(Masih) Ekspansi (Demi) Digitalisasi



Adalah sebuah pengalaman yang sangat menarik bagi saya ketika harus berdialog dengan pria paruh baya yang sebelumnya belum pernah belanja online sama sekali dan pada akhirnya berbelanja online untuk pertama kalinya dengan dukungan metode Online to Offline (O2O) di sebuah bazar sembako murah. 'Apa Bapak sudah memiliki Aplikasi Tokopedia sebelumnya? Kalau belum, harus download dulu pak.' Kurang lebih seperti itu pertanyaan dan pernyataan yang saya lemparkan ke pria itu di kerumunan pengantri sembako, dibawah sengatan terik matahari Tasikmalaya siang itu. 'Belum kang', jawabnya. 

Saya kemudian meminta pria itu untuk mendownload aplikasi yang bersangkutan terlebih dahulu. Dikeluarkannya kemudian ponsel pintarnya dari kantung celana bahan warna hitamnya itu, dan nampaklah sebuah ponsel pintar jadul, Nokia 8250. Tidak ada Play Store, apalagi App Store, yang nampak dihadapan saya adalah sebuah ponsel pintar kecil warna abu-abu, yang mungkin jika dibenturkan ke kepala bisa membuat orang langsung gegar otak mendadak. Seketika saya sadar, bahwasannya tantangan untuk membuat orang 'melek digital' bukan hanya tentang kemampuan teknis tentang digital itu sendiri, namun juga tentang terfasilitasi dengan baik atau tidaknya orang itu.

Untuk itu, ekspansi terus dilaksanakan sebagai wujud komitmen nyata meningkatkan literasi digital masyarakat Indonesia. Bukan hanya tentang menjadi tempat untuk jual beli, namun juga sebagai pusat edukasi yang mengayomi. Tidak hanya mengedukasi, namun juga memfasilitasi. Maka dari itu, perjalanan saya berlanjut. Dari Tasikmalaya dan Kuningan sebelumnya, mari terbang ke beberapa kota lain di Indonesia. Sedikit berbeda dari sebelumnya yang terfokus kepada ruko, kali ini mari mengincar..... pusat perbelanjaan!

Malang aja dulu.. Makassar aja dulu.. Pontianak aja dulu..
Adalah hal yang cukup menyenangkan tentunya bagi mahasiswa intern untuk jalan-jalan dan terfasilitasi dengan tajuk business trip untuk grand launching. Maaf, bukan jalan-jalan biasa maksudnya, namun jalan-jalan dalam misi meningkatkan literasi digital tanah air. 

Sekali lagi, perlu digarisbawahi, lalu di-underline dan di bold dengan warna hijau, dalam misi meningkatkan literasi digital. 



Ketika berbicara tentang pembangunan pusat edukasi, kita berbicara tentang Sumber Daya Manusia. Entah SDM dalam hal merancang venue, ataupun SDM dalam hal 'edukator' yang bersangkutan. Saya mendapati bahwa setiap kota memiliki cerita menariknya masing-masing. Ada yang memiliki kendala SDM dalam hal vendor, ada yang memiliki kendala SDM dalam hal edukator, ada juga pengalaman menarik yang cukup menegangkan karena hal tak terduga yang terjadi menjelang Grand Launching. 

Hal paling menarik dari berekspansi adalah mempelajari masyarakat dari masing-masing kota untuk mengenal behavior dari konsumen. Entah dengan objektif unutk resistensi, ataupun mengakusisi user baru. Tidak jarang stereotype juga ikut bermain dalam mempelajari kebiasaan konsumen, seperti orang di Kota X terkenal pelit, orang di kota Y suka gratisan, orang di kota Z pelit dan suka gratisan. Bukannya mempelajari tanpa data, namun terkadang cukup menyenangkan rasanya untuk menggeneralisasikan sesuatu berdasarkan stereotype.

Terlepas dari stereotype dari masing-masing kota, hal paling menarik dari semuanya tentu adalah bagaimana saya bertemu dengan orang yang belum benar-benar mengerti tentang dunia transaksi digital dan bagaimana saya tersadar bahwa adalah penting bagi sebuah perusahaan teknologi yang bermain di industri Marketplace untuk berkomitmen mengedukasi dan memfailitasi masyarakat awam guna meningkatkan literasi digital masyarakat dan tentunya membentuk ekosistem digital yang memiliki sumbangsih bagi negara. Ekspansi demi digitalisasi merupakan sebuah komitmen nyata tentunya untuk menjangkau pengguna baru dan membuatnya melek digital. Beberapa saat yang lalu ekspansi demi digitalisasi dilakukan di ruko, kini di mall, dan entah tempat apa lagi selanjutnya.

No comments:

Pages