Jadi Begini, Rasanya Hidup Tanpa Social Media selama Sebulan Lebih? #AnExperimentofAnEscape


Social Media adalah sebuah instrumen digital yang perkembangan penggunanya semakin waktu terasa semakin masif. Generasi apapun hadir meramaikan hiruk pikuk dan dinamika Social Media. Mulai dari dominasi millenial sampai yang non millenial entah itu pendahulunya atau penerusnya yakni generasi z, baik yang berinisiatif menjadi 'kreator konten' maupun yang menjadi 'user pengupload' saja. Bukan hanya dijadikan sebagai lahan pencitraan, Social Media juga tidak jarang digarap menjadi lahan mencangkul penghasilan.

Ya, Social Media memang buanyak manfaatnya. Tapi sayangnya, rasa candu yang dihasilkan oleh Social Media teramat sering terkonversi menjadi hal-hal yang negatif. Katakan saja 'tidak produktif', 'gila eksistensi', atau 'membandingkan diri' dengan pencapaian orang lain. Percaya atau tidak, sentimen negatif kita terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain bisa lahir dengan mudahnya ketika aktifitas kita dalam bermain Social Media telah terselimuti rasa candu yang begitu masif atau bahasa simple-nya, ketagihan. 


'Kind of early PS/NB': Tulisan ini diperuntukkan untuk orang-orang yang jenuh dengan siklus Social Media dan bimbang Apakah hidup tanpa Social Media dapat membuat kita lebih bahagia atau tidak. Untuk yang tidak jenuh, sepertinya tulisan ini tidak akan bermanfaat..

Menjadi Zombie Timeline

Pagi-pagi, bangun tidur, langsung ambil gadget liat chat sebentar terus buka Instagram. Scrolling timeline dan buka Instastory, entah pingin ngeliat postingan foto teman, postingan artis, postingan yang lucu, atau news. Bosen di Instagram, pindah ke Facebook. Pindah lagi ke Snapchat. Pindah lagi ke Path untuk bisa tau teman kita lagi check-in di tempat ellite macam apa dengan siapa, lalu mengakhiri permainan Path dengan meloved moment teman kita sembari berargumen "Yailah, ke tempat ini doang, gue juga pernah kali, norak. Hidup kita perlahan terasa seperti zombie, atau mayat hidup yang berjalan di dunia timeline. Mulai jalan ke timeline socmed ini, pindah lagi ke socmed itu, dan begitu seterusnya.

Zombie oh zombie. Waktu SD dulu, kita diajarkan untuk mengawali hari dengan berdoa dan mengakhiri malam sebelum tidur dengan berdoa, biar jadi anak baik. Sayangnya, dewasa ini, 'anak baik wannabe' itu terlampau banyak mengawali hari dengan buka Social Media terlebih dahulu dan mengakhiri malam juga dengan membuka Social Media. Waktu SD dulu, kita juga diajarkan untuk saling 'menyapa' orang yang kita kenal. Tapi sekarang? Lo like foto gue, gue sapa... Lo nggak nge-like foto gue, antara gue sapa atau enggak deh ya. Nggak capek apa, menjadi makhluk sosial di dunia nyata yang 'terperangkap' dalam siklus Social Media? Aku sih capek, yes..

Mungkin di masa depan nanti, semakin gilanya orang-orang dalam bermain Social Media, tagline berita seperti "Seorang Mahasiswi Menikam Temannya Sendiri karena Second Account Instagramnya Tidak Difollowback" atau.. " Seorang Siswa Tewas Gantung Diri karena Tidak Di Tag Dalam Foto Kelas" merupakan tagline berita yang tidak jarang kita jumpai. Jangan hanya dianggap lelucon, karena hal tersebut tidak mustahil menjadi kenyataan, percayalah.

