Intelegensi Robusta


Semua yang punya rasa, pasti punya nyawa. - Ben, dalam sequel petualangan kopinya bersama Jody. 

Setiap rasa mungkin memiliki nyawanya sendiri. Karena setiap nyawa, tentu memiliki karakter utamanya masing-masing. Seperti robusta, sebuah biji kopi yang dapat lahir pada ketinggian dibawah 1000 mdpl, dengan udara 24°C-30°C sebagai selang infusnya. Dengan bentuk tubuh yang cenderung bulat, kafein dengan tingkat 1,7% – 4,0% merupakan darah yang mengalirinya.

Tegas dan tidak munafik, begitulah karakter asli robusta. Hitam, pekat, pahit, robusta tidak akan jauh dari ketiganya. Ketiganya menjadikan robusta sebagai karakter yang sukar untuk munafik, karakter yang sukar untuk memanipulasi warna dan rasa. Tidak seperti beberapa biji kopi lainnya, yang dapat diolah dengan rasa yang dimanipulasi hingga pada akhirnya menjadi rasa yang terdistorsi mengikis karakter aslinya.

Untuk para pecinta kopi yang mengatakan bahwa arabika adalah bentuk definitif dari nikmat kopi sesungguhnya sementara robusta hanya untuk mereka yang tidak mengerti nikmat kopi sesungguhnya, izinkanlah saya untuk mengatakan "hei, jangan terlalu impulsif, bung". Berbicara tentang robusta dan arabika bukan berbicara tentang arti nikmat sesungguhnya, melainkan berbicara tentang selera. Keduanya memang merupakan sebuah jukstaposisi yang paling umum dalam negri kopi.

Sebuah Jukstaposisi


Arabica, Robusta
Adalah sebuah kisah klasik ketika arabika memiliki busana yang lebih bagus ketimbang robusta. Juga adalah sebuah kisah klasik jika arabika memiliki olahan aroma dan rasa yang lebih variatif ketimbang robusta. Tapi, jangan terlalu impulsif bung, hal-hal tersebut tidak menjadikan arabika memiliki legitimasi untuk menjadi objek yang lebih menonjol ketimbang robusta dalam sebuah jukstaposisi. 

Ingat, arabika merupakan pribadi yang lebih munafik ketimbang robusta. Terlahir dengan karakter asli rasa asam, arabika bisa saja menjadi pribadi yang manis sewaktu-waktu. Mentransformasikan wajah dengan bertransisi rasa merupakan bentuk kemunafikan arabika. Hei, lagipula, untuk syarat dan prasyarat, arabika terlalu rewel jika kita bandingkan dengan robusta.

Terlahir dengan bentuk tubuh yang agak melonjong, arabika membutuhkan tempat bersalin yang lebih tinggi datarannya ketimbang robusta, bahkan melebihi 1000 mdpl.  Dengan begitu, udara yang dibutuhkan pun harus lebih dingin ketimbang robusta. Namun, meskipun demikian, kandungan kafein yang mengaliri tubuhnya hanya sebatas 0,8% – 1,4% saja atau lebih rendah ketimbang robusta.

De gustibus non est disputandum 

Ada sebuah petuah latin yang berbunyi, "De gustibus non est disputandum". Petuah tersebut memiliki interpretasi yang kurang lebih "untuk perkara selera, tidak ada yang perlu diperdebatkan". Yap, selera bukan tentang siapa yang paling benar dan siapa yang salah perihal rasa, namun selera adalah perihal interpretasi itu sendiri. Bagi penulis tulisan ini, intelegensi robusta merupakan sesuatu yang layak untuk dikagumi.

Robusta tidak serewel arabika, baik soal cita rasa ataupun gaya berbusana. Syarat prasyarat yang tidak terlalu berat, namun tegas, dan memiliki gaya yang lugas. Sekitar 70% kopi di pasaran kedai kopi saat ini memang berjenis arabika, namun memilih untuk menjadi pengagum dari kepingan 30% bukanlah suatu bentuk penyimpangan, bukan? Kembali, De gustibus non est disputandum. 

Intelegensi robusta merupakan sebuah intelegensi yang menyetir sebuah keluguannya melalui rasa pahit yang sukar terdistorsi, sebuah intelegensi yang menyetir ketegasan dan ketidak-munafikannya melalui hitam dan pekat kopi yang tidak mudah berganti wajah. Namun sekali lagi, De gustibus non est disputandum.

2 comments:

  1. Luar biasa, penyampaian dengan bahasa yg halus..

    ReplyDelete
  2. TRADING ONLINE
    BROKER AMAN TERPERCAYA
    PENARIKAN PALING TERCEPAT
    - Min Deposit 50K
    - Bonus Deposit 10%** T&C Applied
    - Bonus Referral 1% dari hasil profit tanpa turnover

    Daftarkan diri Anda sekarang juga di www.hashtagoption.com

    ReplyDelete