Recomended Movie For This Month (click the pict)


Little Big Master (2015)

Little Big Master (2015)
Little Big Master (2015)

Read The Review

Here

Read The Review

Here

Puasa Social Media: Sebuah Kemajuan, atau Kemunduran?

genki deska

Kalau nonton film romance konvensional, gue selalu merasa 'iri hati'. Gue iri dan agak penasaran, gimana rasanya punya hubungan asmara tanpa terintervensi social media? Bukan cuma relasi dalam asmara, relasi dalam kehidupan, lebih tepatnya. Tipe relasi yang cukup langkah tentunya untuk anak kota jaman now.

Anak kota jaman sekarang itu bukan cuma 'ketagihan' social media, tapi 'ketergantungan'. Lebih sederhananya, bayangkan sebuah situasi ketika kita sedang berada di sebuah restoran bersama dengan teman atau pacar kita. Selagi menunggu menu yang misalkan estimasi kedatangannya 1 jam lagi, apa yang akan kita lakukan? Bohong rasanya, kalau kita atau dia enggak menyentuh gadget untuk sekedar melihat chat atau membuka instagram beserta social media lainnya. Entah secara sadar atau tidak, bohong rasanya kalau kita tidak melakukan itu. BOHONG...

Film romance konvensional itu..

Film romance konvensional itu kadang kerasa lebih ngena, karena relasi mereka ya relasi sesama manusia tanpa intervensi ponsel pintar dan social media yang begitu masif. 

Coba bayangin kalau di film Love Letter (1995) itu udah ada social media. Mungkin adegan yang cukup legend waktu si pemeran utama teriak-teriak diatas salju "Genki DESKAAAAAA Genki DESSSS" itu nggak bakal ada. Adegan tersebut mungkin akan diganti dengan adegan dimana si wanita ngepost foto di instagram dengan pose ditengah salju sambil menuliskan caption yang disertai hastag "Genki Deska, #cute #japanese #asiangirl".

Atau...  Coba bayangin betapa stressnya si 'Allie' tua di film The Notebook (2004). Kalau di zaman itu udah ada social media, mungkin doi tua yang terkena 'Alzhaimer' akan cukup stress karena harus ngereset password melulu. Maklum, setiap jam lupa password. Atau film Titanic (1997), mungkin kalau udah ada Snapchat disaat itu.. adegan saat Jack dan Rose yang diatas laut beberapa saat sebelum kematian Jack akan dilengkapi dengan adegan Jack yang menggigil kedinginan lalu difoto sama Rose dengan filter anjing lalu dimasukan ke Snapchat dengan caption "RIP MY HUBBY :")". Kayak gambar ini....

kind of... Rose n Jack ini the Filter of Snapchat

hmmm

Film romance konvensional selalu membuat iri, karena butuh perjuangan ekstra untuk bisa menghubungi si doi. Lewat surat mungkin, atau paling canggih lewat email. Sehingga... setiap kali pertemuan terasa sangat berharga, karena memang cukup sulit untuk berinteraksi. Coba sekarang? Mau ngomong tinggal chat.. DM... dan kawan-kawannya, sampai-sampai kadang pertemuan antara pacar atau teman secara langsung selalu kerasa biasa-biasa aja dan tidak spesial.  Sekalinya ketemu, mainan gadget, dikit-dikit foto buat di post, postingannya bahkan lebih masif daripada interaksi waktu ngedate, hebat. Bukannya nggak bersyukur akan perkembangan teknologi, cuma.. terlalu banyak value yang justru 'dirusak' perkembangan itu sendiri.


Sekali lagi, social media itu bukan cuma membuat ketagihan, tapi ketergantungan. Adiktif lah, bahasa berintelektualitasnya. Dampak dari ketergantungan social media itu kemudian dapat jauh lebih 'mengerikan'. Percaya atau enggak, akan ada prespektif baru yang lahir dari rasa ketergantungan bersocial media.

Jangan munafik, kita semua tahu..

