Kunamai Privatisasi Utopia Itu Namamu (keping kedua)


Privatisasi Utopia. Salah seorang dosen mata pelajaran Strategi Korporasi Multinasional di awal semester 4 ini pernah menjelaskan tentang privatisasi utopia. Sederhananya, privatisasi adalah proses menjadikan milik umum sebagai milik pribadi. Sementara, utopia...

Utopia adalah sebuah kondisi dimana sesuatu yang ingin dimiliki tidak bisa dimiliki. Sekarang kalian cari contoh privatisasi utopia di Indonesia.
                                                                              Kurang lebih seperti itu, kata bu dosen.

Ingin memiliki sesuatu namun tidak bisa? Kalau begitu, selama ini, dia adalah utopia. Bagai pungguk merindukan bulan, dia adalah sesuatu yang ingin dimiliki tapi tidak bisa dimiliki. Bukan, dia bukan hanya utopia. Dia adalah privatisasi utopia! Bagaimana awalnya ia merupakan milik umum karena statusnya yang lajang, lalu kemudian muncul-lah seorang pria yang menjadikan dia milik pribadi. Sementara pria lain, tidak lagi bisa memprivatisasikannya karena kalah cepat.

Dear bu dosen, saya tidak perlu lagi mencari contoh privatisasi utopia di Indonesia. Saya sendiri adalah bagian dari privatisasi utopia di semester lalu. Dia adalah utopia, dia adalah privatisasi, saya adalah korban.

                                                     ***
Bagaimanapun, cerita yang belum tuntas harus dituntaskan. Entah seperti apapun akhirnya. Bukan begitu, anak muda? Oleh karena itu, mari kita tuntaskan kisah perih yang belum tuntas ini.

............melanjutkan keping pertama.


Gue sedang berada di barbershop dekat kampus, baru selesai memotong rambut ketika melihatnya berjalan menuju ke kampus. Dia nampaknya masih bosan dengan rambut hitamnya, namun kali ini dia mengekspresikan kebosanannya akan rambut hitam dengan warna yang berbeda dari sebelumnya. Ada senyum yang mengembang saat itu ketika melihatnya. Sampai akhirnya senyum itu pudar ketika gue mengingat kalau gue baru saja men-senyumi pacar orang lain.

Ada sebuah istilah yang cukup tepat untuk menggambarkan orang lemah yang menaruh rasa pada kekasih dari orang lain dengan disertai keinginan untuk mendekatinya: Penista Asmara. Pria sejati selalu menjunjung tinggi etika berasmara: naksir cewek orang boleh, lebih dari itu tidak. Merasa cukup sejati, gue tidak pernah berminat menjadi seorang penista asmara yang senantiasa dibodohi oleh rasa ingin memiliki yang menggerutu. 

      Lagipula, hal yang paling menyedihkan ketika kita berhasil merebut 'milik' orang lain bukan tentang probabilitas baku hantam yang akan terjadi antara kita dengan mantannya, namun hal yang paling menyedihkan adalah ketika secara tidak sadar kita mengungkap fakta jika 'orang yang baru saja kita rebut itu' memiliki mental selingkuh. Sederhananya, ketika dia berhasil kita rebut saat dia masih menjadi pacar orang lain, akan ada kemungkinan sama besarnya jika dia akan di rebut orang lain ketika dia menjadi pacar kita. Mental selingkuh itu human nature, anak muda.  
I fine, thank you

Ada roman yang belum rampung. Ada rasa yang harus dibunuh lebih awal, mengaborsi rasa mungkin bisa menjadi istilah yang tepat meskipun terdengar agak sedikit konyol. Acuh tak acuh terhadap rasa sakit bukanlah solusi, membesuk harapan hanya memperdalam luka, semua serba salah. Sebuah pelajaran klasik yang bisa  dipelajari di semester 3 adalah bahwa merelakan dengan ikhlas bukanlah hal mudah. Sulit dipungkiri jika siluetnya adalah siluet yang selalu ditunggu setiap ada pelajaran di waktu yang sama. Setiap menatap siluet itu, semua pemandangan yang ada didepan mata terasa hilang, kosong, hanya ada dia dan siluetnya. Sebelum akhirnya 'pria' itu datang, lalu merangkulnya pergi, jadilah mereka 2 siluet yang saling berangkulan. Ah, sudahlah.
    
