Enakan Mamanya Dulu, atau Anaknya Dulu, Ya?


Bukan, ini bukan tentang ayam dulu atau telur dulu. Ini juga bukan tentang Wulan Guritno dan anaknya, gambar diatas diambil karena merupakan gambar yang sangat berestetika untuk menjadi bentuk representatif mother - daughter relation. Tulisan ini adalah tentang pioritas seorang suami, tentang kasih sayang seorang ayah yang mungkin tidak banyak diketahui oleh kawula muda. Tentang bagaimana kasih sayang seorang ayah mampu menciptakan sebuah irasionalitas yang tidak bisa dimengerti logika.

Semasa SMA dulu, ada hal cukup menarik yang pernah ditanyakan oleh beberapa teman wanita dari penulis tulisan ini kepada seorang guru geografi. Pertanyaannya cukup sederhana,

Pak, kalau misalnya istri sama anak bapak tenggelam dan bapak cuma bisa nolongin satu doang diantara mereka... bapak milih nolongin siapa? Istri atau anak?

Guru itu menjawab anak. Ketika ditanya alasannya kenapa, mungkin tidak ada jawaban yang lebih tepat untuk pertanyaan yang cukup filosofis ini ketimbang..


Soalnya kalian nggak tau, rasanya punya anak itu gimana.

Hmm, sangat menarik. Memangnya bagaimanakah rasanya punya anak? Apakah benar, kasih sayang terhadap anak jauh lebih besar ketimbang kasih sayang kepada pasangan hidup kita sendiri yang notabe-ne merupakan penghasil anak? Ini sangat menarik. 

Mari bertanya kepada dosen

Jika kita berpikir dengan logika ataupun menerapkan asas comparative advantage, maka seharusnya kita sebagai suami memilih istri. Kenapa? Karena sederhananya, jika istri selamat maka anak bisa dibuat lagi sementara jika anak selamat istri tidak bisa dibuat lagi. Kecuali, kalau kita memperistri anak kita sendiri. Ya, kebanyakan orang yang belum menikah pasti akan berpikir seperti itu. Namun sayangnya, pikiran itu sangatlah implusif. Ada hal yang tidak bisa diketahui orang yang belum menikah sebelum merasakannya langsung: punya anak, dan menyayanginya. 

sepertinya mereka bisa berenang
Entah mengapa pertanyaan yang pernah ditanyakan kepada guru geografi itu kembali terlintas begitu saja dalam pikiran penulis akhir-akhir ini. Sang guru geografi mungkin lebih memilih anak dengan alasan yang penuh misteri 'karena kamu nggak tau rasanya punya anak itu gimana'. Tapi, bisa jadi hanya si guru geografi yang merasakan hal tersebut, mungkin pria beristri lain memiliki paham yang berbeda. Mungkin ada pria beristri lainnya yang lebih memilih istri dengan alasan 'Karena kamu nggak tau, rasanya istriku gimana' sluuuuuuuuurp. croooooot. Mungkin.

Maka dari itu, ditanyakanlah pertanyaan yang sama kepada pria dewasa beristri dengan gelar S2 yang bisa jadi lebih pintar dari guru SMA: dosen pria. Hanya saja, pertanyaan tersebut kini didramatisir oleh penulis dengan menambahkan latar tempat yang jelas: diatas kapal.


Mas (iya, dosennya dipanggil mas), mau tanya, kalau mas lagi ada diatas kapal sama istri dan anak mas, lalu mereka tenggelam dan mas hanya bisa menyelamatkan satu diantara mereka, mas lebih milih siapa?

Satu pertanyaan, untuk 2 dosen beristri dan telah memiliki anak. Jawaban mereka ternyata berbeda

Dosen pertama, dosen pria yang sebenarnya cukup muda, cukup kharismatik, dan kalau mengajar jiwa mudanya mungkin bisa lebih terasa ketimbang dosen-dosen lainnya. Beliau menjawab,

'Ya istri lah, anak mah bisa dibuat lagi. Nyari istri yang begini susah tau'.

