Recomended Movie For This Month (click the pict)


Little Big Master (2015)

Little Big Master (2015)
Little Big Master (2015)

Read The Review

Here

Read The Review

Here

Ngacir 6 Hari ke Malaysia Part 2: Batu Caves di Selangor Dahulu, Chinatown di Petaling Kemudian


Di hari kedua, itinerary kami membawa kami untuk mengunjungi Batu Caves dan Chinatown. Untuk bisa sampai ke Batu Caves yang merupakan tempat wisata berupa goa dan bukit kapur yang cukup terkenal di Malaysia, kami harus menggunakan monorail terlebih dahulu untuk menuju ke KL Sentral (stasiun) hingga akhirnya bisa tiba di Batu Caves yang merupakan pemberhentian terakhir di rute kereta. Setelah mengeksplor Batu Caves, kami kemudian kembali lagi ke KL Sentral pada siang hari lalu pergi ke Chinatown di Petaling dengan menggunakan grab. 


Perjalanan ke Batu Caves sendiri ternyata penuh lika liku. Sebenarnya sederhana, tapi menjadi penuh cobaan ketika kami dibuat harus menunggu cukup lama untuk kedatangan kereta dan hampir salah naik kereta. Bukan hanya hampir salah naik kereta, kami juga 'hampir' membawa beberapa turis bule salah naik kereta. Hmmmm.. 
Ngacir 6 Hari ke Malaysia Hari ke 2:
Batu Caves, Chinatown, Central Market 

Sekitar jam 9 pagi waktu KL kami keluar dari hotel untuk mencari sarapan pagi sebelum pergi ke KL Sentral untuk menaiki kereta ke Batu Caves. Tidak begitu jauh berjalan, kami singgah di salah satu tempat makan yang pemiliknya adalah sepasang suami istri orang.. mungkin Hongkong, atau China daratan. Entahlah dia orang apa, istrinya terlalu ramah untuk seorang China Daratan, namun bahasa Melayu dan mandarinnya oke. Dia sedikit bercerita dengan bahasa mandarin tentang anaknya yang kuliah di Australia. Ngomong-ngomong, selain Melayu dan India, Kuala Lumpur memang didominasi oleh masyarakat keturuna China baik daratan maupun Hongkong, jadi wajar kalau bahasa mandarin dan Cantonese tersebar dimana-mana.  Ngomong-ngomong lagi, seperti perjalanan dengan menggunakan paspor sebelumnya, gue nggak pernah dikira turis asal Indonesia. Selalu kalau nggak diajak bicara bahasa mandarin, cantonese, ya... Thailand. 

Di tempat makan itu, gue untuk pertama kalinya mencoba nasi lemak. Udah cukup sering mendengar tentang nasi lemak, tapi baru pertama kali nyoba nasi lemak. Nasi macam apakah nasi lemak? Apakah nasi yang ditaburi lemak manusia/hewan? Bukan, cuma nasi yang mungkin semacam nasi uduk ala Malaysia dengan tawaran beberapa sayur lainnya. Rasanya sih.. enakan nasi uduk, rasa nasi uduk lebih punya ciri khas yang konsisten. 

Selepas makan, kami pada awalnya berniat untuk membeli saldo MRT yang sekali isi sekitar 50 ringgit-an (kurs 1 ringgit Rp. 3.100). Tapi setelah dipikir baik-baik, kami akan jarang menggunakan MRT di KL,  jadi sayang kan kalau 50 ringgit terbuang sia-sia untuk cuma sekali atau dua kali naik. Maka dari itu terdamparlah kami di Air Asia Monorail Bukit Bintang untuk menaiki monorail ke KL senter. Media saldo di monorailnya cukup lucu, bukan berupa kartu namun seperti kancing baju yang agak kegedan yang kemudian nanti akan ditempel di mesin kartu. 

