Kind of Writer's Personality..


"Travelling" for Happiness
"Mahasiswing" for A Better Education

"Web Developing" For Digital Intellectual

"Searching" For His Missing Rib

Ngacir 6 Hari ke Malaysia Part 6: Cafe, Waiting, Love


Voila. akhirnya hari keenam tiba. Agenda ngacir kami pun berakhir di hari ini. Nggak banyak hal yang bisa dilakukan di hari terakhir, sih. Cuma jalan-jalan tanpa kejelasan di mall, sampai terdampar di salah satu Cafe di Petaling, Merchant's Lane. Banyak waktu gabut yang terbuang di hari terakhir ini, terlebih pesawat baliknya udah malem, pake delay sekitar satu jam. 

Ngacir 6 Hari ke Malaysia Part 6: 
Merchant's Lane įžŽįœŸæž—, waiting, love

Beda dari beberapa pagi sebelumnya, pagi di hari terakhir kami keluar dari hotel cukup siang, sekitar jam 10. Makan santai dulu, ngopi dulu, liat-liat sana sini dulu. Sekalinya keluar, jalan-jalan gabut ke beberapa mall mulai dari Roxy ala KL seperti Plaza Low Yat, sampai kembali ke Pavilion. Sungguh pagi yang kurang berfaedah.

Sekitar jam satu siang, kami kemudian pergi dari Pavilion ke Merchant's Lane, salah satu cafe yang ada di Petaling. Cafe ini sendiri bisa dibilang salah satu cafe yang cukup terkenal karena spot fotonya (mungkin). Nggak mewah-mewah amat, tapi entah kenapa cukup terkenal. Agak susah nyari pintu masuk cafe ini, karena cafe ini sendiri terhimpit di beberapa bangunan yang cukup konvensional. Sekalinya masuk, pengunjung dihadapkan dengan anak tangga dengan nuansa berwarna merah..


Selasa siang itu kami terduduk cukup lama di cafe ini. Dari segi interior, Merchant's Lane bisa dibilang memiliki ciri khas tersendiri. Nggak mewah, tapi berciri khas. Itu mungkin yang menjadi alasan kenapa Cafe ini cukup ramai meskipun terletak di himpitan bangunan konvensional. Selain itu, mungkin promo di social medianya juga oke. Spot foto yang oke di cafe ini mungkin bisa dibilang ada di luar dari teras lantai atasnya. 

Mungkin karena letaknya di area Chinatown, maka dari itu interior cafe ini dibuat sederhana, tapi tetap memiliki kelas. Dari segi menu, rasa dari mochaccino yang gue pesan nggak wow-wow banget tapi katakan saja asik.  Pun begitu dengan menu kuenya, yang asik tapi nggak wow-wow banget. Lumayan lah, untuk menikam rasa gabut. 


Seruput kopinya dikit demi sedikit, nyendok kuenya secuil demi secuil, lalu nengok ke arah jam, ternyata waktu masih menunjukkan sekitar jam 3 siang, padahal jadwal pesawat kami nanti berangkatnya jam 10 malam. Masih terlalu banyak waktu yang bisa dibuang, karena di hari ini berdasarkan itinerary-nya, kami memang nggak punya jadwal khusus untuk pergi kemana. Jadwalnya cuma berjalan gabut, lalu ke KLIA 2, dan tiba di Jakarta. 

Ehem, menunggu untuk beberapa saat di Cafe ini membuat gue berpikir sejenak. Sebenarnya, terlepas dari isu konflik Malaysia dengan Indonesia entah itu perebutan budaya, ganyang-ganyangan, bendera terbalik, satu hal yang jelas dari segi pembangunan Malaysia memang lebih developed ketimbang Indonesia. Lebih rapih, meskipun nggak rapih-rapih ataupun bersih-bersih amat. 

Mungkin bisa dibilang, Malaysia adalah versi nanggungnya Singapore. Commonwealth oh commonwealth. 

Beberapa orang yang gue kenal pernah bilang kalau travelling ke Malaysia itu hambar. Maksudnya ya begitu-begitu aja, nggak ada sesuatu yang 'wow' dari Malaysia entah dari suasana atau tempat wisata. Ehem, secara rasional, gue berkesimpulan kalau sesungguhnya Malaysia jauh lebih asik untuk dieksplor ketimbang Singapore. Karena negaranya lebih luas ketimbang Singapore, maka daya eksplornya bisa jadi lebih luas. Menurut gue, Malaysia akan terasa hambar ketika kita cuma mengeksplor di satu tempat saja. Cuma di KL lagi, dan di KL lagi. Tapi kalau ngacir keluar KL, percayalah negara ini cukup asik untuk dieksplor.

Yap, terlepas dari negaranya emang asik atau enggak, semua kembali kepada 'mental jelajah' kita. Jangan cuma karena rasa nasionalisme atau dendam, kita bisa menyimpulkan dengan serta merta bagus atau tidaknya suatu negara. Nikmati eksplornya aja, anak muda. Gue sendiri kalau 'sempat' untuk kembali lagi, gue akan lebih memilih untuk mencari hotel di Melaka ketimbang KL. 




Setelah mungkin 2 jam di cafe Merchant's Lane, kami kemudian kembali lagi ke hotel untuk mengambil barang yang dititip, lalu kemudian berangkat menuju KLIA 2. Begitulah ngaci di hari terakhir. Jalan-jalan gabut lalu terdampar di Cafe, pulang ke negara sendiri kemudian. 

2 comments:

  1. mirip sama yg di lukisan hehe
    iya sih katannya ke Malaysia ya kayak ke singapur
    mau agak wow coba ke Filipin tapi lagi perang
    mungkin gak ke kotanya ya yg di singapur ga ada
    Malaysia Timur juga kayaknya bagus2

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya, gue pun berpikir kalau jangan2 gue adalah reinkarnasi dari orang yang dilukisan

      Delete

BELI SEPATU KUY!

@bokangco_id