Kunamai Perih di Semester 3 Itu Namamu (keping pertama)


You are what you read. Yap, kita adalah apa yang kita baca. Statement tersebut memang benar adanya, orang yang suka membaca mungkin akan lebih mengerti maksud statement tersebut ketimbang orang yang tidak. Apa yang kita baca bukan hanya merepresentasikan genre apa yang kita suka, namun juga merepresentasikan hal yang ingin kita lakukan kedepannya.  Ketika membaca buku travel, pingin rasanya kita traveling atau menulis tentang perjalanan travel kita juga. Ketika membaca buku biografi kesuksesan seseorang, pingin rasanya menjadi sukses dengan cara yang sama seperti kisah di buku yang kita baca.  Begitu seterusnya, we are what we read, we really are.

Buku terakhir yang kita baca jika memang berkesan mungkin akan melahirkan sebuah keinginan dari kita sebagai pembaca untuk melakukan atau merasakan apa yang dilakukan dan dirasakan sang penulis dalam ceritanya. Sialnya, buku terakhir yang gue baca adalah buku Ubur-ubur Lembur yang ditulis oleh Raditya Dika. Seperti biasa, Radith menuangkan beberapa kisah patah hati dengan begitu baik dengan bumbu komedi ciri khasnya di buku barunya itu.  

Sejenak gue melamun, ada ratapan yang cukup panjang hingga akhirnya kembali teringat dengan sebuah kisah patah hati di semester yang baru saja berakhir, semester 3. Dengan asas you are what you read, beberapa bab di Ubur-ubur Lembur berhasil membuat adanya perasaan yang 'sangat-sangat-sangat' menggerutu dalam diri ini untuk juga menuliskan kisah patah hati tersebut. Brengsek, padahal gue udah berkomitmen untuk tidak menuliskan sesuatu yang berbau sendu lagi. 


Beberapa pria dalam hidupnya mungkin pernah tertarik pada wanita dengan cara yang sama, mereka menyukai seorang wanita, namun tidak ingin terlalu terburu-buru dan melakukan analisa untuk waktu yang cukup lama untuk menyimpulkan apakah wanita tersebut layak diperjuangkan atau tidak. Setelah lama menganalisa dan meyakini bahwa wanita tersebut layak diperjuangkan, ternyata ada fakta lain yang baru saja terungkap: wanita tersebut telah memiliki kekasih! Hina memang, tetapi sebuah patah hati di semester 3 gue seruput dengan rasa itu, rasa perih. 

Hebatnya lagi, karena wanita tersebut pecinta budaya Korea sejati, gue sempat memposisikan diri seperti halnya Jang-Geun-Suk di drama Korea yang berjudul Love Rain. Tapi setelah waktu berlalu dan fakta menyakitkan terungkap, gue sadar kalau peran di perintah Allah ke-9, Jang-ngan-mengingini-milik-seseamamu-secara-tidak-adil lebih cocok buat gue ketimbang peran sebagai Jang-Geun-Suk.

                                   ***

Dia sudah berada di dalam kelas ketika gue baru saja mendorong pintu untuk masuk ke dalam kelas. Meskipun, kehadirannya tidak langsung gue sadari saat itu. Kuliah di hari sabtu memang terlalu merampas hasrat, apalagi kelas dimana gue berada sekarang ini adalah kelas yang 'penting atau tidak pelajarannya' di semester 2 cukup dipertanyakan. Hanya 3 pertemuan, tapi memainkan peran pada nilai UAS dan UTS. Absen pun seakan menjadi barang eksklusif di kelas ini: jumlahnya tunggal.   

Dengan gerombolan teman pria lainnya, segera setelah masuk ke dalam kelas kami melakukan absensi dengan kartu mahasiswa masing-masing. Ternyata anggota kelas ini dilebur, teman-teman yang biasanya tidak sekelas disatukan di kelas ini, mungkin karena memang pelajarannya sendiri cukup general. Hal pertama yang gue lakukan adalah menatap ke deretan kursi bagian belakang yang sepertinya cukup nikmat untuk dijadikan basis tempat duduk gerombolan pria yang baru saja masuk ini. Hingga akhirnya tatapan itu teralihkan kepada seorang wanita yang terduduk disekitar kursi baris ketiga.  