Setelah menggunakan monorail dan sampai di KL Sentral, barulah kami menunggu kereta komuter yang menuju Batu Caves di Selangor yang ternyata cukup lama datangnya.

monorail
Komuter
Setiba di tempat tunggu kereta komuter, hanya butuh beberapa saat saja sampai sebuah kereta komuter tiba dan pintunya terbuka. Dengan penuh percaya diri, kami masuk karena di bagian rute yang ada di dalam kereta, ada tulisan Batu Caves di paling akhir. Lalu beberapa saat kemudian, ada 2 orang turis pria bule yang juga ikutan masuk dan bertanya kepada kakak gue 'apakah kereta ini akan menuju ke Batu Caves?' Dengan percaya diri, kakak gue menjawab, 'ya'. Lalu salah seorang dari mereka duduk di sebelah gue. 

Lebih dari 20 menit kemudian, keretanya masih belum juga jalan. Kayaknya, keretanya memang masih nunggu penumpang atau ada jadwal keberangkatannya sendiri. Hingga akhirnya tiba sepasang turis bule lain kalini wanita dan pria yang masuk ke kereta tersebut dan bertanya kepada salah seorang warga India lokal yang ada di dalam kereta 'Apakah kereta ini menuju Batu Caves atau tidak?' Lalu warga loka tersebut menjawab 'tidak'. Lalu sepasang turis bule tersebut keluar dan dengan sotoynya, turis pria yang duduk di sebelah gue langsung mengejar 2 orang turis yang keluar tersebut dan mengatakan kalau kereta ini akan menuju ke Batu Caves. Dan setelah ditegaskan sekali lagi oleh wanita lokal asal India kalau kereta ini tidak menuju Batu Caves, akhirnya keempat turis bule tersebut pergi meninggalkan kereta beserta dengan gue, kakak, dan nyokap yang juga ikutan turun meninggalkan kereta. Saat itu, hampir saja ada 7 orang turis yang terjebak yang mengira kereta yang mereka naiki akan menuju Batu Caves padahal tidak. Begitulah.

Setelah keluar dari kereta yang menjebak, kami kembali terduduk di stasiun tersebut menunggu kereta selanjutnya yang seharusnya benar-benar menuju ke Batu Caves. Ternyata, kehadiran kereta selanjutnya cukup lama, mungkin sekitar setengah jam kemudian dan setelah tiba pun kereta tersebut masih menunggu lagi sehingga mungkin total 1 jam-an setelah menunggu dan naik baru benar-benar bisa berangkat. Hingga kemudian akhirnya, kami benar-benar berada di kereta yang menuju ke Batu Caves dan akhirnya tiba di Batu Caves....

Batu caves
Batu Caves



Batu Caves adalah tempat wisata semacam bukit kapur yang terdapat goa diatasnya. Untuk bisa sampai ke goa, ada 272 anak tangga yang harus dinaiki terlebih dahulu. Tempat yang erat dengaan peribatan umat Hindu ini sendiri memiliki sebuah patung Hindu berwarna emas yang sangat ikonis di depan anak tangganya. Patung raksasa dan anak tangga adalah penyambut kami sebelum akhirnya bisa sampai ke goa.





Sebelumnya, gue sempat mencari informasi tentang tempat wisata menarik di Malaysia. Salah satu hasilnya adalah Batu Caves ini. Kalau diperhatikan dari sejarah dan situsnya, tempat ini memang cukup menarik. Setelah di eksplor, 272 anak tangga yang ada ternyata cukup berhasil membuat kemeja yang gue pake basah. Nggak apa-apa berkeringat, asik sih. Lebih asik lagi mungkin kalau bawa ember penuh dengan air naik turun 272 tangga. Biar pulang-pulang langsung jadi Shaolin.


naek
turun
Sampai di tempat paling atas, tidak banyak yang bisa kami lakukan selain liat-liat pemandangan yang agak gelap dan becek di beberapa titik. Untuk masuk ke goanya sendiri, tidak kami lakukan. Kami hanya tiba didepan goa karena untuk bisa masuk, harus ngumpulin 15 orang dulu baru bisa ikut tur di goa yang cukup gelap dan banyak fauna-fauna menarik. Salah satu momen cukup akward yang terjadi di Batu Caves ini adalah ketika... gue pas-pasan dengan bule yang 'hampir' kami sesatkan tadi. Dia ngeliat gue, gue ngeliat dia, entah mungkin dia menyimpan dendam atau tidak. 

