Contact Me to Place Your 728x90 Ads Here

test

Travel Stories

January 12, 2018

Menilik Kasus Gugatan Cerai Ahok dan Veronica Tan Guna Memahami Kompleksitas Sikap Wanita dengan Relasinya terhadap Good Friend

This will be very serious thought. Just enjoy your tea.


"Tepat tiga hari yang lalu, penulis dikagetkan dengan sebuah headline berita dari Kompas di Official Account Line. Di pagi yang cerah itu, beberapa saat sebelum berangkat kuliah, penulis baru saja membawa naik segelas kopi hitam hangat yang baru dituang dari mesin pembuat kopi ke kamar penulis. Seruputan pertama, semua terasa normal: panas, pahit, berselera.  Seruputan kedua, masih normal, namun kali ini dengan menggenggam serta ponsel pintar di tangan kiri. Setelah dua seruputan, gelas berisi kopi tersebut diletakkan dengan hati-hati, kini penulis lebih memfokuskan diri kepada ponsel pintar. Instagram? Facebook? Twitter? Semua aplikasi itu telah lengyap dihapus penulis dari ponsel pintarnya beberapa bulan yang lalu. Rutinitas penulis dengan ponsel pintarnya di pagi hari adalah memeriksa pesan yang masuk di aplikasi LINE ataupun Whatsapp." 

Wanita dan asmara memang kompleks: diluar baik, didalam agak licik. Seperti halnya pria dan politik: didepan bergimik, dibelakang berintrik. Polemik yang timbul bagaimanapun bukan murni karena kesalahan wanita atau prianya, namun karena asmara dan politik memang bukan permainan untuk para amatiran. Penuh dinamika, dikendalikan oleh gairah, begitulah keduanya jika ditilk secara general. 

Sebagai pria tulen, penulis telah banyak mengamati sikap lawan jenis dengan seksama. Menarik rasanya bagi penulis untuk mengamati sikap wanita, karena kembali kepada human nature-nya bahwa mereka penuh dengan kompleksitas. Bukan cute, bukan lembut, bukan 'tulang rusuk yang hilang', namun 'kompleksitas' adalah generalisasi yang paling fair untuk menggambarkan wanita. 

" LINE mendapat giliran pertama untuk dibuka kala itu. Scroll sedikit, melirik diskusi di grup kelas, tidak ada yang menarik. Beranjak dari grup, ada sebuah chat dengan headline utama "AHOK GUGAT CERAI VERONICA TAN", dari official account kompas. 'PLAKKKKKK-GEDEBUG-GEDEBAG', Adrenalin penulis meningkat, ada rasa kaget campur tidak percaya, sampai akhirnya penulis memutuskan untuk membaca seluruh isi berita tersebut. Entah benar, entah hoax, entah benar-benar hoax, ada diam yang cukup lama setelah penulis membaca berita tersebut. Cukup lama hingga akhirnya layar ponsel pintar penulis hitam sepenuhnya, mati otomatis, memantulkan cerminan sebuah wajah datar. Penulis meletakkan ponsel pintar tersebut, lalu kembali menyeruput secangkir kopi tadi. Seruputan ketiga, RASANYA PAHIT, tidak normal, seperti rasa penasaran yang berkecamuk." 

Tiga hari kemudian setelah rasa kopi yang berkecamuk itu, beberapa berita terkait tentang gugatan cerai muncul ke permukaan. Mayoritas diantaranya membenarkan gugatan tersebut dengan memberi alasan "orang ketiga" atau "good friend" dari pihak wanita yang memotori layangan gugatan tersebut. "HOW CANN?! VERONICA TAN IS MY ROLE MODEL FOR FUTURE WIFE!" Yap, rasanya sulit dipercaya jika alasannya seklasik dan klise orang ketiga. 

Setiap ditanya role model dalam mencari pasangan, seorang Veronica Tan adalah parameter pioritas bagi penulis. Berintelektualitas, cantik, 'kelihatannya' benar-benar mendukung suami. Siapa sangka, berita orang ketiga dengan dirinya sebagai aktris utama justru muncul ke permukaan. Wanita memang kompleks, sulit dimengeti, namun selalu ada cerita menarik dibalik itu semua. Agak mengecewakan memang, ketika kita telah memberi label 'pasangan hidup idaman' kepada seseorang yang malah diberitakan menista kesetiaan. Ah, wanita memang merupakan kreasi yang rumit.