Dosen kedua, dosen pria yang tidak terlalu muda, namun sangat berkahirsmatik, dan kabarnya beliau memiliki anugerah dalam hal spiritual. Salah satu dosen yang bijak dan sangat asik untuk diajak berbincang-bincang. Segera setelah pertanyaan itu penulis tanyakan, beliau langsung menjawab, 

'Ya anak dong. Istri kan bisa cari lagi.' awalnya beliau menjawab seperti itu sambil tertawa bahagia. 

         'Jadi, karena istri bisa dicari lagi mas?' Penulis membalas,

         'Salah satunya itu, tapi ada hal lain lagi.' Balas sang dosen. 

       'Alasan utamanya kalau misalkan saya milih istri, itu karena belum tau rasanya punya anak gimana ya mas?' Penulis mencerca dengan serius. 

         'Ya, tepat sekali.' Jawaban yang sungguh memuaskan. 

Sungguh jawaban yang berkharisma. Penulis lupa, kalau beliau memiliki hobi becanda yang cukup kuat. Sore itu, perbincangan ternyata tidak berhenti sampai disitu saja. Seperti yang penulis sampaikan tadi, beliau memiliki anugerah spiritual. Beliau mengatakan bahwa dirinya bisa melihat makhluk yang tingginya melebihi gedung kampus. Lalu  dengan santai beliau mengatakan kepada penulis, 'Coba, gih, kamu ajak ngomong makhluknya'. Ada keheningan yang cukup lama, hingga akhirnya penulis menyadari jika perbincangan ini sudah cukup menyimpang. Dari topik kasih sayang seorang ayah, menjadi topik mengajak bicara makhluk gaib yang tingginya melebihi gedung kampus. 

Tapi, sebentar. Apakah makhluk gaib tersebut memiliki anak dan istri? Mungkin makhluk yang tingginya lebih tinggi dari gedung kampus tersebut bisa ditanya-tanya seputar mending milih nolongin anak atau nolongin istri?  Tapi mengingat ukurannya yang lebih tinggi dari gedung kampus, anak dan istrinya mungkin juga berukuran jumbo, jadi keduanya tidak mungkin tenggelam. Ah, sudahlah.      

Jadi, enakan mamanya dulu atau anaknya dulu?


Penulis tulisan ini telah memiliki sebuah kesimpulan akan kasus ini. Begini, bertanya kepada seorang suami lebih baik memilih anak atau istri mungkin bisa dianalogikan seperti bertanya kepada seorang kapitalis pemilik usaha perihal lebih memilih mesin atau produknya? Mesin adalah pencipta, sementara produk adalah hal yang bisa dibanggakan oleh sang kapitalis. Memang betul, produk tidak bisa hadir tanpa adanya mesin. Namun, selalu ada alternatif lain untuk menciptakan produk, bukan begitu?

Terlalu klise sesungguhnya untuk mengatakan jika fenomena 'mamanya dulu atau anaknya dulu' ini kembali ke prespektif masing-masing. Kembali ke prespektif masing-masing bukanlah jawaban yang memuaskan. Hanya ada satu jawaban yang lebih memuaskan, yaitu memilih anak. Ya, penulis amat percaya akan ada sebuah irasionalitas dibalik kasih sayang seorang ayah. Akan ada sebuah rasa sayang yang teramat sangat kepada buah hati, yang memang sulit dijelaskan mengapa pada akhirnya seorang ayah akan rela lebih memilih untuk menyelamatkan anak ketimbang istri.

3 comments:

  1. Tapi pada akhirnya sang ayah akan tinggal selamanya dengan sang istri dan ditinggalkan buah hati nya yang akan membentuk keluarganya sendiri. Kadang memang jadi perspektif masing-masing individu. Tergantung, belum pernah merasakan yang mana makanya lebih memilih hal itu.

    willynana.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. Hmmm tapi kalo ansknya durhaka, pasti sang ayah lebih memilih istri. Atau sebaliknya wkwk. Entahlah

    ReplyDelete
  3. Bingung jev.. Kalo ditanya balik ke aku, aku jg ga tau mau jwb apa :p. 2-2 nya org terpenting dlm hidup. Kalo salah satunya mungkin membuat sakit hati, jwbnnya gampang bakal pilih siapa :p

    ReplyDelete