Terlalu sering atau kecanduan bermain Social Media percaya atau tidak, akan membuka ruang bagi sifat-sifat buruk kita. Berawal dari zombie timeline, sifat buruk kita yang lain kemudian mulai lahir. Nggak percaya? Yuk mari, Om/Asuk/Kung-kung elaborasikan 'sikap buruk' itu satu per satu, wahai anak muda:

  1. Tidak Produktif: Seberapa sering kita menghabiskan waktu kosong kita hanya untuk scrolling and scrolling timeline? Bayangkan, hal-hal produktif seperti apa yang bisa kita buat kalau kita hidup tanpa timeline. Energi positif seperti apa yang bisa kita dapatkan tanpa harus merasa depresi membandingkan diri sendiri dengan orang lain? Seberapa pesat perkembangan PR, kerjaan kantor, skripsi, atau semacamnya yang bisa kita selesaikan jika waktu kosong kita tidak hanya kita gunakn untuk scrolling and scrolling?
  2. Scrolling first and comparing then: Scrolling dikit, ngeliat temen atau bahkan orang yang tidak kita kenal 'memamerkan' raihannya atau foto jalan-jalannya, kita langsung membandingkan diri sendiri dengan mereka. Terkadang tidak jarang sentimen negatif kita terhadap diri sendiri lahir karena compare men-compare ini, "yah, cemen banget ya gue, dia aja bisa begini begini masa gue cuma begitu".  Bukan cuma sentimen negatif terhadap diri sendiri, sentimen negatif terhadap orang lain juga sangat berpotensi lahir, "Ah ilah begini doang gue juga bisa, norak, cibay (kalau diperlukan)".
  3. Gila eksistensi: Belum lagi menjadi gila eksistensi, selalu melikes seluru postingan di timeline dengan harapan dapat banyak likes, sekalinya kita nggak dapat like dari orang yang selalu kita like, kita depresi. Sekalinya ketemu orang yang nggak pernah ngelikes kita, kita enggan untuk menyapanya. Sekalinya second account kita nggak di followback sama teman dekat kita sendiri, kita stress. Intinya, ketika kita memiliki sebuah ambisi di Social Media entah itu likes atau interaksi yang oke bingits, namun ambisi kita tidak terpenuhi, maka kita akan dengan mudah melahirkan sentimen negatif terhadap orang lain.


Seven Something
Ada yang pernah nonton salah satu film romance omnibus Thailand yang judulnya Seven Something? Ya, 'cerita pertama' film ini menunjukkan Bagaimana jadinya ketika hubungan asmara terlalu banyak dibumbui bumbu candu dalam bermain Social Media. Cerita tersebut pada akhirnya berakhir dengan kesimpulan kalau.. 1 like di dunia nyata dari si doi, jauh lebih berharga ketimbang 10.000 likes di dunia Social Media. Film ini keren ya, padahal keluaran tahun 2012, tapi cerita Kao Jirayu-Punpun Sutata nya visioner sekali. 

An Escape Began...

Social media tidak menjadikan kita jahat, tapi "ke-tidakbijakkan" kita dalam memainkannya yang membuat kita jahat, that's according to my opinion, at least. Sentimen negatif terhadap diri sendiri dan orang lain yang dapat lahir dengan mudah, dan penampakkan orang-orang disekitar yang saling menyukai di Social Media namun saling tidak menyukai di dunia nyata membuat gue cukup sangat muak. Siklus Social Media seakan membuat fase dan putaran tiada henti, dan sekarang ini katakan saja Social Media telah menjadi sebuah kompetisi dengan sistem 'liga pencitraan'. 

Bergerak dari kemuakkan itu, gue memutuskan untuk berpuasa Social Media selama beberapa saat dengan mengucap salam perpisahan kepada Facebook, Instagram, Twitter, Path, dan kawan-kawannya. Lebih dari sebulan, social media semacam itu tidak lagi menghiasi ponsel pintar gue. Percaya atau tidak, puasa social media mampu menjadi solusi untuk mengobati rasa candu, jenuh, dan muak akan Social Media tersebut..

Ngomong-ngomong, ada 2 bacaan menarik yang cukup inspirasional tentang life without Social Media yang gue temukan. Bacaan-bacaan yang cukup mencuci otak: 
Bacaan 1 (Indonesia) , 
Bacaan 2 (English). 
Bacalah, dan merenunglah.


