Mengendalikan Hati yang Patah

Sad minguk
Mungkin cukup fair sepertinya jika kita menyimpulkan kalau patah hati merupakan sebuah fenomena yang senantiasa menyertai manusia di setiap fase kehidupanya. Waktu kecil, patah hati karena nggak dibeliin mainan. Waktu dewasa, patah hati karena ditinggal pasangan. Waktu udah tua, patah hati karena sakit-sakitan. Patah hati, sungguh sebuah fenomena yang meresahkan.

Banyak orang yang menganggap patah hati sebagai fenomena yang menyedihkan. Terlalu banyak, bahkan. Padahal, sebenarnya patah hati tidak melulu menyedihkan kalau kita bisa 'mengelolanya'. Hati yang patah menjadi begitu menyedihkan karena kita tidak bisa mengendalikannya. Padahal, sejatinya rumus untuk mengendalikan patah hati itu terbilang cukup sederhana: kalau nggak mau dibawa sedih, ya dibawa happy.

Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana caranya membawa happy sesuatu yang sedih? Cukup klise mungkin, namun perlu penulis katakan jika caranya adalah dengan mengelola prespektif masing-masing. Terkadang, kita terlalu berfokus kepada rasa sakit yang disebabkan oleh 'patah' tersebut, sampai-sampai kita terbuai dan lupa jika sesuatu yang sedih tidak selamanya benar-benar mutlak menyedihkan. Kita hanya butuh memutar prespektif, untuk melihat 'patah' tersebut dari sisi lainnya. Sisi yang menyenangkan.

Banyak orang yang larut dalam kesedihan ketika hati mereka patah, beberapa diantaranya bahkan melakukan pelarian yang 'ekstrim' seperti.. bunuh diri. Bagi penulis tulisan ini sendiri, patah hati memang merupakan momen yang tepat untuk melakukan pelarian, tapi pelariannya seharusnya ada di domain yang positif. Bagi penulis, patah hati merupakan momen yang tepat untuk menggali potensi diri. Blog ini contohnya, yang awalnya merupakan platfoam pelarian seorang remaja kelas SMA 2 yang resah dan gelisah tsah tsah tsah.

Permasalahannya bukan seberapa dalam kita terjatuh....

Setiap orang pasti punya luka yang berbeda-beda. Hati yang patah disebabkan alasan yang sangat heterogen. 'Intensitas' dari patah tersebut pun juga variatif. Ada yang patah hati aja, ada yang patah hati banget. Untuk yang patah hati aja, mungkin pengelolaannya akan lebih mudah, karena patah hatinya memang baru sekedar 'aja'. Namun untuk yang patah hati banget, apakah patah hatinya berarti akan lebih sulit untuk dikelola?

Wahai anak muda, permasalahannya bukan seberapa dalam kita terjatuh, bukan seberapa dalam kita terluka, bukan kita patah hati aja atau banget. Seperti apapun intensitasnya, pengelolaan yang kita lakukan pada akhirnya kembali kepada rumus awal: bagaimana menjadikan sesuatu yang sedih sebagai sesuatu yang happy

..tapi permasalahannya adalah bagaimana kita tetap tertawa meskipun telah terjatuh
just fell, and then laugh
Mengkonversikan sesuatu yang sedih ke sesuatu yang happy adalah permasalahan bagaimana kita tetap bisa tertawa meskipun kita terjatuh. Substansinya adalah bagaimana kita menertawakan keresahan kita sendiri. Raditya Dika mungkin menjadi tokoh yang paling expert dalam hal ini, dalam hal pengendalian patah hati. Bagaimana kisah hina, kisah sedih, dan keresahan-keresahannya bisa dijadikan bahan tertawaan yang bukan hanya menjadi konsumsi pribadi namun juga menjadi konsumsi publik.