Sambil berjalan bergerombol menuju kursi paling belakang, gue melewatinya. Bukan pertanyaan "Siapakah dia?" yang pertama kali muncul, karena gue tau dia adalah teman satu angkatan. Pertanyaannya adalah, wanita seperti apakah dia?  Parasnya cukup menarik, katakan saja bertubuh ramping dengan kulit yang cerah, dan mungkin dia sudah cukup bosan dengan rambut hitamnya. Belum ada rasa yang berkecamuk saat itu, hanya sebatas rasa penasaran yang meliputi sebuah tanda tanya dibelakang kata wanita seperti apakah dia. Sebuah tanda tanya yang cukup menjadi awal dari segalanya.

Beberapa bulan kemudian, semester 2 berakhir. Gue sudah mengantungi identitasnya secara tidak sengaja. Sesungguhnya gue nggak benar-benar tertarik pada awalnya, hanya disapa oleh rasa penasaran. Namun menjelang semester 3, ada sebuah keinginan dari dalam diri untuk bisa berada pada satu kelas yang sama lagi dengannya. Atau mungkin seluruh pelajaran sekelas, juga nggak apa-apa. Ketika jadwal kelas sudah keluar, gue menatap ke layar komputer lipat untuk mengintip pelajaran-pelajaran apa saja yang ada di semester 3 dan siapa saja teman sekelasnya. Rasa pingin sekelas itu masih ada, hingga akhirnya rasa itu terkonversikan menjadi suara hati yang berbisik, "yes, ada yang sekelas".

                                    ***

Semester 3 baru saja berlangsung 2 hari ketika gue sadar kalau hari kedua itu adalah hari yang sempat membuat gue mendapatkan bisikan "yes, ada yang sekelas" dari sang suara hati. Saat itu, gue berada di ruangan yang cukup luas sebelum akhirnya menyadari kalau gue duduk tepat dibelakangnya. Atasannya berwarna hijau, hanya itu yang bisa gue ingat. Selebihnya, gue hanya mengamati dari belakang sambil menikmati dilema untuk menjawab pertanyaan 'deketin nggak ya?'


Setelah beberapa jam di ruang yang cukup luas, kami berpindah ke ruang yang lebih sempit kala itu karena pergantian pelajaran. Meskipun pindah ruangan, gue tetap terduduk tepat dibelakang wanita dengan atasan hijau yang kelihatannya masih cukup bosan dengan rambut hitamnya itu. Sebentar, gue lupa saat itu rambutnya warna hitam atau masih berwarna lain. Namun karena dia sering bosan dengan rambut hitamnya, katakan saja rambutnya bukan warna hitam saat itu. Mungkin, semesta telah memberi restu. Hanya perlu naik satu level ke level apporaching. Pertemuan pertama, dosen masih basa-basi, belum banyak yang dijelaskan. Fokus gue lebih mengarah kepada gadis beratasan hijau yang duduk tepat di depan gue ketimbang dosen pria dengan kemeja dan kacamatanya yang mungkin memiliki sedikit jiwa psikopat didalamnya.

Sesekali menatap kedepan, sesekali melihatnya dari samping, berusaha menginterpretasi wanita seperti apakah dia. Mungkin butuh sekitar 3 tatapan dari samping untuk bisa mendengarkan suara hati yang berbisik, "cantik juga". Gue masih berusaha menebak-nebak seperti apa dalamnya. Bukan, bukan ukurannya, ukuran tidaklah penting bagi seorang pria yang sangat tertarik dengan seorang wanita di depannya. Lebih suka diam, tidak terlalu banyak bicara, kalem, hanya ketiga hal itu yang bisa diraba dari wataknya.

