Mark Zuckerberg, Kebocoran, dan Diplomasi Digital Marketing


          "Sekarang itu bukan lagi zamannya teknologi informasi.."

          "Terus, zaman apaan pak?"

          "Teknologi data."

Kurang lebih begitulah percakapan antara mahasiswa yang sedang mendaftarkan diri untuk mengikuti salah satu lomba esai nasional dengan wakil dari bagian kemahasiswaan yang menginterogasinya. Teknologi data, apa pula itu? Untuk orang yang bukan tech enthusiast, teknologi informasi mungkin masih menjadi istilah paling relevan untuk menggambarkan perkembangan teknologi saat ini. Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir ini, teknologi informasi ternyata telah tergantikan eksistensinya oleh teknologi data. 

Jika teknologi informasi berarti bagaimana teknologi mampu memberi informasi kepada pengguna, maka teknologi data berarti bagaimana teknologi dapat memahami kebiasaan pengguna. Berbicara tentang teknologi data berarti berbicara tentang memahami pengguna. Perusahaan-perusahaan teknologi besar semacam Amazon, Facebook, Google tentu memiliki pengguna yang luar biasa besar. Setiap pengguna memiliki 'kebiasaan' masing-masing. Dan teknologi data dalam hal ini berperan sebagai instrumen untuk mensinkronisasi serta 'memahami kebiasaan' yang dilakukan oleh para pengguna, dan mentransformasikan pemahaman tersebut kedalam sebuah data.

Dunia menyorot Mark Zuckerberg dan sidangnya secara masif beberapa waktu belakangan ini. Pasalnya kasus 'data bocor' yang menimpah Facebook bukan hanya tentang Facebook, tapi juga tentang pengguna dan politik. Sangat menarik sesungguhnya untuk mengikuti kasus ini, mengingat facebook memiliki pengguna yang luar biasa banyaknya dan menarik untuk melihat bagaimana Mark Zuckerberg dengan kharismanya selaku orang nomor satu di Facebook berusaha melindungi Facebook dari serangan pertanyaan para senator. Hal yang terpenting pada sidang Mark Zuckerberg adalah kita dapat mempelajari bagaimana taktik 'orang hebat' menghadapi sebuah masalah besar yang menimpahnya pada sidang kasus Facebook ini. 

Tanda tanya besarnya terelaborasi menjadi 2 opsi. Pertama, Apakah kasus data bocor ini akan menjadi akhir dari perkasanya Facebook setelah bertahun-tahun menjadi raksasa? Atau kedua, Apakah kasus data bocor ini malah menjadi titik bagi Mark Zuckeberg untuk semakin menunjukkan betapa perkasanya Facebook dalam menghadapi skandal yang sangat kontroversial? Menarik, menarik. 


Ih, Bocor
Bocornya puluhan juta data pengguna Facebook menunjukkan bahwa Facebook gagal menjadi 'pembalut data' bagi para penggunanya. Sayangnya, Facebook tidak dapat menjadi Charm Body Fit yang mampu membuat penggunanya merasa selalu nyaman di setiap saat karena di setiap saat bisa saja data mereka bocor untuk disalahgunakan.

Terlepas dari sidang Mark Zuckerberg, ada sebuah pertanyaan yang terlintas di benak penulis: Data Facebook kan bocor tuh, bocornya untuk kepentingan partai Donald Trump. Lalu, bagaimanakah tindakan pemerintah Amerika sendiri untuk menindak-lanjuti tim sukses Trump yang menggunakan data bocor pengguna Facebook untuk kepentingan mereka? Apa, penggunaan data untuk kepentingan partai Trump itu 'dianggap legal' karena pemerintah Amerika sendiri sekarang dibawah pimpinan Trump, atau bagaimana?

Kurang adil sesungguhnya jika yang diadili hanya pihak Facebook, sementara pihak Trump yang mengelola data tersebut untuk kepentingan politik tidak disentuh. Jangan tanya bagaimana data tersebut bocor, karena prosesnya pasti sangat sangat kompleks. Namun ketika pertanyaan diarahkan ke 'seperti apa' data bocor yang dimaksud, pembahasan akan menjadi menarik. Karena ketika pertanyaan diarahkan ke domain 'seperti apa' maka kita berbicara tentang teknologi data yang dimiliki Facebook.