I'm Out
Ehem, ngomong-ngomong, sebelum memutuskan untuk bereksperimen, gue baru menyadari betapa 'zombie timeline' nya hidup ini. Tahun 2010 adalah tahun dimana untuk pertama kali gue punya Social Media, dan semenjak itu.. sampai sekarang, selama 7 tahun gue nggak pernah hidup tanpa timeline. Rekor hidup tanpa timeline gue adalah mungkin sekitar 4 atau 5 hari, itu pun karena ada acara live in di sekolah yang mengharuskan seluruh gadget untuk dikumpul. Bayangkan, 7 tahun terperangkap dalam putaran timeline. Tujuh tahun.. dengan rekor jeda 4 or 5 days in a row saja.

Jadi Begini, Rasanya
..


lookin
"Rasanya kayak di iklan Meikarta"
Begitulah awalnya saat out of Social Media. Tau kan, iklan Meikarta? Jadi ceritanya gue lagi desperate dengan permasalahan hidup, terduduk sambil memandang keluar jendela dan diwarnai dengan effect grayscale, seraya berkata... "Bawa aku, pergi dari sini". 

Fase eksperimen 'life without social media' ini tentu tidak berawal dengan mudah. Tantangannya agak sulit meskipun terdengar simple, seperti takut ketinggalan berita terkini atau takut out of touch from society.  Minggu pertama agak sulit mungkin, karena biasanya tangan digunain untuk scrolling and scrolling timeline, tiba-tiba cuma bisa buka chat aja. Hiburannya cuma liat group line, chat di line, atau sms mbak-mbak operator. Tapi, ketika sudah terbiasa, maka suasana akan terasa begitu menyenangkan. Sangat-sangat menyenangkan, sampai akhirnya akan ada satu titik dimana kita dapat merasakan value of life sesungguhnya.

Ketika kita terlalu sering memainkan Social Media dan terlalu membandingkan diri sendiri dengan orang lain, sadar atau tidak hal itu akan membuat kita arogan karena menempatkan pride kita entah lebih tinggi dari orang lain atau sebaliknya. Kita akan 'mungkin' menjadi lebih sensitif dengan tanggapan orang lain kepada kita. Maka jadilah kita makhluk yang hanya welcome terhadap orang yang mengapresiasi kita. Setelah hidup tanpa social media, gue jadi lebih.. tidak terlalu memperdulikan tanggapan orang lain yang mungkin berputar-putar di kepala gue secara konspiratif. Hal tersebut kemudian menjadikan gue cukup sering menyapa orang-orang disekitar dan lebih bisa menghargai orang-orang tersebut. 

Ya, jadi begitulah rasanya. Kita jauh lebih bisa menghargai orang lain, jauh lebih sadar kalau quality of life itu di dunia nyata, bukan Social Media. Ketika kita memutuskan untuk berinteraksi full di dunia nyata, maka secara tidak langsung kita akan tersadar jika kita tidak sebesar yang kita bayangkan, juga tidak sekecil yang kita pikirkan. Catat itu anak muda, catat.


I'm Cheating, Actually...

Yow, ketika asmara mengintervensi, apapun bisa terjadi. Gue memulai eksperimen hidup tanpa social media tepat di hari dimana kuliah semester 3 dimulai. Semester baru, patah hati juga baru. You know.. when you are interested with a girl, and then you're started to imagine a lot of beautiful things from that girl whether she's ordinary or kindhearted and then one day, you found out that girl might have a boyfriend because of her profile picture... you'll end up with 'kepo' to search the identity of her boy maybe by using.. facebook. Ya, disitulah letak cheating gue. Intervensi asmara nyatanya mampu membuat seorang pria yang sedang berpuasa Social Media untuk batal di minggu pertama karena 'rasa penasaran' yang membuat pria itu membuka facebook untuk mencari identitas dari seorang makhluk misterius yang kemudian membuat pria tersebut patah hati. Tapi cincai lah ya, sehari doang mah gak kerasa.