Lucu rasanya, bagaimana seseorang yang belum pernah dimiliki sebelumnya justru terasa begitu berarti. Tapi memang begitulah logika hidup. Terkadang, seseorang yang belum pernah kita miliki dapat terasa begitu berarti bukan karena dia memang begitu berarti, namun hanya saja karena ktia tidak sempat 'merasakan dirinya' ketika pikiran kita sudah terlanjur menampung bayangan akan segudang cerita baik tentangnya.                                                     
                                                               ***
Hari itu. Gue ingat hari itu, saat sebuah acara menjelang akhir semester 3. Pada pagi yang cukup cerah itu, gue datang cukup awal. Banyak bangku yang masih kosong, banyak teman yang sudah dan belum hadir, banyak juga teman yang beralmamater menjadi panitia acara. Tidak ada ambisi lain saat itu selain bertanya kepada salah satu tamu dengan catatan dapat membuatnya kesulitan dengan pertanyaan yang akan ditanyakan nanti. Ya, tidak ada hasrat ataupun ambisi lain, sampai akhirnya leher gue menengok ke belakang dan... dia duduk disitu, kanan agak belakang. Ada hasrat yang berubah, dari bertanya dan membuat kesulitan menjadi menengok dan menatap diam-diam.  

Dia mengenakan almamater. Apakah dia ikut menjadi panitia acara ini? Awalnya gue bertanya-tanya. Tapi ternyata, itu semua hanya ilusi warna. Itu bukan almamater, hanya sebuah baju kaus yang berwarna persis seperti almamater. Tapi bukan 'warna baju yang seakan bermimikri menjadi merah maroon' nya yang menarik, yang menarik adalah penampilannya saat itu dengan poni yang diangkat sehingga terpampang lah jidatnya. Wauw, perasaan yang menggebu-gebu itu kembali menyapa, brengsek. Sialnya, rasa menggebu-gebu itu tidak hilang meskipun gue sudah mengingat kalau dia punya orang lain. Demi apapun, tidak ada yang lebih menarik di hari itu selain pemandangan gadis kalem berbaju merah gelap dengan poni yang diangkat seperti itu. 

Sungguh pemandangan yang indah. Mungkin, bisa jadi masuk ke daftar 20 pemandangan terindah yang pernah gue lihat. Entah peringkat berapa yang pas untuk mempertegas posisinya di top 20. Gue takut, takut 19 pemandangan lainnya iri hati kalau pemandangan yang baru saja gue lihat langsung menjadi juara duduk di peringkat pertama sebagai pemandangan terindah. Sungguh hari yang sulit untuk dilupakan, dan sungguh gadis tanpa poni yang harus dilupakan meskipun sulit dilupakan. 

                                       ***

Tidak ada yang lebih lega bagi pria yang berusaha mengikhlaskan selain pada akhirnya berhasil mengikhlaskan. Tidak ada rasa lagi, luar biasa. Meskipun pemandangan tanpa poni saat itu masih menjadi top 20, tapi mungkin rasa yang dulu menggerutu kini benar-benar sudah teraborsi, terdegradasi, sudah basi, ejakulasi. Selamat tinggal, Jang Geun Suk gagal.


I fine thank you, no longer love you

Ketika semester 3 berakhir, kisah patah hati pun juga berakhir. Cukup perih ketika wanita yang ingin kita payungi malah dipayungi pria lain,  ketika harapan terdistorsi menjadi kenangan yang menyakitkan, ketika menjadikan aset pria lain sebagai top 20 pemandangan yang pernah kita lihat. Perih itu jelas merupakan perih jenis utopia. Ya, perih-vatisasi utopia, perih karena tidak bisa memiliki sesuatu yang ingin dimiliki. 

     Entahlah, entah nama apa yang pas untuk menjadi nama dari perih-vatisasi jenis utopia ini. 'Perih di semester 3'? Terlalu norak. Sudahlah, sepertinya tidak ada nama yang lebih tepat dan fair untuk menjadi nama dari perih ini kecuali....... namanya sendiri. Dua kata, dengan kuantitas huruf seperti kuantitas hari dalam bulan februari pada tahun kabisat yang kehilangan 18 harinya. Ditambah setengah dikali dua. 

                                                    Tamat

1 comment:

  1. baru tau artinya utopia ternyata begitu :(

    ReplyDelete

BELI SEPATU KUY!

@bokangco_id