Merdeka Rasa Retorika, Polemik "PATUNG" setelah 72 Tahun Merdeka

Dengar. 
Meski meriam asing mendentum,
Namun rasa cinta tanah air yang menyetrum membuat mereka tak gentar pada ultimatum.
dipert
Namun percayalah, 
tak perlu larut berlama-lama dalam kesedihan, karena segala jerih payah mereka berhasil membawa teks proklamasi ke panggung kemerdekaan. 
Sampai 72 tahun kemudian, 
kemerdekaan yang mereka perjuangkan kembali dipertanyakan. 


                      


Dirgahayu Indonesia. Tepat di hari ini, tujuh puluh dua sudah usianya. Setelah 72 tahun merdeka, nyatanya wajah Indonesia masih merepresentasikan kebimbangan. Bimbang, selama 72 tahun merdeka, masalah justru kian masif mendera. Di tahun ke 72 ini, arti dari merdeka kembali ingin sekali "gue" pertanyakan. Indonesia di tahun 2017 ini nampaknya masih dijajah secara masif. Bukan penjajah asing lagi yang menjajah, tapi sikap intoleran yang merajalela penjajahnya.

Merasa paling benar, radikal pada primodial, dan dimotori hasrat membabi buta terhadap kekuasaan. Tiga elemen itu mungkin merupakan 3 elemen yang membalut sang penjajah yang bernama "intoleran" tersebut. Sudah terlalu banyak kasus yang cukup terasa intoleran di negri ini. Yang terbaru dan terkini mungkin bukan lagi kerusuhan 98, atau Pilkada DKI, namun "patung". Ya, patung, benda mati tak bergerak itu kini dapat menjadi ancaman tersendiri bagi beberapa kelompok tertentu. 

Patung Kongco Kwan Sing Tee Koen , Tuban 

Beberapa waktu yang lalu, gue sempat melihat postingan di Facebook tentang patung di Tuban yang diancam akan dirobohkan oleh sekelompok massa. Seminggu kemudian, berita tersebut menjadi viral dan sangat menjadi polemik. Alasan 'sekelompok massa' itu beranekaragam. Ada yang bilang karena menyembah berhala, ada yang menganggap karena patung  dewa Kongco Kwan Sing Tee Koen yang tingginya 30 meter itu jauh lebih tinggi ketimbang patung-patung pahlawan nasional lainnya. Setelah viral dan menjadi polemik, dalam semalam patung dewa setinggi 30 meter tersebut kemudian menjadi pocong setinggi 30 meter setelah ditutup kain putih. 


Lucu sih, kalau memperhatikan debatnya netizen di social media. Ada yang ngebahas berhala-berhalaannya, ada yang ngebahas izin "IMB" nya, ada juga yang ngebahas tingginya. Bukannya berniat sok ngerti, namun menurut interpretasi gue yang harusnya menjadi permasalahan dari patung tersebut memang adalah perizinannya. NGGAK USAH BAHAS TINGGI, DAN LAIN SEBAGAINYA. Kalau ada izin, patung tersebut legal dan seharusnya sah-sah saja. Lagian, patung tersebut berada di wilayah komplek kelenteng, bukan di pertigaan jalan atau di perempatan loh, di komplek kelenteng cuy. 

Substansi dari sah atau tidaknya patung dewa tersebut seharusnya adalah perizinannya. Diluar dari itu semua, percaya atau tidak, sikap "intoleran" lah yang menjadi penyebab polemik yang tejadi. Mungkin untuk beberapa orang, mereka percaya jika menyembah patung adalah berhala. Tapi untuk orang yang memiliki kepercayaan lain dan memperbolehkan menyembah patung, gimana dong? Apa sampai harus dirusak juga patungnya? Begitulah, Merdeka Rasa Retorika.

Kisah patung dewa di Tuban tersebut nyatanya bukan cerita baru di Indonesia. Beberapa kisah serupa terjadi juga di kota-kota lain. Begini, kita asumsikan saja terlebih dahulu kalau patung dewa di Tuban tersebut memang "ilegal" karena nggak punya izin.  Lantas, Apakah patung-patung berikut ini juga nggak punya izin? Terus, kenapa ikutan di rusak?

Patung Naga di Pontianak, padahal keren loh patungnya..
Patung Arjuna di Purwakarta

Patung Maros di Sulawesi Selatan (dirobohkan pihak mall setelah di protes)


..dan masih ada banyak patung lainnya yang mengalami hal yang serupa.


Ketika bukan perizinan ataupun legalitas permasalahannya, lalu kenapa dipermasalahkan? Percaya atau tidak, sikap primodial lah yang memobilisasi massa. Beberapa waktu lalu, gue sempat membaca sebuah komentar dari salah satu netizen, "Don't underestimate the power of stupid people in large group". You know what? That is so damn true.  Lucu memang, ketika sekumpulan massa mampu mengintervensi sebuah keputusan secara sepihak. 

Melihat berita akhir-akhir ini tentang massa merusak dan merobohkan patung, gue jadi inget berita yang pernah gue baca dulu:


Hmmm, agak mirip ya
cikal bakal?

Pantas, di Indonesia yang tercinta ini nggak ada madame tussaud. Mungkin kalau ada, sekelompok massa yang terjangkit penyakit intoleran akan menutupi patung-patung lilin dengan kain putih atau bahkan dirobohkan.