Segera setelah kelas break sekitar 20 menit, siang menjelang sore itu gue kembali duduk dibelakangnya. Menatap dari belakang lagi, menginterpretasikan wataknya lagi. Mungkin, dia tipe orang yang tidak suka menjadi pusat perhatian. Menarik, ada seorang wanita yang bisa dikatakan cantik dan kalem, tapi tidak suka menjadi pusat perhatian. Sore itu, kelas berakhir dengan pertimbangan gue yang juga berakhir. Pertimbangan itu berakhir dengan bisikan suara hati yang cukup tegas: "baiklah, mari kita dekati dia!"

Ketika menyukai seseorang, kita akan menjadi penganalisa dadakan. Banyak bahan yang bisa dianalisa, secara tatap muka seperti di kelas tadi contohnya, atau mungkin di social media untuk data yang lebih akurat. Tidak begitu sulit untuk menyimpulkan kalau wanita kalem yang tidak terlalu banyak bicara ini adalah penggemar Korea Utara. Korea Selatan, maksudnya. Ada gelengan kepala dan elusan dada disaat yang bersamaan segera setelah gue tau kalau dia K-poper. Gelengan kepala karena ternyata wanita ini adalah salah seorang dari wanita yang menyukai kumpulan pria sixpack yang menari-nari, elusan dada karena bersyukur yang dia sukai adalah Korea Selatan bukan Korea Utara. 

Akan sangat canggung tentunya ketika wanita yang kalem seperti dia ternyata penggemar berat Korea Utara. Dia akan menjadi tipe wanita yang kalem-kalem psikopat, yang kemungkinan akan meng-'gone girl'-kan gue saat gue menjadi kekasihnya. Nggak kebayang bagaimana nantinya kalau gue menikah dengan wanita tersebut kalau dia benar-benar pecinta Korea Utara. Mungkin, saat menikah nanti kita akan traveling ke Korea Utara untuk melihat uji coba rudalnya Kim Jong Un. Segera setelah dia melihat rudal ditembakan, dia akan berkata kepada gue: 

"Yeaaaaaaay papiii.. ada rudalll..." 
"Yeayyyy papi... ada toket.."

Lalu gue membalas:

"Roket mi, roket, bukan toket. Toket nggak bisa terbang! Nanti, sumberdaya papi hilang kalau toketnya mami terbang."  

Lalu bayi kami yang namanya Kim Un Jong hanya tersenyum mendengar percakapan orang tuanya. Ya, Kim Un Jung, Kim Jong Un dibalik.

                  ***
Ada satu hal yang cukup gue percaya dalam metode mendekati wanita: Jika kita sedang menyukai wanita, jadilah apa yang wanita tersebut suka untuk menarik perhatiannya. Karena si wanita kalem itu suka Korea Selatan, gue pun tidak memiliki pilihan lain. Nggak, gue nggak akan tiba-tiba muncul didepannya dengan memakai wig berwarna merah lalu meneriakinya, 

"HEIIII Anyong Haseoooo.... I'm Nickhun and I'm bad boy... Minguk-AAAAA, Daehan-AAAAA, MANSEEEEE" 
 

Gue masih cukup waras untuk tidak melakukan itu.  

Gue sendiri cukup sering menonton film Korea entah itu thriller mystery atau genre lainnya. Tapi menurut data yang valid, selain pecinta musik Korea wanita ini sendiri mungkin merupakan pecintra Drama Korea. Dengan asas menyukai wanita dengan menjadi apa yang dia suka, I did my research. Gue membuka komputer lipat gue sepulangnya ke rumah malam itu, dan gue menonton Drama Korea keluaran tahun 2012 yang berjudul Love Rain guna memahami interaksi antara budaya pria Korea dengan hal yang membuatnya disukai oleh penonton wanita.  

Ini bukan kali pertama gue menyaksikan Jang-Geun-Suk dan Yoona di drama Love Rain. Waktu kelas 9 dulu, gue pernah nonton drama ini. Gue bukan penyuka Drama Korea karena gue selalu bosan dengan cerita yang berkelanjutan dan mudah ditebak. Hanya ada 2 Drama Korea yang pernah gue tonton, salah satunya Love Rain. Karena situasi sedang mendesak, gue memutuskan untuk kembali menontonnya malam itu, niatnya hanya 4 episode pertama karena memang seinget gue Love Rain bagusnya cuma di 4 episode pertama.

