Xi Jinping, OBOR, dan Presiden Seumur Hidup


'Presiden seumur hidup',

Apa yang ada di benak kebanyakan orang ketika mendengar gelar tersebut? Dekret, diktator, kerusuhan, cukup adil sepertinya jika 3 kata tadi menjadi 3 kata utama yang bermain-main dibenak kebanyakan orang ketika mendengar kata presiden seumur hidup. Masa lalu memang senantiasa mengajarkan dunia tentang pecahnya tragedi, konflik, serta demonstrasi besar-besaran terkait presiden seumur hidup. Lantas, bagaimana dengan presiden seumur hidup di abad ke 21 ini?

Mari mendaratkan perhatian ke negara yang satu ini: China. Beberapa waktu yang lalu, presiden Xi Jinping selaku kepala negara China resmi menjadi presiden seumur hidup. Bukan karena dia mengeluarkan dekret secara sepihak, namun karena dicabutnya pasal dalam konstitusi China tentang pembatasan masa jabatan presiden selama 10 tahun dalam sebuah kongres yang bertajuk National People's Congress. Menjabatnya Xi seumur hidup bisa jadi sesuatu yang menakutkan, bukan bagi rakyat China namun bagi dunia.   

Bukan, bukan rakyat China yang ketar-ketir. Namun negara super power seperti Amerika lah yang seharusnya ketar-ketir. Berbicara tentang presiden seumur hidup berarti berbicara tentang stabilitas negara. Kita tahu sekarang ini China adalah salah satu kekuatan baru di dunia dengan pengaruhnya yang cukup besar baik dalam aspek ekonomi maupun aspek lainnya. Stabilitas dalam politik dan kebijakan terkait banyak aspek adalah apa yang akan didapatkan China dengan diangkatnya Xi sebagai presiden seumur hidup. Dengan stabilnya China sebagai kekuatan dunia, Amerika sudah seharusnya berhati-hati jika tidak ingin singgasananya sebagai hegemoni dunia terpaksa beralih pemilik atau terpaksa harus dibagi menjadi dua.  

Bayangkan saja, akan seberapa menakutkannya China ketika One Belt One Road benar-benar terealisasikan di masa mendatang. Bukan hanya tentang ekonomi atau geopolitik, namun tentang pengaruhnya kepada dunia. Tentang perjalanannya memijak tangga hegemoni.

Jalur Sutra modern di era Mao Zedong modern

Alkisah sekitar 2000 tahun yang lalu, pada masa kekaisaran Zhang Qian di China, sebuah ide gila tentang pembuatan jalur yang akan menghubungkan China dengan dunia Arab dan Asia Tengah tercetuskan guna menciptkan efisiensi perdagangan. Konsep jalur yang menghubungkan China dengan dunia tersebut dikenal dengan jalur sutra. Dan sekitar 5 tahun yang lalu, pada tahun 2013 seorang presiden China yang bernama Xi Jingping mencetuskan ide untuk kembali menghidupkan jalur sutra di era modern, dengan tajuk One Belt One Road (OBOR).

Tidak hanya dunia Arab dan Asia Tengah, OBOR memiliki skala yang lebih gila. China dalam jalur sutra modernnya benar-benar ingin mengoptimalkan pasarnya di Asia Tenggara, bahkan hingga ke Eropa. Gelontoran dana yang gila-gilaan pun dikeluarkan tatkala melobi negara-negara yang akan dilalui jalur ini merupakan sebuah kewajiban. Berbicara tentang One Belt One Road tidak hanya berbicara tentang konektivitas. Namun juga berbicara tentang pengaruh, terutama dalam domain ekonomi dan geopolitik. Tentu, Indonesia pun memiliki konsep serupa dalam Poros Maritim Dunia, namun One Belt One Road atau jalur sutra modern dari Xi Jinping memiliki skala yang jauh lebih besar dan bisa saja menjadi kendaraan bagi China untuk menikung Amerika.

OBOR adalah cita-cita yang tegas dalam menunjukkan keperkasaan China dibawah kepemimpinan Xi Jinping. Biasanya, ketika kepemimpinan berganti, maka sebuah wacana di era pemimpin sebelumnya bisa saja kadaluarsa begitu saja hingga akhirnya menjadi retorika belaka. Namun, jika presidennya memiliki gelar seumur hidup, stabilitas adalah apa yang akan didapatkan. Ketika China dengan stabil terus menerus merancang jalur sutra modern tersebut, jangan tanya seberapa menakutkannya China di masa mendatang.

Nestapa bagi rakyat niscaya Xi melakukan blunder


Tian An Men, 1989. 

Di tempat tersebut, di tahun tersebut, sebuah demonstrasi besar-besaran yang dimotori oleh mahasiswa menuntut reformasi demokrasi di China. Sekitar 100.000 mahasiswa berkumpul, dan sekitar 3000 tewas. Ketidakpuasan dengan pemerintah saat itu serta ditenggarai dengan kasus-kasus tertentu membuat rakyat bergerak menuntut apa yang mereka inginkan. Jika Xi melakukan sebuah kesalahan yang justru menciptakan blunder dan membawa China kedalam nestapa, dari yang awalnya rising power justru malah jatuh ke tingkat yang lebih rendah, bisa saja peristiwa Tian An Men terulang kembali dengan tuntutan memberlakukan kembali pasal yang mengatur pembatasan jabatan presiden.

Revolusi budaya di era Mao Zedong juga dapat menjadi pelajaran bagi Xi. Ketika konsep tidak sesuai dengan pelaksanaannya, disaat itulah konsep tersebut gagal dan cenderung merugikan. Bahkan setelah Mao Zedong meninggal pada 1976, beberapa tahun kemudian kegagalan dalam revolusi budaya yang dicetuskannya masih saja terasa. Xi tentunya cukup cerdas untuk belajar dari pengalaman-pengalaman pahit bagi negara di dunia karena 'presiden seumur hidup' sebelumnya. Karena bagaimanapun, China merupakan rising power. Sudah seharusnya stabilitas dari dalam yang akan didapatkan China dengan diangkatnya Xi sebagai presiden seumur hidup berakhir dengan naik level bagi China dari sekedar rising menjadi kekuatan yang lebih menakutkan.

China pada akhirnya juga harus cukup realis dalam menghadapi tantangan dari luar. Beberapa negara mungkin tidak ingin jika China menjadi kekuatan yang terlalu berpengaruh bagi dunia, permainan pun akan dimulai oleh karenanya. Melemahkan China dengan aspek apapun menjadi taktik tersendiri tentunya bagi 'beberapa kekuatan' tertentu. Sehingga, mari kita nikmati permainan tersebut.

No comments:

Post a Comment

BELI SEPATU KUY!

@bokangco_id