Tuesday, August 8, 2017

Budak-budak Gengsi


Selamat malam, pelacur eksistensi. 

Dari semua Social Media yang lagi digandrungi anak muda, Path dan Snapchat adalah 2 buah Social Media yang pualinggg gue hindari. Karena percaya atau tidak, setuju atau enggak, Social Media sejenis itu mampu menjadikan kita sebagai budak-budak gengsi dan budak-budak eksistensi tanpa memberi edukasi yang 'penting'. 

Bukannya bermaksud bicara tanpa membuktikan, gue sendiri pernah mencoba 2 buah Social Media tersebut saat SMA. Snapchat awalnya gue coba waktu kelas 10 dulu, terus gue gaptek nggak ngerti cara mainnya terus gue delete. Path gue coba dari kelas 10 dulu sampe masuk kuliah awal-awal, dan akhirnya gue delete. Bukannya anti, tapi ngerasa nggak sih, Social Media semacam Path atau Snapchat itu makin kesini makin disalahfungsikan menjadi media untuk berkompetisi siapa yang lebih 'ber-gengsi'? 

Makin kesini, orang-orang terkesan seakan menjadikan Social Media seperti Path ataupun Snapchat sebagai media untuk beradu daily activity siapa yang paling keren. Pergi ke tempat ellite yang berkelas terus upload ke Path, hanya untuk menebar gengsi. Kalau uploadnya jarang-jarang mungkin masih bisa ditolerir, tapi kalau setiap ada dimana di upload, gunanya Apa? Maksudnya, ya udah situ pergi ke tempat itu, terus gunanya buat orang lain apa? Edukasi apa yang bisa diberikan? Nothing, dude. Mungkin buat anak-anak Path dan Snapchat sejati, statement gue ini tidak lebih dari statement seorang yang nggak tau asiknya mainan Path ataupun Snapchat, tapi yasudah lah, pandangan setiap orang memang berbeda.

Semacam generasi millennial yang mengabadikan momen di kamar kecil

Kalau lagi nongkrong bareng temen, topik pembicaraan yang paling membuat gue muak adalah ketika topik sudah mulai membahas daily life seseorang lewat social medianya. "Eh tau nggak, si itu di pathnya lagi di blablabla" atau "Eh tau nggak, si itu kemarin abis blablabla".  Masalahnya adalah, ya udah kalau si itu lagi disitu dan si ini lagi dimana dan seterusnya, untungnya buat kita tau dia lagi dimana itu apa? APAAAAAA?? Selain untuk dijadikan bahan gosip, nggak ada untungnya tau orang lain lagi dimana dan di tempat se-ellite apa gitu loh. Lebih menarik buat gue untuk tau Siapa nama presiden di sebuah negara atau Apa isu politik terkini di sebuah negara ketimbang tau orang yang kita kenal lagi makan di restoran apa. Bobot intelektualitasnya nggak ada, cuy!

Mungkin, memang bukan salah Social Medianya ketika society menjadi seperti itu. Tapi sadar atau enggak, Social Media memiliki andil dalam memberdayakan generasi-generasi yang punya banyak 'pengetahuan dalam hal yang tidak penting'. Tau orang lagi makan di restoran apa, atau nonton di bioskop apa, atau lagi ngapain, pentingnya buat kita apa gitu loh? Hal yang cukup menyedihkan dewasa ini adalah ketika banyak orang di sekitar kita yang punya banyak pengetahuan, tapi pengetahuannya itu pengetahuan yang nggak penting, pengetahuan tentang 'kehidupan' orang lain yang sebenarnya nggak ada untung-untungnya untuk diketahui. Beda cerita kalau kita penasaran sama kehidupan seorang Bill Gates atau Mark Zuckeberg, yang mungkin bisa menginspirasi.

Mengemis likes demi sesuap eksistensi, melacur demi legetimasi digital. Begitulah, kasarnya.  Mungkin bukan cuma di Path ataupun Snapchat, mungkin semua social media pun bisa dijadikan sarana kompetisi untuk meraih gengsi. Tapi kalau bisa jujur, Path dan Snapchat mungkin masih menjadi sarang-sarangnya orang-orang yang diperbudak oleh gengsi. 

Pada akhirnya, cara pandang seseorang memang berbeda-beda. Apa yang kita anggap keren, belum tentu dianggap keren sama orang lain, dan begitu sebaliknya. Apa yang kita anggap freak, belum tentu dianggap freak oleh orang lain, dan begitu juga sebaliknya. Dan sekarang, menurut gue,  Social Media seperti Path ataupun Snapchat, bukanlah Social Media yang keren karena terlalu memberdayakan banyak budak-budak gengsi di dalamnya. Orang lain mungkin berpikir berlawanan, dan itu sesuatu yang sangat wajar. Mengaplikasikan daily activity ke dalam sebuah tulisan blog menurut gue adalah sesuatu yang keren karena dapat merepresentasikan intelektualitas seseorang dalam mengatur kosa kata. Tapi , di belahan bumi sana mungkin ada orang yang menganggap menulis daily life di blog sebagai hal yang freak, dan itu pun sangat wajar karena cara pandang orang memang berbeda-beda.

21 comments:

  1. Yosh aja sih bang.
    Hampir sama juga kaya blog dll pokonya media sosial lah.
    Positive thinking aja yg begitu itu pingin bikin hidup dia abadi dalam dunia digital. Ntar sama anak cucu bukannya buka album foto, tapi buka akun media sosial mwehehehe xDDD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoi, revolusi kenangan.. album foto terganti perannya dengan social media.