Ternyata, setelah, diamati, dengan seksama, ada sebuah hal yang membuat Jang Geun Suk mungkin disukai oleh penonton wanita. Beliau rela berkorban. Jang Geun Suk ini adalah pemeran utama pria di drama tersebut, dan pemeran utama wanitanya adalah Yoona. Jadi, di drama tersebut ada sebuah adegan dimana saat itu turun hujan, Yoona dan Jang Geun Suk baru saja pulang kuliah dan tidak bisa kemana-mana selain menanti hujan agar berhenti. Dengan sangat insiatif, Jang Geun Suk mencari payung kesana kemari hingga akhirnya menemukan sebuah payung rusak lalu menawari Yoona payung tersebut. Mereka berdua kemudian berjalan bersama, berpayungan, menjadi kenal lebih dekat, dan... love rain is falling down.  




Jang Geun Suk kala itu terlihat cukup inspiratif. Ada dorongan dalam diri gue untuk mengikuti apa yang dia lakukan: sedia payung selagi hujan. Gue kemudian mencari payung lipat untuk dimasukan ke dalam tas, berharap suatu hari nanti akan adegan serupa seperti di drama Love Rain dimana si 'wanita kalem yang sudah bosan dengan rambut hitamnya' itu lagi menunggu hujan untuk berhenti. Dia tidak membawa payung, namun ingin menyebrang dari gedung kampus 1 ke gedung kampus 2 karena masih ada kelas yang harus diselesaikannya. Ketika skenario itu terjadi gue akan pura-pura berdiri di dekatnya, tidak melihatnya sembari mengeluarkan payung lipat dari dalam tas, lalu secara sengaja pura-pura tidak sengaja melihatnya seraya berkata, 

"Eh, ada si itu, mau kelas ya? Butuh tumpangan payung?" 

Lalu ketika memayunginya, gue akan memberikan dia porsi payung yang lebih agar tubuh gue agak sedikit keluar dari payung tersebut agar pakaian gue sedikit basah. Agar dia tahu, kalau gue rela berkorban basah-basahan seperti Jang Geun Suk.  Ada 2 kemungkinan yang akan terjadi setelahnya. Pertama, setelah gue basah-basahan memayunginya dia akan mengeluarkan dompet dari tasnya lalu memberi gue Rp. 2 ribu karena gue dikira ojek payung olehnya. Kedua, dia akan menatap gue dan menganggap gue pria yang rela berkorban dan -> love rain is falling down. 

Gue mengharapkan opsi kedua. Gue melihat kembali payung lipat tersebut sebelum benar-benar memasukannya. Ada iblis dalam diri gue yang berbisik 'Ya, benar, kamu harus memasukannya!" lalu roh kudus turun dalam bentuk lidah-lidah api malam itu ketika berbisik kepada gue "tidak anakku, hidup tidak seindah drama. Kamu akan kecewa ketika apa yang kamu harapkan tidak benar-benar terjadi".  Ternyata, dorongan iblis lebih kuat malam itu. Gue memasukkan payung tersebut, sembari tersenyum.



                             ***
Dua hari setelah payung itu nyaman di tas yang biasa gue pakai untuk kuliah, gue sedang terduduk diatas sofa. Hari itu tanggal merah, jadwal kuliah pun diliburkan. Gue lagi bereksperimen untuk tidak menggunakan Social Media selama sebulan lebih kala itu. Salah satu cara gue untuk melirik update dari wanita kalem itu adalah melalui group aplikasi chat online. Gue berada pada group kelas yang sama dengan dia kala itu, dan beberapa kali sering iseng melihat foto profilnya. Fotonya tidak menunjukkan keanehan, kadang wajahnya, kadang foto wallpaper biasa.