Selain itu, masih menjadi perdebatan sesungguhnya Apakah blog merupakan Social Media atau bukan. Kalau blog memang Social Media, maka gue akan membuat pengecualian, gue puasa Social Media exclude blog, dan youtube. AHAHAHAHAHAHA. Let the broken hearted man be the boss for a while.  



This Is What I Do, BTW


Hampir lupa, salah satu point penting dari hidup tanpa Social Media adalah kita dapat menjadi jauh lebih produktif. Yap, mengerjakan tugas kuliah mungkin, atau produktif di kursus. Selama fase puasa Social Media, gue merasa sangat produktif. Terutama, dalam hal les/kursus. Rasanya, setiap les itu selalu ingin optimal belajar, langsung mengimplementasikan ilmu yang didapat. Terlebih, di bulan ini gue mulai ikut program beasiswa untuk Digital Marketing. Digital Marketing membuat gue semakin masif ngeles, yang awalnya cuma 2 kali seminggu mungkin jadi 5 kali. Pelajaran DM ini juga membuat gue agak terpaksa untuk kembali membeli domain dan hosting untuk diaplikasikan ke situs wordpress buat belajar SEO. Ehem, namun tidak apa-apa, walau sesungguhnya punya 4 domain .com dan 1 .net cukup membuat kepala pusing untuk diperpanjang, karena waktu perpanjangannya masing-masing berbeda. 

Keproduktifan di les ini pun bisa diukur dengan durasi belajar gue di les. Dulu, waktu les website, durasi lama gue di les bisa dibilang berdasarkan mood. Paling lama 5 jam, mungkin, itu pun karena ada project. Tapi rata-rata mungkin 2-3 jam. Les sambil belajar coding struktur website, sambil buka Instagram liat-liat, bosen, ngantuk, pulang. Tapi setelah lepas dari intervensi timeline Social Media, gue memecahkan rekor terlama gue di les... 7 jam cuy, tujuh jam seorang anak Hubungan Internasional di kelas Web Programming! Tujuh jam!

Selain kuliah, les, blog, dan kawan-kawannya, mencari konten yang informatif dan edukatif di Youtube juga dapat menjadi aktifitas yang somehow terlihat sangat seru dan asik. Entah video tutorial ini itu, atau video tentang riddle yang sulit dipecahkan, atau video-video motivasi dari enterpreneur ternama semacam Jack Ma. Perlahan, hal-hal tersebut menjadi sangat seru dan asik. 

Hidup Tanpa Social Media, Perlukah?

bawa aku.. pergi dari sini..
jemput aku elang.. 

Alright, let's jump to the conclusion. Hidup tanpa social media, perlukah? 
Jawabannya sangat mudah. Bisa jadi tidak, bisa juga jadi perlu. Tidak perlu puasa Social Media, kalau kita memang tidak jenuh atau tidak punya keresahan terhadap Social Media itu sendiri. Sebaliknya, jika kita sudah benar-benar jenuh.. benar-benar meninggalkan Social Media untuk sementara merupakann solusi yang cukup ampuh. Ketika kita merasa jenuh, percaya atau tidak hidup tanpa social media dapat membuat kita bahagia. Karena ketika kita terlalu lama terselimuti candu dalam bermain Social Media lalu kita memutuskan untuk keluar, itu artinya kita sedang memasuki sebuah fase baru. Fase 'Baru' yang menantang, dan bisa dibilang exciting tentunya. 

Berlebihan memang, jika kita berpkir "social media doang kok dibawa repot, cukup mengontrol diri aja nggak usah sampe puasa-puasa segala kali". Yap, masalahnya adalah.. keresahan setiap orang berbeda. Kita mungkin bisa memberi nasehat kepada seseorang yang addicted untuk 'mengontrol' diri saja, tapi kita tidak sepenuhnya tau apa yang mereka rasakan. Keresahan orang yang benar-benar jenuh berbeda dengan keresahan orang yang biasa-biasa saja. Selama kita tidak benar-benar tahu rasanya, jangan sok-sok menasehati, camkan itu, anak muda. 

