Borneo untuk Kali Pertama: Pontianak!

Ternyata daging ular sawah dan daging tupai itu rasanya kayak ayam! Bedanya, daging ular lebih alot dan daging tupai goreng hampir mirip banget sama ayam. Begitulah impresi saya dari percobaan memakan makanan 'nggak biasa' di festival Gawai Dayak.

Borneo, pulau terbesar ketiga di dunia yang didalamnya terdapat 3 teritori negara yang berbeda; Indonesia, Malaysia, Brunei. Ada sangat banyak hal menarik dari pulau ini, terlalu banyak, bahkan. Alamnya, Habitat Flora & Fauna, suku-suku terdalam yang cukup ikonis, sampai makanan khas dan budaya lainnya yang begitu cantik dan ciamik.

Terlepas dari alam dan manusianya, sejarah menjadi hal paling menarik lainnya dari Borneo. Pada masa imperialisme, Tarakan yang berlokasi di utara Borneo merupakan tempat Jepang pertama kali menginjakan kakinya di Indonesia. Jauh sebelum imperialisme, kerjaaan bercorak agama seperti Kutai Kartanegara dan beragam prasatinya menjadi beberapa santapan umum di buku pelajaran sejarah. Mungkin agak sedikit terlambat bagi saya ketika baru sempat menginjakkan kaki di Borneo untuk pertama kalinya setelah lahir pada 2 dasawarsa yang lalu disaat titik balik era reformasi. 

Pontianak menjadi tempat saya menginjakkan pertama kalinya di Borneo. Bukan dalam rangka pulang kampung atau jalan-jalan, namun dalam rangka menjadi mahasiswa magang yang ikut dalam perjalanan bisnis perusahaan untuk meningkatkan literasi digital. Ternyata, Pontianak itu sangat.. panas. Namun menjadi menarik karena panas yang ada terasa sangat original, bukan panas yang tidak mengenakkan karena tercampur debu dan polusi udara, namun panas yang benar-benar langsung dipaparkan matahari dengan udara bersih khas paru-paru dunia. Maklum, mungkin karena Pontianak menjadi salah satu kota di dunia yang dilewati langsung oleh garis khatulistiwa. Maka dari itu, tempat pertama yang wajib dikunjungi di Pontianak tentunya adalah... Tugu Khatulistiwa!


Tugu Khatulistiwa

Hanya ada 12 negara di dunia yang dilalui langsung oleh garis khatulistiwa, Indonesia merupakan salah satunya. Dan hanya ada 1 daerah di dunia dimana garis khatulistiwa persis memisahkan belahan bumi bagian utara dan selatan, dan daerah itu adalah kota pontianak. Atau lebih tepatnya, daerah itu ada di tugu khatulistiwa Pontianak. Belum lengkap tentunya jika belum mengunjungi tugu Khatulistiwa pada perjalanan ke Pontianak untuk 'pertama kalinya' ini.

Ada banyak sejarah menarik dari berdirinya tugu ini. Meski banyak yang mengatakan bahwa tugu ini merupakan area yang dilewati langsung oleh garis lintag nol derajat, namun ada fakta menarik bahwa nol derajat yang dimaksud tidak benar-benar bulat, namun 00 0’ 3,809” lintang utara dan 1090 19’ 19,9” bujur timur. Di dalam tugu, terdapat garis pemisah antara bumi bagianutara dan selatan yang dilambangkan dengan garis warna biru tosca pada lantai. Jadi, ketika kita berdiri di sisi yang satu maka kita berada di belahan bumi bagian utara, dan jika kita melangkah beberapa kali kita telah berpindah ke belahan bumi bagian selatan. Menarik. 

Namun tentunya Pontianak bukan hanya tentang Tugu Khatulistiwa, ada banyak hal menarik yang bisa dieksplor dari kota ini. Saya cukup terkesima dengan beberapa hal yang dapat saya eksplor di kota ini. Mulai dari berburu kuliner khas, mencoba makanan 'nggak biasa' di festival Gawai Dayak, sampai menikmati budaya ngopi Pontianak.

Berburu Kepiting Asap, Bobor Padas dan Sotong Pangkong di Malam Hari


Kepiting Asap, Bobor Padas, Sotong
Ada beberapa makanan khasi Pontianak yang cukup menarik untuk dicicip. Salah Tiganya adalah kepiting asap, bobor padas, dan sotong. Diluar dari ketiganya sebenarnya masih ada banyak lagi, seperti nasi uduk raja uduk, nasi campur di Gajahmada & Tanjung Pura, dan beranekaragam bakime kepiting. Namun, mari berkonsentrasi kepada ketiga kuliner diatas.

Kepiting asap ala Pontianak sebenarnya tidak memiliki ciri yang terlalu kuat, ya, seperti kepiting asap pada umumnya. Yang menarik adalah bumbunya yang diolah dengan rempah-rempah khas dan disajikan langsung disekitaran kepiting dengan warna hitam. Bagaimana dengan rasanya? Ya, B aja, sih untuk yang satu ini. 

Dari Kepiting asap kita beranjak ke bobor padas. Bobor padas sebenarnya adalah istilah untuk bubur pedas, namun karena Pontianak masih kental dengan budaya melayu maka penamaan dari beberapa kulinernya pun masih kental terpengauh oleh melayu. Menariknyam bubur pedas ini bukanlah bubur yang disajikan dengan tingkat kepedasan ekstrim, namun bubur biasa yang disajikan dalam bentuk sayuran yang khas. Dikatakan pedas karena orang-orang biasanya suka menambahkan cabaik kedalamnya. Sepintas, rasa yang dihasilkan oleh sayur-sayuran yang ada di bumbu ini hampi menyerupai jajanan berkuah pinggiran Bangkok dengan rasa sayuran yang begitu kuat dan khas.