Akan timbul prespektif-prespektif yang sebenarnya penuh konspirasi ketika kita terlalu candu dalam memainkan social media. Tidak perlu munafik wahai budak-budak eksistensi, kita semua yang pernah bersocial-media untuk rentang waktu yang cukup lama pasti pernah memiliki pertanyaan-pertanyaan seperti ini di benak kita..
Kenapa dia nggak pernah like gue, padahal gue selalu like dia?
Kenapa dia nggak followback gue, gue kan kenal sama dia?
Dan yang terkini, keresahan para wanita pemilik akun kloningan di Instagram yang akunnya nggak di followback temen sendiri..
Kenapa dia nggak followback second account gue? Kenapaaaa?
Semua pertanyaan itu tentu ada jawabannya sendiri. Bergerak dari pertanyaan tersebut, muncul lah jawaban-jawaban yang konspiratif seperti, 'dia nggak like gue padahal gue selalu like dia, jangan-jangan dia marah sama gue karena.....' atau.. 'Gue follow dia tapi dia nggak followback gue, pasti dia pingin di komen minta followback dulu biar keliatan eksis'. Yap, inilah sebuah fenomena dimana teori konspirasi mulai berbenturan dengan kegiatan di social media. Sentimen negatif kita terhadap seseorang bisa tercipta hanya karena 'ambisi digital' kita entah untuk mendapat like atau followback tidak terpenuhi. Luar biasa kan, anak muda?

Bukan hanya sentimen negatif nan konspiratif terhadap seseorang yang terbentuk, tentu social media pernah membuat kita membandingkan diri dengan orang lain entah itu dalam hal gaya ataupun pencapaian. Bukan seperti itu, anak muda?

Mencoba hidup tanpa social media..

Hidup tanpa social media itu sulit, betul? Yap, melepaskan diri dari candu memang sangat berat. Nggak perlu sampai jadi orang yang 'anti social media', untuk bisa terlepas dari jeratan social media. Cukup puasa social media untuk beberapa saat, niscaya kita akan lebih mengetahui value dari hidup di dunia yang sesungguhnya. Dan itulah yang sedang berusaha gue lakukan...

Hidup tanpa social media itu sarat akan sentimen negatif. Setelah melakukan riset, gue berkesimpulan bahwa kebanyakan anak muda yang kekinian akan mendeskripsikan seseorang yang nggak punya social media atau jarang bersocmed dan socmednya minim interaksi sebagai orang yang.. anti sosial, mungkin. Ketika kita memutuskan untuk puasa social media, maka kita memutuskan untuk puasa berinteraksi secara digital dengan orang-orang sekitar kita. Dan ketika kita melakukan itu.. percaya atau tidak, sentimen negatif pun akan lahir.

Beberapa waktu yang lalu gue membaca beberapa tulisan tentang orang yang pernah bereksperimen hidup tanpa social media selama beberapa waktu dan.. cukup terinspirasi. Mereka selalu berbicara tentang nilai kehidupan sesungguhnya  yang bisa lebih terasa ketika kita meninggalkan hidup kita di social media. Dan... Sejujurnya, bukan hal yang sulit buat gue untuk meninggalkan dunia social media. Lebih sulit buat gue untuk nggak melakukan aktivitas seperti menulis atau menonton film ketimbang nge-socmed. Berhubung blog bukan termasuk socmed, jadi aman-aman aja.  Log out tinggal log out, menikmati hidup tinggal menikmati hidup, tapi permasalahannya adalah..... komunitas blog yang gue ikutin adanya di facebook, dan facebook adalah social media, dan itu berarti gue cheating kalau masih bersentuhan dengan facebook padahal udah menegaskan diri untuk puasa social media.  

Lebih konfliktualnya lagi, gue masih cukup aktif mainin toko online. Dan yang namanya toko online itu erat dengan aktifitas social media. Ternyata, mencoba hidup tanpa social media itu berat ya. Maka dari itu, agar menemukan titik temu, gue memutuskan untuk puasa social media pribadi. Toko online, tetap jalan..

Sebuah kemajuan, atau kemunduran?

Mencoba hidup tanpa social media itu bukan tentang kemajuan atau kemunduran, tapi tentang mencoba menghargai hidup. Setidaknya itu yang gue yakini.