Momen terakhir penulis dalam hal mengelola patah hati adalah pada kuartal ke-4 di tahun 2017 kemarin. Kasusnya sederhana: mencurigai seorang wanita sebagai pencuri tulang rusuk, namun ternyata wanita tersebut sudah mencuri tulang rusuk pria lain terlebih dahulu. Penulis pun galau, sedih, demam tinggi, mencret-mencret. Lantas, ketimbang memikirkan 'bagaimana cara membawa lari wanita itu dari pria lain', penulis lebih memfokuskan pikiran untuk menjawab 'bagaimana cara membawa senang kesedihan itu'?    

Terlalu banyak hal yang sebenarnya bisa dilakukan sebagai pelarian yang positif ketika hati sedang patah. Pada patah hati yang terakhir itu, penulis menjadikan tempat kursus website sebagai salah satu pelarian terbaik. Berdiam diri di rumah hanya mengundang galau, jalan-jalan ke tempat umum melihat muda-mudi gandengan tangan bikin tambah galau, jadi lebih baik kita berlari ke arah yang lebih berintelektualitas: kursus website. 

Semakin menyibukkan diri di tempat kursus itu, semakin banyak ilmu yang didapat, dan ketika mengikuti lomba pembuatan website ya at least.. juara, meskupun cuma juara 3. Ya untuk mahasiswa yang pelajaran utamanya adalah ilmu politik, juara 3 di ranah mahasiswa IT sudah cukup meng-happy-kan. Jadi, bukannya mau pamer, juara juga cuma juara 3, tapi pointnya adalah patah hati sebenarnya merupakan sebuah momen yang tepat untuk menggali potensi diri lebih dalam. Selama kita berlari ke arah yang benar, bukan arah yang merusak. 
                      Pada akhirnya, momen ketika kita berhasil mengendalikan keresahan karena hati yang patah adalah momen dimana patah hati dan keresahan itu sendiri dapat terasa lebih menyenangkan. Dalam domain apapun, entah itu asmara, sosial, ekonomi, dan lainnya, percayalah bahwa kesedihan tidak selamanya benar-benar mutlak menyedihkan. Ada sisi dimana kita bisa menjadikannya lebih menyenangkan atau at least lebih tidak semenyedihkan awalnya. Intensitas dari patah hati tersebut seharusnya tidak menjadi masalah, karena permasalahannya bukanlah seberapa dalam kita terjatuh melainkan bagaimana kita tetap tertawa meskipun telah terjatuh.

3 comments:

  1. Ah patah hati. Ketika hidup kita sedang terpuruk, menjadi sedih dan terjatuh emang wajar. Tapi ya seperti katamu di atas, tidak ada yang salah dengan hati yang patah, tapi yang penting bagaimana bisa mengendalikan hati yang patah tersebut. Bagiku, menuliskan kepatahan hati jadi salah satu alternatif :)

    ReplyDelete
  2. Bener sih setiap orang pasti punya masalahnya masih-masih, patah hati, terjatuh. Tapi tugas kita bagaimana disaat kondisi seperti itu tetap tersenyum, berkarya. Memang aku sendiri kalau diam menyendiri malah akan membuat diri ini terpuruk. Justru dengan berkumpul dengan orang lain, menyibukan diri dengan hal yang positif, disitulah kita bisa tertawa, bahkan bahagia dengan aktifitas baru kita..

    ReplyDelete
  3. ah, di suatu waktu dulu gue juga pernah patah hati sepatah patahnya sampai ke level serbuk waktu putus sama pacar gue yang udah pacaran hampir 5 tahun! Tapi, setelah dipikir pikir, masalahnya itu udah nggak lagi pada patahnya, tapi bagaimana langkah selanjutnya untuk bisa merajut hati hati yang udah patah itu tadi. And time flies, akhirnya gue nggak hanya merahut hati yang patah tapi juga cinta yang haqq InshaAllah. hahaha..

    akhirnya sekarang kalau keinget lagi malah pingin ketawa sendiri. Ya, pada akhirnya patah hati di suatu waktu tertentu itu emang layak untuk ditertawakan.

    ReplyDelete

BELI SEPATU KUY!

@bokangco_id