Setelah berkelana dan berkeringat, kami akhirnya kembali ke stasiun Batu Caves untuk kembali ke KL Sentral. Lagi-lagi, kami harus menunggu cukup lama karena keretanya ngaret dari jadwal seharusnya.

Tiba kembali di KL Sentral, kami kemudian memesan grab untuk pergi ke Chinatown Kuala Lumpur yang terletak di daerah Petaling,
Chinatown Petaling
Chinatown di Petaling nggak terlalu jauh beda sama Chinatown di negara lainnya seperti Singapore mungkin. Ada lampion, pernak-pernik China, atmosfer dibuat seperti pasar China. Yang menarik waktu gue datang kesini, ada sebuah mobil tua ditengah jalan yang mungkin sengaja ditinggalkan entah untuk alasan apa. Jadi kalau masuk dari arah depan, kita bisa menemukan mobil yang kita kira lagi berusaha melewati kerumunan, tapi ternyata mobil itu nggak maju-maju karena nggak ada yang nyupirin. Entah memang dijadikan ikon, atau mungkin itu mobil milik salah satu penjual yang ditinggal didepan toko atau mobil yang kebetulan lewat lalu sopirnya kebelet pipis jadi ditinggal ditengah jalan terlebih dahulu.

Nggak jauh dari Chinatown atau mungkin memang didalamnya, ada pasar seni atau yang biasa lebih dikenal dengan nama Central Market. Kami masuk ke dalam Central Market untuk membeli beberapa oleh-oleh atau cemilan. Milo mungkin menjadi favorit di toko cemilan Central Market, karena dimana-mana ada aja milonya. Ada perbedaan milo yang ada di Indonesia dan Malaysia, gue lupa tapi kalau nggak salah abang tokonya yang ternyata dulu sempat belajar di Indonesia bilang kalau milo di Malaysia itu cokelatnya dari Ghana atau gimanna gitu. Penampakan toko-tokonya sendiri ya kurang lebih di Thailand-kan seperti 'Asiatique' versi mini. Cukup nyaman dan bersih, tapi nggak bersih-bersih amat mungkin.


dalam central market
Sampai sekitar jam setengah 8 malam, kami masih berada di Central Market. Kebetulan, di depan Central Market mungkin lagi ada semacam bazar atau semacamnya. Orang Korea yang jualannya rame, prilaku gila foto ala Korea pun juga ikutan kelihatan. Sambil nunggu grab, gue terduduk di depan tangga Central Market sambil melihat pemandangan Orang Korea yang foto-foto. Hingga akhirnya grab datang, kami kembali ke Jalan Alor. Menikamti makanan di Jalan Alor dahulu, terbaring cukup lelah di hotel kemudian. 

19 comments:

  1. Seru bat liburannya, apalagi ditambah drama salah kereta wkwk itu yang bikin liburan makin berkesan ya, btw dimana - mana kenapa chinatown selalu punya arsitektur bangunan yang bagus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang menarik di Chinatown itu justru bukan bangunannya, tapi suasana dan dagangan pinggir jalannya :)

      Delete
  2. Inilah yang membuat liburan makin seru, kejadian yang tak terduga akhirnya datang juga hahaha

    Wah dikira turis dari Thailand, berarti wajahmu mirip orang thailand ya, kalau nasi lemak aku pernah denger pas nonton upin ipin, ternyata mirip nasi uduk toh, aku kira nasi yang terbuat dari lemak hehe, emng kalau gak tahu suka ngasal nih .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Entahlah... mirip ong bak kali..
      Begitulah nasi lemak.

      Delete
  3. Hahaha, itu kenapa bulenya gak dibawa pulang aja di jadikan oleh-oleh.

    Oh iya, itu anak tangganya kok kelihatan miring banget ya, dari fotonya aja ngeri lihatnya. Kasihan yang berbadan dua, kayaknya gak bisa naik meskipun hanya 272 tangga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. nanti emaknya marah anaknya dijadiin cindera mata :")

      Delete
  4. Duh bawaannya kalo baca tulisan travel blogger gini jadi pengen jalan-jalan. TT

    Poor dompet dan jatah cuti yang tidak bersahabat.

