Contact Me to Place Your 728x90 Ads Here

test

Travel Stories

May 11, 2018

Menginterpretasikan Interpretasi secara Interpretatif


Interpretasi  
(n) sebuah kata yang memiliki arti kurang lebih sama seperti penafsiran/pendapat/pemahaman, namun terdengar lebih keren dan berintelektualitas ketimbang kata-kata tersebut.

Sadarkah kita bahwa hidup ini penuh dengan kombinasi ilmu? Dalam domain apapun: politik, sosial, ekonomi, teknologi, dan lain sebagainya. Kombinasi-kombinasi ilmu tersebut kemudian yang membangun prespektif dan menjadi referensi bagi logika kita untuk mengelola sebuah interpretasi. Sulit tentunya untuk menyelaraskan interpretasi banyak orang karena prespektif dan kombinasi ilmu setiap orang bersifat heterogen, namun tidak sulit seharusnya untuk mengidentifikasi kualitas dalam interpretasi yang dikemukakan karena setiap orang memiliki 'level interpretasi' masing-masing.

Contoh sederhananya, sebagai tahun politik, 2018 sudah menunjukan wajah garangnya dengan perseteruan antara #DiaSibukKerja dengan #2019GantiPresiden. Pemilu memang masih satu tahun lagi, namun predebatan sudah memasuki dapur perseteruan. Mengapa kedua kubu berseteru? Karena adanya perbedaan pandangan politik. Mengapa pandangan politik dapat berbeda? Karena interpretasi yang berbeda dari masing-masing kubu. Perbedaan interpretasi secara tidak langsung dapat menjadi akar dari perdebatan, terlepas dari apakah interpretasi orang 'bisa dibeli atau tidak' dalam kasus pemilu, tentunya. 

Pernah mengidentifikasi sesuatu sebagai hal yang mengagumkan, namun beberapa waktu kemudian justru ilfeel dengan hal yang mengagumkan tersebut? Atau, sebaliknya? Transisi dalam menginterpretasi menunjukkan celah perpindahan level interpretasi. Interpretasi memiliki levelnya sendiri, selain ditentukan dengan seberapa tajamnya interpretasi tersebut, 'transisi' dalam menginterpretasi juga dapat menjadi parameter tersendiri bagaimana interpretasi tersebut berpindah dari satu level ke level lainnya. 

Produk dari Logika



Ketika seseorang bertanya apakah air diatas setengah penuh atau setengah kosong, setiap orang pasti memiliki proses untuk meramu jawaban masing-masing. Terlepas dari apapun jawabannya, ada sebuah proses untuk mengelola pendapat masing-masing. Proses tersebut dimulai dari mengelola logika dengan wawasan masing-masing sebagai referensi, lalu menyajikannya kedalam piring statement masing-masing dengan data-data yang didapat dari wawasan tersebut sebagai lauk-pauknya.

Interpretasi adalah produk kombinasi antara logika dan wawasan. Logika, adalah kreasi yang cukup kompleks sementara wawasan adalah ilmu yang menjadi referensi. Sebelum mengolah interpretasi masing-masing, kita terlebih dahulu mengelola logika masing-masing dan referensi yang baik tentu dibutuhkan dari proses berpikir seperti itu. Sehingga cukup fair jika kita mengatakan interpretasi merupakan produk dari logika dan wawasan.

Hal yang menarik kemudian adalah ketika kita berbicara tentang 'kombinasi' itu sendiri. Setiap orang memiliki referensi ilmu yang berbeda-beda. Induk-induk dari referensi itu kemudian yang menjadi kerangka berpikir seseorang dalam menginterpretasi. Kombinasi antara ilmu politik dan ilmu teknologi merupakan perpaduan yang ber-resiprokal bagi penulis. Politik merepresentasikan kemampuan verbal, sementara teknologi merepesentasikan kemampuan operasional, keduanya adalah perpaduan yang sempurna untuk dijadikan induk ilmu dalam menginterpretasi sesuatu.

Level Interpretasi



Interpretasi seperti halnya sebuah pensil (atau kalau kata bapak-bapak 'pinsil') yang harus dipertajam. Membaca buku mungkin masih menjadi rautan terbaik untuk mempertajam pinsil interpretasi tersebut. Klise memang, namun membaca masih menjadi cara terbaik untuk mempeluas wawasan. Disamping itu, menonton pun dapat menjadi alternatif yang cukup mengedukasi terlebih dalam segi visualisasi. Membaca dan menonton adalah sebuah kombinasi sempurna untuk meruncingkan wawasan. Mempertajam interpretasi seharusnya memang bukan perkara sulit. Percayalah, hal tersulit adalah mempertegas interpretasi. 

Terkadang level interpretasi yang masih rendah membuat kita kesulitan untuk menilai sesuatu. Contohnya, ketika penulis beberapa kali menilai sebuah film biasa-biasa saja atau cenderung buruk, namun beberapa tahun kemudian setelah me-rewatch film tersebut penulis justru menyimpulkan kalau film itu ternyata tidak begitu buruk atau bahkan bisa dibilang bagus. Yap, sesuatu yang buruk terkadang terlihat buruk bukan karena memang benar-benar buruk, namun terkadang level interpretasi kita belum cukup mapan untuk melihat hal yang buruk itu dari sisi lainnya.  Begitu juga sebaliknya.

Sebagai sebuah kata yang mungkin sering muncul di soal pertanyaan mahasiswa, atau mungkin di koran, atau di berita, 'interpretasi' memang terdengar tidak begitu istimewa. Namun percayalah bung, bahwa segala keputusan yang diambil dalam segala aspek kehidupan kita diawali dari interpretasi kita terhadap berbagai hal. Keputusan dan statement hanyalah sebuah outcome, sementara sebelum outcome tersebut lahir ada sebuah 'proses' menarik yang bernama interpretasi.

4 comments:

  1. Aku malah baru tahu kata interpretasi, memang sedikit asing ya kata-kata ini.

    ReplyDelete
  2. Wah rasanya sudah lama tidak berkunjung ke blog ini sampai headernya dah ganti aku gak tau hehehe

    Pembahasannya sedikit berat sih ketika saya membacanya pagi-pagi dan baru angun tidur.
    Tapi ketika ku memahaminya, ternyata sebuah interpretasi yg sederhana bisa menghasilkan berbagai macam keputusan yang sangat penting.

    ReplyDelete
  3. Memang benar interpretasi hasil dari ilmu dan logika, tapi jika ditarik dari politik mungkin interpretasi tidak berlaku lagi, karena elit-elit politik yang menggoreng isu tagar-tagar itu tentu bukan dari masyarakat menengah kebawah yang tidak punya pendidikan. Dan kalaupun menengah kebawah dan tidak mempunyai privilege untuk menempuh pendidikan, mereka cenderung memang mendukung tokoh yang mereka suka bukan tentang program. Saya liatnya gitu sih. Haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi dalam pandangan politik, terutama untuk yang menengah kebawah, katakan saja interpretasi bisa menjadi barang dagangan ya.. okesip

      Delete

Post Top Ad

Your Ad Spot