Too Much Apples (?)




Sure, too much, not too many. 
Because in this case, the apple itself is kinda apple of my eye.
sheeeeeen chiaaaaaaaaaa yiiiiiiiiii.... woooooooo xiiiiii huannnn niiiiiiiiiii..

Sejak awal kuliah, entah kenapa gue jadi doyan banget dengerin lagu mandarin.  Dan setelah setahun kuliah, sampai masuk ke awal-awal semester 3 seperti sekarang, mungkin lagu soundtrack dari film You Are The Apple of My Eye, 那些年, adalah salah satu lagu mandarin yang paling sering gue putar. Padahal, waktu pertama kali nonton film ini gue sempat beranggapan kalau film ini agak freak dan lebay. Namun, setelah merewatch dan setelah sadar kalau film ini based on true story dimana si pemeran utamanya mengawali semua kisahnya dengan mengutarakan isi hatinya lewat tulisan-tulisan di 'blog' sebelum akhirnya diangkat menjadi buku dan difilmkan, gue kemudian mulai berasumsi kalau film ini... masterpiece. Ini bukan postingan movie review btw, uhuk.

                     

Semua dimulai sehari sebelum 'masa pengenalan kampus', katakan saja. Kala itu, di malam yang sepi ada seorang remaja berusia 18 tahun yang terduduk di depan layar komputer lipat miliknya. Perasaan yang terlalu random mengaduk-aduk jiwa dan raganya, "besok masa pengenalan kampus.. Bagaimana kah tampang temen-temen dari jurusan..Berapa banyak wajah oriental yang akan terlihat besok..." begitulah kurang lebih adonan dari pikiran yang begitu acak yang mengaduk-aduk emosinya. Sampai kemudian, tiba-tiba muncul sebuah sinar yang begitu terang di atas kepalanya. Lalu turunlah Roh Kudus seraya berkata.. "rewatch You Are The Apple of My Eye, gih, hehehe!"

wih tobron...

Setelah merewatch film tersebut, gue sadar tentang beberapa hal yang tidak gue sadari sebelumnya seperti: film ini based on true story, ceritanya ternyata pedih banget, si penulis sekaligus sutradara (Giddens Ko) ternyata mengawali semua kisahnya dari tulisan-tulisan pedihnya di blog, sampai 'lagunya bagus juga ya'. Hari-hari gue kemudian dipenuhi dengan Too Much Apples. Ngerjain tugas, dengerin lagunya. Browsing-browsing gabut, dengerin lagunya. Sampai waktu patah hati in real life, gue showeran sambil keinget cerita dari pedihnya 'memendam rasa yang tidak berani diungkapkan terlalu lama'. Ah, taik.

Hal yang cukup simbolis dari film ini sendiri adalah bagian dari endingnya, for sure. Mencium mempelai pria, dengan tujuan mendapatkan akses untuk mencium mempelai wanita. Melihatnya menikah dengan pria lain memang pedih, jendral! Meskipun mungkin bisa dikatakan kalau 'scene cipokan antara pria dewasa' di bagian endingnya ini tidak merepresentasikan cerita sebenarnya alias agak dibuat-buat. Tapi nggak masalah, karena adegan itu tetap inspirasional.  

Setiap datang ke kondangan saudara ataupun kerabat lain gue selalu berfantasi, gimana jadinya kalau ending You Are The Apple of My Eye itu benar-benar jadi kenyataan di depan mata gue sendiri. Jadi ceritanya kerabat gue yang cewek lagi nikah, tiba-tiba mantan gebetannya dateng ke nikahannya terus teriak "hentikannnn!!!" lalu dia mencium si mempelai pria, epic as hell pasti. 