In conclusion, fenomena Social Media memang merupakan fenomena yang tidak bisa dihindari dalam era globalisasi. Tapi, ada satu hal yang selalu gue percaya kalau melihat trend Social Media. Camkan ini anak muda, gue percaya jika Social Media akan mengalami antiklimaks di masa yang mendatang. Mungkin beberapa tahun kedepan, fenomena orang-orang yang mulai jenuh dan out of Social Media merupakan fenomena yang akan sering kita temui. Agak konspiratif dan sok visioner memang, tapi at least, ketika fenomena antiklimaks itu benar-benar terjadi, kita yang cukup bijak perihal Social Media telah memiliki sebuah ability dan experience untuk bertahan tanpa social media.

10 comments:

  1. Nah, saya juga pernah nulis tentang hal ini. Mulai sekarang udah ngurangin medsos tapi agak susah untuk IG. Hehehe. Dikit2 nih mau mengurangi IG.
    Bener banget ainun medsos jadi ga produktif, blogku kosong mlompong. Makasih ya sharingnya. Bagus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. dalam hal ini, produktif bisa lahir ketika kita tidak lagi terlalu memikirkan 'pencitraan digital', dan tidak terlalu memikirkan apa yang orang lain katakan tentang kita.

      Delete
  2. Aku juga masih puasa dari sosmed ini. Gara-gara smartphone rusak tapi, bukan karena tak niatin puasa :D. Tapi bener juga sih, aku pernah ngalamin bosen sama yang namanya nyecroll timeline di sosmed. Terus nyoba untuk nggak buka beberapa hari, lumayan berhasil dan menikmati apa itu yang namanya bersosialisasi di ndunia nyata. Ya, emang lebih enak dan nyaman, bisa ngobrol sama haha-hihi langsung sama temen.

    Tapi pas tak niati buat lebih produktif nulis atau buat desain self project gitu, masih gagal. Datanglah faktor pengganggu lain. Download dan nonton film G.R.A.T.I.S :D

    ReplyDelete
  3. aku hampir 2 minggu puasa sosmed gegarap hp juga rusak karena kecelakaan
    meski tangan retak tapi bersyukur jadi punya banyak waktu buat baca jurnal, buat artikel bhs inggris, buat banyak postingan
    dibanding stalking mantan di IG
    huhuhuhu

    ReplyDelete
  4. Gue setuju bang!!
    Wkwkwkwk. Ketika gua masuk2 grup gitu yah....yampun dah, sibuk banget sama obrolan2 geje....bikin males nge blog, males nulis, hadewww pokoknya buka blogspot, udah gitu doang ga diapa2in.

    Nah kalo udh ga pegang hape nih, ga buka medsos.....lancar jaya tuh nulis, blogwalking....which is blogwalking itu pasti substansi tulisannya lebih diperhatiin kan, dan ada faedahnya gitu loh. Se gak faedah2nya, tapi tulisan2 panjang itu memunculkan suatu ide dan stilistika nya bikin gue greget!

    Tapi bang...................
    dengan sosial media itulah.....kadang darisitu gituloh profit berasal huehuehue wkwkwkw. Jadi, gimana dong?
    Ah gue tau jawabannya! Pokoknya manajemen waktu, iya gak? Iyain ya bang xD

    ReplyDelete
  5. Skr ini aku cm aktif di ig dan fb. Path, twitter udh ditinggalin lama :p. Kdg pun sbnrnya aku pgn jg utk ninggalin medsos dlm jangka waktu tertentu jev. Tp skr ini baru bisa pas sdg traveling, ke negara yg ga nemu wifi hahahahaha.. Kalo ada wifinya, ya biasa ttp buka, tp aku bukan tipe yg bkl update stiap saat sih :D. Ada temen dan sepupuku, yg kalo jln, wifi wajib ato kalo perlu beli simcard lokal. Hanya demi update di medsos -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. justru tantangan terbesar buat nggak main medsos kalau dari saya sih berusaha buat nahan rasa pingin upload waktu travelling :")

      Delete

BELI SEPATU KUY!

@bokangco_id