Pindah

     Terkadang, berpindah bukan melulu tentang menolak untuk menetap. Namun berpindah juga tentang mengakselerasikan dan mengoptimalkan potensi. Seperti, bertemu tantangan yang lebih besar dan memperkaya pengalaman secara lebih menyenangkan, mungkin.

Segera setelah kita berpindah, beradaptasi dengan yang baru mungkin menjadi perkara yang cukup rumit. Tapi percayalah, ketika kita berpindah disaat yang tidak seharusnya, maka "berpamitan dengan yang lama" akan menjadi hal yang mungkin lebih kompleks ketimbang beradaptasi dengan yang baru. 

Tidak ada yang perlu disesali ketika perpindahan itu terjadi atas keputusan diri sendiri. Seperti halnya interpretasi paman Newton dalam hukum pertamanya; benda diam tidak akan bergerak jika tidak diberi gaya. Seperti halnya status quo, yang akan selamanya menjadi status quo jika luput dari pemberian gaya untuk bergerak ke arah perubahan. 

      Terkadang, perpindahan itu bisa menjadi menakutkan, apalagi ketika perpindahan tersebut bukanlah perpindahan di waktu yang seharusnya. Takut, takut keputusan untuk pindah malah menjadi senjata makan tuan. Takut, takut tidak bisa membahagiakan yang baru. Dan takut, takut mengecewakan yang lama.

Namun percayalah, segera setelah segala rintangan bisa diatasai, atmosfir yang mengundang kenyamanan adalah sebuah jawaban baru yang menjadi imbalan. Di satu sisi berpamitan dengan yang lama dan beradaptasi dengan yang baru mungkin dapat menjadi sebuah hal yang menakutkan, namun disisi lain, mereka dapat menjadi hal yang menguatkan bila berhasil ditaklukkan. 

Pada akhirnya, menetap atau pindah adalah masalah kemantapan pilihan. Menetap atau tidak bukanlah masalah kenyamanan. Senyaman apapun, situasi akan berakhir membosankan jika kenyamanan tersebut berjalan dengan begitu hambar. Sementara memutuskan untuk pindah, mungkin akan sedikit menggores gelisah pada awalnya, namun semua akan berakhir berfaedah bagi mereka yang pandai mengambil hikmah.



Jakarta, 23-10-2018. 
11th Floor One Pacific Place, SCBD.
The man in the mirror.