TikTok, ByteDance, dan Startup dengan Valuasi Terbesar di Dunia


Merupakan produk dari perusahaan teknologi raksasa asal China dan menjadi social media berbagi video kreatif terbesar di China serta beberapa negara lainnya bahkan mengalahkan jumlah download Instagram dan Youtube ataupun Facebook di Amerika Serikat dalam kurun satu bulan,  begitulah TikTok.

Tidak hanya sampai disitu, di tahun 2018 ini ada banyak sekali prestasi yang diraih aplikasi yang lahir pada tahun 2016 ini, seperti dinobatkan Google Play menjadi aplikasi terbaik di Australia, Brazil, Kanada, Prancis, Jerman, Hong Kong, India, Jepang, Korea, MENA, Meksiko, Rusia, Taiwan, Thailand, Turki, Inggris, Amerika Serikat dan tentunya Indonesia. Bytedance sebagai perusahaan 'induk' dari TikTok tentu patut berbangga, mengingat TikTok yang baru berusia kurang dari 2,5 tahun kini telah memiliki pasar di 150 negara dengan terjemahan bahasanya mencapai 75 bahasa.

Menjadi tanda tanya tentunya bagaimana Bytedance mampu 'mensukseskan' TikTok dalam waktu kurang dari dua setengah tahun. Bahkan Bytedance sendiri selaku perusahaan induk baru berusia 6 tahun terhitung sejak 2012 dan telah menjadi startup dengan valuasi terbesar di dunia dengan nilai jualnya mencapai lebih dari Rp. 1000 triliun. Mungkin, interpretasi terbaik adalah implementasi artificial intelligence dengan fitur yang unik pada TikTok. Mungkin.

TikTok dan Artificial Intelligence

                       

Berbicara tentang AI atau artificial intelligence, tentu kita bicara tentang teknologi masa depan. Menjadi menarik kemudian bagaimana AI dapat diterapkan secara F2F dengan user dalam sebuah sticker pada video dengan teknologi sensor. TikTok mungkin menjadi salah satu aplikasi AI paling kreatif untuk saat ini dengan sticker-sticker menariknya. 

Ada banyak sticker dan filter menarik dari TikTok yang memanfaatkan teknologi sensor. Seperti, sticker 'mengendalikan hujannya' dengan pengimplementasian sensor terhadap gerak tangan. Atau, sticker pergantian warna rambut dengan menangkap gerak dari kepala. Dan masih banyak lagi, tentunya. 

Sedikit menyedihkan sesungguhnya untuk melirik kembali ke belakang saat TikTok sempat diblokir oleh pemerintah Indonesia. Meskipun hanya beberapa saat dan langsung ditanggalkan, namun diblokirnya TikTok menunjukkan bahwasannya permasalahan 'konten negatif' bukanlah salah dari pihak aplikasi namun kembali ke 'penggunanya'. TikTok di luar negri mampu melahirkan konten-konten memukau namun saat masuk awal-awal ke Indonesia, ya... begitulah. Artificial Intelligence ini loh, padahal, ah. Benar-benar anak itu, menista AI dengan 2 jari 😞

Ditilik dari elemen 'fenomenal', pergerakan perusahaan teknologi global beberapa tahun belakangan ini mungkin menjadi milik China. Alibaba, Tencent, JD.com, hingga Bytedance merupakan beberapa nama dari perusahaan teknologi raksasa asal Tiongkok. Bahkan beberap diantaranya telah menggelontorkan dana investasi secara masih kepada startup-startup di Asia Tenggara. Sangat menarik tentunya jika kita melirik Bytedance, perusahaan teknologi raksasa yang merupakan induk dari TikTok yang di hari ini telah menjadi startup dengan valuasi terbesar di dunia. 

Mulai dari startup dengan valuasi terbesar di dunia, sampai CSR-nya yang menggunakan aplikasi! 



Bagaimana Bytedance dapat bertransformasi menjadi startup dengan valuasi terbesar di dunia, mengingat umurnya bahkan baru 6 tahun namun harga jualnya telah melebihi pemain lama seprti 'uber' ataupun Space X dari Amerika dengan lebih dari Rp. 1000 triliun? TikTok bukan satu-satunya yang dimiliki oleh Bytedance, dalam gurita bisnis digitalnya, ada beberapa platform serupa serta platform portal news yang dikembangkan oleh startup besutan Zhang Yiming ini. 

Bisnis digital berbasis AI merupakan fokus utama dari Bytedance. Bukan hanya TikTok, adapun bebrapa platform video sharingnya meliputi Live.me, Vigo, Buzz Video, serta aplikasi berita seperti Babe (Baca Berita) dan TouTiao (今日头条). Pada pertengahan 2018 ini TikTok lewat Bytedance mengakusisi Musial.ly guna memperkaya dan memperbesar basis penggunanya.

Selain menggenggam status sebagai startup dengan valuasi terbesar di dunia, hal lain yang mengagumkan dari Bytedance implementasi CSR yang menggunakan aplikasi yang lagi-lagi erat kaitannya dengan AI. Bytedance memiliki 今日头条 (JinRi TouTiao) for missing people sebagai aplikasi pencari orang hilang yang juga merupakan salah satu aksi CSR mereka dimana aplikasi ini telah menemukan hampir 10.000 orang hilang dan menjadi aplikasi penemu orang hilang nomor satu di China. Selain itu, aplikasi yang membantu petani juga merupakan salah satu bentuk CSR yang mereka miliki.

Dengan gurita bisnis mulai dari platform berita hingga platform berbagi video yang seluruhnya berbasis AI, dan pengimplementasian CSR dengan bantuan yang lagi-lagi AI, maka tidak heran jika banyak investor yang jatuh hati kepada Bytedance dan menyuntikan banyak dana sehingga valuasi Bytedance dapat terbang tinggi dan Bytedance sendiri menjadi startup dengan valuasi terbesar di dunia. 

No comments:

Pages