Merasa paling benar nyatanya masih menjadi virus mematikan yang kemudian menciptakan penyakit intoleran tersebut. Biasanya, ketika orang sudah merasa paling benar niscaya dia akan berusaha mengkoreksi apa yang dia anggap salah, padahal apa yang dia anggap salah belum tentu benar-benar salah atau bahkan tidak sama sekali. Kalau koreksinya disampaikan melalui sebatas opini saja itu mungkin masih bisa ditolerir, tapi kalau sudah menjadi aksi yang merugikan suatu pihak, itu tentu masuk ke dalam golongan yang cukup meresahkan.

Merdeka rasa retorika bukan hanya sebuah ungkapan kekecewaan. Sudah tujuh dua puluh tahun merdeka, tapi dewasa ini masih terlalu banyak aksi intoleran yang terjadi. "Indonesia ada karena keberagaman", setidaknya begitu kata Gus Dur. Sadar atau tidak, sikap intoleran merupakan penjajah sesungguhnya yang kemudian dapat memecah belah bangsa. Indonesia itu sudah 72 tahun teman-teman, mau sampai kapan memelihara sikap intoleran yang mampu merusak sendi hidup berkebangsaan? Jangan pernah pesimis dengan negara kebinekaan, karena Indonesia itu layak diperjuangkan. 

Indonesia layak untuk diperjuangkan. Hidup berbangsa dengan sejuta budaya itu lah yang menjadikan Indonesia indah. Sudah 72 tahun hari ini, sudah terlalu tua usianya untuk masalah seperti "intoleran". Berjuang bersama mungkin adalah langkah terbijak untuk menjadikan Indonesia semakin hebat, bukan merasa paling benar untuk menentukan apa yang paling baik secara sepihak. 

Merdeka! 

hehehe.

15 comments:

  1. Merdeka rasa retorika, iya ya, sekarang orang banyak main hakim sendiri, merasa paling benar.

    Mudahan dikedepannya sikap toleransi menjadi hal yang utama, supaya negara ini tetap damai.

    Ow ya, itu patung Arjuna bagus lohh, kok tinggal kakinya doang, 😩

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenapa dibakar? intoleran, selesai.

      Delete
  2. merinding liat videonya pandji, cuma sebentar tapi daleem. makasih udah share hal kaya gini :)

    ReplyDelete
  3. cuma takut kayak Yugoslavia
    udah gitu aja

    ReplyDelete
  4. Saya pun menyimpan kekhawatiran sendiri dgn perkembangan yg seperti ini. Ngeri banget klo perpecahan benar2 terjadi dan negara kita dikuasai oleh kelompok yg mngatasnamajan agama pdhal tindakannya jauh dri tuntunan agama. Setuju Jeff, fokus dulu ke perijinannya ya. Klo ada ijin ya berarti legal.

    ReplyDelete
  5. Terlepas dari permasalah ijin (yang memang sudah seharusnya dipatuhi -apabila ijin belum ada-).
    Indonesia itu beragam, kita semua tahu itu, makanya ada semboyan Bhineka Tunggal Ika di negara kita. Tapi semua yang sadar dan berpikir juga tahu, keanekaragaman ini yang seharusnya jadi cikal bakal persatuan kita, sudah digunakan sebagai senjata sejak dulu oleh pihak yang punya kepentingan tertentu.
    Semoga kita bisa menebarkan kebaikan lewat tulisan kita, dan menarik lebih banyak orang untuk sadar kalau indonesia itu bukan hanya untuk satu suku, satu agama, satu ras, dsb. Mari berjuang bersama :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sayangnya, keanekaragaman sedang dijajah secara masif oleh sikap intoleran :")

      Delete
  6. Merinding wasem.

    Waktu Pandji nyanyi bait itu gue mewek dalam hati. Inget pas ikut tujuhbelasan di Thailand, di konsulat Songkhla. Krn banyak orang gue cuma pasang muka datar, padahal aslinya pengen nangis garuk rumput inget rumah :'

    Hmmmm yaaaa....jadi serbasalah. Mau memegang teguh ajaran ntar dikira radikal, kalo toleran dianggap murtad, dll. Susah memang. Apalagi banyak banget kepala di Indonesia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya gak sulit untuk bisa toleran. Cukup menghargai, selesai.. sayangnya yang radikal itu selalu merasa paling benar. Kenapa harus takut dianggap murtad, kalau memang kita membela sesuatu yang benar?

      Delete
  7. Sekarang intoleran udah berkembang di mana-mana di Indonesia ini. Bikin nggak nyaman banget.

    ReplyDelete
  8. ya begitulah pemandangan baru di wajah negeri kita ini...
    kayanya baru akhir-akhir ini deh sifat intoleransi makin sering kejadian.. atau karena guenya aja yang masih nutup telinga karena sangking mirisnya ngedengernya..

    semoga negera ini bisa mnjadi ramah kembali seperti sedia kala.

    ReplyDelete
  9. Kenapa patung soekarno hatta, patung pelari di bundaran Senayan, ama patung2 lain di jakarta ga dirobohin sekalian ama orang2 tolol itu ya..

    Aku kdg ga pengen baca berita begini, krn gemes, marah, kesel ama kepicikan orang2 intoleran itu jev.. Plus lagi mereka tolol krn terlalu gampang dihasut. Dikira enak kali ya tinggal di masa perang sodara krn perbedaan agama kayak dulu di ambon :(

    ReplyDelete

BELI SEPATU KUY!

@bokangco_id