Sebuah Seni untuk Membuat Orang Menyesal

Akhhhh
The problem is that, at some point, likely a long time ago, we got punched in face, and instead of punching back, we decided we deserved it. (Everything is F*cked. Mark Manson. P.46) 

Entahlah, entah terjemahan bahasa inggris apa yang cukup tepat untuk menerjemahkan judul diatas--The Subtle Art of Make People Feel Like A Sh*t?  The Art of Make People Regret After Doing Some-sh*t to You? Entahlah, yang jelas setelah membaca 2 buah buku om Mark Manson, ada sebuah insight baru yang datang dan memberi sebuah ilmu yang sangat menarik tentang mengupas problematika hidup. Pertama, bawa pembaca masuk ke dalam sebuah cerita yang mungkin belum pernah mereka dengar sebelumnya. Kedua, bedah problematika yang dialami oleh karakter utama dalam cerita tersebut, awalnya secara spesifik lalu digeneralkan. 

Maka dari itu, bersama dengan tulisan ini, saya bermaksud untuk menggunakan gaya seorang Mark Manson dalam menulis untuk membedah sebuah masalah tentang penyesalan. Atau jika dikerucutkan lebih lanjut, sebuah permasalahan tentang bagaimana membuat seseorang menyesal di kemudian hari dapat menjadi sebuah seni dalam hidup kita.

Baiklah, mari kita mulai. Semua dimulai dari.. To-ko-pe-dia.

William, kamu masih muda. Jangan habiskan masa muda kamu untuk bermimpi terlalu tinggi. Orang seperti Jack Ma, Jeff Bezos, Steve Jobs, mereka dapat mendirikan perusahaan besar karena mereka itu spesial, dan kamu tidak. Kamu tidak spesial. 

Kurang lebih seperti itulah ucapan yang dilemparkan oleh salah seorang calon investor, sekitar 12 tahun yang lalu, kepada William Tanuwijaya yang saat itu masih memperjuangkan untuk terbentuknya Tokopedia. Singkat cerita, pada 2009 Tokopedia berhasil terbentuk, dan 12 tahun setelah penolakkan yang menyakitkan dari calon investor yang tidak jadi berinvestasi tersebut, William Tanuwijaya dapat membuktikan bahwa Indonesia merupakan pangsa pasar yang sangat potensial dalam perekonomian digital dan Tokopedia hari ini merupakan sebuah Unicorn (sebentar lagi Decacorn ya, saudara-saudara) yang telah membantu banyak sekali usaha masyarakat terutama UMKM, dan telah berkontribusi sangat besar tehadap iklim perekonomian digital tanah air. Tokopedia hari ini merupakan salah satu pionir nasional yang menciptakan sebuah titik balik pendanaan startup di Indonesia pada 2014 lalu, yang kini telah eksis mendapatkan pendanaan dari ventura-ventura besar seperti Softbank, Alibaba Group, Sequoia Capital, dan masih banyak lagi. 

Salah satu pertanyaan paling menarik yang mungkin bisa ditanyakan dari kisah sukses William Tanuwijaya dan Tokopedia adalah: Seberapa besar superioritas yang seorang William Tanuwijaya miliki kepada investor yang dulu menolaknya dan mengatakan bahwa dia tidak spesial? Mungkin kita bisa membayangkan sebuah situasi dimana William Tanuwijaya sebagai 'founder dari salah satu perusahaan teknologi terbesar tanah air' sedang berjalan di sebuah tempat umum dan suatu ketika bertemu dengan si 'calon investor belagu' itu. Mereka berjalan dari arah berlawanan menuju sebuah arah yang sama, lalu sampailah mereka pada titik yang sangat dekat. Pada titik ini kita dapat menerka-nerka, Siapa yang akan membuang muka karena memiliki rasa malu, siapa yang dapat berjalan jumawa karena berhasil membuktikan. 


William Tanuwijaya
William Tanuwijaya tentu menjadi sosok yang berjalan dengan kepala tegak jika skenario itu benar terjadi, bagaimana aura superior tentu melekat begitu kuat karena berhasil membuktikan keberhasilannya dari pihak yang dulu bukan hanya meragukan, namun juga melemparkan sebuah cacian dalam kedok nasehat. Sementara sang calon investor belagu, mungkin hanya bisa tertunduk malu sambil berkata dalam hati, "anying ada si William nih, anying, anying, gimana nehhhh."

Jika William Tanuwijaya akan merasakan superioritas karena berhasil membuktikan kepada sang investor belagu, lalu Bagaimana perasaan sang investor yang dulu menolak William Tanuwijaya sambil mengatakan 'William kamu tidak spesial'? Bagaimana perasaannya mengetahui bahwa Tokopedia bisa sebesar hari ini dan si investor belagu menjadi salah satu tokoh antagonis dari kisah sukses Tokopedia? Inferior, tidak ada perasaan yang lebih pantas untuk dirasakannya ketimbang negasi dari superiroitas, yakni inferioritas. 

