Milenial, Z, Kenapa Tidak Membaca Buku?


Dalam beberapa konteks, membeli buku adalah sebuah hal yang tidak akan memiskinkan kita. Legenda pernah berkata jika buku adalah jendela ilmu. Ilmu sendiri adalah aset, dan maka dari itu jendela ilmu merupakan jendela aset. Bagaimana mungkin kita bisa miskin ketika kita membeli jendela aset? Tantangan selanjutnya hanyalah tentang bagaimana kita mengolah ilmu yang kita punya dari jendela tersebut.

Buku dengan genre apapun akan selalu memberikan kita ilmu. Percayalah, anak muda. Mau buku traveling, daily life-comedy, misteri, komik, atau apapun itu pasti akan memberi kita ilmu jika kita dapat menginterpretasikannya dengan tepat. 

Sedihnya, rasa-rasanya semakin teknologi berkembang semakin sedikit anak muda yang membaca buku. Entah generasi Milenial yang paling berkuasa di zaman teknologi sekarang ini, atau generasi Z yang lahir di zaman teknologi, yang jelas budaya membaca buku semakin lama terasa semakin pudar. Ketika budaya membaca buku si Milenial dan si Z itu pudar, maka ter-generalisasi lah generasi Milenial dan generasi Z menjadi generasi nol buku.

Buku yang dibaca itu tidak harus selalu buku pelajaran. Membaca buku pelajaran memang sucks, tapi percayalah membaca buku yang kita pilih sendiri karena kita tertarik dengan sinopsis atau plot cerita dari buku itu adalah sesuatu yang menyenangkan. Penulis tulisan ini sendiri bukanlah orang yang benar-benar memiliki banyak buku, tapi cukup suka membaca buku dan sedang progres untuk membudayakan membaca dan membeli buku. On going untuk menjadi orang yang punya banyak buku, sederhananya. Masih ingat dalam ingatan penulis ketika sempat mengoleksi komik Naruto dan Doraemon saat kelas 4 SD, lalu budaya membaca buku itu pudar saat Sekolah Menengah Pertama hingga akhirnya hobi membaca itu terangsang kembali di Sekolah Menengah Akhir karena penulis meminjam banyak bukum daily life-komedi Raditya Dika dari seorang teman. 

Here's the thing, digitalize. Membaca buku dan membaca dari internet itu dua hal yang sama sekaligus berbeda. Sama-sama membaca, sama-sama dapat ilmu, tapi berbeda dalam prosesnya. Hampir semua hal memang bisa didigitalisasi di zaman teknologi ini, tak terkecual buku yang bisa dijadikan E-book.  Ya, buku memang bisa di E-book-an, tapi ada satu hal yang meliputi beberapa elemen dari buku yang tidak bisa didigitalisasi: sensasi

Berbicara tentang sensasi membaca buku berarti berbicara tentang rasa, tentang budaya. Buku memang bisa dijadikan E-book, tapi sensasinya? Hanya membaca dari gadget, scrolling and scrolling, dengan latar belakang warna yang kebanyakan selalu putih, dan itu saja. Ya, semembosankan itu. Berbeda ceritanya dengan buku yang kita baca secara fisik. Ada beberapa elemen dari buku yang tidak akan bisa didigitalisasi. Aroma buku baru ketika pertama kali ditelanjangi dari plastik pembungkusnya, membolak-balik lembar demi lembar hingga akhirnya memutuskan untuk selesai membaca dan membatasinya dengan pembatas buku, semua hal itu tidak akan pernah bisa didigitalisasi karena hal itu telah menjelma menjadi semacam budaya.

Reading is a perfect escape

Membaca adalah pelarian yang sempurna. Begini, anak muda, Wahai Milenial dan Z, Apa yang kalian lakukan ketika kalian sedang berada di rumah lalu internet kalian mati, wifi pun ikut mati oleh karenanya, Fast Media atau Indovision yang telah kalian bayar untuk berlanganan juga mati, dan sialnya kuota ponsel pintar kalian juga sedang habis dan kalian lupa mengisinya? 

Stress, percayalah, jangan munafik, kalian akan merasa stress, sambil terbaring di atas ranjang, galau buta dan mengeluh setiap menit kapan internet tersebut akan nyala. Wajar, karena kalian telah kehilangan internet dan wifi yang merupakan sumber penghidupan. 



Pertanyaannya hanya satu, jikalau itu semua terjadi, kenapa tidak membaca buku?

Kita tidak memerlukan internet untuk membaca buku. Kita bisa bermain dengan fantasi kita melalui kata demi kata dan kalimat demi kalimat yang kita baca tanpa peduli 'internet udah nyala apa belum?'.  Membaca buku adalah pelarian yang sempurna, ketika kita memang memiliki ketertarikan dari aktivitas membaca buku itu sendiri. Menggapai ilmu sembari bermain dengan fantasi, itulah substansinya. 


Rak intelektualitas

Ada hal menarik yang dirasakan penulis tulisan ini saat mengawali pelayaran hidup di 2018. Setelah menyantap buku The Dry dari Jane Harper sebagai buku pertama yang dibaca di 2018, lalu membeli Ubur-ubur Lembur serta Supernova 3 setelah selesai membaca The Dry, ada sebuah keyakinan dari diri penulis bahwa aktivitas membaca buku adalah hal yang harus dioptimalkan. Selama ini penulis memang suka-suka saja membaca, namun seiring dengan berjalannya waktu penulis semakin jatuh hati dengan permainan kata demi kata yang mengagumkan dari beberapa penulis ternama. Alokasi dana di tahun 2018 pun sepertinya akan lebih banyak untuk membeli buku ketimbang barang-barang seperti sneakers dan sejenisnya.

