#UnInstallBukaLapak : Terukir Politik Boikot Diatas Batu Sandungan yang Disandungkan kepada Unicorn Itu

Setelah akhir 2018 kemarin menggema #UnInstallGOJEK karena isu LGBT, beberapa hari belakangan ini mencuat tagar serupa tapi tak sama dengan isu pemilu yang menimpa Unicorn lainnya, yakni Bukalapak. Fenomena #UninstallBukalapak memang benar-benar serupa dengan fenomena #UnInstallGOJEK; diawali dengan postingan social media, berujung boikot yang merugikan aplikasi yang bersangkutan.

Achmad Zacky
Apakah fenomena ini merupakan fenomena yang wajar? Tidak, tentu tidak. Fenomena seperti ini menunjukkan bagaimana budaya boikot telah mengakar dalam masyarakat Indonesia dan menjadi memuakkan sebenarnya ketika perusahaan teknologi yang harus menjadi korbannya.

'Setidaknya menurut saya', tidak ada kesalahan berarti dalam tweet yang dilemparkan Achmad Zacky selaku CEO Bukalapak tentang biaya anggaran untuk R&D E-commerce di Indonesia. Bahkan elemen 'presiden baru' yang ada didalam tweet tersebut sangat multitafsir dan bukan merupakan statement tunggal yang meiliki arti tungal. Sebaliknya, konten yang merupakan tweet tersebut seharusnya menjadi konten yang baik karena dapat meberi insight tentang komparasi budget R&D antar negara. 

Apakah yang dilakukan Achmad Zacky melanggar hukum tentang privasi seperti yang dilakukan Mark Zuckerberg saat puluhan juta data pengguna Facebook bocor? Tentu Tidak, kesalahannya tidak sefatal yang dilakukan Facebook namun aksi yang dilemparkan masyarakat cenderung brutal karena interpretasi masyarakat yang menganggap bahwa Achmad Zacky memiliki opini yang bersebrangan dengan mereka. Egois adalah definisi paling akurat tentunya untuk menggambarkan situasi dimana kita menyerang orang yang berbeda pandangan, dan menjadi lebih akurat lagi mengingat pandangan tersebut masih bersifat 'multitafsir'.

Egoisme dalam Budaya Boikot

Ada banyak hal yang menjadi bahan perdebatan Netizen pada tweet yang dilemparkan CEO Bukalapak tersebut. Mulai dari elemen 'presiden baru', hingga kredibilitas data yang dipertanyakan. Namun, percayalah, PERCAYALAH.... jika tweet tersebut tidak mengandung unsur 'presiden baru', maka tweet tersebut tidak akan menjadi perdebatan yang besar seperti sekarang dan tagar #UnInstallBukalapak tidak akan mencuat. 


'presiden baru'
Jadi, cukup adil jika disimpulkan bahwasannya polemik utama yang lahir bukan karena 'kredibilitas data R&D' yang dilemparkan, namun permasalahannya terletak di unsur 'presiden baru' yang dimana hal tersebut jelas merepresentasikan bahwa masih banyak masyarakat yang cenderung menyerang orang-orang yang berbeda pandangan serta pilihan. Terlepas dari data yang disampaikan benar atau tidak, kredibel atau tidak, dan relevan atau tidak, cukup fair untuk menyimpulkan bahwa tagar #UnInstallBukalapak mencuat karena adanya egoisme dalam budaya boikot yang sudah mengakar dalam masyarakat.

Coba kita praktikkan, jika data R&D yang dilemparkan oleh Achmad Zacky dianggap tidak memiliki kredibilitas dan irelevan, kita ubah tweet tersebut menjadi tweet dengan data yang sangat kredibel dan sudah menjadi rahasia umum namun kita selipkan "presiden baru" di dalm tweet tersebut. Katakan saja, tweet tersebut akan menjadi seperti ini: 

  • "Indonesia merupakan negara ke-empat di dunia dengan populasi terbesar, di peringkat pertama ada China, di peringkat kedua India dan di peringkat ketiga Amerika. Semoga presiden baru dapat mengusir kemiskinan dari negara dengan populasi terbesar keempat di dunia ini".  

Apakah tweet dengan data yang super kredibel seperti diatas akan menuai kecaman dan mencuatkan tagar #Uninstall terhadap Bukalapak? Saya yakin 100% jawabannya adalah IYA. Karena hal utama yang dipermasalahan bukan tentang kredibilitas atau relevansi data, namun yang dipermasalahkan adalah elemen "presiden baru". Terlepas data tersebut akurat dan relevan atau tidak, selama ada instrumen yang menunjukkan perbedaan pandangan serta pilihan maka boikot dan tagar tersebut akan tetap lahir. Sangat egois.

Tantangan Tak Kasat Mata untuk Para Pemilik Startup 

Rating aplikasi Bukalapak yang tercatat menjadi aplikasi shopping peringkat pertama di Indonesia pada Apple Store anjlok ke bintang 3 yang semulanya mendapatkan bintang lebih dari 4 setelah mencuatnya tagar #UninstallBukalapak. Hal ini menunjukkan bahwa politik mampu mengusik dan menjadi lawan bagi industri teknologi dalam negri sendiri. 

Menjadi penuh intrik tentunya bagi para founder startup kala tantangan yang harus dipikul bukan hanya tentang mengembangkan ide bisnis startup masing-masing, mencari venture capital ataupun angel investor, namun juga harus berhati-hati dengan 'batu sandungan' seperti halnya boikot entah secara digital maupun tradisional. 


source:kompas
Boikot dalam hal ini uninstall masal yang dilakukan kepada aplikasi Bukalapak seperti halnya sebuah batu sandungan yang disandungkan kepada Bukalapak oleh oknum-oknum yang cenderung impulsif dan egois. Sebagai salah satu perusahaan teknologi yang telah menyandang status unicorn di Indonesia, tentu Bukalapak memiliki prospek yang cerah bagi perkonomian digital tanah air dan tentunya memiliki user base yang luas serta telah memberdayakan ukm-ukm di Indonesia. Dengan adanya fenomena uninstall seperti ini, apa yang akan terjadi jika investor-investor yang ada 'kabur' atau membatalkan niat penanaman modalnya? Jelas, hal itu akan melemahkan ekonomi digital tanah air secara perlahan serta melumpuhkan salah satu perusahaan teknologinya sendiri.

Saya tidak beropini sebagai pendukung salah satu paslon, namun saya memposisikan diri saya sebagai penyuka dunia startup. Menurut saya, boikot berupa uninstall masal yang menimpa Bukalapak merupakan tindakan egois yang dimotori perbedaan pandangan serta pilihan dan dapat melumpuhkan industri digital di negri sendiri. Jadi, siapa yang diuntungkan dengan adanya tagar #UnInstallBukalapak ini? Paslon 2? Tidak, tentu tidak, yang diuntungkan adalah: Tokopedia, Shopee, Lazada, Blibli, dsb.

Pages