Zaman semakin maju, social media adalah inovasi dalam teknologi. Ketika kita memutuskan untuk out of social media for a while, itu bukan berarti kita mengalami kemunduran dalam cara berpikir karena tidak mengikuti zaman. Justru itu cara kita menghadapi dan 'mengantisipasi' perkembangan zaman. Pada akhirnya kita hidup di dunia nyata, bukan dunia media sosial.

'Fear of missing out', pernah dengan istilah itu? Fear of missing out atau fomo adalah fobia dimana penderitanya takut untuk ketinggalan hal terkini di medsos. Yap, beitulah dunia kita hari ini. Ketika dunia social media terlalu dibawa serius, virus FOMO bukan lagi menjadi sesuatu yang tabu.

Ketika likes kita puluhan, kita akan bertanya-tanya bagaimana caranya agar likes kita bisa ratusan. Ketika likes kita ratusan, kita akan bertanya-tanya bagaimana caranya agar likes kita bisa ribuan. Hal tersebut tentu merupakan sesuatu yang sangat wajar.. karena eksistensi, menjadi salah satu hal yang paling diburu. Tapi ada sebuah kutipan yang pernah gue dengar dan sangat gue yakini kebenarannya..
Sedikit lebih beda lebih baik daripada sedikit lebih baik
kutipan tersebut adalah kutipan dari seorang Pandji Pragiwaksono dan gue.. beribu-ribu persen setuju. Menurut interpretasi gue, ketika kita berpikir bagaimana untuk bisa lebih baik, maka kita telah berpikir bagaimana caranya berkompetisi. Tapi.. ketika kita berpikir bagaimana untuk bisa berbeda, maka kita telah berpikir bagaimana caranya melahirkan inovasi. Boleh aja kita berkompetisi dalam liga eksistensi tentang siapa yang paling viral, tapi.. apakah itu akan membuat hidup kita di dunia yang sesungguhnya menjadi lebih berkualitas? Mungkin bisa ya, ataupun sebaliknya.

Zaman sekarang, siapa sih yang nggak bisa main social media? Semua orang bisa, tinggal bikin. Tapi.. tapi zaman sekarang, siapa sih yang bisa terlepas dari social media? Percayalah, tidak semua orang bisa melakukan itu. Dan seharusnya 'apresiasi' adalah hal yang harus diberikan kepada orang yang bisa melakukan itu. Karena ketika seseorang bisa melakukan apa yang banyak orang tidak bisa lakukan, maka orang tersebut berbeda dan tidak ada yang lebih keren daripada menjadi berbeda.

try living without social media and become more productive.....  for a while
Mari kita lihat..
Lepas dari social media seharusnya dapat memberi pengalaman baru yang bisa lebih berarti. Apakah hidup tanpa social media merupakan bentuk kemajuan atau kemunduran dalam hidup? Mari kita lihat.. Mungkin beberapa saat kemudian akan ada tulisan baru di blog ini dengan judul '30 hari tanpa social media atau... 60 hari tanpa social media.' Mari kita lihat.


                        

10 comments:

  1. Suka gw kalo ada orang yang nulis tentang sosial media, bagi gw kita tidak perlu puasa sosial media yang pergu kita lakukan adalah mengendalikan diri dan tahu waktu kapan harus menggunakan sosial media.

    jangan sampai saat kita sedang kumpul sama temen malah kita sibuk dengan sosial media kita dan melupakan yang ada disekitar kita.

    yang gw wanti - wanti jangan sampai semboyan " menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh " sepenuhnya terwujud

    ReplyDelete
  2. Bang, masa iya blog bukan sosial media sih?

    Hmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm. Ya.
    Setuju sama komen bang Asdita di atas sih. Ga perlu puasa sosial media (kalo mau nyoba sih gapapa), tapi pengendalian diri yang tepat.

    Kalo gue, justru kalo lagi sendiri tuh yang potensi ngabisin waktu dengan nge sosmed bisa ga keruan hahaha. Tapi kalo udah kumpul sama teman, keselnya setengah mati kalo mereka sambil pegang hape :(

    Mengenai teori konspirasi itu, emang bener......beberapa kali muncul sebagai bahan obrolan dalam groupies. Bahkan sampai di obrolin serius. Bisaan aja emang.

