How We Met Your Father!

2016's

     There are several things that we can do to reunite with High School memories. Creating a reunion event, remembering moments with yearbook, and also.. read the story of a manuscript which was rejected by a book publisher. At least, the last case is applicable for me. 

When I was in High School, I was young and energized. Yeah, energy, something that can't be created or destroyed but it can only be transformed from one form to another. My energy in High School back then was massively transformed to the desire to became a writer. I've written so many words back then with hundreds of A4 pages, time new roman 12, etc. My first manuscript was in second year of high school, but there was no news or confirmation from the publisher. I've made revisions and sent as many as 3-4 times but still no confirmation, even until I graduate. Great.

When I had almost forgotten what it felt like the desire to be the writer, Yasterday I found my script in my old drawer. Damn... this script just so familiar. A script with more than 40.000 words, 111 pages, 12 chapters. I read it, and it flew me to those years. Especially, for the first chapter.



The first chapter titled 'How We Met Your Father'. It's only 7 pages of A4, but it was enough to became the fuel to my 'plane of imagination' to flew me to those years, when we were white and grey. Honestly I almost forgot the story, and it was a pleasure to be able to remember it again. Ah, high school.

So, I would like to put that chapter on this blog. I think it's better for that chapter to be a blog post rather than just being a forgotten story of a dusty manuscript. Since my script was rejected and I didn't become a writer yet and therefore I can't thank some people in a book just like 'Thank you note' in the book page, I would like to thank her here, one of my friends who lent me many Raditya Dika and Ernest books. Thankyou for those 📚. 





       ****


Sama kayak di opening film the raid dimana para tentara berdiskusi di dalam mobil terlebih dahulu sebelum akhirnya turun menuju gedung untuk menyergap para penajahat, kami juga menyusun strategi awal terlebih dahulu di dalam kelas sebelum pada akhirnya menyergap rapor dari si Dikka ini. Setelah melakukan diskusi alot dan a lot, pada akhirnya kami memiliki rencana A dan B. Rencana A adalah rencana Alim yang akan dilakukan secara halus, sedangkan rencana B adalah rencana yang akan dilakukan secara Bangsat atau kasar.      

Ada banyak contoh kenakalan remaja yang acapkali dilakukan oleh para pelajar sekolah. Mulai dari kenakalan remaja yang dilakukan berpasangan kayak seks bebas, sampai kenakalan remaja yang dilakukan berkelompok kayak tawuran pelajar.  Disamping itu semua, ada satu kegiatan illegal yang sebenarnya sering dilakukan oleh para pelajar tapi mereka tidak sadar kalau apa yang mereka lakukan itu merupakan prilaku yang menjerumus kepada kenakalan remaja.

Ada yang tau fenomena apa yang gue maksud? Fenomena yang gue maksud adalah fenomena ejek-ejekan nama orang tua. Iya, ledek-ledekan nama EMAK dan BAPAK. Fenomena ledek-ledekan nama orang tua ini tentunya merupakan hal yang menciderai moral bangsa. Gimana enggak, ketika orang tua kita dulu waktu sekolah mainannya permainan tradisional kayak galasin, congklak, kelereng, atau lain sebagainya, kita yang hidup di abad 21 ini di sekolah mainannya malah ledek-ledekan nama mereka. Gue jadi curiga, jangan-jangan orang tua kita di tempat kerja mereka juga main ledek-ledekan nama anak masing-masing. 
 
Ada banyak pelajar di seluruh sekolah di tanah air baik swasta maupun negri yang memainkan permainan biadab yang satu ini. Termasuk, gue. Permainan menjadi semakin biadab ketika ledek-ledekan nama orang tua ini berubah menjadi ledek-ledekan profesi orang tua. Bukannya kenapa-napa, mending kalau profesi orang tua kita itu semuanya rata-rata profesi berkelas. Misalnya, semuanya manajer bank atau CEO perusahaan, atau pendiri facebook gitu.

“AAAA… MANAJER BANK LU!”

“AAAA… CEO PERUSAHAAN!”

“YAILAH… DASAR PENDIRI FACEBOOK!”

Kalau memang profesi orang tua kita keren-keren seperti itu kan anaknya sendiri nanti yang bangga. Yang menjadi masalah adalah kalau kita mengejek profesi orang tua teman yang dimana profesi orang tua teman kita adalah profesi biasa yang seharusnya tidak untuk dijadikan bahan ledek-ledekan. Misalnya, waktu SMP kelas 3, gue dan seluruh teman sekelas gue pernah diamuk habis-habisan sama guru biologi SMP gue yang memang sangat mengutuk permainan ledek-ledekan nama orang tua ini. Penyebab kemarahan beliau tidak lain dan tidak bukan adalah karena salah seorang teman gue yang bernama Cipto, dengan jeniusnya meledek profesi orang tua teman kami yang lain di depan sang guru biologi.

“AAA…. TUKANG BUBUR!”

Mendengar ledekan itu, meja guru yang ada dihadapannya langsung di pukul habis, satu kelas pun langsung diam. Guru biologi gue memang tau kalau profesi sampingan orang tua teman kami waktu itu adalah sebagai tukang bubur. Wajar memang dia marah melihat muridnya seperti itu, karena “tukang bubur” itu sejatinya adalah profesi yang cukup sensitif untuk dijadikan bahan ejekan. Tapi jangan salah kawan-kawan ku sekalian, meskipun tukang bubur itu tidak sekeren manajer bank ataupun pendiri facebook, tapi tukang bubur juga bisa naik haji.

Tapi percayalah, ledek-ledekan profesi orang tua masih bukan klimaksnya. Sejauh pengalaman gue......

       
                                                                     scroll up/down

3 comments:

  1. Aku baca sampe abis, dan mmang bukan pantai losari kan nama bapaknya :p? Penasaran padahal. Tp zamanku dulu juga gitu, dan aku termasuk yg sebeeeel banget kalo temen2 tau nama papa.. Karenaaaa sebagai orang batak, papa pake marga. Dulu aku berharap marga papa siregar kek, nasution gitu. Kan bagus. Apa daya marga papa adalah pasaribu. Jd aku diejekin pasar seribu, anak pengusaha pasar, preman pasar seribu dll. Hahahahaha. Padahl yaaa, kalo skr mah, aku bisa dgn bangga nyebut nama margaku :p.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahahaha, jadi terharu.
      Horas bah......

      Delete
  2. Kira-kira waktu remaja dulu aku nakal gak yaaa... ? :D

    ReplyDelete