiam kayak gitu. Ada yang diam, cuma tetap berbaur sama yang lainnya. Kalo kayak kasus si Mikel gak ada. FPMnya keren, punya inisiatif buat ngajakin temennya supaya mau sekolah lagi. Usahanya juga udah gak sia-sia karena Mikel mau sekolah lagi.

    Sebenernya, waktu kata-kata "Mikel, Comeback!" keluar, harusnya hening dulu. Enggak langsung ketawa. Apa cuma teman-teman saya aja yang gitu ya? Maklum otaknya pada lemot semua. Ya, gitu lah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, jangan-jangan lu agen FBI ya bisa tau fakta dibalik misteri

      Delete
  10. Gimana sih mas saya mau ngakak juga pingin sedih, hehehe kisah yang sangat memgasikkan dibaca. Saya juga pernah nangis bombay gara gara pelajaran akuntansi, debet kreditnya nggak balance Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. yoi, debit kredit piutang dagang faktur dan retur itu... memusingkan.

      Delete
  11. Jadi terhura ehh terharu... soalnya dlu punya temen juga yg pendiem gitu waktu SMA. Kemana2 selalu duduk di belakang pake topi dan jalan nunduk. Anak2 di kelas hobi banget nyandain dia dengan cara ngambil topinya terus di pter2 ke anak lain smbil dia yg ngejar2.. *jahat yahhh?? Umpung gue nggk pernah ikutan. Sumprittt

    Dia klo duduk sukanya di barisan yg ada guenya.. pernah tuh ngobrol berdua smbil mnum es teh di bawah pohon rindang smbil nggu jemputan. Gue tanya "kamu kenapa sih kok diem gtu.." ehh dia jawabnya katanya "malu sama yg lainnya, soalnya malu klo sering di jailin di depan temen2 yg lain". Gtu coba ya ampunn.

    Nah pesan moral yg bisa ditarik ; jangan suka bikin candaan ke orang yang nggk biasa. Emnk sih di kitanya lucu tpi di dianya kan bisa2 ada luka terpendam gtu.. skrang temen gue yg pendiam itu kuliah di univ negeri di Banten. Usut punya usut dia pernah menang lomba carur tingkat nasional di Univ.. keren yah....

    Ahh tuh kan gue kebawa curcol... wkwkkwkwkw



    ReplyDelete
    Replies
    1. Punya temen kayak begitu memang kayaknya setiap orang punya ya. Yap, nggak semua candaan bisa masuk ke orang kayak gitu.. harus di seleksi dulu :")

      Delete
  12. Membaca Artikelnya saya jadi teringat juga masa masa SMA dulu, masa masa SMA sepertinya masa yang sangat indah. iya betul mas, ketika SMA saya juga punya teman yang sangat pendiam dan ada juga teman yang cerewtnya minta ampun yang mulutnya seperti mercon bambu saja.hahaha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. ehehehe, 2 tipe teman yang sangat general ya

      Delete
  13. dulu juga gue punya temen yang kayak gini tapi gak separah ini sih. Masih bisa diajak becanda sama berantem, huahahahaha...

    Haduuh jadi inget masa-masa waktu itu ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. ajak nikah aja sekalian..

      Delete
    2. wadaw, temen gue cowok bro huahahaha..

      Delete
  14. Lihat foto" di atas berasa br kemarin saya lulus :D padahal sudah berapa dasawarsa lalu wkkkk

    ReplyDelete
  15. Jadi ingat masa-masa indah sekolah dulu..sedihh dechhh..hikk..hikk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sedih sich.. hikkk.. hikk

      itu hik hik bunyi jangkrik atau orang nangis? -__-

      Delete
  16. whoaaa baca artikel ini jadi ikutan mengenang masa2 SMA. Hmm, di mana ya buku tahunan gw ;p #ngubek2lemari

    ReplyDelete
  17. pas liat foto pertama, kirain itu cover novel. taunya, buku tahunan.
    kayknya cuma aku doang deh yang nggak pernah punya buku taunan, dari SD, SMP, SMK, kalau mau mengenang masa-masa itu ya cuma modal nginget-nginget sekenanya aja. hehehe

    tenang, mikel nggak sendirian kok. hampir semua temen kelasku di kampus,sekarang, semuanya takut sama akuntansi, termasuk aku. ah aku bukan takut sih tepatnya, cuma males aja. halah~

    btw, itu bukan foto tangan-tangan kalian dulu kan? kok ngeri ya kalau beneran tangan anak SMA udah pada buluan lebat gitu. eh
    hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. bukan, bulu kami belum selebat itu. itu foto tangan dari google..

