Balada Digital Marketing: Keseruan & Musuh Utamanya!


Bicara soal teknologi dan ekonomi digital itu memang nggak akan ada habisnya. 

Amerika dan China mungkin merupakan 2 negara paling perkasa kalau ditilik berdasarkan peran serta ekonomi digitalnya terhadap GDP negara. Indonesia? Belum, masih jauh rasanya bagi Indonesia untuk bisa seperkasa Amerika atau China dalam hal ekonomi digital. Indonesia sendiri baru dicanangkan akan menjadi raksasa ekonomi digital Asia Tenggara pada tahun 2020. Dengan demikian, bisa kita tarik kesimpulan kalau: peluang untuk menjadi pemain ekonomi digitial di Indonesia masih sangat terbuka lebar!

Yap, terbuka lebar.

Indonesia adalah rumah untuk lebih dari 260 juta jiwa, sekitar 60% diantaranya melek internet dan dari angka 60% itu, mungkin baru beberapa belas persen diantaranya yang benar-benar percaya untuk membeli barang secara online. Padahal, pertumbuhan E-commerce, Marketplace, Social Media sedang masif-masifnya di tanah air tercinta. Coba bayangkan di 2020 nanti, jumlah populasi yang melek internet di Indonesia meningkat dan trend jual beli barang online juga meningkat drastis.  Indonesia adalah pasar yang potensial, no doubt. 

Untuk itu, di awal tahun gue iseng-iseng membuat sebuah online store dengan 'sepatu pria' sebagai barang dagangnya. Sepatu pria kualitas memukau dengan harga terjangkau, lebih tepatnya. Gue berusaha optimal untuk memberi semua hal yang penting entah untuk toko online atau untuk ilmu sebagai 'pemain'. Marketplace main, iklan di Social Media seperti Facebook & Instagram ads main, Website pun ada, ikut Kelas online digital marketingnya Rico Huang juga, dan semuanya. Tapi hasilnya gonjang-ganjing. 

Mempraktekkan sendiri memang tidak semudah kata-kata inspirasional para expert di digital marketing. Minggu-minggu pertama jualan, hampir setiap hari ada yang order. Sebulan kemudian, mulai fluktuatif. Tiga bulan kemudian antara ada dan tiada. Lima bulan kemudian mulai oke lagi tapi bulan depannya mulai nggak oke lagi. Facebook & Instagram ads pun seakan kurang ampuh, entah memang kurang ampuh atau gue yang salah strategi. Pernah sekali gue nyoba Facebook ads buat boost postingan, yang likes 3,2 ribu dan yang beli antara ada dan tiada. TIGA RIBU DUA RATUS YANG LIKES TAPI YANG BELI NGGAK ADA! Terimakasih, Mark Zuckeberg. 

Hingga pada akhirnya..

Hingga pada akhirnya, di suatu siang yang cerah gue melihat postingan info tentang beasiswa kursus digital marketing yang kebetulan penyelenggaranya adalah institusi kursus website dimana gue bernaung. Seperti halnya cuaca di luar, pikiran gue juga langsung jadi cerah. 

Scholarship itu multifungsi. Selain sebagai media untuk mencuri ilmu secara free, beasiswa juga mampu berfungsi sebagai penghias CV/resume kita nanti. Terlebih karena syarat beasiswa ini cukup tangible dimana hanya IPK minimal 3,3 dan aktif di universitas, maka dari itu gue mendaftar. Tapi sebelumnya, surat-surat semacam surat dari kepolisian dan surat dari universitas tetap harus diurus. Sebulan kemudian,  gue diterima. 



Keseruannya: Semua orang bisa menjadi guru

Digital Marketing itu ilmu yang seru. Berbeda dengan ilmu-ilmu pada umumnya, ilmu di Digital Marketing harus selalu di upgrade setiap rentang waktu tertentu. Karena kalau nggak di upgrade, perkembangan trend dan teknologi akan membuat strategi yang kita pakai menjadi konvensional dan ketinggalan zaman. It's simply means, ketika trend sudah berkembang dan kita tetap menggunakan ilmu lama maka kita akan: Bo cuan liau.

