Sebuah Review Buku: Hujan - Tere Liye



Jangan pernah jatuh cinta saat hujan. Karena ketika besok lusa kamu patah hati, setiap kali hujan turun, kamu akan terkenang dengan kejadian menyakitkan itu. - Liye, Tere. Hujan. 2016.

Hujan (2016), sebuah buku karya Tere Liye yang cukup menarik. Cerita fiktifnya sangat liar, mungkin bagi beberapa orang menarik namun bagi beberapa lainnya terlalu berlebihan. Namun dibalik dari menarik atau tidaknya cerita di buku ini, percayalah, pesan dibalik buku ini sangat mengagumkan. 

Buku ini bukan hanya tentang cerita fiktif yang begitu liar, namun secara generik buku ini adalah tentang persahabatan, cinta, perpisahan, melupakan, tentang hujan. 

Sinopsis

Berkisah di tahun 2042 ketika bumi telah kehabisan banyak sumberdaya serta kondisinya cukup memprihatinkan. Saat baru berusia 13 tahun, Lail, seorang gadis sederhana, harus menerima kenyataan bahwa dirinya telah menjadi yatim piatu karena sebuah musibah mahadasyat yang melanda bumi. Ketika musibah tersebut melanda, Esok, remaja berusia 15 tahun hadir sebagai malaikat bagi Lail. 

Musibah mahadasyat tersebut memang merenggut banyak hal dari kehidupan Lail, namun hujan tetap menjadi hal yang paling ia sukai. Disamping hujan, ia juga menemukan hal baru yang ia sukai; esok. Namun kisah romansa mereka bukanlah kisah romansa yang mudah, terlebih karena kisah cinta keduanya terbentur dengan permasalahan sains bumi yang sangat serius.


Review

Baiklah, buku setebal 318 halaman (cover baru) ini adalah buku yang cukup menarik. Pertama, konsep cover baru dari buku ini terbilang pintar, bagaimana sebuah payung memayungi hujan kata-kata. Selanjutnya, cerita dari buku ini yang cukup liar. Terakhir, pesan dari kisah yang disajikan Tere Liye dengan cabikan kata-kata mutiaranya.

Membaca hujan, disaat hujan.
Oh hujan.
Adalah menarik bagaimana cerita disajikan dengan alur bolak-balik dengan seluruh latarnya dilempar ke masa depan. Teknologi mengintervensi banyak hal dalam kisah yang diceritakan, menjadi semakin kompleks ketika permasalahan global serta kisah asmara 2 insan dileburkan menjadi satu kisah dalam buku ini. Hujan adalah kisah yang sangat berani dari Tere Liye, meskipun belum tentu semua orang dapat menikmatinya. Sejujurnya, saya tidak terlalu menikmati kisah dari hujan. Mungkin berani, namun entah mengapa terasa sedikit berlebihan. 

Namun terlepas dari kisah yang dapat dinikmati secara keselurhan atau tidak, perlu diakui bahwa pesan yang disampaikan secara generik oleh buku ini begitu indah. 2 Variabel, hujan dan perasaan, bermain dengan cukup piawai dalam setiap generalisasinya.

Bukan melupakan yang menjadi masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, dia akan bisa melupakan. (p.318)

Alur bolak-balik kemudian menjadi sebuah instrumen pengundang tanda tanya yang cukup berhasil. Meskipun jujur, setelah tanda tanya tersebut terjawab saya pun tak terlalu menyukainya. Disamping itu, sains serta teknologi menjadi penopang kisah yang sangat menjanjikan, maka dari itu cukup adil jika cerita dari buku ini disebut 'berani'. Bagimana intervensi stratosfer, perkembangan teknologi modern, serta kehidupan setelah sumberdaya habis berhasil bermain-main di benak pembaca. 

Bagaimana jika benar bahwa bencana alam adalah satu-satunya obat bagi perkembangan populasi manusia di bumi? Bagaimana jika benar bahwa di masa depan nanti akan ada teknologi untuk menghapus ingatan pahit manusia yang tak ingin diingatnya? Menarik, menarik.

No comments:

Post a Comment

Pages