Kind of Writer's Personality..


"Travelling" for Happiness
"Mahasiswing" for A Better Education

"Web Developing" For Digital Intellectual

"Searching" For His Missing Rib

Dewan Perwakilan Rakyat, atau Dewan Perwakilan Partai Oposisi?


Indonesia adalah rumah bagi lebih dari 250 juta jiwa warga. Tapi sayangnya, untuk rumah dengan penghuni sebesar itu, konflik internal antara petinggi DPR dan pemerintahan yang berkuasa kian hari terasa kian masif. Kedua pihak seakan tak pernah lelah beradu statement publik untuk menunjukkan kebijakan siapa yang paling mewakili rakyat, dan kebijakan siapa yang tong kosong nyaring bunyinya. Substansi dari 'loyo'-nya  harmonisasi antara petinggi DPR dengan pemerintah era Jokowi ini sebenarnya bukan hal yang sulit untuk diinterpretasi. "Kepentingan politik", merupakan substansi yang membuat Pemerintah dan DPR selalu bersebrangan dan sukar untuk duduk mesra. 

Jengkel nggak sih, headline berita lagi-lagi isinya sindir-sindiran petinggi DPR dengan Pemerintah? Kekuasaan yang seharusnya dimanfaatkan untuk mengaloksikan nilai malah terkesan disetir menjadi permainan oleh partai oposisi untuk menjatuhkan image pemerintahan yang berkuasa. Hal semacam ini kemudian yang membuat Indonesia stagnan di beberapa bidang. Ketika negara lain sudah memikirkan bagaimana berwisata ke bulan, bagaimana menciptakan mobil terbang, bagaimana menciptakan mesin waktu, Indonesia masih stagnan dengan polemik antara Pemerintah dan DPR yang sering berbeda cara pandang.

Tidak bersikap tendensius dalam menyikapi fenomena disharmonis Pemerintah dengan orang-orang tertinggi di DPR ini tentu merupakan hal yang sangat sulit. Jika kita memihak partai pemerintahan maka kita tentu cenderung akan mendukung segala kebijakan pemerintah, tapi kalau kita mendukung partai oposisi saat ini mungkin mendukung kebijakan DPR adalah hal yang cukup rasional. Jadi, apakah kritikan DPR yang sering kali disampaikan oleh Pak Fahri Hamzah dan Pak Fadli Zon itu rasional? Kalau menurut saya sih, no. 


Nyinyir mulu bang

DPR itu Dewan Perwakilan Rakyat, bukan Dewan Perwakilan Partai Oposisi. Yang diwakili rakyat, bukan partai oposisi. Tapi kenapa kebijakan-kebijakan yang diambil Pak Jokowi dan para mentri untuk mewakili rakyat sering kali di-'nyinyir' oleh Bung Fahri dan Bung Fadli? Mungkin karena kebijakan yang diimplementasikan pak Jokowi terdengar cukup nyeleneh, atau mungkin.. karena Bung Fadli dan Bung Fahri sama-sama dari partai oposisi? Intersubjektivitas.


Nyanyian Bung Fahri dan Bung Fadli di akun Twitter masing-masing kalau diamati pakai hati memang terasa cukup sadis. Hampir setiap kebijakan besar atau aktivitas yang diambil dan dilakukan pak Jokowi yang sebenarnya memiliki dasar yang jelas selalu dikritisi. Menjadikan hari Pancasila sebagai hari Nasional dinyinyir, Perppu Ormas Radikal dinyinyir,  keluarga Presiden ke Jerman pakai dana pribadi dinyinyir, semuanya dinyinyir. Nyinyir mulu, bang. 

Nyinyir tanpa dasar yang kuat pada akhirnya tidak akan lebih dari argumen yang dipaksakan. Kalau dibedah sendiri satu per satu substansi dari nyinyiran Bung Fadli dan Bung Fahri ini, yang ada emosi sendiri. Yang membuat gregetan sebenarnya adalah nyinyiran yang disampaikan bukanlah nyinyiran yang 'berbobot'. Kenapa sebagai 2 wakil rakyat tertinggi di bangku dewan, yang mereka kritisi bukan tentang permasalahan seperti korupsi? Kenapa justru permasalahan yang bukan masalah dipermasalahkan? Kenapa salah satu isu korupsi malah dianggap mitos? Kenapa saat parta oposisi mereka cenderung diuntungkan dengan isu sara saat Pilkada DKI 2017 lalu mereka tidak memberi nyinyiran yang 'sadis' bagi para pemakai isu sara? Mungkin karena kebijakan yang diimplementasikan pak Jokowi terdengar cukup nyeleneh, atau mungkin.. karena Bung Fadli dan Bung Fahri sama-sama dari partai oposisi? Intersubjektivitas.