Wanita itu semacam nelayan
Jika wanita itu ibarat nelayan dan pria adalah ikan, maka senyuman wanita adalah alat pancing yang paling murah. Menarik, namun tidak dapat menjadi jaminan jika kualitasnya baik. Dan sayangnya, hanya ikan murahan saja yang mampu terpancing dengan mudah oleh alat pancing paling murah. Sementara itu, 'ukuran dada' adalah alat pancing kw 1. Cukup menipu, menggiurkan, dan terlihat berkualitas, tapi tetap saja bukan barang original. Pancingan kw 1 memiliki kualitas yang cukup baik untuk memancing ikan, tetapi tetap bukan yang terbaik.



Dari semua alat pancing yang dimiliki sang nelayan, dikisahkan "personality" adalah alat pancing yang paling mahal dan original. Alat pancing ini juga lengkap dengan beberapa partikel lainnya, seperti ethics, attitude, manner, dan kawan-kawannya. Hanya ikan mahal seperti ikan salmon yang mampu dipancing oleh pancingan ini.

Artinya, anak muda, wanita adalah makhluk penuh daya tipu. Kebanyakkan pria jatuh karena dicelup manisnya senyuman dan besarnya ukuran, namun sedikit yang menilik kepribadian. Manner, etika, cara seorang wanita menghargai orang lain, itu semua jauh lebih penting ketimbang senyuman dan ukuran. Jadi kesimpulannya dari analogi wanita dan nelayan yang telah penulis sampaikan adalah: liriklah wanita dari kepribadiannya, jangan menjadi pria murahan yang hanya menjadikan senyuman dan ukuran sebagai parameter. Kalau ada wanita dengan kepribadian baik dengan senyuman manis dan dada besar, anggap saja itu anugerah dari yang diatas.


Ketika perhatian itu hilang


Wanita yang merasa kehilangan perhatian adalah awal dari segala intrik, percayalah. Karena sejatinya, wanita tidak membutuhkan pengakuan melainkan membutuhkan perhatian. Seorang komika senior sekaliber Pandji Pragiwaksono pernah menegaskan dalam bit-nya, "wanita itu butuh perhatian, sementara pria butuh pengakuan. Kebanyakan pria salah kaprah, karena pria suka diakui dan dipuji, maka mereka sering memuji wanitanya". Mudahnya, akan lebih dalam rasanya bagi seorang wanita yang habis memotong poninya untuk ditatap matanya dalam-dalam, lalu ditanya "eh, lo, potong poni ya?" ketimbang dipuji "lo cantik/sexy/imut juga abis gunting rambut". Artinya, perhatian adalah substansi bagi wanita, bukan pengakuan. Akar dari permasalahan kemudian wajar saja lahir ketika seorang wanita kehilangan perhatian yang mereka inginkan.

Permasalahan dan intrik sebenarnya kemudian lahir ketika 'wanita yang merasa kekurangan perhatian' bertemu 'pria lain yang terlalu banyak memberikan perhatian'. Wanita yang kehilangan perhatian itu rapuh, sementara pria yang memberi terlalu banyak perhatian itu cerdik. Keduanya tidak akan hanya bisa menjadi teman jika 'intensitas' interaksi diantara keduanya masih cukup masif. Karena kembali lagi kepada logika rasional, wanita yang kehilangan perhatian dan pria yang memberi terlalu banyak perhatian tidak akan pernah bisa menjadi hanya sekedar teman ataupun good friend, karena itu bullshit.  

Ada politik dibalik itu semua. Jangan salah, politik bukan melulu tentang pemerintahan dan negara namun juga masuk kedalam sendi-sendi kehidupan kita yang lain, seperti halnya asmara. Bagi pria yang memberi terlalu banyak perhatian, 'memberi perhatiannya' merupakan sebuah langkah alokasi. Sementara bagi wanita yang kehilangan perhatian, 'diberikan perhatian' merupakan sebuah subsidi.