    ReplyDelete
  3. Menurutku juga gitu, memang susah kalau hidup tanpa sosial media, tapi, bukan berarti terus-terusan di hadapkan dengan media sosial. Aku paribadi memang setiap harinya gak melulu dihadapkan dengan medsos. Begitu juga dengan ngeblog, ibarat ada jadwalnya..

    Aku setuju tuh dengan komen mas Asdita. Aku kalau siang suka off dulu untuk sosmed, biasa aku lakukan untuk jalan-jalan, seperti sepedahan. Intinya mah pinter-pinternya bagi waktu untuk bermain medsos dan yang lainnya.

    Semoga dengan adanya medsos, bisa share apapun itu yang bermanfaat :)

    ReplyDelete
  4. HAI JEFF!

    Oh man, it's sooo true. Kayak di video dan yang lo bilang itu. Semua orang kayak punya penyakit baru yaitu anti-social walopun mereka sebeenrnya sedang bersosialisasi, but what's the emaning of that kalau kenyatannya mereka cuman asik upload foto \, check in dll cuman buat pencitraan doang, tapi momen kebersaannya nol besar.

    Makanya gue dan suami itu bener bener memegang teguh kalau marahan nggak boleh update status saling sindir atau apapun yang berhubungan dengan masalah yang kita hadapi. Lagipula who cares? nobody...just make it worse. Okeh sip

    ReplyDelete
  5. Hahahahahaha
    I see the point

    That's why gue suka film film romance lama
    Gak ada hape hapean sama sekali
    Soswit nya beda hahahaha

    Btw iya nih, skrg gue juga agak ngurang2in sosmed
    Tinggal IG sama twitter sih

    Itu juga masih belum cukup "ngurangin" hahaha

    ReplyDelete
  6. Bener banget, teknologi yg sebenarnya membuat kita maju menjadi bumerang untuk diri kita sendiri.

    Kayak film Suckseed, mungkin adegan dimana Ped menembak Ern tidak akan seperti itu. Mungkin Ped terlebih dahulu akan menyindir lewat Twitter, lalu Ern memberi kode lewat snapgram. Sampai akhirnya, keduanya pacaran lewat dm.

    ReplyDelete
  7. Teknologinya semakin berkembang, para penggunanya yang mengalami kemunduran

    Semuanya sudah pada ketergantungan dengan sosial media dan sibuk dengan gadged nya masing-masing.

    Ak pernah berkumpul sama teman sendiri, waktu itu hp ak masih nokia senter dan hp mereka Android Mereka memainkan sosia media permainan yang lagi hits dan pembahasannya pun tentang android mereka masing2, aku terasa sunyi di keramaian. Nak ikut nyambung tidak ngerti apa yang mereka bahas, mereka asik dengan dunianya, tampa menghiraukan orang sekitar, jd ak hanya bisa terdiam meliat mereka bermain hpnya masing-masing

    Ngiris memang teknologi merubah pola pikir pengunanya. Ini menurut ak iya jev.

    ReplyDelete
  8. Aku ga bisa bayangin kalo sampe rose tega snapchat an si jack pas lg dying gitu hahahahaha... Dia akan jd sasaran bully netizen pasti hihihi... Aku sendiri blm bisa jev lepas sehari aja dr sosmed. Pernah coba sejam, dan gagal di menit ke 30 menit wkwkwkwkw..

    ReplyDelete
  9. IG, Pth udah tak uninstall
    fokus di kerjaan sih soalnya
    cuma yg ga bisa lepas twitter karena mesti update berita dari situ'
    klo puasa lebih nahan gak nyinyir ya
    tapi sulit banget heuhu

    ReplyDelete
  10. Ya, pasti hampir semua orang maen sosial media. Tapi gue sih lebih dubatasi aja, klo bener2 gak maen. Ah sudahlah. Rasanya gak mungkin. Hehe

    Klo pas ketemu si doi, temen2 atau lainnya. Gue usahakan sih nyimpen hp gue. Silent deh. Paling itu sih cara gue agar pertemuan lebih berkualitas. :)

    ReplyDelete

BELI SEPATU KUY!

@bokangco_id