Ekspansi Gojek dan Prospek Go Pay dalam Merajai E-Wallet di Asia Tenggara


Sebagai salah satu layanan service on demand yang sekaligus merupakan unicorn asli Indonesia, GO-JEK perlahan mulai menunjukkan eksistensinya bukan hanya di dalam negri namun juga dalam skala internasional dengan melakukan ekspansi ke negara tetangga. Vietnam dan Singapura mungkin menjadi negara awal yang dijajaki oleh GO-JEK diikuti dengan wacana untuk Thailand serta Fillipina, dan tentu potensi yang sama besar juga terbuka bagi negara-negara lain untu dijadikan wilayah ekspansi, tak terkecuali negara-negara di luar Asia Tenggara atau bahkan luar Asia.

Percayalah, ekspansi GO-JEK ke Vietnam dan Singapura memiliki sebuah kepastian perihal nama sang driver. Pasti, di Vietnam abang GO-JEK nya ada yang namanya Nguyen, atau mungkin malah semuanya bernama Nguyen. Pasti, di Singapura abang Go-Car nya ada yang namanya Steven, atau Kevin, atau William. Hehehe.

Terlepas dari suksesnya GO-JEK dalam menggaet investor-investor ternama serta menjadi provider bagi bermacam jenis servis jasa di Indonesia, ekspansi GO-JEK ke negara tetangga secara tak langsung juga disinyalir sebagai bentuk perluasan GO-PAY di Asia Tenggara. Jika GO-JEK berhasil merebut pangsa pasar dengan menaklukkan Grab sebagai kompetitior utamanya di Asia Tenggara, bukan tidak mungkin jika GO-PAY di kemudian hari dapat merajai E-Wallet di Asia Tenggara.  

Namun sebelum masuk ke tahap dimana GO-PAY dapat merajai dunia E-wallet di Asia Tenggara, tentu tahap pertama yang harus dilakukan GO-JEK adalah membesarkan nama di wilayah ekspansi serta menaklukkan kompetitor yang sudah ada seperti Grab, atau mungkin memutar strategi untuk menaklukkan kompetitior potensial yang 'mungkin' dapat mengusik pertarungan di ranah taxi online seperti halnya Didi Chu Xing (滴滴官网) yang memiliki probabilitas untuk berekspansi ke wilayah ASEAN meskipun sudah cukup mesra dengan Grab.
  
Pertarungan GO-JEK di Asia Tenggara


Meskipun telah menjadi startup bergelar Unicorn atau bervaluasi lebih dari 1 Miliar USD, GO-JEK bukan tanpa pekerjaan rumah di rumah sendiri. Contoh sederhananya, kesalahan dalam pengoperasian sistem maps masih sering terjadi ketika para pengguna memesan GO-JEK disaat hujan turun. Tentu, jika hal serupa terjadi di wilayah ekspansi yang notabene merupakan rumah orang lain, maka hal tersebut akan menjadi blunder yang kemudian menciderai citra dari GO-JEK serta mempengaruhi perkembangan user base. 

Bukan hanya tentang teknologi, kemampuan dalam menjaring mitra di negara ekspansi juga harus menjadi fokus jika GO-JEK tak ingin berakhir seperti Uber di Asia Tenggara. Asia Tenggara bukanlah pasar yang mudah, raksasa taxi online asal Amerika sekaliber Uber telah menjadi korbannya di awal tahun 2018 kemarin dengan terpaksa meleburkan bisnisnya dengan Grab di Asia Tenggara dibawah bendera Grab.  Kompetisi layanan Taxi Online di Asia Tenggara di hari ini praktis menjadi milik Grab dan GO-JEK, mengingat layanan Taxi Online atau Service on Demand hanya memiliki pemain dengan jumlah yang dapat dihitung dengan jari dan tidak semenjamur layanan E-commerce ataupun Marketplace. 

Dalam pertarungan antara Grab dan Gojek di Asia Tenggara, terlepas dari kualitas yang ditawarkan, cukup menarik sesungguhnya untuk melirik 'raksasa-raksasa' dibalik aliran dana keduanya. Keduanya telah menarik perhatian investor global, jika Grab memiliki pendanaan dari dari perusahan-perusahaan raksasa seperti Toyota, Hyundai, Softbank, bahkan Microsoft, maka perusahaan-perusahaan raksasa yang menjadi penyuntik GO-JEK adalah Google, Tencent, JD.COM, serta pemain lokal seprti Djarum dan Astra. Nama-nama tersebut tentu belum termasuk dengan penyuntik modal 'lainnya'. 

Ekspansi sebagai Strategi untuk Memahkotai GO-PAY

Jika diinterpretasikan lebih lanjut, tidak berlebihan tentunya jika kita mengatakan bahwa GO-PAY merupakan salah satu calon raja terkuat dalam kerajaan E-Wallet di Asia Tenggara. Menurut keterangan Nadiem Makarim yang merupakan founder GO-JEK, tercatat pada tahun 2018 kemarin jumlah pengguna GO-JEK di Indonesia mencapai lebih dari 20 juta orang dengan range 50%-60% diantaranya telah menggunakan GO-PAY. Hal ini tentu mengkukuhkan GO-PAY sebagai dompet digital dengan user base terbesar di Indonesia, dan 'mungkin' akan menjadi keunggulan utama GO-JEK ketimbang Grab di Asia Tenggara mengingat pengimplementasian Grab Pay di Asia Tenggara agak sedikit 'terlambat' ditambah lagi Grab didalam pasar seperti Indonesia telah bekerjasama dengan OVO sebaga E-walletnya. 

Menarik tentunya ketika kita mensandingkan GO-PAY dari GO-JEK dengan Ali-Pay milik Alibaba. Implementasi Ali Pay sebagai dompet digital pada marketplace seperti Alibaba dengan pangsa pasar utama di China yang memiliki lebih dari 1 Miliar penduduk mungkin akan lebih mudah ketimbang pengimplementasiannya pada layanan service on demand seperti GO-JEK dengan pangsa pasar di Asia Tenggara yang pendudknya mencapai lebih dari 600 juta orang saja. Namun kenyataannya, berbicara tentang dompet digital dan gerakan non tunai dalam skala Asia Tenggara, GO-PAY merupakan salah satu produk yang sangat potensial jika pada ekspansinya GO-JEK dapat menggaet user base dengan baik. 

Katakan saja jika GO-JEK dalam pengimplementasian GO-PAY pada wilayah ekspansi dapat mempertahankan range 50% atau diatas 50% penggunanya menggunakan GO-PAY, maka mahkota raja E-Wallet Asia Tenggara tak pelak akan diberikan kepada GO-PAY. Dalam E-wallet di ranah Service on demand, GO-PAY jelas lebih unggul jika disandingkan dengan Grab Pay ataupun OVO, apalagi Momo (Vietnam) karena 'start' yang lebih awal dan berhasil merangkul efektifitas serta efisiensi transaksi dengan baik. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa dalam perjalanannya kedepan, kompetitior utama GO-PAY bukanlah E-Wallet yang berasal dari startup Service on Demand, namun E-wallet yang secara independen merupakan produk dari Fintech. 

No comments:

Pages