Sexy Killers, ketika Abu-abu Menyamar Menjadi Putih

Jika dianalogikan secara nyata, maka film dokumenter Sexy Killers seperti halnya wanita patah hati yang sedang bercerita kepada teman wanitanya: subjektif, berusaha naif, namun apa yang diwartakannya tidak komprehensif. Hingga pada akhirnya wanita itu memilih untuk tidak akan pernah jatuh cinta lagi, sebab kelak jika ia jatuh cinta lagi kepada siapapun prianya, ia akan tetap menjadi pihak yang merasa paling tersakiti. Begitulah Sexy Killers, menggeneralisasikan perkara secara subjektif, ya, terlalu subjektif. Bagaikan wanita patah hati, yang ketika bercerita tidak menceritakan seluruh isi ceritanya, hanya menceritakan pahitnya, mungkin dengan maksud untuk menahkodai tendensi sang pendengar agar berlayar dan berlabuh menuju dermaganya.

Namun bagaimanapun Sexy Killers adalah sebuah film dokumenter yang memberi banyak wawasan tentang 3 variabel luar biasa dalam kehidupan: Negara, Sumber Daya Alam, dan Pengusaha. Ketiganya mempengaruhi perputaran ekonomi yang begitu masif serta mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat dengan begitu mendalam. Tentu, siapapun presidennya, metode pengelolahan energi dan Sumber Daya Alam serta keuntungan yang bisa diraup negara juga pengusaha tidak akan berubah jauh-jauh dari 'seperti itu' bentuknya.

Multi-interpretasi yang menimbulkan perdebatan para penonton kemudian lahir setelahnya. Ada yang mengatakan bahwasannya film dokumenter ini mengajak penonton untuk melakukan golput, ada yang mengatakan bahwa film ini hanya ingin menunjukkan betapa mirisnya kondisi sosial masyarakat yang hidup disekitar lingkungan tambang dan pembangunan energi, dan lain sebagainya. Namun percayalah, multi-interpretasi bukanlah hal yang paling menjengkelkan, karena hal yang paling menjengkelkan adalah oknum-oknum yang tanpa pengetahuan mendasar dan tanpa interpreasi lebih lanjut langsung menyalahkan pemerintah setelah menyaksikan dampak dari adanya lahan tambang, dampak dari pembangunan PLTU, ataupun dampak dari pemanfaatan batu bara sebagai energi. 

Pengkritik yang Menggelitik

Mari sejenak kita mengkritik pengkritik yang menggelitik. Segera setelah film dokumenter Sexy Killers menjadi viral, banyak pihak yang seakan-akan tersentuh hatinya setelah melihat ketidakadilan sosial dan mulai perlahan menyalahkan pemerintah ataupun negara karena tidak dapat berbuat banyak. Tapi kenyataann yang cukup menggelitik adalah pihak-pihak yang mengkritik tersebut adalah pihak-pihak yang ketika kediamannya mati listrik maka mereka langsung mencaci maki PLN, pihak-pihak yang tidak dapat hidup tanpa energi listrik karena ketergantungannya terhadap energi listrik begitu kuat, namun ketika menonton ketidakadilan yang disebabkan oleh proses pendistribusian energi listrik dengan penambangan batu bara atau dengan pembangunan PLTU, ia meradang dan mengutuk fungsi pemerintahan. 

Meradang dan tergerak hatinya sebagai bentuk kepemilikan terhadap jiwa sosial memang hak semua orang. Namun, ketika objektivitas disikut dan langsung melimpahkan seluruh kesalahn kepada pemerintah, bung, itu terlalu menggelitik. Dalam dokumenter tersebut, tercatut bagaimana renewable energy merupakan bahan baku utama yang 'mungkin' dapat menjadi solusi serta dapat menciptakan solusi ideal. Namun ketika renewable energy tersebut memakan biaya yang lebih besar, tentu kita akan berteriak karena tagihan listrik yang membengkak. Menggelitik, kan? Ditawarkan solusi renewable energy yang membuat tagihan listrik membengkak marah, di sisi lain memiligi tagihan listrik normal seperti sekarang namun melihat masyarakat disekitar wilayah tambang batu bara dan pembangunan PLTU juga marah.  

Karena Sexy Killers itu Abu-abu!

Abu-abu mungkin merupakan warna yang paling tepat untuk merepresentasikan film dokumenter yang seakan-akan mengesampingkan realita bahwa banyak pelaku industri tambang batu bara yang tetap mengoptimalkan upaya untuk melakukan produksi tanpa merusak lingkungan. Ya, dalam hal pertambangan batu bara, apa yang kita lihat di film dokumentasi Sexy Killers adalah ulah para oknum-oknum yang 'memang' nakal diamana jumlahnya mungkin hanya segelintir saja. Namun perlu disayangkan bahwa opini kita seakan-akan digiring untuk mempercayai bahwa pemain nakal tersebut merupakan gambaran umum pemain industri tambang batu bara di Indonesia.

Melalui program seperti Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) serta sederet regulasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pertembangan batu bara di Indonesia telah diatur dengan menyeluruh dan banyak perusahaan-perusahaan tambang yang tunduk dan patuh terhadap regulasi pemerintah. Hal lain yang tidak kalah menarik untuk menunjukkan betapa abu-abunya Sexy Killers adalah pada menit ke 74, ada pengklasifikasian 'cocokologi' yang cukup 'maksa' dimana nama Ma'ruf Amin dicatut dengan mengkatik-kaitkan perusahaan-perusahaan tambang terkemuka di Indonesia terlebih dahulu untuk dibawa ke pasar saham Syariah dan menilik ketua dari Dewan Syariah Nasional MUI.  

Sexy Killers adalah abu-abu yang berusaha untuk menyamar menjadi putih. Menyamar seakan-akan ia merupakan sebuah kebaikan, namun nyatanya tidak. Sexy Killers tidak cukup baik untuk menjadi putih, tidak juga cukup busuk untuk menjadi hitam. Ia adalah abu-abu, yang berusaha menyamar menjadi putih. Namun bagimanapun, terimakasih perlu kita ucapkan kepada sosok dibalik film dokumenter ini, untuk wawasan yang telah diberikannya terkait proses pendistribusian energi listrik. Makasih ya, bro.  


Pages