In fact, when you really like a girl, you’d be happy for her. When you see her finding her Mr. Right, you will want them to be together and to live happily ever after. - That  childish guy on You Are The Apple of My Eye

Dari segi kepedihan ceritanya, ada satu hal yang menarik dan cukup inspirasional sebenarnya. Bukan kepedihan tentang 'memendam rasa yang tidak berani diungkapkan terlalu lama hingga akhirnya dia menikah dengan orang lain', tapi kepedihan tentang 'merelakan'. Menurut gue, bisa 'merelakan' sesuatu yang benar benar benar dan benar kita suka adalah kepedihan yang berintelektualitas. Karena pada akhirnya, merelakan adalah bagian dari kedewasaan, dimana sikap ikhlas kita benar benar dan benar diuji sustainability nya. Lagian, belajar tentang 'merelakan' itu cukup relevan dengan kisah asmara hamba di tahun-tahun kuliah. It feels like I have found those right girls, but unfortunately those girls already have their mr right. HAHAHAHAHAHA..

8 comments:

  1. argh, dari baca ilustrasi diatas n videonya sedih banget ketika tau si cowo ini selalu berkorban buat si cewe, tp malah si cewe udah keduluan sama Mr. Rightnya :/

    ReplyDelete
  2. Aku masih inget banget,
    ini salah satu film mandarin favoriteku,
    Dulu aku sering banget download film-filmr dara komedi mandarin gitu,
    dan secara ga langsung aku jadi suka sama lagu-lagu soundtracknya,
    karna emang bagus-bagus sih, lumayan bisa buat bahan belajar bahasa mandarin di sekolah dulu :)

    ReplyDelete
  3. Ah... move on, sumpah dua semester awal kuliahku penuh dengan perjuangan mencari si 'dia' yang cocok di hati. Bukan hanya mencari, tapi memperjuangkan. Tapi setelah mencoba, pada akhirnya yang terjadi malah dia lebih memilih yang lain. Padahal perjuangan selama dua semester sudah sangat keras. Hampir berpikir tinggal dikit lagi, eh ketemu sama Mr. Rightnya si 'dia' :)

    ReplyDelete
  4. Aku ko dengerin mandarin kurang cocok ya, Mas..hehe
    Mungkin aja telingaku.. :D

    Pedih bet ini eung, pernah ngalamin juga aku, lagi dekat, dan suka sama seseorang, dah klik banget lah ini hati, tapi ternyata dia udah sama yang lain.. :(
    Tapi disitulah kepedihan tentang merelakan aku alami..he

    ReplyDelete
  5. Menurut gue, bisa 'merelakan' sesuatu yang benar benar benar dan benar kita suka adalah kepedihan yang berintelektualitas.

    Berdasarkan definisi, intelektual berarti 'berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan'. Iya, ilmu pengetahuan......tahu pasti bahwa itu bakal nyesek baget perih berdarah-darah. Tapi karena pikirannya jernih, jadi rela untuk sadar mana yang baik dan yang benar.

    Dan semua itu perlu waktu....

    Let the time passes by....

    Love, doesn't ask whaay~~~~ /lambai2 ke Celine Dion

    ReplyDelete
  6. wihhhh, ini film legend yang sering di ceritain sama temen aku. tapi sampai sekarang masih belum nonton filmnya.
    tapi berbicara pada merelakan, ini emang berat. berat beud makanya postingan di blog aku pada gegalauan semua. tapi kembali lagi pada mengikhlaskan sesuatu :D

    ReplyDelete
  7. Belum pernah nonton filmnya tapi kayaknya nyesekkin banget yaakk... emang yang namanya melepaskan seseorang yang udah diperjuangkan itu nggak mudah,sulitnya pake banget tapi justru bagi saya di situlah puncak sebuah rasa karena bukan cuma di dunia layar saja di dunia nyata pun nggak semua yang kita inginkan bakal terwujud.

    ReplyDelete
  8. Level tertinggi dalam percintaan adalah merelakan orang yang kita cintai bahagia dengan orang lain. Mungkin memang bukan jodohnya.

    Btw, jadi inget film ini pas bagian anu di kelas hahaha

    ReplyDelete

BELI SEPATU KUY!

@bokangco_id