Bukan hanya William Tanuwijaya yang dahulu mimpinya dianggap lelucon, namun founder-founder startup ternama lainnya pun sempat merasakan hal serupa. Mimpi seorang Ahmad Zacky, founder Bukalapak, juga pernah dianggap lelucon oleh salah seorang calon investor ketika ia menyodorkan proposal pendanaan sebesar Rp. 100 juta untuk memulai Bukalapak. Namun di hari ini, Bukalapak telah menunjukkan eksistensinya sebagai salah satu unicorn tanah air. Jack Ma mungkin memiliki kisa lebh ekstrim, begitu juga dengan Jeff Bezos. Namun pada akhirnya, ketika mereka dapat membuktikan bahwa mimpi mereka bukanlah lelucon, ketika mereka berhasil membuktikan bahwa mereka adalah sosok yang berprospek, maka mereka berhasil menciptakan sebuah seni yang estetik, sebuah seni yang dapat membuat orang lain merasa terserang meskipun mereka tidak menyerang-nya, kita sebuat saja seni tersebut sebagai seni untuk membuat orang menyesal.

Penolakan Adalah Sebuah Titik Balik

Banyak cara yang dapat diaplikasikan untuk menyikapi penolakan. Marah, kecewa, kesal, mungkin tiga perasaan itu merupakan tiga perasaan paling umum yang dirasakan seseorang setelah mendapat penolakan. Rasa 'ditolak' memang menyakitkan, terlebih ketika penolakan itu datang dari sesuatu yang benar-benar kita inginkan. Namun percayalah, bahwa rasa ditolak--rasa inferior setelah menerima penolakan merupakan sebuah titik balik dari sebuah pertunjukan hidup.

Satu hal yang sering tidak disadari kebanyakan orang tentang penolakan adalah  bahwa penolakan merupakan sebuah titik balik. Kebanyakan orang salah dalam mengidentifikasi--merasa mengidentifikasi bahwa mereka berada pada titik terendah dalam hidup segera setelah mereka mendapat penolakan entah dalam bentuk apapun. Padahal, titik terendah dalam konseptualisasi penolakan adalah sebuah situasi ketika seseorang yang mendapat penolakan berhenti untuk berjuang, dan menerima kenyataan bahwa ia layak untuk ditolak.  Inferioritas yang lahir bersama dengan penolakan merupakan sebuah momok yang menyerang rasa percaya diri seseorang untuk memulai lagi. Padahal, setiap orang tentu memiliki jatah gagalnya masing-masing. Semakin sering gagal, semakin dekat kita dengan ujung dari jatah gagal tersebut.

Bayangkan sebuah situasi dimana seorang William Tanuwijaya yang saat itu ditolak oleh investor, menerima sebuah fakta bahwa ia memang 'layak' untuk ditolak karena mimpinya yang terbilang 'tidak biasa' tersebut? Apa yang terjadi ketika rasa percaya dirinya sirna dan ia berhenti memperjuangkan mimpinya? Tokopedia mungkin hanya menjadi mimpi dari seorang William tentunya dan mungkin peta E-commerce dan perekonomian digital tanah air akan sedikit semerawut dimana para pemain besar seperti Alibaba cs akan memasuki pasar Indonesia bukan melalui jalur 'investasi' namun melalui pembukaan cabang perusahaan. 

Menyerang Tanpa Melakukan Serangan

Menyerang tanpa melakukan serangan bukanlah sebuah terminologi yang dilandasi oleh ajaran-ajaran Sun Tzu, namun melainkan merupakan implikasi dari sebuah seni untuk membuat orang menyesal. Ketika kita telah melalui beberapa penolakan dan akhirnya berhasil berada di sebuah titik dimakan kita dapat menjadi atau menciptakan sesuatu yang mengundang decak kagum, berprospek besar, impresif, maka pihak yang secara spontan akan bergulat dengan rasa penyesalan adalah pihak-pihak yang dulu sempat menolak segala hal yang kita tawarkan. 

Sederhananya, kita tidak perlu melakukan serangan secara verbal apalagi fisik kepada pihak penolak, namun mereka akan terserang dengan sendirinya ketika mendengar 'kisah elok' yang kita miliki. Pihak penolak niscaya akan menyerang diri mereka sendiri, menyerang keputusan yang telah mereka putuskan sendiri di masa lalu--menyerang keteledoran mereka dan mulai membayangkan, 'apa jadinya jika saya tidak menolak...' lalu kemudian diikuti dengan pengandai-andaian, 'mungkin saya sudah menjadi..' dan ditutup dengan penyesalan.  

Sebuah seni untuk membuat orang menyesal bukanlah sebuah seni tentang berjalan menghampiri pihak penolak lalu menunjukkan keberhasilan kepada orang lain lalu melakukan serangan secara verbal dan mengagung-agungkan pencapaian yang kita miliki. Sebuah seni untuk membuat orang menyesal adalah tentang berdamai dengan penolakan, sadar jika penolakan bukanlah hal yang 'layak' untuk kita, lalu kembali berjuang hingga akhirnya pihak yang dulu pernah menolak merasakan sebuah serangan dari dalam dirinya sendiri bahkan tanpa kita harus repot-repot menyerangnya. 

Seperti halnya analogi menarik yang ditulis Mark Manson dalam buku terbarunya, 'terkadang kita ditonjok oleh orang lain tepat diwajah namun bukannya balas menonjok orang yang menonjok tersebut, kita malah menyimpulkan bahwa kita memang layak ditonjok'. Menjadi menarik tentunya jika kita kembali ke kisah seorang William Tanuwijaya dan menyadari bagaimana ia terus berjuang dan menyimpulkan bahwa ia tidak layak untuk ditonjok, lalu menciptakan sebuah seni untuk membuat orang (investor belagu) itu menyesal, bagaimana ia memberi tonjokkan kepada investor belagu tersebut bahkan tanpa menonjoknya. Seperti halnya konseptualisasi dari seni ini, menyerang tanpa melakukan serangan. 

No comments:

Pages