Dalam kasus gugatan cerai Ahok dan Veronica Tan, dengan basis pemberitaan media yang menyebutkan jika good friend dari pihak wanita mulai hadir karena Ahok sedari dulu terlalu sibuk dengan pekerjaan politiknya untuk mengalokasikan dana kepada rakyat miskin sehingga alokasi perhatiannya pada sang istri agak terdegradasi, kita dapat menarik kesimpulan jika sebenarnya akar dari permasalahan bermula ketika 'perhatian itu hilang'. Yap, even wanita tangguh seperti seorang Veronica Tan pun memiliki asmara yang berintrik karena semua dilandasi oleh perhatian. Bukan benar-benar hilang mungkin, namun 'berkurang' karena terbagi dengan karir politik sang suami. 

Pria yang memberi terlalu banyak perhatian terhadap istri orang lain yang merasa kurang dimengerti merupakan awal dari retaknya dinding rumah tangga. Dalam tantanan rumah tangga sendiri, good friend hanyalah sebuah awal atau istilah yang akan digunakan ketika perhatian yang dialokasikan oleh pria lain lebih besar daripada perhatian yang diberi suami. Setelah itu, terbangunlah sebuah segitiga yang seluruh sisi-nya sama, terbentuk dari sisi -sisi gelap.  Setelah itu, istilah good friend pun memiliki probabilitas untuk naik menjadi good girlfriend, as well as good boyfriend.

Gugatan cerai yang dilayangkan Ahok adalah hal yang cukup mematahkan hati, bukan hanya untuknya namun juga bagi para pengagum hubungan beliau dengan sang istri, seperti halnya penulis. Bukan, yang menyakitkan bukanlah berita gugatan cerai tersebut, namun yang menyakitkan adalah ketika kita telah yakin dengan sesosok wanita yang kita pikir merupakan sosok idaman namun ternyata apa yang terjadi benar-benar diluar pemahaman kita.   

7 comments:

  1. Ada udang dibalik batu.
    I did surprised.
    I thought they were fine, one of harmonious-est couple.

    The mystery of love, relationship, and human itself.

    ReplyDelete
  2. Segala kemungkinan bisa terjadi, tapi memang hal ini benar2 mengejutkan, ada yang bilang ini skenario atau ada yang disembunyikan, tapi biar waktu saja yang menjawab sebenarnya apa yang terjadi.

    ReplyDelete
  3. Hampir semua orang aku rasa begitu, nggak percaya akan berita ini. Aku aja masih bingung mana yang benar atau nggak. Yang jelas doakan yang terbaik saja, semoga apapun ketupusannya itu yang terbaik..

    ReplyDelete
  4. They were my role model couple....

    were...

    ReplyDelete
  5. saya rasa pasti ada suatu hikmah dibalik kasus ini. berprasangka baik lah...

    ReplyDelete
  6. Ya, semua orang melihat baik2 aja, tapi ya mungkin ada masalah yang sedikit demi sedikt terkumpul dan meledak pada satu titik ini. Ya gue sih cukup terkejut, kata lo tadi, rasanya mereka berdua itu pas dan serasi banget.

    Ya, semoga yang terbaik aja dan ada hikmahnya.

    ReplyDelete
  7. Akupun berasa ga percaya jev.. Sediiih banget pas dgr kabarnya.. :( .. Tp ga mau hanya menyalahkan ibu veronica.. Krn kayak katamu, wanita itu butuh perhatian.. Sehebat apapun suaminya, kalo dia kurang memperhatikan istri, ya bersiap aja kalo istrinya cari perhatian lain. Tapi sbnrnya, kalo istri udh memutuskan jd suami seorang pejabat negara, sewajarnya hrs siap dgn semua konsekuensi.. Kehilangan perhatian, keluarga jd nomor sekian. :(

    Sedih sih... Ini juga yg bikin aku dr dulu sangat menghindari berhubungan dengan laki2 yg kerjanya di pemerintahan :p. Untung pak suami karyawan swasta :p

    ReplyDelete

Post Top Ad

Your Ad Spot