Mengolah kata, mengundang rasa. Itulah spesialnya permainan kata dari penulis ternama. Rasa yang diundang tentu berbeda-beda, sesuai dengan genre buku itu sendiri. Ketika buku itu bergenre komedi, penulisnya akan berpikir sekeras mungkin untuk mengolah kata agar mengundang tawa. Sementara untuk buku misteri, penulisnya akan berpikir sekeras mungkin untuk mengolah kata mengundang ketegangan. Mengolah kata mengundang rasa penasaran mungkin hal yang biasa dilakukan oleh penulis buku travel. Sangat menarik memang untuk membaca bagaimana penulis-penulis ternama itu bermain dengan kata untuk mengolah rasa yang mereka inginkan.



Segera setelah selesai membaca buku The Dry dan membeli Ubur-ubur Lembur serta Supernova 3, penulis tulisan ini menyadari ada sesuatu hal yang ganjil: rak buku utama sudah penuh!

Tidak penuh dengan buku semua tentunya, karena ada beranekaragam barang yang ikut mengisi kekosongan di rak yang berwarna abu-abu itu. Rumah bagi Supernova 3 dan Ubur-ubur Lembur yang baru saja dibeli pun menjadi sebuah pertanyaan bagi penulis. Bisa saja kedua buku baru itu ditaruh di lemari berwarna cokelat terang itu, bercampur dengan buku-buku pelajaran. Namun ada sebuah dilema dalam diri penulis, ingin rasanya membeli rak buku baru. Lagipula, kalau di ramal-ramal, mungkin penulis tulisan ini akan memiliki dan membaca banyak buku kedepannya.

Berhubung cara terbaik melawan dilema adalah dengan menghadapinya, penulis pun memutuskan untuk membeli rak buku baru. Buka marketplace, pesan pakai go send, dan tibalah rak buku portable berwarna biru navy itu yang harus dipasang-pasang sendiri terlebih dahulu. Setelah ditinjau, kurang lebih rak ini bisa menampung sekitar 90-100 buku. Saat ini rak itu baru dihuni oleh 2 buku saja, Ubur-ubur Lembur dan Supernova 3. Menarik bagi penulis tulisan ini untuk menunggu beberapa tahun agar rak ini bisa penuh. Rak ini sedang on going untuk menjadi sebuah rak intelektualitas milik seorang generasi Z yang kekosongannya akan dihiasi oleh ratusan buku kedepannya.  

6 comments:

  1. Yah, prihatin juga karena generasi zaman sekarang gak doan baca buku. Saya yang kelahiran tahun 1975 sangat doyan baca karena kondisi. Tahun '80-an 'kan hiburan satu-satunya bacaan. Gitu juga tahun '90-an meski dah ada stasiun TV swasta namun bacaan cetak belum tergeser gawai. Lalu tahun 2000-an, mulai deh ada semacam pergeseran pelan namun pasti akibat digitalisasi. Makanya banyak media cetak koran atau majalah yang tumbang. Calon pembacanya lebih memilih gawai.
    Semangat terus untuk baca buku dan koleksi semua. Siapa tahu akan bertumpuk-tumpuk koleksinya. Baca buku emang penuh sensasi. Setidaknya membantu penulis dan penerbit juga, hehe.
    Rak bukunya bagus, jadi mupeng. Kok harganya gak disebutin? Hahaha. Salam kenal sebagai sesama Gyer BE.

    ReplyDelete
  2. senang sekali mampir di tulisan ini karena kita memiliki hobi yang mirip..., ya membaca. saya setiap bulan selalu memprioritaskan buku ketimbang baju dan make up.., karena bagi saya buku adalah kebutuhan, buku adalah nafas saya untuk menyelamatkan otak saya dari pikun wawasan dan buta ilmu pengetahuan.

    salam kenal ya...

    ReplyDelete
  3. Saya setuju, membaca melalui gadget gak semenyenangkan membaca buku secara fisik. Mata juga sering lelah kalau lama-lama di depan gadget.

    ReplyDelete
  4. eh itu rak gituan namanya apa? Pengen beli juga, buku-buku hanya ketumpuk di meja soalnya. #gagalfokus

    eh tadinya gue mikirnya gitu sih, orang-orang mulai males baca, kalo pun ada paling hanya segelintir aja. Sampai kemudian gue melihat komunitas-komunitas baca yang membuat orang melihat buku terlihat menarik, seperti komunitas blogger baca indonesia, klub baca di goodreads, komunitas booktuber bikin video tentang buku di youtube, ada juga komunitas yang bikin foto-foto buku bagus di instagram. Jadi sebenarnya Indonesia punya harapan untuk membuat generasi milenialnya mau baca buku lagi, membuat baca buku itu gak lagi kerjaan para kutu buku tapi kerjaan orang-orang keren. :3

    ReplyDelete
  5. salfok sama om tony stark wkwk. gadget dengan segala multifungsinya menarik minat generasi z dari buku ke gadget mas... padahal dulu waktu aku kecil beli buku cerita itu bener2 udah kayak rasa diulangtahunin wkwkw. saat ini aku juga sedang banyak utang buku yang belum dibaca euy. baca postingan ini jadi langsung inget :"

    ReplyDelete
  6. Ikut senang ada generasi Z yang berencana mengoleksi buku untuk kedepannya, terlebih sudah mempersiapkan rak-nya terlebih dahulu. Soalnya saya juga punya punya rak buku yang penuh dengan novel dan komik di rumah, tetapi saudara-saudara sepupu saya generazi Z kalau ada waktu senggang dikit2 pasti diisi dengan main mobile legend maupun aktivitas hiburan lainnya di gadget. Gak melirik seama sekali ke tumpukan buku. Sedih juga rasanya T,T

    ReplyDelete

Pages