#2019GantiPolaPikir : Presiden Itu Harus Melek Digital!


               "Maksud bapak, unicorn itu yang online-online itu?"

Tidak ada yang lebih tepat selain menghela nafas, menggeleng-gelengkan kepala, dan tersenyum ketika mendengar salah satu calon presiden mengatakan hal seperti itu di debat presiden. Lucu, tapi kesal juga rasanya. CAPRES GAK TAU APA ITU UNICORN WOEEEE...

Saya ingat ketika pertama kali saya mengenal istilah unicorn dalam dunia startup. Saat itu awal 2017, kuliah semester 2, ada lomba essay dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) tentang iklim investasi ekonomi digital di tanah air. Riset sedikit dan menemukan beberapa artikel tentang perusahaan startup yang memiliki valuasi sebesar 1 miliar USD/lebih yang biasanya disebut sebagai.. unicorn


Ya, setidaknya debat presiden yang ke-2 kemarin semakin menjelaskan sosok mana yang lebih layak untuk masa depan Indonesia. Sebagai salah seorang yang gemar mengikuti berita tentang ekonomi digital, tentu saya memandang capres yang bahkan tidak mengerti apa itu unicorn sebagai sosok yang sangat konvensional dan bukan pribadi yang tepat bagi iklim perekonomian digital tanah air. Presiden itu harus melek digital, presiden itu harus melek teknologi, setiaknya secara non teknis karena bagaimanapun digital adalah masa depan pun begitu dengan perekonomiannya entah kita berbicara tentang cashless society atau startup berbasis fintech, marketplace, e-commerce, dan lainnya.

Jika dielaborasikan lebih lanjut dari masing-masing paslon, perlu diakui ketika berbicara tentang kolektivitas maka paslon nomor 2 memilikinya karena memang lebih kolektif ketimbang paslon 1 namun tetap saja, bagaimanapun, presiden harus melek digital!

Karena 2020 Nanti Indonesia Akan Merajai Ekonomi Digital di ASIA Tenggara..

Tahun 2020 menjadi parameter bagi Indonesia sebagai raja ekonomi digital di Asia Tenggara. Pada tahun itu, ekonomi digital Indonesia diproyeksikan untuk dapat mengambil andil sebesar 12% dari GDP atau sebesar USD 130 miliar. Bukan menjadi ambisi yang berlebihan tentunya, mengingat pertumbuhan pengguna internet di Indonesia yang kini telah menyentuh angka lebih dari 130 juta jiwa. Tentu, untuk dapat mengoptimalkan proyeksi tersebut atau bahkan mengakselerasikannya Indonesia membutuhkan pemerintah yang melek digital. Bukan hanya sebagai fasilitator, namun juga regulator yang menjadi motor bagi flow serta iklim perekonomian digital di tanah air.

Sebagaimana emerging market, Indonesia memiliki pangsa pasar yang begitu menarik bahkan teramat menarik baik bagi pemain lokal maupun internasional. Dengan adanya iklim perekonomian digital yang baik serta potensi startup yang cerah, maka investor asing tidak akan sungkan untuk menyuntikan dananya kepada perusahaan-perusahaan startup tersebut. Softbank, Sequoia Capital, JD.com, Alibaba, Tencent, serta venture capital lainnya telah menunjukkan keseriusannya dalam iklim ekonomi digital tanh air dengan gelontoran dana yang telah disuntikan di Indonesia. 

Dapat menjadi raja dalam lingkup ekonomi digital di kawasan yang memiliki jumlah penduduk lebih dari 600 juta jiwa tentu merupakan prospek yang sangat menjanjikan bagi Indonesia. Bukan hanya tentang status, namun juga tentang prospek bagi perekonomian digital itu sendiri mengingat perekonomian digital akan terus bertumbuh kedepannya. 

..Maka
Adalah Leulcon Jika Pemimpinnya Tidak Melek Digital 

Memang benar, jika Kementrian Komunikasi dan Informasi (kemenkominfo)  merupakan pihak yang memiliki tanggung jawab utama perihal perkembangan digital termasuk kedalamnya perkembangan perekonomian digital. Namun bagaimanapun, presiden selaku pemimpin negara harus melek digital sebagai bentuk concern dan keseriusan untuk menjaga stabilitas iklim perekonomian digital Indonesia yang sedang berada di tren yang sangat positif. Tidak harus secara teknis, namun secara non teknis seperti mengetahui sistematika dan istiliah-istilah seperti halnya istilah..... unicorn. 

Pada masa rezim saat ini, telah hadir Gerakan 1000 Startup Digital yang tentunya merupakan program yang sangat responsif untuk mensuport iklim perekonomian digital di tanah air untuk jangka panjang. Salah satu program menarik adalah penyaringan startup-startup yang memiliki prospek untuk menjadi the next unicorn. TaniHub, Ralali, Cermati, Fabelio merupakan beberapa nama dari puluhan nama yang diproyeksikan untuk dapat menjadi unicorn beberapa tahun kedepan dalam gerakan ini. Program ini tentu sangat baik mengingat pemerintah tidak hanya menjadi regulator ataupun fasilitator, namun juga 'inisiator' untuk mengoptimalkan iklim pertumbuhan startup-startup nasional.

Gerakan 1000 Startup Digital jelas menunjukkan bahwa rezim saat ini jelas lebih mapan dan melek digital serta visioner. Ketika capres yang satu telah mencanangkan beberapa startup yang diproyeksikan dapat menjadi unicorn, capres yang satunya lagi masih meraba-raba apa itu arti unicorn. Zaman berkembang dan berbicara tentang ekonomi digital adalah berbicara tentang masa depan. Jika unicorn saja disangkutpautkan kepada kapitalisasi atau uang mengalir ke luar negri, hal ini jelas mengindikasikan bahwa ada ketidakpahaman tentang konsep unicorn itu sendiri.

Sebagai tahun pemilu, 2019 tentu akan menjadi cerita yang sangat besar dan mengukir sejarah bagi Indonesia. Tahun 2019 adalah waktu yang tepat untuk mentransformasikan pola pikir dari yang konvensional menjadi lebih modern. Karena bagaimanapun, zaman terus berkembang dan digitalisasi serta teknologi merupakan hal yang sudah menjadi harga mati jika ingin menyandang status sebagai negara maju. Indonesia membutuhkan pemimpin yang melek digital untuk tetap menjaga serta mebangun ekonomi kreatif tanah air untuk menjadi lebih besar lagi. Berhenti untuk berpikir konvensional dengan menerima gagasan-gagasan pembangunan ekonomi yang dioptimalkan secara non-digital, bagaimanapun ekonomi digital adalah masa depan dari ekonomi rakyat dan kita akan menghadapi masa cashless society dimana uang akan berubah menjadi komoditas digital dan presiden yang melek digital adalah apa yang kita butuhkan.

No comments:

Pages