Strategi Akusisi Traveloka guna Menjadi OTA (Online Travel Agent) Decacorn Terbesar di Asia Tenggara


Merubah wajah industri travel agent di Indonesia dari konvensional menjadi sangat digital, 

itulah yang dilakukan Traveloka selama beberapa tahun belakangan ini. Transformasi yang dilakukan Traveloka merupakan awal dari revolusi industri Travel Agent di Indonesia dari konvensional menjadi Online Travel Agent (OTA).  User base yang kuat, teknologi serta fitur yang komprehensif, dan pelayanan yang baik tentu membuat kita tidak terheran-heran dengan gelar unicorn yang disematkan.

Investor dibelakang kebesaran Traveloka pun merupakan investor-investor raksasa dalam dunia pendanaan startup, seperti Expedia, East Ventures, Hillhouse Capital Group, JD.com hingga Sequoia Capital. Dari konsistensi dan gelontoran dana yang dialurkan, Expedia nampaknya menjadi investor yang paling 'berhasrat' dengan Traveloka. Ketertarikan Expedia untuk menggelontorkan triliunan dana kepada Traveloka menunjukkan bahwasannya Asia Tenggara dewasa ini kian serius dilirik oleh investor global dalam hal pendanaan startup dan Traveloka merupakan salah satu OTA raksasa di Asia Tenggara yang memiliki potensi untuk menjadi lebih besar lagi kedepannya.

Melihat industri OTA di Asia Tenggara dengan populasi lebih dari 600 juta orang serta tren pariwisata yang semakin maju, bukan hal yang mustahil tentunya jika Traveloka yang merupakan unicorn di hari ini dapat bertransisi menjadi decacorn di kemudian hari tentunya dengan menggaet investor-investor ternama. Akusisi bisa menjadi salah satu strategi berharga yang dilakukan Traveloka untuk menghilangkan 'kompetitor' dan kian melebarkan sayap sendiri. 

Strategi Akusisi untuk Menjadi Raja OTA di Kawasan












Daripada jadi lawan, gue beli juga dah lu pada. Mayan, dapet user base yang lumayan besar juga di Asia Tenggara. Et dah. 

Mungkin kutipan diatas cukup representatif untuk apa yang dipikirkan pihak Traveloka sebelum mengakusisi kompetitior-kompetitor sendiri seperti Pegipegi dari Indonesia, Travelbook dari Filipina, dan MyTour dari Vietnam. Ketiganya mungkin sama-sama memiliki masalah finansial sebelum akhirnya berpindah tangan pasca diakusisi Jet Tech Innovation Ventures Pte Ltd yang merupakan perusahaan Singapore yang berada dibawah naungan Traveloka.

Akusisi yang dilakukan oleh Traveloka jelas merupakan sebuah strategi untuk meperluas user base yang dimiliki dan menjadikan Traveloka sebagai OTA terbesar di Asia Tenggara. Traveloka belakangan ini memang sedan 'gencar-gencarnya' melakukan ekspansi ke negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Filipina, maupun Singapura dan tentu ini merupakan sebuah sinyal positif mengingat pemain OTA dengan basis pengguna yang luar biasa banyak seperti Traveloka masih berjumlah sedikit sehingga kompetisi OTA di Asia Tenggara seharusnya berjalan mudah bagi Traveloka. 

Prospek Traveloka untuk Menjadi Decacorn Indonesia yang Pertama

Jika unicorn merujuk kepada perusahaan dengan valuasi sebesar 1 miliar USD atau lebih, maka Decacorn merujuk kepada perusahaan dengan valuasi mencapai 10 miliar USD atau lebih. Indonesia di hari ini baru memiliki 4 unicorn, yakni Tokopedia, Bukalapak, GO-JEK, dan tentunya Traveloka. Dari keempatnya, cukup adil dan wajar nampaknya jika kita menyimpulkan bahwa Traveloka merupakan yang palign berpotensi untuk naik level ke tahap Decacorn mengingat Traveloka memiliki independensi dan lebih profitable ketimbang marketplace seperti Tokopedia maupun Bukalapak dan meiliki basis pengguna yang melebihi GO-JEK.

Menurut data dari TechInAsia, valuasi sebuah perusahan dapat dihitung dengan rumus Valuasi = (Nilai Saham + Utang) – Uang Tunai, namun bagi beberapa perusahaan startup yang belum memiliki revenue maka rumus dapat berubah dan parameter dari investor menjadi lebih dinamis dengan rumus yang 'belibet'. Ada istilah Pre mone, ada juga post money, begini contohnya..

source: techinasia
Ribet, kan, ngitungnya? Yasudah, jangan terlalu dipusingkan. 

Berdasarkan data yang didapat oleh Katadata, valuasi Traveloka pada 2018 ini ditaksir menyentuh angka lebih dari 4 miliar USD atau senilai dengan 61 triliun. Masih butuh 2,5 kali lipat lagi tentunya bagi perusahaan besutan Fery Unardi ini untuk menggenggam gelar decacorn. Untuk dapat meningkatkan valuasi sebuah startup, investasi-investasi yang tepat dari para investor merupakan substansinya. Basis pengguna dan prospek tentu menjadi pertimbangan serius, dan percayalah akusis yang dilakukan Traveloka merupakan sebuah strategi awal yang mampu menjadikan Traveloka sebagai raja OTA di Asia Tenggara hal tersebut tentu dapat menjadi akselerator bagi Traveloka untuk menjadi Decacorn pertama Indonesia. 

No comments:

Pages