Ketika sedang bermain Facebook ataupun social media lainnya, tentu akan ada iklan-iklan yang senantiasa menyertai entah itu didalam konten yang sedang kita buka ataupun di sisi sebelah kanan, kiri, atas, ataupun bawah konten. Iklan itu bisa ada karena ada pengiklannya. Namun, mengapa iklan yang kita lihat sering kali merupakan 'barang yang kita suka?' Itulah teknologi data. Facebook dapat menginterpretasi 'kebiasaan kita' dan memahami apa yang kita suka untuk disinkronisasikan menjadi sebuah data pengguna. Sehingga pengiklan yang mengiklankan suatu produk dapat menjangkau para pengguna yang memang menyukai produk tersebut dan berpotensi untuk menjadi pembeli. Dan data tersebutlah yang kemudian bocor. 

Facebook Ads dan Diplomasi Digital Marketing

Salah satu approachment Mark Zuckerberg untuk menjawab pertanyaan para senator adalah melalui Facebook ads yang berperan besar bagi pertumbuhan SME di seluruh dunia. Approachment yang cukup brilian, karena memang sudah begitu banyak bisnis di dunia yang dibantu oleh Facebook Ads. Facebook Ads memang begitu populer, sehingga tidak heran jika diplomasi yang dilakukan Mark di sidang kental dengan 'diplomasi digital marketing' dengan menunjukkan betapa perkasanya Facebook dalam membantu SME dan nasib buruk seperti apa yang akan terjadi di dunia digital marketing jika Facebook ditutup. 



Sebelum bisa ditumbangkan, Facebook sudah mengikat ketergantungan ekonomi digital dunia terhadap fitur Facebook Ads-nya. Belum lagi, fitur tersebut terintegrasi dengan fitur instagram ads. Menarik melihat perkembangan digital marketing jika Facebook ads benar-benar tidak dapat dipakai karena Facebook ditutup. Buku-buku seputar 'jago jualan' di Facebook dengan menggunakan fitur Facebook ads mungkin sudah tidak akan laku lagi dan ada sangat banyak usaha yang pendapatannya menurun drastis kalau saja Facebook benar-benar ditutup.

Belum lagi institusi-institusi pendidikan seputar digital marketing yang nampaknya akan kekurangan materi jika sampai Faebook Ads tidak dapat digunakan lagi. Sungguh luar biasa Facebook Ads ini, jangkauannya bukan hanya mengikat ranah ekonomi, namun juga pendidikan. Sangat sulit sepertinya untuk menutup Facebook mengingat pengaruhnya terlalu besar di dunia digital bagi dunia. Lantas, apakah pemerintah Amerika akan menggunakan sanksi yang lebih politis seperti 'menasionalisasi' sebagai ganti menutup? Jeng-jeng.


Pada akhirnya, kita dapat menyimpulkan bahwa:  Ya-sudah-lah-ya, kita sebagai orang yang tinggal di Indonesia jangan terlalu memusingkan urusan orang Amerika. Nikmati saja daramanya. Toh, iklan yang sering muncul di Facebook kita biasanya iklan obat peninggi badan atau obat pembesar payudara, kalau pun bocor data seperti itu, apa yang bisa dilakukan calon presiden? Kampanye janji subsidi krim pembesar payudara? Haduch. 

2 comments:

  1. Denger berita ini jadi muncul banyak opini. Salah satu yg paling besar adalah akan diblokirnya Facebook. Gue parno langsung save semua foto~

    ReplyDelete
  2. Hm... menarik memang berita tentang bocornya data facebook. Sebuah ujian bagi Mark untuk mempertahankan keperkasaan Facebook. Satu dari sekian seleksi alam yang akan dilewati 'penguasa'. Mungkin selama belum ada yang bisa menjadi pesaing Facebook ads, Facebook tidak bisa ditumbangkan begitu saja. Sesuatu yang sudah sangat mengakar pada masyarakat dunia tidak bisa dicabut begitu saja, seperti yang dikatakan di sini, bukan hanya masalah ekonomi tapi juga ke pendidikan. Perlu ada pengganti yang digerakkan untuk menjadi pesaing. Kalau tidak ada, Facebook akan tetap kokoh

    ReplyDelete

BELI SEPATU KUY!

@bokangco_id