Dear Sutradara Supernova 3, Berkacalah pada Film May Who (2015)


Pada saat engkau mengira telah berhasil menebak logika hidup, pada saat itulah ia kembali memuntir dirinya ke arah tak terduga dan jadilah kau objek lawakan semesta.

Kutipan dari buku Supernova 3 - Petir diatas adalah sebuah kutipan yang cukup menarik, meskipun tidak merepresentasikan keseluruhan isi buku yang dominan dengan kisah pengendalian listrik yang diakhiri dengan perjalanan di dunia enterpreneur-nya seorang Elektra. Buku ini memang menarik, setelah lama mendengar kesakralan seri Supernova dari seorang Dewi Dee Lestari, penulis postingan ini melabuhkan pilihan pertama untuk membaca seri Supernova ke-3 yang berjudul petir. 

Tulisan seorang Dewi Dee Lestari memang penuh dengan hasrat ilmiah, tak terkecuali dengan tulisan di Petir-nya ini yang sebenarnya penuh dengan bumbu komedi. Alasan memilih Supernova 3 sebagai seri pertama yang penulis baca sebenarnya cukup sederhana: review di good reads-nya cukup oke, sinopsis buku cukup menarik. Secara garis besar, Supernova 3 berkisah tentang seorang gadis keturunan Tionghoa dari keluarga sederhana bernama Elektra yang memiliki anugerah khusus namun sering terdistorsi menjadi 'kelainan' baginya. Memilih Bandung sebagai latar tempat utama, kisah Elektra kemudian penuh dengan bumbu komedi yang menarik dan cukup menggelitik. 

Karakter Elektra sendiri bisa dibilang merupakan sebuah karakter yang atraktif. Seorang wanita sederhana yang biasa-biasa saja secara fisik, serta memiliki jiwa dan pikiran yang agak kurang pintar namun menawan. Barulah level kehidupan Elektra naik satu tingkat saat kehidupannya dijembatani oleh karakter bernama Ibu Sati. Semakin lama, karakter-karakter penting lainnya ikut bermunculan meramaikan kehidupan Elektra. Secara keseluruhan, buku ini menarik. 

Kalau buku ini difilmkan..

Apa jadinya jika buku ini difilmkan? Agak konspiratif sebenarnya kalau membayangkan bagaimana jadinya jika kisah Elektra diangkat ke layar lebar. Buku ini menarik, tapi bukankah adalah sebuah hal yang sangat lumrah ketika kita menilai sebuah buku dengan begitu baik namun justru kecewa ketika buku tersebut difilmkan karena eksekusi dari film tersebut tidak sesuai dengan imajinasi kita?

Kasus benturan antara imajinasi pembaca dengan eksekusi di film itulah yang juga terjadi pada film Supernova pertama: Ksatria, Putri & Bintang Jatuh. Beragam perdebatan antara novel lovers vs movie lovers terjadi. Buat yang doyan nonton, film itu terasa oke-oke saja, namun untuk pecinta novel sejati yang telah memiliki imajinasi kuat perihal kerangka cerita Dimas dan Ruben mereka akan mengkoreksi adegan dengan kata seharusnya begini dan begitu, film tersebut pun akhirnya termasuk dalam kategori menyebalkan.

Untuk Supernova 3, ada sebuah kekhawatiran dari penulis postingan ini akan eksekusinya bila buku ini difilmkan suatu saat nanti. Ada 3 pilihan yang mungkin saja terjadi pada Elektra dan kisahnya jika Supernova 3 ini dieksekusi menjadi sebuah film: 1. Filmnya bagus, 2. filmnya biasa-biasa saja atau malah tidak bagus, 3. filmnya mirip sinema laga Ind*siar. Kemungkinan terakhir tersebut cukup krusial, tentunya.

Beberapa kali dalam cerita adegan di buku dikisahkan Elektra memiliki kelebihan yakni dapat menghantarkan listrik pada tubuhnya. Sehingga, jika sampai Supernova 3 ini difilmkan, maka mau tak mau harus ada visualisasi yang baik dimana tubuh seorang aktris diedit dengan sedimikian rupa hingga terkesan mengeluarkan listrik, karena memang adegan ini merupakan salah satu adegan utama pada buku. Permasalahannya adalah, jika visualisasinya agak semebrono, maka terbayang lah dalam benak penulis tentang sebuah adegan di sinema laga Ind*siar dimana sang jagoan turun dari elangnya lalu mengeluarkan listrik (yang diedit agak kelihatan kalau itu editan) untuk melawan jagoan lainnya yang turun dari naga. 

Catatan untuk siapapun sutradara Supernova 3 

Kepada siapapun sutradara Supernova 3 nanti, mungkin film Thailand keluaran tahun 2015 yang berjudul May Who bisa menjadi refrensi yang baik perihal visualisasi listrik-listrikan. Bukannya penulis ingin menggurui sutradara, namun May who adalah referensi yang cukup baik dari segi visualisasi aktris yang berlistrik. 

                

Akan sangat disayangkan tentunya jika kisah menarik seorang Elektra tidak lagi menarik di film karena visualisasi yang semberono. Hujatan editan Ind*siar mungkin akan menjadi fokus netizen pada kolom komentar apapun. Percayalah, May Who (2015) adalah referensi yang sangat tepat untuk melihat bagaimana sebuah film memiliki adegan dimana aktris utama mengeluarkan listrik dan menyetrum orang lain namun film tersebut tetap disukai oleh banyak orang. Terlepas dari yang nyetrum itu Punpun Sutata, atau aktor prianya itu idaman wanita, apapun itu.

Terakhir,  mari kita berbicara tentang pemeran. Mungkin tidak akan sulit untuk mencari pemeran pria untuk karakter dalam buku seperti halnya Mpret, ataupun suami dari Watti. Hal yang sulit justru adalah mencari pemeran yang tepat untuk karakter Elektra: tidak begitu cantik ataupun menonjol, mungkin agak kurus, kulit tidak begitu cerah, dan... berwajah oriental. Cukup sulit, ya? Berbeda dengan Watti, yang mungkin cocok untuk aktris seperti Franda ataupun Laura Basuki. 

4 comments:

  1. Kalau Prisia Nasution gimana? :o

    ReplyDelete
  2. sangat lumrah ketika kita menilai sebuah buku dengan begitu baik namun justru kecewa ketika buku tersebut difilmkan karena eksekusi dari film tersebut tidak sesuai dengan imajinasi kita?

    sangat setuju dengan dengan kalimat diatas, ehehee. aku tipikal yang kadang sering kecewa kalau ada buku favku di filmkan dan tidak sesuai dengan harapan.... yah, mau gimana lagi :D

    ReplyDelete
  3. jangan deh kataku
    ekspektasi terlalu tinggi malah jadinya...
    padahal kece badai buku ini
    biarlah jadi angan2 saja dalam bentuk novel

    ReplyDelete
  4. B baca bukunya, jd aku blm bisa ngebayanhin siapa kira2 aktris yg pantas jd elektra :p. Tp ngebayangin kalo ntr jd kayak film laga indosiar, nth napa lgs ngakak jev :p

    ReplyDelete

BELI SEPATU KUY!

@bokangco_id