Setelah bubur, sotong menjadi makanan ikonis dari kota pontianak. Sotong adalah semacam cumi yang dikeringkan dan disajikan dengan cabai khas. Beberapa orang mengatakan sotong adalah cumi, dan beberapa lagi menyebut sotong bukanlah cumi melainkan ikan Nus yang menyerupai cumi tapi berbeda dengan cumi. Uniknya, ketika memakan sotong, orang akan berlama-lama untuk mencicipi kuah cabainya terlebih ketimbang daging dari sotong itu sendiri. Enak atau enggak? Ya, rasanya kayak cumi yang dikeringin, sih.

Makan Makanan Nggak Biasa d Festival Gawai Dayak


Beruntungnya, saat itu kebetulan sedang dilaksanakan sebuah event tahunan suku Dayak yang bertajuk Gawai. Gawai sendiri adalah sebuah  festival tahunan yang diselenggarakan oleh suku Dayak sebagai rasa syukur kepada panen yang melimpah. Ada banyak sekali acar di festival ini, seperti booth pakaian adat, wisata kuliner yang 'nggak biasa', dan beberapa perlombaan dan atraksi lainnya. Dan menariknya, festival Gawai ini ramenya bukan main! 

Ada banyak pemuda Dayak dengan pakaian adat khasnya berdiri di area pintu masuk untuk menawarkan foto bersama dengan biaya sukarela, dan tidak jauh dari pintu masuk ada beberapa permainan ala karnaval dan kemudian ada booth kuliner untuk makanan-makan 'nggak biasa' yang disajikan. Ya, rasanya mungkin agak tanggung ya, kalau udah jauh-jauh ke Pontianak dan mampir ke festival tahunannya tapi tidak mencicip sesuatu yang belum pernah dicicip sebelummnya. Maka dari itu, saya memesan tiga jenis makanan -- yang benar-benar nggak biasa; Ular Sawah, Tupai dan Kalong. Semuanya disajikan dengan cara digoreng!


Makan daging Ular dan Tupai tanpa sayur kol,
sayur koooool..~
Tidak banyak daging yang saya makan, mungkin hanya dipotek sedikit-sedikit karena rasa penasaran. Ternyata daging ular sawah dan daging tupai itu rasanya kayak ayam! Bedanya, daging ular lebih alot dan daging tupai goreng hampir mirip banget sama ayam. Begitulah impresi saya dari percobaan memakan makanan 'nggak biasa' di festival Gawai Dayak. Sementara untuk kalong, meskipun sudah digoreng, sayangnya saya tidak sempat mencicipnya karena saat itu sudah terlalu berminyak dan jadi kurang mengundang selera. Bukannya nyeleneh, tapi rasanya belum benar-benar meresapi esensi ada di suatu tempat kalau belum mencoba makanan yang mungkin menjadi kearifan lokalnya. Konseptualisasi ini mulai muncul dalam prespektif saya ketika beberapa tahun yang lalu saya ke Khao San Road di Bangkok dan hanya berjalan melalui makanan-makanan yang disajikan seperti kalajengking dan serangga-serangga berprotein lainnya tanpa mencicipinya. Ya, demi meresapi esensi aja, gitu.

Budaya Ngopi di Pontianak


"Orang Ponti itu suka nongkrong!" 

..begitulah kata driver yang merupakan orang lokal Pontianak. Kenyataannya, orang-orang Pontianak memang doyan banget nongkrong. Bisa direpresentasikan dari kedai kopi yang ada dimana-mana dan.. selalu ramai di malam hari. Bahkan katanya, kebanyakan orang lokal dapat menyinggahi beberapa tempat ngopi dalam sehari cuma buat ganti tempat nongkrong disaat kopi yang dipesan ditempat yang satu sudah habis. 

Kopi Aming mungkin menjadi salah satu kedai kopi paling terkenal dan ikonis di pontianak. Secara venue and atmosfir, mungkin Kopi Aming ini bisa dibilang agak mirip Ropang plus plus, dan secara rasa.. entahlah, sebagai penyuka kopi, saya tidak menemukan sebuah rasa yang benar-benar unik. Mayoritas dari kopi yang ada adalah arabika, namun saya sempat berpikir kopi khas apa yang ada di kalimantan? Untuk arabika, Sulawesi punya Toraja awan atau pulu-pulu, Bali ada Kintamani, Sumater ada Gayo dan Sidikalang, dan arabika seperti apa yang benar-benar melekat untuk Kalimantan? Kesimpulan yang bisa saya dapatkan adalah, bukan rasa atau keunikan dari kopi yang membuat kedai kopi di Pontianak selalu ramai. Tapi, budaya nongkrong yang sudah melekat yang mebuat kedai kopi menjadi tempat hiburan yang cukup menarik dan selalu ramai.

Borneo untuk kali pertama membuat saya cukup terkesima. Pontianak memang tidak bisa merepresentasikan keseluruhan Borneo, tapi adalah hal yang sangat menyenangkan tentunya untuk dapat mengeksplorasi budaya dan juga kulinernya, serta tentunya mempelajari budaya ngopi yang begitu kuat. 

No comments:

Pages