Pelemahan KPK Termasif?



Akhir-akhir ini headline berita sedang dipanaskan dengan hak angket DPR ke KPK yang dinilai banyak pihak justru menjadi pelemah KPK. Melemahkan kredibilitas dan kinerja KPK, lebih tepatnya. Polemik tentu bergejolak di tengah masyarakat. Tapi yang menarik perhatian gue disini bukan tentang hak angketnya, tapi tentang argumen dari Bung Fahri tentang KPK. Bung Fahri disini seakan ingin mengkonstruksi pandangan yang melemahkan kredibilitas KPK dan bahkan di salah satu statementnya dengan tegas beliau katakan 'KPK harusnya dibubarkan'. Bukan hanya KPK, komnas HAM bahkan beliau katakan juga harus dibubarkan. Kebayang kan, bagaimana Indonesia tanpa KPK dan Komnas Ham?

Ada yang mau jawab pertanyaan mudah ini?

Isu pelemahan KPK kalau diperhatikan dengan seksama selalu muncul di setiap era kepemimpinan di satu dekade terakhir. Pihak yang melemahkan pun beraneka ragam. Mulai dari institusi keamanan, wakil rakyat, sampai bahkan 'presiden'. Waktu gue kelas 6 SD dulu, headline berita dipenuhi dengan Cicak vs Buaya, yakni perseteruan antara polri dan KPK. Beberapa tahun kemudian setelah presiden berganti dari SBY menjadi Jokowi, Cicak vs Buaya nyatanya bukan terputus rantainya malah melahirkan jilid keduanya. Isu lain yang tak kalah membuat gaduh negara adalah isu penangkapan Antasari Azhar yang dinilai banyak pihak sebagai aksi yang semena-mena oleh (tau sendiri lah ya siapa). 

Sekarang, isu pelemahan KPK bukannya semakin teratasi namun malah semakin masif. Disiram air keras, hak angket DPR, sampai ingin dibubarkan oleh wakil rakyat  menjadi bentuk representatif jika pelemahan KPK di era sekarang ini merupakan pelemahan KPK termasif. Mungkin cukup lucu, ketika banyak dari mereka yang bersenandung untuk membrantas korupsi tapi yang mereka lakukan bukan membrantas korupsi namun melemahkan institusi pembrantas korupsi. Entahlah, mungkin mereka sedang dag dig dug ser dengan kasus E-KTP yang sedang 'panas'.

Pada akhirnya, ketika negara lain sudah bicara tentang luar angkasa,  Indonesia masih sibuk dengan konflik disharmonis Pemerintah dan DPR. Ketika negara lain sudah memandang indah dan bulatnya bumi dari luar angkasa, rakyat Indonesia masih berdebat tentang bentuk bumi datar atau bulat. Tidak heran kemudian jika perdebatan Apakah bumi itu bulat atau datar benar-benar menjadi polemik, orang dana untuk pendidikannya di korupsi sama wakil rakyatnya.... sekarang institusi pemebrantas korupsinya mau diberantas juga malah. 
he-he-he.

19 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. kayaknya nih ada nada-nada greget sama duo F ini yah mas. Melihat berita-berita mereka kok isinya lebih menyudutkan yah, tapi salah mereka juga soalnya yang disudutkan malah makin berkembang gak gak hiraukan cuitan mereka. Soal KPK nih saya cuman kasih gambaran aja, suatu hari hidup seorang petani yang sedang punya masalah dengan rumahnya yang selalu didatengin tikus. akhirnya si petani membeli kucing supaya rumahnya aman dari gangguan tikus. si kucing pun akhirnya sukses tidak hanya 1 atau 2 tikus yang ditangkap dalam sehari. suatu waktu si kucing nih makin terasah skil nangkap tikusnya akhirnya si kucing dengan memberanikan diri meringkus sarang tikus tinggal. Gara-gara kepergok sama si kucing, semua tikus berhamburan keluar membuat isi rumah malah dipenuhin tikus. Dengan marahnya si petani menyalahkan kucing karena membuat rumahnya kotor karena tikus. Akhirnya si kucing diusir dari rumah dan si tikus kembali ke sarangnya dengan damai. Sesekali juga si tikus keluar sarang hanya ingin berterima kasih dengan petani.

    yah gitu aja deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan greget sih, hanya saja.. pusing, mual, demam tinggi, cikungunya.
      Hmm, sesungguhnya kalau kita melihat yang terjadi sekarang, petaninya bukan menyalahkan kucing. Hanya saja.. petaninya mau membela si kucing, tapi disharmonis kembali menjadi momok.