Selain ilmu yang selalu harus di upgrade, hal yang membuat kursus ini terasa cukup seru adalah ketika semua orang di kelas bisa saja menjadi guru. Pengalaman masih menjadi guru terbaik, kan? Selama ada experience yang bisa dibagi, murid pun bisa menggurui murid lainnya. Contohnya ketika gue berdiskusi dan berusaha untuk mencuri ilmu dari salah seorang murid lain tentang cara research yang baik di Tokopedia dan Shopee. Ternyata approach orang dalam melakukan research itu berbeda-beda, dan cukup menyenangkan sebenarnya mendengar cerita mereka.



Musuh utama: konsumen alay

Alay adalah musuh utama dari praktik digital marketing. Kenapa? Karena alay, biasanya nanya-nya lama, berbelit-belit, dan berakhir dengan mereka tidak membeli. Data memang membuktikan kalau orang-orang di Indonesia tidak se-mature orang-orang dari negara seperti Singapore dalam hal berbelanja online. Wajar, populasi alay masih cukup banyak. 

Kalau ditinjau berdasarkan durasi chat, ada 2 probabilitas yang akan terjadi: Nanya-nya cepat, atau nanya-nya lama, dan dua-duanya biasanya memiliki ending yang sama: no closing for us. Gue pernah mendapat chat seperti ini..

"Kak, jualan sepatu ya?"

"iya bro.."

"Oke, makasih."

....lalu chat berakhir seperti itu saja.

Masalahnya itu seperti ini loh anak muda, Apa gunanya bertanya "Jualan Sepatu ya?" ke toko yang jualan sepatu, lalu mengucapkan terimakasih, lalu pergi. NGAPAINNNNN. It's to freakin' abuden. Itu hanya satu dari banyak kasus yang disebabkan akibat pergaulan bebas yang tidak sehat, kasus lainnya adalah alay yang bertanya muter-muter, lalu biasanya mereka akan mempermasalahkan harga, lalu beberapa hari kemudian mereka akan chat kita lagi lalu muter-muter lagi, tapi ending-endingnya tetap nggak beli. Sekalinya mereka beli, mereka tetap akan chat kita setiap saat dan bertanya barangnya udah sampe mana padahal kita sudah memberikan resi pengiriman. Maka dari itu, bisa disimpulkan kalau alay merupakan musuh utama dari pelaku digital marketing. 

4 comments:

  1. ALAY HARUS DIBINASAKAN. HEHEHE

    BUKAN BEGITU BRO???? :D

    ReplyDelete
  2. Wiiih keren banget yah sampe ada kursus digital marketing gitu. Coba di Makassar ada yang seperti itu juga. Mau banget deh ikutan. :(

    ReplyDelete
  3. Gaktau deng gue termasuk kategori alay itu gara-gara banyak nanya, tapi gak beli. Biasanya, yang gue rasain sih, tertarik dengan barang itu, terus mau tahu detailnya, banding2in sana sini...trus tiba2 keinget, 'HAYOLOH KEBUTUHAN ATAU KEINGINAN?'. Nah akhrinya mutung deh :(

    Untuk semua online seller yg pernah dapet orang kayak gue, gue minta maaf. Gak ada maksud buruk, sungguh.

    ReplyDelete
  4. Sebentar.. pertama aku setuju kalau musuh terbesar adalah calon pembeli ababil dan rempong. Kadang juga minta dikurangin/potongan. Mending ujungnya belim tapi kebanyakan juga gajadi.

    Tapi dari sini aku jadi tahu, FB ads gak belum tentu jadi penentu banyak yg beli juga ya. Tapi lumayan lah bisa ngenalin produk kita sebanyak 3.2 like. Kalau tertarik sih...

    ReplyDelete

BELI SEPATU KUY!

@bokangco_id