Softbank dan Imperialisme Modern ala Jepang

Masayoshi son, 'om bos'-nya Soft Bank

Menyimak kisah perjalanan perusahaan-perusahaan teknologi raksasa dari awal masa susahnya sejak diklasifikasikan sebagai perusahaan rintisan hingga menjadi besar dengan pengklasifikasian sebagai unicorn, decacorn, hectocorn, atau bahkan merangkap menjadi venture capital pada hari ini, memang selalu menjadi instrumen yang ampuh untuk merangsang rasa kagum. Namun jika diparafrase lebih mendalam, secara general kemapanan perusahaan-perusahaan teknologi raksasa tersebut tidak terlepas dari pionir ataupun akselerator dalam hal pendanaan yang mampu melambungkan valuasi dari perusahaan teknologi tersebut. 

Setiap perusahaan teknologi raksasa tentu memiliki masa historis dalam segmen pendanaan yang mungkin dapat menjadi titik balik bagi perusahaan, dan pendanaan-pendanaan itu tidak terlepas dari peran investor besar bergelar venture capital dengan suntikan-suntikan dananya yang konsisten. Venture Capital tentu merupakan entitas dibalik kemapanan perusahaan teknologi raksasa yang tidak hanya mendistribusikan pengaruh dalam elemen finansial namun juga hal-hal yang berkaitan dengan elemen sosial. Berbicara tentang venture capital, cukup adil sepertinya jika kita mengklasifikasikan SoftBank sebagai salah satu dari sekian nama venture capital terkuat di hari ini dengan nilai dan kebijakan yang teramat visioner. 

Masayoshi Son adalah nama dibalik besar dan visionernya sebuah SoftBank. Didirikan pada tahun 1981 sebagai perusahaan distributor software, Softbank kini telah menjadi investor dari ratusan perusahaan startup potensial dan merupakan aktor yang memiliki andil sangat besar dalam hal pendanaan bagi perusahaan Unicorn sekelas Tokopedia, decacorn sekelas Bytedance, Didi Chuxing, Grab, Uber, WeWork, hingga perusahaan-perusahaan teknologi yang sudah mapan sekaliber Alibaba.


Nggak mungkin cuan tipis, pasti cuan berlapis-lapis  🤔
Ketika Alibaba baru mulai dirintis dan hanya sedikit pihak yang percaya kepada Jack Ma, maka Masayoshi Son menjadi salah seorang dari 'sedikit pihak' tersebut yang cukup visioner dan berani menginvestasikan dana di Alibaba dimulai dari tahun 2000. Kini Softbank mempunyai kepemilikan saham Alibaba sebesar 28% setelah sebelumnya sempat berada di kisaran 32% namun beberapa persennya 'dilepas' karena satu dan lain hal untuk dijual dan 'buy back' oleh pihak Alibaba. Mengingat Alibaba telah menjadi seraksasa hari ini, bisa dibayangkan tentunya seberapa besar return yang diterima oleh Softbank dari angka 28% itu.

Hebatnya, Gurita investasi Softbank juga merambat ke raksasa-raksasa perusahaan teknologi lain mulai dari ride hailing, marketplace, e-commerce, sampai social media berbasis artificial intelligence yang memiliki valuasi super fantastis. Sangat menarik tentunya untuk menilik bagaimana softbank dapat sevisioner itu dan menerka-nerka return yang akan didapatkannya di masa depan serta mengkaitkannya kepada model imperialisme modern/digital ala Jepang untuk dunia. 

Perusahaan dengan Visi Ratusan Tahun

Menjadi nahkoda bagi Softbank untuk mengarungi laut di hari ini menuju laut lain di masa depan yang kaya akan sumberdaya tentu bukan pekerjaan mudah untuk seorang Masayoshi Son. Mengetahui arah pasti dan memprediksi badai mungkin menjadi tantangan tersulit. Pada periode tahun 1990, Softbank berinvestasi ke lebih dari 800 situs website ketika fenomena "dot com" sedang booming. Namun sayangnya investasi tersebut tidak berakhir baik dan membuat Softbank merugi USD 70 Miliar. Di tahun 2000, ketika Jack Ma dianggap sebagai orang gila, Softbank menjelman menjadi entitas yang lebih gila lagi karena percaya kepada orang yang dianggap gila dan memberikan investasi seri B kepada orang tersebut. Namun visi Softbank dengan berinvestasi kepada Alibaba justru menjadi kartu as dan menjadi salah satu pertaruhan paling sukses dari Softbank. 