      Delete
  3. Mataku berbinar2 ngebaca apa yang masnya sampaikan tentang disharmonis yang terjadi.
    Yah aku sebagai warga negara yg cuma ngeliat dan ngedenger dari berita hanya bisa mikir ngebatin.. "ini gimana sih?? Kok kayanya makin runyem"

    Ada perasaan khawatir gtu gimana kedepannya.. dulu pas ikut organisasi aja punya rekan yang selalu nggk sepihak sama ADART, sama ketua aja udah sempet runyem.. ini gimana di pemerintah..

    aku nggk tau sih, kejadian dan faktanya gimana. Hehe tapi kalau berdasarkan apa yang aku lihat dan dengar yah aku sependapat sama masnya.. semoga Tuhan menunjukan kepada kita semua akan kebaikan... Aminnn

    ReplyDelete
    Replies
    1. Disharmonus untuk organisasi aja runyem ya, apalagi negara dengan penduduk terpadat keempat di dunia. huh

      Delete
  4. haduhh bahasnya politik, berat nih walaupun aku enggak ngerti banyak tentang politik tapi kayaknya di era ini "perpolitikan" sudah benar2 tidak bersih lagi, saling menjatuhkan.

    Nonton ILC yang bagian FH di kritik Tsamara kan ? pasti kesel nontonnya, sama, aku juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue netral sih waktu kritik-kritikannya, pingin tau aja lebih logisan siapa

      Delete
  5. Sebetulnya aku tipe orang yang tidak terlalu mengikuti arus politik.
    karna sudah dipastikan beritanya pasti yang itu-itu saja.
    tetapi belakang ini politik jadi semakin ga jelas arah dan tujuanya.
    Apalagi pas ada sosial media, yang nyinyir makin menggila.

    Indonesia memang benar-benar butuh pemimpin yang berfikir positif.
    Tidak melulu sibuk membahas hal yang itu-itu saja.
    terkait korupsi, aku sudah muak.
    KTP ku sudah setahun ga jadi-jadi !

    ReplyDelete
    Replies
    1. KTP tidak jadi? orang wakil rakyatnya lagi kena kasus korupsi E-KTP..
      hebat kan, warga biasa jadi krisis identitas karena kartu identitasnya di... begitulah

      Delete
  6. aku pusing kalo baca2 negatif kaya blokirjokowi dll. Yah, segimana pun juga, beliau presiden kita. dipilih oleh rakyat negara kita dengan hukum yang berlaku. Gak bisa apa ya, DPR share adan ajak rakyat dalam hal-hal positif. Belum tentu presidennya berlaku sewenang2, kalau ada buktinya. Baru deh kita bergotong royong membenarkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kok jdi ikutan panas juga hahaha

      Delete
  7. Jujur ya jev, salah satu alasan aku males nonton tv skr ini, krn ga pgn liat muka2 kayak si zonk ama si hamzah ato orang2 nyinyir lain yg kalo ngomong udh ketahuan bego, tp ttp aja ada yg bela -_- . Emosi kdg liatnya.. Apa segitu marahnya krn skr kesempatan korupsi makin susah sjk pak jokowi apa yaa? Makanya dpr ini makin ga malu ngebelain org2 korup.. Drpd liat tontonan begitu, makanya aku ogah liat tv lg. Suami kalo mau nonton berita, aku suruh nonton di tv luar, biar aku g ikutan gerah denger beritanya :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. keren kan, gerahnya aja bisa nular :)

      Delete
  8. itu orang komentar mulu dah saya di twitter -___-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebentar, jadi yang komentar mulu itu.. 'itu orang' atau 'saya' nya? hmmmm

      Delete

  9. ngikutin bertita juga bingunb sendiri, ini bertanya kadang opopsisi, kadang ndukung pemerintah makanya sekrang jarang nonton tv dan beralih ke sosmed. eh di sosmed isinya postingan fahri fadli yang bikin ingin berkata mutiara hhhh
    cari duit gitu amat ya, nyinirinn program pemeritah, ngelemahin kpk.
    anjis paragraf terakir ngena banget. haha
    great post, Jev

    ReplyDelete
  10. Kayaknya gue sependapat dengan lu jev
    DPR ITU sebetulnya dewan perwakilan partai bukan rakyat,

    Kalo 2 orang Anggota DPR diatas mah, tong kosong nyaring bunyinya, banyak nyiyirnya Tampa kasi solusi.

    ReplyDelete

BELI SEPATU KUY!

@bokangco_id