      Delete
  18. Wewww front pembela mikel.. ckckck.. jd inget jaman sekolah dulu hmm.. itu tangan futsal yang di foto ada yang urat2nya banyak sama ada pula yang keliatannya dah uzur tuh kek nya... hehehe.. kidding (Y) mikel.. u r not alone (Y)

    Belajar Photoshop

    ReplyDelete
    Replies
    1. yoi, fron pembela mikel jauh lebih keren daripada front itu tuh.. itu loh.. itu..
      Front time new roman

      Delete
  19. Si pendiam mikel yang gak gendut gendut amat tapi amat frustasi sama akutansi 😃

    Aku gak punya yearbook!! Tapi kayaknya aku temenan di facebook 😂

    Syukurlah sudah kembali ke sekolah ya.. 😊

    ReplyDelete
  20. Hahahaha, akhirnya yaaa mikel balik :p. Lucuk deh temenmu.. Ntah polos, ntaah...... :D . Jaman aku smu jg ada temen pendiem yg begini.. Tapi jgn sepelein orang pendiam, krn kdg mereka memang bisa meledak. Kyk temenku itu, diliat pendiem, baik, tp pas ada guru yg ngegodain dia ttg nilai nya yg wkt itu ntah kenapa agak drop, dia meledak. Ke guruku itu.kita semua kaget. Diem.. Baru kali ini ada murid bentak guru wkwkwkwkwkw... Ajaiblah anaknya memang

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, kalau di flashback itu salah satu kenangan yang lucu di masa SMA :)

      Delete
  21. Kayaknya si Mikel udah depresi berat tuh, cuma gara-gara gak sanggup sampe pindah sekolah. Gue dulu juga gak sanggup tapi sanggup-sanggupin, soalnya gak punya biaya kalo pindah sekolah hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. gak punya biaya, tapi sekarang malah jadi anak hedon? mantap.

      Delete
  22. wuaa, aku terharu! mikel comeback!

    jadi inget dulu di sma ku ada yang begitu juga, dia melarikan diri. udah bujuk2 di jenguk ke rumahnya ga berhasil juga. dua orang deng! yang satu berhasil lulus un bareng2. yang satu engga, entah kemana dia sekarang ~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh buset! Sampe melarikan diri? Depresi amat kali ya.. :")

      Delete
  23. gue envy dehhh gue engga punya yearbook lhooo :( tapi gue suka sama kaliaan font pembela mikel, karna akhirnya si mikel mau kembali lagi, gue jadi inget, temen temen gue disni banyak yang berhenti kuliha hanya karena alasan jurusannya susah bahakan ada yang akhirnya kembali ke indonesia,mungkin harusnya di tempat gue ini juga harus ada font pembela semcamnya hahah

    ReplyDelete
  24. Emang yang namanya kenangan putih abu abu tuh kadang ngeselin, konyol tapi juga lucu dan unforgettable kayak macam temen lo itu si Mikel. Mungkin nama sebenarnya Michael kali ya. Hahaha sok tauu..tapi ya masa dia nggak mau ke sekolah karena males sama pelajaran Akuntansi...kan gimana banget gitu. Tapi emang namanya manusia mah kadang aneh aneh yak...Hmmm..jadi pingin inget inget dulu jaman SMA deh. Seru banget emang

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin aktifa pasiva telah merampas kebahagiaannya..

      Delete
  25. For you, as a writer, it would be useful to examine this page with numerous tips and helpful articles contributed by advanced writers.

    ReplyDelete

b:if cond='data:blog.pageType != "item"'>