Sampai akhirnya.. 

hingga saatnya... 

yang dimana daripadanya..

                 Momen brengsek itu tiba.

Tibalah sore itu, ketika gue membuka grup kelas untuk melihat update foto profilnya. Ternyata foto profilnya sudah berganti. Mungkin hanya semacam mirror selfie. Tapi setelah diamati lebih dekat, itu memang mirror selfie, tapi dia tidak sendiri. Ada seorang pria bersamanya. Cukup rasional sekaligus konspiratif sebenarnya untuk menyimpulkan kalau pria tersebut adalah kecengannya. Gue menelan ludah, ada sebuah sakit teramat sangat yang menikam. Sebuah sakit yang gue ingat rasanya pernah gue rasakan beberapa tahun yang lalu ketika melihat wanita yang kita suka ada di satu frame foto dengan pria lain dengan sebuah probabilitas bahwa pria tersebut adalah kekasihnya.

Suara hati tidak berbicara apapun pada awalnya, sampai akhirnya tikaman itu ternyata cukup kuat untuk membuat sang saura hati berteriak  dalam diam, "Tidaaaakk!!!! dia sudah punya pacaaaaaaaaaaar". Atau, kalau ditranslate ke bahasa Thailand akan menjadi, "ไม่ม่ม่ม่ม่ม่!!!! เขามีแฟนแล้ว". 


Belum sempet gue mayungin dia, dia udah dipayungin cowok lain.


Tikaman itu juga sukses membuat gue meratap semalaman. Sampai akhirnya tidak cukup kuat, dan membuka buku Koala Kumal Raditya Dika untuk membaca kisah-kisah patah hatinya sebagai pelarian.  Mungkin ini dampak yang akan dialami seseorang ketika terlalu over dalam menganalisa. Terlalu banyak memperhitungkan apakah wanita tersebut layak untuk diperjuangkan atau tidak tapi mengesampingkan statusnya sudah ada yang punya atau belum ternyata berakhir cukup menyakitkan. Perih, lebih tepatnya. 

Terlalu cepat tentunya untuk menyimpulkan kalau dia sudah ada yang punya. Cuma mirror selfie, bukan bukti yang kuat untuk menjadikan pria dalam foto tersebut sebagai tersangka. Sialnya, beberapa hari kemudian wanita tersebut kembali mengunggah foto profil yang baru, juga dengan pria, dan kali ini lebih jelas. Jelas, kalau pria tersebut bukan saudara atau kerabat atau Kim Jong Un. Love rain will never falling down, will never. 

Hujan kadang memang terasa brengsek. Ia bukan hanya sebuah proses evaporasi yang menurunkan air untuk membasahi bumi, kadang ia juga menurunkan rintik harapan yang membasahi pipi (ini gue nggak nangis ya, cuma biar dramatis doang pakai kata membasahi pipi), lalu membuat harapan tersebut hanyut dalam deras dan tikaman petirnya. Kedatangannya selanjutnya sudah tidak menurunkan rintik harapan, karena harapan tersebut sudah hanyut. Kedatangannya selanjutnya membawa sesuatu yang lebih tinggi derajatnya daripada harapan: kenangan

                        ***

Semester 3 sudah akan berakhir saat itu. Gue sedang berada di barbershop dekat kampus, baru selesai memotong rambut ketika melihatnya berjalan menuju ke kampus. Dia nampaknya masih bosan dengan rambut hitamnya, namun kali ini dia mengekspresikan kebosanannya akan rambut hitam dengan warna yang berbeda dari sebelumnya. Ada senyum yang mengembang saat itu ketika melihatnya. Sampai akhirnya senyum itu pudar ketika gue mengingat kalau gue baru saja men-senyumi pacar orang lain.


                                                          To Be Continued.

1 comment:

  1. Ga papa kok, mensenyumi pacar orang lain, apalagi jika dia balik mensenyumi. jadi senyumsenyuman yang mungkin bisa bikin baper

    ReplyDelete

BELI SEPATU KUY!

@bokangco_id