    ReplyDelete
  5. Kok bisa-bisanya bilang "Ya" padahal sama-sama baru pertamakali ke situ, Jev... -_-

    Untung aja ada orang India yang baik hati. Kalo nggak, kan kalian sudah entah di mana...

    Aku pernah ke Malaysia juga, tapi belum sempet ke sini. Lebih seneng jalan2 di Malaka, Perak, Terengganu, Muar dan tentunya Kuala Lumpur + Putra jaya.

    Mungkin lain kali masih banyak tempat keren di Malaysia yang bisa lu eksplore bro...

    EH, waktu pandag-pandangan dengan Bulenya gimana??

    Dia kelihatan KZL banget gak? hahahaha. Lu sih..

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu lah the art of "Sotoy"

      Gue ke melaka sama putra jaya kok bro.. dan emang asik banget, terutama melaka. Suasananya oke bingits.

      Delete
  6. Waduuuwww ... hampir menyesatkan sesama turis. Hihihi. Emang kadang kalo jalan itu, pakai GPS (Gunakan Penduduk Sekitar) seringnya lebih ampuh daripada googling sesuka jiwa ya. Untung ada orang India yang ngasih ilham, kalo nggak, bisa keliling kemana entah lah kalian.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yoi, untuk ada GPS berdarah India ya :)

      Delete
  7. Batu Caves dan Chinatown emang jadi destinasi yang wajib banget di kunjungin kalo di Malaysia.
    Aih aku ga nyangka ternyata transportasi di Malaysia masih membingungkan yaaaa.
    Jadi harus kejebak gitu deh sama Bule yang kamu sesatkan ?! O.o

    Aniway, serunya perjalanan emang kaya gitu harus dapet kendala.
    Dengan begitu bang Je jadi punya cerita yang bisa di share di Blog wkwk

    Ah sayang banget ga bisa masuk goa dan liat fauna2nya.
    padahal aku penasaran banget loh pengen liat dalemnya,
    soalnya kebanyakan temanku kalo ke MY pasti motonya hanya di depan patungnya saja, seperti kamu gitu jev wkwk.

    tapi makasih deh ya share critanya aku jadi tahu sedikit gambaran tentang negara pembalik bendera Indonesia ini wakakak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoi, Batu Caves itu menarik tapi.. untuk daya eksplor sih agak kurang kalau belum masuk goa. Masuk goanya harus nunggu 15 orang sih bro, kan males yak.

      Delete
  8. Widih bikin iri. Aku juga ada jadwal ke Malaysia Singapore tapi tahun depan. Udah booking tiket sih. Haha. Tapi paspor belum punya.

    Wah ceritamu ini nantinya jadi rujukan buat aku dan teman teman nih. jadi bisa melist wisata mana yang asyik buat dikunjungi saat kita di Malaysia.

    Selamat jalan jalan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mantap, nikmatilah dan resapilah..

      Delete
  9. Keren tuh media saldonya, bisa buat pake main karambol.
    Hmmm... keluar Jawa aja gue belum pernah. Apalagi keluar negeri. Tiap baca beginian bawaannya pengen jalan-jalan juga. Apalagi pasti ada kejadian tak terduga di setiap perjalanan.
    272 anak tangga?! Kaki dikasih pemberat, tangan bawa ember, mantep tuh. Biar dikira cosplay temennya Boboho :D
    Oh iya, emangnya ngumpulin 15 orang itu sulit ya? Apa pengunjungnya sesepi itu? Bisa jadi itu konspirasi. Mereka minta ngumpulin 15 orang itu buat bikin...
    .
    .
    Tim Shaolin Soccer

    ReplyDelete
  10. Jev, aku dulu juga gak tau nasi lemak apaan dan gak pernah makan juga sih. Mending nasi uduk ya wkkwkww
    Aku pengin bgt ke Chinatown tapi tak tahulah kapan doaku terkabul. Btw mungkin milo banyak peminatnya kali ya disana

    ReplyDelete

BELI SEPATU KUY!

@bokangco_id