      Delete
  2. saya juga kepikir kalau sosial media sekarang cuman di pake buat riyah-riyah-an. pamer ini lah, itu lah. INTINYA GENGSI DIUTAMAKAN. yah tinggal kita aja sih yang nilai baik buruknya.

    ReplyDelete
  3. Hahahaha, aku suka mindset mu :D. Jrg yg seumuran ama kamu ga suka path. Rata2 pasti suka. Kako snapchat aku ga main. Ga prnh install punm path ada, tp jarang bangetttt buka. Utk semntara ttp msh lbh asyik IG dan FB :D. Path buatku memang kyk ajang pamer yaa. iG sbnrnya bisa aja.. Tp temen2ku di IG lbh intelek pamernya.. Pake captionnya jelas dan detil, jd secara ga lgs ngasih informasi jg.. Beda ama temen2 di path. Cm upload, selesai :p. Malesin liatnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu kayaknya oke-oke aja mbak, tapi semenjak negara gengsi menyerang...

      Delete
  4. Postingan yang menyadarkan banget ini bang. Kalau path dan snapchat lebih mengedepankan eksistensi, kepameran, gaya, memamerkan yang lebih berkelas, sebenarnya semua socmed pun juga kayak gitu. Yah semua sama, sama-sama wadah untuk pamer. Padahal kenyataannya gak gitu juga yaa hahaha.

    Lagian, orang-orang kesepian butuh wadah seperti path dan snapchat supaya dapat perhatian dari orang lain (orang banyak). Karena logikanya, orang yang sama sekali gak kesepian, gak akan mungkin memamerkan apa yang dilakukannya ke orang banyak (sosial media) karena dia udah ngerasa bangga dengan hidupnya, untuk apa dipamerkan ke orang-orang. Orang-orang kesepian adalah orang-orang yang butuh perhatian dari orang lain, makanya mereka cari perhatian dengan update segala macem gengsinya di wadah path snapchiii.

    Kenapa gue bisa bilang gitu? Karena ini pengalaman huahaha.

    willynana.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. hmmm, ada baiknya orang kesepian mencari aktivitas yang lebih menjanjikan keimbang memberdayakan gengsi lewat media social kayak path

      Delete
  5. hhhhmmm.. betul banget..
    nggak cuma dua itu sih, yang lainnya juga.
    aku sih dri dulu emank nggak tertarik dan nggak pernah ngegunain snapchat. klo path pernah tpi udh nggak aktif lagi.. abisnya serada gmana gitu. dulu gue pernah di ajak main sama temen gue ke kota tua. disana kita ketemuan sama temennya temen gue. masa ngajakin kita minum di kafe batavia biar eksis. terus dengan alaynya dia foto dan gue lihat dia kaya bangga gitu bisa makan di batavia cafe.. entah kenapa.. hahaha

    sekarang mah yah gitulah.. lebih mikirin gengsi daripada harga diri. diajak makan di pinggiran jalan gengsi. semuanya gengsi. ahh yaudhlah yah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seperti itulah.. budak-budak gengsi

      Delete
  6. Mungkin menurut gue yang jadi budak gengsi selain snapchat adalah instagram kali ya. These days gue juga jadi kehilangan gairah untuk main sosmed tapi yaudah lah ya. Mau diapain lagi :")

    ReplyDelete
  7. nah, dulu juga sempet bingung ni maksud path sama snapchat tu gimana? cuma kudu sering mosting-mosting daily life biar diliat orang banyak? really? agak gimana gitu. lagi, dulu awal-awal IG & WA ada fitur macam snapchat yang bisa bikin status/story juga sebenernya agak nggak suka & kurang nyaman, apalagi kalau liat story yang sampai banyak - bejibun ria muncul di beranda kita. iiiissssh, rasanya pengen mbuang hape hahaha

    ReplyDelete
  8. Setuju, sekarang social media jadi ajang Pamer kekayaan, lagi nongkrong ubdate, lagi di moll ubdate, lagi dikamar mandipun orang bisa ubdate, haha, sudahlah.

    Untung ak tidak pernah mainin path Dan snapchat

    ReplyDelete
  9. AKu punya path tapi sudah dihapus karna sadar betapa tidak pentingnya aplikasi itu.
    ENtah salah aku yang cari pertemanan atau memang Path isinya seperti itu, orang-orang pamer.
    Aku juga punay snapchat tapi tidak pernah di gunakan selain untuk negliat snap-snap berita, itu seru sih muehe

    ReplyDelete
  10. kalo PATH udah gak pake sejak 2 tahun lalu sih.. gak ngerti juga fungsinya apa, gak ada yang bisa dipamerin soalnya itu kan tempat pamer haha. Kalo snapchat juga gak ngerti mainnya gimana, katanya kayak Instasory. Gak asing dong. Haha :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Instastory gue main sih walaupun jarang2, tapi jarang buka instastory punya orang lain karena gak begitu butuh pengetahuan orang lain lagi ngapain :")

      Delete
  11. Udah mau sy uninstall aja itu path. Temen2 jg sdh ga pake lagi. Saya setuju dgn cara pandangmu trhadap path. Mmg kecenderungannya jadi ke arah pamer ya. Klo snapchat malah udah lama g pake. Mungkin sdh 3 tahun ngga. Kita mmg hrs hati2 dan sering instrospeksi diri jg ttg pemakaian medsos ini.

    ReplyDelete

b:if cond='data:blog.pageType != "item"'>