Secara historis, tentu cukup adil jika kita menyimpulkan bahwa Masayoshi Son melalui Softbank merepresentasikan visi jangka panjang yang nekad dan akurat. Menjadi visioner adalah harga mati bagi perusahaan venture capital, dan menjadi visioner berarti menjadi entitas yang memiliki visi jangka panjang yang terukur dan tepat sasaran. Bukan hanya 5 atau 10 tahun, sebagai salah satu venture capital terbesar di hari ini, Masayoshi Son bahkan telah memiliki visi 300 tahun kedepan bagi perusahaannya yang tentunya. Sangat menarik tentunya bagaimana seseorang berusaha membaca arah permainan untuk 3 abad mendatang. Mungkin terlalu spekulatif, namun mungkin juga korelatif.

Berinvestasi secara masif pada startup-startup ride hailing mungkin bisa jadi merupakan visi jangka waktu menengah Softbank. Jika ditilik dengan lebih detail, Softbank terlihat begitu bergairah dengan pasar startup ride hailing. Bisa dilihat bagaimana 3 perusahaan ride hailing dengan valuasi terbesar di dunia; Uber, Didi Chuxing, Grab, yang ketiganya berada dibawah rangkulan pendanaan Softbank. Ditambah aplikasi asal emerging market lainnya seperti Ola di India, serta 99 di Brasil yang masing-masing telah mendapatkan cukup besar dari Softbank.


Imperialisme di Era modern

Siapa bilang, imperialisme ala Jepang berhenti di tahun 1945? Dengan rentang waktu 1990-2019 ini saja Jepang berhasil merepresentasikan imperialisme rasa moden dengan Softbank sebagai representatif dari aktor non-negaranya. Tidak berlebihan jika kita mengklasifikasikan superioritas Softbank dalam berinvestasi sebagai salah satu analogi dari imperialisme. Karena pada proses penyuntikan modal, Softbank tidak hanya menyuntik danan namun dalam beberapa kasus juga menyuntik variabel 'power' dan 'threat' yang dimainkannya.

Bukan berlebihan tentunya menyandingkan power dan threat sebagai jukstaposisi dalam beberapa kasus penyuntikan dana Softbank kepada beberapa statrup ternama. Sebagai contoh, dalam proses penyuntikan dana kepada 2 ride hailing terbesar di dunia saat ini; Uber dan Didi Chuxing, Softbank memainkan variabel threat untuk menunjukkan powernya sebagai investor global yang tidak ingin kehilangan bagian dalam perusahaan ride hailing. Saat ingin menginvestasikan dana pada Didi Chuxing, Cheng Wei selaku founder Didi Chuxing sempat menolak tawaran investasi tersebut. Namun pihak Softbank menegaskan bahwa mereka akan menginvestasikan dana ke kompetitor dari Didi Chuxing jika Didi menolak pinangan Softbank. Didi Chuxing pun berakhir dengan menerima pendanaan dari Softbank karena tidak ingin ada kompetitor lain yang muncul dengan dimotori  pendanaan Softbank yang begitu kuat. Metode power by threat juga diimplementasikan Softbank kepada Uber yang awalnya sempat menolak pinangan mereka. 

Tidak hanya memiliki superioritas dalam menentukan startup apa yang ingin dirangkul, Softbank juga memiliki andil dalam keputusan besar yang diambil oleh startup-startup yang berada dibawah naungan mereka. Seperti halnya nasihat mereka kepada Uber bahwa pasar Asia Tenggara hanya membuang-buang waktu mereka dan pada akhirnya berakhir dengan Grab yang mengakusisi Uber di Asia Tenggara. Imperialisme modern yang direpresentasikan oleh Softbank tentu bukan tentang dana yang mereka sebara ke seluruh penjuru dunia dalam bidang digital, namun adalah tentang bagaimana dana tersebut dapat menjadi awal untuk 'mempengaruhi' serta 'mengancam' kebijakan dari startup-startup terkait. Bedanya dengn imperialisme yang berakhir di tahun 1945, imperialisme kali ini terasa begitu lembut dengan menjadikan ekonomi digital sebagai ketertarikan utamanya.


Kung-kung Jack & Masayoshi Ojii-chan
Bisa dibilang titik balik Tokopedia waktu disuntik
USD 100 juta sama Softbank + Sequoia Capital

No comments:

Pages